
"Ya sudahlah! Ayo, nyanyi satu lagu!" suruh temannya sembari menyodorkan mic, membuat Lucas mengambilnya.
"Satu lagu," ucap Lucas, membuat Athi mendelik tak percaya dengan apa yang Lucas lakukan.
'Cih ... pamer. Paling suaranya gak lebih bagus dari kaleng rombeng!' batin Athi yang masih kesal dengan Lucas..
Suara nada musik pun terdengar, Lucas sedang bersiap dengan lagu yang akan ia nyanyikan.
"Mataku tak dapat terlepas darimu, perhatikan setiap tingkahmu yeay ...."
Lucas bernyanyi sebuah lagu yang dibawakan oleh penyanyi Raissa, berjudul could it be love. Suaranya yang sangat merdu, membuat Athi menjadi tercengang mendengarnya.
Lucas hanya fokus pada lagu yang ia nyanyikan, sementara Athi hanya memandangnya dengan tatapan terkesima dengannya.
Athi sama sekali tak menyangka, kalau laki-laki yang mengesalkan ini, ternyata sangat berbakat, selain wajahnya yang memang sangat tampan itu.
'Hah, kok suaranya lembut banget, sih?' batin Athi, yang sangat heran dengan sosok Lucas yang tak kalah perfect dari sosok Azekeil.
Athi melirik ke arah Lucas yang sedang fokus bernyanyi, 'Apa ... Keil juga bisa nyanyi seperti dia?' batin Athi yang tiba-tiba saja kepikiran tentang Keil.
Sepanjang Lucas menyanyikan lagu itu, Athi selalu tersenyum mendengarnya. Walaupun Lucas melihatnya sesekali, tetapi ia sama sekali tidak memedulikan Athi yang sudah memperhatikannya.
Lagu berakhir, membuat Athi tersadar dari lamunannya.
Lucas memandangnya dengan sangat tajam, membuat Athi sangat terganggu dengan pandangannya itu.
"Heh, ngapain ngeliatin aku begitu?" tanya Athi dengan sinis, membuat Lucas semakin mempertajam tatapannya.
"Glekk ...."
Athi tak sengaja menelan salivanya, saking takutnya ia dengan tatapan Lucas.
"Mau apa lagi kamu di sini?" tanya Lucas dengan nada yang sangat dingin, membuat Athi mendelik karenanya.
'Lho ... iya juga ya, ngapain aku masih di sini?' batin Athi yang kebingungan dengan dirinya sendiri.
Athi menoleh ke segala arah, karena bingung dengan yang ia lakukan.
__ADS_1
Athi pun kembali memandang ke arah Lucas, "A-aku cuma mau bilang makasih aja, kok!" gumam Athi dengan sangat ragu dan malu, membuat Lucas mengerenyitkan dahinya.
"Sudah, kan?" tanya Lucas kembali, membuat Athi kaget mendengarnya.
Entah apa maksudnya Lucas.
Lucas menunjuk ke arah pintu keluar, "Pintu keluar ada di sebelah sana," gumam Lucas, membuat Athi semakin mendelik tak percaya dengan ucapannya.
Athi pun mengerucutkan bibirnya, karena merasa sangat kesal dengan Lucas.
"Huh ... menyebalkan!" teriak Athi, membuat teman-teman Lucas merasa heran dengannya.
Athi pun segera meninggalkan ruangan itu, dengan rasa kesal yang melanda hatinya.
Melihat kepergian Athi, Lucas pun hanya diam, tak bisa berkata apa pun lagi.
"Heh, itu siapa, sih? Pacarmu?" tegur seorang teman Lucas.
Lucas melirik ke arahnya, "Bukannya sudah aku bilang? Dia itu cuma serangga!" ucap Lucas lagi, membuat mereka terkekeh mendengarnya.
"Serangga? Mana ada serangga seimut itu?" sambar teman lainnya dengan tiba-tiba.
"Itu karena aku gak mau pacaran," sanggah Lucas, membuat semua orang tertawa.
"Haha Lucas, Lucas. Benar nih gak mau pacaran?" tanya laki-laki pertama, membuat Lucas canggung mendengarnya.
"Udah, pepet aja! Lagian, dia sendiri yang bilang, kalau gadis itu cuma serangga!" sambar orang kedua, membuat Lucas bertambah geram.
