
Beberapa hari berlalu. Keil pun sudah sangat siap untuk menyatakan perasaannya pada Athi.
Saat ini, ia sedang menunggu Athi di depan rumah Athi. Keil menunggu dengan sabar, sampai akhirnya Athi menemuinya.
Athi berjalan dengan sangat hati-hati, menuju ke arah Keil. Athi mendadak tidak menentu, karena Keil yang tiba-tiba saja mengajaknya bertemu.
‘Duh ... Keil mau apa?’ batin Athi yang merasa penasaran dengan apa yang Keil inginkan darinya.
Athi memandang ke arah Keil, “Hai Keil,” sapa Athi, yang baru saja sampai di hadapan Keil.
Keil mengalihkan pandangannya ke arah Athi, “Hey, Athi,” sapa balik Keil.
Athi menjadi sangat rancu, semenjak kejadian di jembatan waktu itu.
Athi menghela napasnya panjang, “Ada apa, Keil?” tanya Athi yang sangat canggung dengan Keil yang tiba-tiba mengajaknya bertemu.
“Ah ... gak apa-apa. Aku cuma mau ajak kamu ketemu aja. Mau ngajak makan, dan lain-lain,” ujar Keil, membuat Athi menjadi tidak menentu.
‘Bukannya ... itu namanya kencan, ya?’ batin Athi yang bingung dengan keadaan.
Athi menghela napasnya dengan panjang, “Memangnya, kamu gak ada kegiatan?” tanya Athi, Keil hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Di sisi sana, Lucas sudah berhasil mengosongkan jadwalnya. Ia dengan cepat berlari ke arah rumah Athi, untuk bertemu dengan Athi.
Lucas sangat merindukan Athi.
‘Athi di-chat gak dibalas, telepon juga gak diangkat. Malam-malam gini, dia lagi ngapain, ya?’ batin Lucas yang sangat heran dengan kegiatan Athi.
Lucas berlarian menuju ke arah rumah Athi. Langkahnya tiba-tiba harus terhenti, matanya juga mendelik, karena ia yang melihat Athi dan Keil yang sedang berciuman di hadapannya.
“Hah?!” gumam Lucas, yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat itu.
Lucas hanya bisa memandang mereka dengan hati yang sangat sakit, karena ia tidak menyangka kejadiannya akan jadi seperti ini.
Lucas pun pergi dari sana, dan segera mencari gang yang sangat sepi untuk tempat ia menumpahkan amarahnya pada dirinya sendiri.
Lucas sudah tiba di gang tempat pertama kali dirinya dan Athi bertemu. Ia sangat kesal, dan berteriak-teriak seperti orang yang tidak waras saja.
“Argh!!” teriak Lucas, karena tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
Lagi-lagi, kedatangannya ternyata tidak tepat. Selalu Keil yang lebih unggul darinya.
“Mana ucapan kamu yang katanya gak akan pernah lebih dari sahabat? Kamu sama Keil ternyata sekarang pacaran, dan aku sendiri di sini yang menahan rasa sakit!” teriak Lucas, yang sangat kesal dengan keadaan.
Keadaan yang tidak menguntungkan dirinya, sehingga membuat Lucas menjadi sangat kesal.
__ADS_1
“Bruk!”
Lucas tertunduk, jatuh tersimpuh di atas aspal yang sedikit tergenang air. Ia merasa kalau dirinya sudah kehilangan sosok seorang yang dia cintai.
“Kenapa pilihannya tidak adil?” teriak Lucas, yang sangat menyayangkan pilihan antara cinta dan cita.
Sudah lama ia mendambakan sosok gadis, yang bisa membuatnya sangat mencintainya. Akan tetapi, harus lenyap begitu saja hanya karena cita-citanya sebagai seorang idol.
Derai air mata terus bercucuran dari pelupuk matanya, membuatnya terlihat sangat hancur saat ini.
“Athi, kenapa seperti ini jadinya?” gumam Lucas, yang masih saja berada dalam isak tangisnya.
Di sisi sana, Keil dan Athi merasa sangat canggung.
Athi melirik ke arah Keil, begitu juga Keil.
‘Duh ... malu banget deh jadinya!’ batin Athi yang merasa sangat malu dengan Keil.
...-Flashback on-...
