
Terlihat wajah Lucas yang sepertinya sangat terkejut melihat pesan yang masuk dari handphone-nya.
Athi mengerenyitkan dahinya karena bingung dengan sikap Lucas yang terlihat sangat terkejut itu.
“Kau kenapa?” tanya Athi yang heran dengan yang Lucas lihat di handphone-nya.
Lucas memberitahu tentang sesuatu yang sudah ia lihat. Athi yang penasaran, lalu segera melihat ke arah handphone-nya.
“Hah?!”
Athi juga sangat terkejut, karena ia melihat sebuah foto tentang mereka, yang baru saja bercumbu mesra tadi. Athi tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menganga kaget, sembari menutup mulutnya.
“Apa-apaan ini? Itu baru 5 menit yang lalu, kan? Kenapa bisa sampai secepat ini rumornya tersebar?” ucap Athi yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Mereka benar-benar sedang mencari kesalahan Lucas.
Para fans Lucas sudah sangat geram dengan postingan yang diunggah oleh salah satu media kabar, dan terlihat jelas sekali komentar pedas yang mereka tuturkan.
Hal itu membuat Lucas dan Athi sangat bingung harus berbuat apa.
“Nguing ....”
Handphone Lucas berbunyi kencang, membuat Lucas terkejut melihatnya. Wajahnya pucat, membuat Athi mendelik melihat wajahnya yang terlihat terkejut itu.
Lucas memandang ke arah Athi, “Tolong diam sebentar,” ucap Lucas.
Lucas segera mengangkat telepon dari orang yang sudah meneleponnya.
“Ha-halo, direktur Cha,” sapa Lucas.
“Kau sudah lihat beritanya?” tanyanya, sontak membuat Lucas menjadi sangat terkejut mendengarnya.
Dengan sikap direktur yang sangat berterus-terang, Lucas hanya bisa tertegun, dan berusaha menerima tentang yang terjadi padanya.
“Ya, saya sudah lihat,” jawab Lucas yang sangat hati-hati berbicara dengannya.
“Kalau sudah seperti ini, apa kamu bisa bertanggung jawab dengan yang sudah terjadi?” tanyanya, yang sangat to the point.
Lucas tertegun, “Maafkan saya,” ucap Lucas, yang sudah sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
“Inilah maksud saya, saat saya meminta kamu menandatangani kontrak, yang tertulis tentang perjanjian yang mengatakan tidak boleh menjalin hubungan dengan gadis mana pun,” ucapnya tajam, yang lagi-lagi membuat Lucas tertegun.
“Maafkan saya,” ucap Lucas.
__ADS_1
“Saya ingin tahu jawaban kamu besok. Coba pikirkan semuanya, antara karir dan hati kamu,” ucap direktur, sontak membuat Lucas mendelik kaget.
“Sampai jumpa.”
“Tut ....”
Lucas masih saja mendelik, dan bingung dengan apa yang akan ia lakukan setelahnya. Lucas sudah benar-benar bingung dengan kehidupannya yang sangat dilema, antara cinta dan cita.
Mendengar ucapan sang direktur, membuat hati Athi sangat tergores. Ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan hubungan, yang sudah terkekang seperti ini.
Cinta mereka terhalang kertas putih bermaterai.
Athi memandang Lucas dengan sendu, “Lucas,” panggil Athi, Lucas segera memandang ke arah Athi.
“Ada apa?” tanya Lucas, yang masih bisa bersikap baik-baik saja di hadapan Athi.
“Kita putus saja.”
“Deg!”
Mendengar Athi mengatakan demikian, sontak membuat Lucas mendelik kaget mendengarnya. Ia tidak menyangka, kalau Athi akan lebih memilih untuk memutuskan hubungan mereka, daripada harus mengekang Lucas, untuk tidak meneruskan pekerjaannya.
“A-apa maksudmu?” tanya Lucas yang masih tidak percaya dengan apa yang Athi katakan padanya.
“Lebih baik, kita sudahi saja sebelum menjadi tambah sulit untuk kita berdua,” ucap Athi menjelaskan apa yang ia rasakan.
Lucas mendelik, “Kenapa tiba-tiba seperti ini? Athi, apa aku melakukan kesalahan?” tanya Lucas, yang masih tidak rela jika hubungan ini berakhir tragis seperti ini.
“Apa karena aku gak bisa menghubungimu? Mulai sekarang, aku akan lebih berusaha untuk menghubungi. Aku akan melakukan yang kau suruh. Kenapa kita harus putus? Aku gak bisa putus dengan kamu!” ucap Lucas, dengan segala paksaan yang ada, tetapi Athi hanya diam saja tak bergeming.