Orang ketiga melihat perubahan sikap Lucas yang signifikan, membuatnya merasa tidak enak dengan Lucas. Ia pun segera merangkul pundak Lucas, berusaha untuk membuatnya tenang. Karena ia tahu, Lucas sangatlah brutal, hingga tak memandang pertemanan sekalipun.
"Hey sudahlah! Kita kan niat mau hang out! Kenapa kalian malah begitu?" tegur dirinya yang lalu menoleh ke arah Lucas, "Hey, Cas. Kapan kamu masuk ke sekolah lagi? Masa cuma dua hari kamu masuk, lalu gak pernah kelihatan lagi?" tanyanya, membuat Lucas menghela napasnya panjang.
Lucas terdiam sesaat, "Besok."
...***...
Pagi itu, Athi ingin sekali bertemu dengan Keil untuk mengantarkan sapu tangan yang waktu itu Keil pinjamkan padanya.
__ADS_1
Athi sengaja berangkat lebih pagi, lamu diam-diam menyelinap dari arah kelasnya, menuju ke arah kelas Keil.
Ia menoleh ke segala arah, karena dirinya yang sangat takut dengan kondisi sekolah di saat sepi seperti ini.
"Duh ... menyeramkan banget ternyata!" gumam Athi, yang tetap waspada, sembari menoleh ke kiri dan ke kanan.
Athi berjalan melewati koridor, dan akhirnya sampai di kelas Keil.
Ia melongok ke dalam kelas Keil, dan terlihat Keil yang sudah duduk di sana dengan manis.
Athi tersenyum memandangnya, "Keil!" pekik Athi dengan sangat senang, membuat Keil menoleh ke arahnya.
Melihat Athi yang ada di depan pintu kelasnya, Keil pun menghampirinya.
Kini, ia sudah berada di hadapan gadis berusia 16 tahun itu. Keil memerhatikan Athi, dari ujung rambut, hingga ujung kakinya.
Ia mengerenyitkan dahinya, "Ada apa?" tanya Keil dengan sangat dingin dan sinis, membuat Athi mendadak jadi kesal karenanya.
"Ih, pagi-pagi udah sinis aja!" bentak Athi, membuat Keil terdiam menatapnya.
Athi mengeluarkan sesuatu dari sakunya, "Aku cuma mau balikin ini!" ucap Athi dengan nada malas, sembari menyodorkan sapu tangan yang Keil pinjamkan untuknya.
Keil menatapnya dengan sangat dingin, kemudian menafikan pandangannya, "Buat kamu aja!" gumam Keil dengan dingin, membuat Athi tercengang karenanya.
"Hey! Sapu tangan ini sudah aku cuci, tahu!" bentak Athi, membuat Keil menoleh ke arahnya.
"Sapu tangan itu juga belum pernah aku pakai, tahu!" ucap Keil sinis, membuat Athi mendelik tak percaya dengan perkataan Keil.
"Hah, belum pernah dipakai?" tanya Athi tak percaya, "ma-maksudnya baru dicuci gitu?" tanya Athi yang gagal paham dengan maksud Keil.
Keil menatapnya dengan datar, "Itu sapu tangan baru," gumam Keil dengan datar, membuat Athi mendelik kaget mendengarnya.
"Apa?!" pekik Athi, yang sangat kaget dengan ucapan Keil, "terus kenapa ini kamu gak mau pakai? Aku gak pakai untuk lap ingus, kok! Cuma pakai untuk lap jus yang tumpah kemarin," ucap Athi yang masih belum paham dengan maksud Keil yang sebenarnya.
Keil yang kesal karena Athi tidak peka dengan ucapannya, hanya bisa memandang sinis ke arah Athi, membuat Athi sedikit banyaknya merasa takut dengan tatapannya.
Keil menafikan pandangannya dari Athi, "Aku gak pernah nyuruh kamu untuk kembalikan itu," gumam Keil dengan sangat lirih, membuat Athi melongo mendengarnya.
__ADS_1
'Ja-jadi sapu tangan ini untuk aku?' batin Athi yang terkejut dengan maksud dan niat Keil yang baik padanya.
Padahal, jika dilihat dari warna hitam elegan, kualitas bahan, dan merk yang bertuliskan Richard Mille, semua orang juga sudah sangat paham dengan harganya yang pastinya tidak murah.