
“Setelah putus, aku marah, minum-minum, menangis, sampai coba kencan dengan orang lain. Aku mencurahkan semua perasaanku dan melupakan perasaanku terhadapmu ....”
“Tapi sepertinya kau terlalu sibuk, sampai tidak ada waktu untuk melakukannya.”
Athi menghela napasnya, “Aku rasa kau butuh waktu lagi untuk melupakan aku ... dan sepertinya kita masih butuh waktu untuk bisa menjadi teman lagi.”
“Kalau aku tidak ingin kembali padamu tapi sekarang tetap berada di sisimu, itu akan menjadi siksaan harapan untukmu ....”
Lucas mendelik kaget mencerna kata Athi, “Bukan Athi, aku hanya ....”
Athi menghela napas kembali, “Lucas, aku sudah tidak mencintaimu lagi.”
“Deg!!”
Seketika tubuh Lucas bergetar, karena mendengar Athi mengatakan hal seperti itu. Lucas sampai bangkit, dengan tubuhnya yang terus terasa gemetar.
“Aku akan menyesuaikan diri denganmu ... aku akan berusaha ....”
Athi tidak ingin mendengarkan penjelasan Lucas lagi. Ia segera mengemas barang-barangnya, dan segera bangkit di hadapan Lucas.
“Baik-baik ya, Lucas.”
Mendengar kata terakhir Athi, Lucas hanya bisa mendelik, dengan air mata yang terus-menerus mengalir dari pelupuknya.
Athi tersenyum tipis, “Walau bukan sekarang, kita akan bertemu lagi sambil tersenyum saat kita sudah benar-benar bisa bertemu sebagai teman,” ucap Athi, lalu melambaikan tangan ke arah Lucas.
“Selamat tinggal,” ucap Athi yang lalu meninggalkan Lucas di sana seorang diri.
Lucas masih saja menangis, karena merasa tidak kuat dengan yang Athi katakan padanya.
Lucas menunduk, “Tolong jangan bilang selamat tinggal. Bilang saja, sampai jumpa. Apa kau tidak mau bertemu akau lagi?” gumam Lucas, yang tidak kuat mendengar perkataan Athi, yang saat ini sudah meninggalkannya.
Di sisi sana, Athi berjalan dengan sangat gontai, dengan tubuhnya yang sudah gemetar karena mengatakan semua yang bisa membuat hatinya dan hati Lucas terluka.
Athi menangis, dan tertunduk jongkok di aspal jalan. Ia sudah tidak bisa menahan tangisannya, dan malah menumpahkan semuanya sendirian.
Ini adalah pilihan yang tepat untuk mereka. Pergi, dan kembali sebagai seorang sahabat.
Menjalin kembali hubungan dengan seseorang yang berbeda tingkat kedudukannya, pasti akan terasa sangat sesak.
Athi menenggelamkan wajahnya pada dengkul kakinya, karena merasa sudah tidak kuat lagi menahan tangisannya yang sudah pecah.
Ia menangis tersedu-sedu, karena ia harus melakukan ini, agar mereka sama-sama tidak mengharapkan sesuatu yang tidak pasti akan terjadi.
Sebagaimana kita tahu, Lucas yang saat ini sudah menjadi seorang roockie terkenal, yang pergerakannya sudah sangat dibatasi oleh kesibukan yang ada.
Sementara Athi, hanyalah seorang gadis sederhana, dan orang biasa, yang tidak memiliki apa-apa, bahkan ia juga tidak memiliki pekerjaan saat ini. Athi bisa memposisikan dirinya di hadapan Lucas.
‘Sekarang benar-benar sudah berakhir. Mungkin sebenearnya, inilah yang paling aku takuti,’ batin Athi yang tidak kuasa menahan perihnya.
Seketika terbersit bayang-bayang tentang masa lalu mereka bersama. Athi masih sangat mengingat kejadian demi kejadian, yang pernah mereka lalui bersama.
Kini, semuanya benar-benar sudah berakhir.
Athi melepaskan kalung yang pernah Lucas berikan padanya. Ia meninggalkannya di sana, di jalan tempat pertama kali mereka bertemu.
...***...
Beberapa bulan berlalu, Athi pun sudah benar-benar melupakan Lucas.
Dengan segala macam kegiatan yang ia ikuti, dan juga teman-temannya yang selalu memberikan support untuknya, Athi sudah sangat siap untuk membuka lembaran baru, yang tentu saja tanpa Lucas.