Mereka sama-sama menguatkan hati masing-masing.
Athi sudah tidak bisa memandang wajah Lucas lagi. Ia hanya bisa menunduk sendu, karena tidak ingin terlihat lemah di mata Lucas.
“Kita saling mencintai, kan? Bagaimana bisa kamu mengatakan putus dengan mudahnya?” tanya Lucas, yang masih kukuh dengan pendiriannya.
“Ini tidak mudah untuk aku. Aku benar-benar sudah memikirkannya dan mempertimbangkannya,” ucap Athi, membuat Lucas mendelik kembali.
Sejujurnya, Lucas sama sekali tidak rela dengan apa yang sudah menjadi keputusan Athi.
“Athanasia, pikirkan sekali lagi. Ini semua itu gak benar! Kenapa sih, kita harus ... aku akan berusaha lebih baik padamu ... aku mohon jangan sepertin ini,” ucap Lucas, dengan segala kerendahan yang ia miliki.
Tanpa sadar, air mata terus mengalir di pipi Lucas, “Masih banyak hal yang belum bisa aku berikan untuk kamu! Aku tidak bisa putus denganmu seperti ini,” teriak Lucas yang sama sekali tidak bisa menerima keputusan Athi.
__ADS_1
“Lucas,” panggil Athi dengan sendu, ia pun menoleh ke arah Lucas sembari tersenyum memandangnya, “ini terlalu sakit untukku ....”
“Deg!”
Lucas mendelik, kaget mendengar penuturan Athi yang seperti itu.
Lucas bersimpuh di hadapan Athi, dan menangis pada paha Athi. Ia sungguh tidak bisa seperti ini dengan Athi. Rasa sayang yang selalu ia simpan, dipaksa harus lenyap hanya karena impiannya menjadi idol.
“Athi, aku mohon, pikirkan sekali lagi. Aku gak bisa hidup tanpa kamu--”
Athi menarik tangannya yang dipegang oleh Lucas, “Tidak Lucas. Kamu juga pikirin baik-baik. Putus sama aku, adalah pilihan tepat demi masa depanmu,” ucap Athi, tetapi Lucas hanya bisa menyembunyikan wajahnya di paha Athi.
“Aku mohon,” ucap Lucas, yang masih saja menangis di paha Athi.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya, Athi juga tak kuasa menahan air matanya. Ia pun menangis, bersama dengan Lucas. Ia juga tidak bisa pisah dengan Lucas, tetapi keadaan harus memaksanya seperti itu.
Mereka sejenak hanya diam, dan menumpahkan tangisannya.
Beberapa saat menumpahkan tangisannya bersama-sama, mereka pun sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Lucas memandang ke arah Athi, “Apa hubungan kita tidak ada harapan sedikit pun?” tanya Lucas yang masih berharap dengan hubungan ini.
“Iya, sepertinya begitu.” Athi menunduk sendu karenanya.
Lucas memandang ke arah hadapannya, “Dulu aku tidak bisa menyatakan perasaanku padamu, karena takut akan jadi seperti ini,” ucap Lucas, sontak membuat air mata Athi mengalir mendengarnya.
Mereka menjadi canggung.
“Apa kita tidak bisa menjadi teman seperti dulu?” tanya Lucas, Athi hanya menangis saja, tak tahu harus bersikap apa.
Lucas memandang ke arah Athi, “Kamu gak boleh membenci aku, tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku harap, setidaknya kita bisa tetap jadi teman.”
Athi benar-benar tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Aku tidak akan berharap apa-apa. Aku hanya mau kita kadang kontakan, atau bertemu. Apa bisa seperti itu?” tanya Lucas, Athi memandang ke arah Lucas dengan senyuman.
“Iya, seperti yang kau bilang. Kadang-kadang kita kontakan,” ucap Athi.
Lucas tersenyum, “Terima kasih. Apa aku boleh memeluk kamu untuk yang terakhir kali?” tanya Lucas, Athi hanya mengangguk.
Mereka pun saling berpelukan satu sama lain, dengan air mata yang kembali mengalir dari pelupuk mata masing-masing. Lucas mengecup kening Athi, dan Athi hanya bisa menerimanya saja.
‘ ... dan hubungan cintaku yang pertama, berakhir seperti itu,’ batin Lucas.
__ADS_1
...***...