Athi menghela napasnya dengan panjang, “Memangnya, kamu gak ada kegiatan?” tanya Athi, Keil hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Gimana, kamu mau gak?” tanya Keil, Athi hanya bisa diam mendengarnya.
Athi merasa matanya seperti ada yang mengganjal, membuatnya merasa tidak enak jadinya.
Keil memandang Athi dengan heran, “Kamu kenapa?” tanya Keil.
“Aduh, Keil tolongin aku dong! Sepertinya, kontak lensa aku masuk ke sela mata,” ucap Athi, sontak membuat Keil menjadi sangat panik mendengarnya.
“Eh, kamu gak apa-apa?” tanya Keil panik, yang langsung mendekatkan wajahnya ke arah Athi.
“Bantuin aku!” gumam Athi dengan sangat takut, Keil pun berusaha mengambilkan kontak lensa yang Athi pakai, pada sela matanya.
“Susah banget tahu!”
Athi merengek, “Eh yang benar aja? Gimana kalau masuk ke dalam mata?”
“Ini aku usahain. Kamunya jangan gerak-gerak, ya!” ucap Keil.
Mereka sejenak saling pandang, membuat suasana menjadi agak canggung karenanya.
Keil memandang sejenak mata Athi, karena ia sangat jarang memandang Athi dalam jarak yang sedekat ini.
Keil tersadar dari lamunannya, dan segera membantu Athi untuk mengambil lensa kontak yang terselip.
__ADS_1
Akhirnya, Keil pun bisa mengambil lensa tersebut.
...-Flashback off-...
Athi memandang ke arah Keil, “Keil, makasih ya, udah mau bantu ngambilin lensa kontak aku,” ucap Athi, Keil menafikan pandangannya.
“Besok-besok, gak usah pakai kontak lensa!” ucap Keil tanpa memandang ke arah Athi.
Athi mengerenyitkan dahinya, “Gak bisa! Aku harus pakai lensa kontak. Bola mataku aneh, jadi harus pakai lensa yang agak--”
“Bagiku kamu yang paling cantik!”
“Deg!”
Athi menjadi berdebar tak menentu, karena Keil memangkas ucapannya dengan perkataan yang seperti itu.
“Hai semua!” pekik Belle dari kejauhan, membuat Keil dan Athi menoleh seketika karenanya.
Belle mendekat ke arah mereka, dan berdiri di hadapan mereka.
“Kalian lagi ngapain?” tanya Belle yang penasaran dengan apa yang Keil lakukan dengan Athi.
Athi tersenyum memandang Belle, “Kita lagi ngobrol biasa aja, kok!” jawab Athi yang sangat senang bertemu dengan Belle.
“Wah ... aku juga mau ngobrol bareng kalian, dong!” ucap Belle, “gimana kalau kita ke caffee bareng?” tawar Belle, Athi pun mendadak senang mendengarnya.
“Wah, kayaknya seru, tuh!” ucap Athi yang sangat senang mendengar tawaran Belle.
“Yuk!” teriak Belle dengan sangat senang, dan langsung merangkul Athi untuk pergi bersamanya.
Suasana menjadi sangat rancu, karena Keil yang ternyata gagal untuk mengutarakan perasaannya pada Athi.
‘Dasar Belle, dia yang nyuruh aku utarakan perasaan, tapi dia juga yang mengacaukan!’ batin Keil yang sangat kesal dengan keadaan.
Belle menghentikan langkahnya, sehingga membuat Athi menghentikan langkahnya juga.
Belle memandang ke arah Keil, “Hey, Keil! Mau ikut, tidak?” tawar Belle, membuat Keil bertambah kesal saja jadinya.
‘Harusnya aku yang mau ajak Athi, jalan-jalan dan makan!’ batin Keil yang hanya bisa memendam rasa kesalnya saja terhadap Belle.
“Gak usah, kalian aja!” tolak Keil, sontak membuat Belle kesal mendengarnya.
‘Si cecunguk ini, aku datang tepat waktu untuk menyelamatkan keadaan, eh dia malah bilang begitu,’ batin Belle yang kesal dengan Keil, yang tidak bisa membaca keadaan.
“Ya sudah, kalau kamu gak mau ikut. Biar aku aja sama Athi yang pergi!” ucap Belle, “yuk, Thi!” ajak Belle yang langsung melangkahkan kakinya lagi ke arah caffee yang ingin ia tuju.
__ADS_1
...***...