Saat ini adalah saat bertemu dengan teman-temannya. Athi sudah sangat siap untuk berangkat menemui mereka di sana.
Athi berjalan menyusuri jalanan, menuju tempat yang sudah mereka janjikan.
__ADS_1
Beberapa bulan ia lalui dengan tidak keluar rumah, tidak memperbarui akun Enstagram-nya, menghapus foto profile, bahkan Ahti sampai keluar dari grup chat yang masih terdapat Lucas di dalamnya.
Athi sangat menikmati masa-masa kesendiriannya. Ia benar-benar sudah bisa melupakan Lucas, walau belum sepenuhnya melupakan.
Athi masuk ke dalam sebuah caffee yang mereka janjikan, dan segera mencari keberadaan teman-temannya.
Sua memandang ke arah Athi yang sudah datang di sana, membuat Athi tersenyum memandangnya.
“Athi! Di sini!” pekik Sua, Athi pun tersenyum dan segera menghampiri mereka.
Di sana, sudah ada Sua, Imel, Belle dan juga Keil. Mereka sudah lama menunggu Athi datang, karena Athi sama sekali tidak berniat untuk datang ke pertemuan kali ini.
Dengan kata lain, mereka memaksa Athi, sehingga Athi harus datang tanpa persiapan yang benar.
“Hai, sudah lama menunggu?” tanya Athi, yang langsung duduk di kursi kosong, sebelah Keil.
“Sudah sampai berlumut kita menunggu!” jawab Sua, Athi tertawa mendengar leluconnya itu.
“Tahu, nih! Kenapa dandannya lama banget, sih?” sambar Imel dengan gaya khasnya yang sangat imut.
“Kan mendadak,” ujar Athi, berusaha berkilah dengan keadaan.
Belle memandang Athi dengan dalam, “Sudahlah, yang penting ... si tokoh utama sudah datang,” ucap Belle, dengan nada yang penuh dengan makna.
Mendengar ucapan Belle yang terdengar rancu, Athi mendadak bingung dengan mereka.
“Ada apa ini?” tanya Athi yang heran dengan maksud Belle.
“Beberapa bulan gak ada kabar, apa keadaan kamu baik-baik aja?” tanya Keil, sontak membuat Athi menoleh ke arahnya.
“Ah ... kalian pasti kaget ya, aku sampai keluar grup chat, jarang posting foto, gak pernah keluar rumah?” tanya Athi, “aku benar baik aja, kok!” ujar Athi yang berusaha meyakinkan mereka, kalau dirinya sedang baik-baik saja.
Sua memandang mereka dengan heran, “Eh ... sudah jangan kebanyakan drama! Cerita ini sudah mau tamat, tahu!” tegurnya, sontak membuat mereka mendelik kaget mendengarnya.
“Grep!”
Athi terkejut, saat tiba-tiba saja Keil menggenggam tangan Athi, di hadapan teman-temannya. Hal itu membuat wajah Athi seketika memerah.
“Athi, sudah lama aku menahan perasaan ini sama kamu. Aku gak mau menunda lagi, karena novel ini sebentar lagi akan tamat. Nanti yang ada, aku dimarahi author, karena terlalu lama drama!” ucap Keil, membuat mereka tertawa mendengarnya.
Athi memandang heran ke arah Keil.
“Athi, menikah denganku, ya!”
“Deg!”
Satu ucapan Keil, sontak membuat Athi menjadi sangat terkejut. Pasalnya, Azekeil tidak hanya menyatakan perasaannya saja, tetapi juga menyatakan bahwa ia ingin sekali menikahi Athi.
Hal itu sontak membuat Athi menjadi sangat tersentuh.
Mata Athi berbinar, saking dirinya tidak bisa menahan perasaan senang mendengar semua yang Keil katakan padanya.
Semua orang berbisik lirih, saking senangnya dengan apa yang Keil katakan pada Athi.
“Athi,” panggil seseorang, yang baru saja tiba dari arah pintu masuk, sontak membuat Athi mendelik kaget.
“Lucas ... kamu kok di sini?” tanya Athi yang bingung dengan keberadaan Lucas di sini.
Lucas tersenyum, “Aku cuma mau minta maaf, selama ini aku sudah menyulitkan kamu. Aku juga mau bilang, makasih, karena sudah mencintai aku waktu itu,” ucap Lucas sontak membuat hati Athi menjadi sangat berdebar.
