Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Guru Famous


__ADS_3

"Ya udah, Kakak mau balik ke kantor lagi. Nanti jangan terlalu larut pulangnya," ujar Zeti, membuat Athi mengangguk.


“Nanti sehabis kegiatan, aku langsung pulang ke rumah,” ujar Athi, membuat Zeti tersenyum dibuatnya.


“Ya udah, sampai jumpa,” ujar Zeti yang juga melambaikan tangannya ke arah Athi.


Athi memandang kepergian kakaknya dengan sangat sengan. Ini adalah kali pertama Zeti ke sekolah Athi, khusus untuk mengantarkan makanan untuk Athi.


“Huft ....”


Athi menghela napasnya panjang, “Kadang dia itu kayak macan, kadang dia juga baik banget sama aku. Beneran gak bisa ditebak sifatnya,” gumam Athi yang merasa heran dengan sifat kakaknya itu, yang berubah-ubah setiap saat.


Dengan segera, Athi pun kembali ke kelasnya untuk memakan makanan yang kakaknya berikan padanya.


...***...


Jam pelajaran dimulai. Akibat makanan yang dibelikan kakaknya tadi, Athi menjadi sangat mengantuk.


“Hoam ....”


Athi menguap, sampai menyandarkan kepalanya di atas meja, saking mengantuknya ia karena terlalu banyak makan sebelum jam pelajaran dimulai.


Bapak guru tampan nan memesona itu, tak sengaja melihat Athi yang sepertinya sudah sangat mengantuk, karena hampir saja ia memejamkan matanya.


“Athanasia, kamu ngantuk?” tanya Pak Arghi, membuat Athi seketika memperbaiki sikap duduknya.


Athi menunduk takut, “Ma-maaf, Pak!” ujar Athi, membuat Arghi menggelengkan kepalanya.


“Jam-jam pulang seperti ini, memang bikin orang ngantuk, sih!” gumam Arghi sembari sedikit berpikir, “gimana kalau kita makan es krim aja?” tawar Arghi pada semua murid yang ada di kelas ini.


Athi memandang Arghi dengan sangat lekat, dan merasa kalau Arghi memang sangat pengertian dengan semua murid di sekolah ini. Para siswi menjadi bertambah terpesona, karena selain dari penampilannya yang terlihat sangat keren, parasnya yang sangat menawan, Arghi pun rupanya sangat perhatian dengan keadaan siswanya.

__ADS_1


“Tunggu, Bapak mau beli es krim dulu ya,” ujar Arghi, membuat semua siswa melongok dengan yang Arghi lakukan.


“Kya!! Pak Arghi memang beneran manis, ya?” ujar Imel yang sangat senang dengan perlakuan manis Arghi terhadap semua siswa yang ada.


Semua siswa, baik yang laki-laki ataupun perempuan, semuanya sangat menyukai cara Arghi bersikap. Mereka bahkan membuat julukan favorit untuk Arghi di sekolah ini. Usia Arghi yang masih terbilang muda, dan juga segalanya yang Arghi miliki, membuat semua siswa berhayal untuk mendapatkan hatinya.


Athi menunduk malu mendengar ucapan Imel.


Tak lama kemudian, Arghi pun datang dengan membawa satu plastik berisi es krim yang sangat banyak, membuat semua siswa benar-benar takjub melihatnya.


“Ternyata beneran, dong!” bisik gadis yang berada di ujung sana.


“Iya, aku kira cuma bohongan!” sahut gadis lainnya dengan berbisik juga, yang masih terdengar jelas di telinga Athi.


“Ayo semua, makan es krim dulu!” ujar Arghi, membuat semua siswa mengambil es krimnya masing-masing.


Arghi berjalan ke arah Athi sembari membawa sebuah es krim, “Ini untuk Athanasia,” ujar Arghi, membuat Athi mendelik karenanya.


Wajah Athi seketika berubah memerah, membuat dirinya hampir saja tidak bisa mengontrol hati dan perasaannya.


Melihat Athi yang secara khusus dipilihkan es krim oleh Arghi, Imel pun menatapnya sinis, “Aku juga mau dong es krim seperti Athi!” ujar Imel dengan kesal, membuat Arghi tersenyum ke arahnya.


“Imel es krim yang itu aja, ini khusus untuk Athi,” ujar Arghi, membuat semua orang memandang ke arah Athi dengan sinis.