Lucas memandang ke arah Athi dengan Keil, “Memang sejak awal tidak ada tempat untuk aku. Aku hanya mengambil celah dari hubungan kalian yang renggang, dan karena keserakahan aku, makanya kejadiannya jadi rumit seperti ini,” ucap Lucas lagi yang menjelaskan tentang maksud dan tujuannya.
Athi tidak paham dengan apa yang Lucas katakan.
Lucas memandang keduanya dengan tatapan sendu sembari tersenyum, “Memang pemeran utamanya adalah kalian berdua. Aku gak akan menghalangi lagi. Aku senang kalau kamu senang, Thi. Seperti janjiku sama Keil, kalau kamu senang memilih Keil, aku gak akan ikut campur lagi dengan hubungan kalian. Kalian bisa dengan tenang menjalin hubungan ini.”
__ADS_1
Seketika semua mata menjadi sendu mendengarnya. Tak bisa dipungkiri, Lucas memang selalu ada untuk Athi, dan selalu menyelamatkan Athi.
Akan tetapi, peran Lucas di sini hanya sebagai ksatria pelindung tuan putri saja. Tugas Lucas hanya melindungi Athi, bukan untuk memilikinya.
Berbeda dengan Keil.
Lucas tersenyum, “Hey, what are waiting for? Terima lamaran Keil, dong!” ucap Lucas, sontak membuat Athi mendelik kaget mendengarnya.
Athi memandang ke arah teman-temannya, “Jadi kalian bersekongkol, ya?” tanya Athi, tetapi mereka hanya bisa tersenyum mendengarnya.
“Kalau gak gini, kamu gak akan mau keluar buat nemuin kita,” ucap Sua dengan sangat terpaksa mengatakan demikian.
“Iya, Keil juga minta tolong sama kita juga buat menyatakan perasaannya sama kamu!” sambar Imel.
“Udah ... Keil memang dari awal suka sama kamu. Aku juga terus dukung Keil, walau akhirnya aku gak bisa mendapatkan Keil,” ucap Belle dengan sendu, membuat Imel dan Sua memeluknya dari samping.
“Jangan sedih, ada kita,” ucap Sua dan Imel bersama-sama.
Keil menggenggam tangan Athi, dan bersimpuh di hadapannya, membuat semua orang memandangnya dengan sangat bahagia.
Pandangan mereka tertuju pada satu titik, membuat Athi merasa sangat canggung karenanya.
“Athi, will you marry me?” tanya Keil.
“Deg!”
“Terima! Terima!” teriak semua teman-temannya, termasuk Lucas.
Athi tersenyum, dan mengangguk ke arah Keil.
“Yes, i will!”
Semua orang sontak bergembira dengan apa yang sudah terjadi malam ini. Keil tersenyum, dan menunjukkan kotak kecil merah yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Athi menjadi sangat terpukau, melihat cincin yang ada di hadapannya.
Keil segera memakaikannya pada jari manis Athi, membuat Athi sangat senang karenanya.
Mereka pun saling berpelukan, meleburkan kasih sayang yang sempat terhalang selama ini.
Teman-temannya ikut memeluk Athi dan Keil, karena merasa sangat bahagia karenanya.
Mereka pun melepaskan pelukan itu, dan tersenyum bahagia dengan semua yang sudah terjadi selama ini.
Lucas menyodorkan tangannya ke arah Belle, seketika Belle pun menerima uluran tangan dari Lucas.
Lucas merengkuh Belle ke dalam pelukannya, sontak membuat Athi dan yang lainnya terkejut melihatnya.
“Kalian pacaran?” tanya Sua yang kaget melihat Lucas dan Belle yang saling merengkuh.
“Iya, kami baru resmi pacaran kemarin,” jawab Lucas dengan sangat bahagia, membuat Athi kaget mendengarnya.
Athi pun tersenyum, “Kalian cocok, kok! Aku senang Lucas sudah bisa menemukan pengganti aku,” gumam Athi, yang merasa sangat bahagia.
Sua dan Imel saling melempar pandang, “Sepertinya tinggal kita yang belum menemukan ya,” ucap Sua, Imel melipat kedua tangannya.
“Aku ada, cuma diam-diam aja. Takut kamu ngomel lagi!” ucap Imel, sontak membuat Sua mendelik kaget mendengarnya.
“Imel jahat!” teriak Sua, yang merasa dirinya jomblo seorang diri.
Mereka pun tertawa, karena merasa sangat bahagia sudah bisa bersama.
Manisnya cinta sahabat, pikir Athi di dalam hatinya yang tengah merasakan gejolak yang menggelora.
...***...
__ADS_1