Melihat padangan mereka, Athi pun menjadi resah karena sudah lama ia tidak memandang pandangan buruk seperti itu lagi. Hanya karena permasalahan es krim, membuat Athi kembali harus melihat tatapan itu lagi.


...***...


Jam pelajaran pun usai. Kini, Athi dan kawan-kawannya segera membereskan barang-barangnya untuk segera mengikuti pelajaran tambahan di klub yang mereka ikuti.


“Gila ya! Gak habis pikir sama Pak Arghi! Kenapa coba, dia perlakukan Athi spesial banget?” tanya Imel yang sepertinya masih saja kesal dengan sikap Arghi pada Athi tadi.

__ADS_1


Sua memandangnya dengan datar, “Kamu kenapa sih, Mel? Kayaknya gak suka kalau lihat teman senang?” tanya Sua yang sinis, membuat Imel menjadi geram karenanya.


“Ya gak gitu maksudnya! Masa cuma sama Athi sih dia baiknya?” tanya Imel yang masih saja tidak terima dengan kenyataan yang ada.


Sua memakai tasnya, “Kan semua orang dapat es krimnya. Kenapa kamu permasalahin, sih?” tanya Sua dengan sinis, membuat Imel bertambah sinis padanya.


“Ya gak gitu juga konsepnya, Sua! Kamu lihat gak, tadi cuma Athi yang dikasih es krim khusus? Kenapa aku minta es yang sama, tapi gak dikasih sama dia?” tanya Imel, membuat Athi menggelengkan kepalanya.


Athi memandang ke arah mereka yang sedang bertengkar, hanya karena permasalahan sepele.


“Ya itu karena es krim yang seperti Athi cuma satu, makanya kamu gak dikasih!” jawab Sua, membuat Imel semakin naik pitam.


“Gak, deh! Kayaknya ... Pak Arghi suka sama kamu deh, Thi!” bidik Imel, membuat Athi terkejut mendengarnya.


“Ngarang kamu, Mel! Mana ada dia suka sama aku!” bantah Athi saking terkejutnya mendengar dugaan Imel.


Sua terdiam sesaat, “Tapi ada benarnya juga sih, Thi! Dia sepertinya selalu memperhatikan kamu. Buktinya, kamu ngantuk aja dia tahu. Es krim khusus, dan perlakuan khusus. Apa namanya kalau gak suka?” ujar Sua yang berusaha menyimpulkan keadaan.


Mendengar ucapan Sua, sontak membuat wajah Athi menjadi merona. Ia sungguh tak bisa berkata-kata lagi, karena dirinya sangat bingung harus bersikap seperti apa.


‘Masa sih, Pak Arghi suka sama aku?’ batin Athi yang merasa kebingungan dengan keadaan.


“Nah, Sua juga ngerasa, bukan?” tanya Imel, membuat Sua mengangguk sembari menatapnya dengan tajam.


“Kalau memang kenyataannya dia suka sama Athi, gimana?” tanya Imel, membuat wajah Athi kembali merona mendengarnya.


“Ya bagus! Athi gak akan jadi galau lagi, karena mikirin si Agha sialan itu, yang udah nyakitin perasaannya Athi,” jawab Sua, membuat Imel mendelik kaget.


“Sua aneh! Giliran sama Agha, kamu gak setuju. Kenapa sama Pak Arghi, kamu malah setuju?” tanya sinis Imel, membuat Sua memandangnya dengan datar.


“Kamu itu gimana? Kita kan ... udah SMA, sebentar lagi akan lulus, dan kalau wanita itu biasanya cepat menikah. Aku lebih senang kalau Athi berpacaran dengan orang yang sudah mapan! Bukan dengan orang yang gak jelas asal-usulnya!” ujar Sua, membuat mata Imel terbuka dengan lebar.

__ADS_1


“Aku kira kamu beneran sangat anti sama cowok, Sua! Ternyata, kamu lebih memilih tentang cowok!” ujar Imel menyimpulkan, membuat Sua menjadi malu karenanya.


“Kata siapa? Aku gak pilih-pilih, tuh!” bantah Sua yang malu karena ucapan Imel yang asal, membuat Athi tersenyum melihat mereka akrab seperti ini.


__ADS_2