
Tak dapat dipungkiri, Athi sangat terkejut dengan keadaan yang hampir saja menimpanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena merasa dirinya sudah sangat lemas dengan kejadian yang terjadi pada dirinya.
Lucas memandang ke arah Keil yang terkejut, saat Athi memeluknya dengan erat. Lucas hanya bisa terdiam, tanpa bisa membantah keadaan.
Lucas yang sudah menolongnya, tetapi Athi malah memeluk Keil yang hanya memberikan minum padanya saja.
"Aku takut, Keil," gumam Athi dengan tangisan yang masih saja terdengar jelas.
Mendengar Athi yang berbicara seperti itu, membuat Keil membalas pelukan Athi. Mereka saling memeluk satu sama lain, membuat Lucas hanya bisa memandangi mereka dari hadapan mereka saja, tanpa bisa berkata apa-apa.
"Apa yang kamu takutin? Sekarang kamu aman," ujar Keil, membuat hati Athi agak sedikit tenang karenanya.
Memandang mereka yang semakin mengumbar kebucinan di hadapan Lucas, Lucas hanya bisa memandangnya dengan datar, kemudian meninggalkan mereka yang masih berpelukan di sana.
"Syukurlah aku masih hidup!" ujar Athi, membuat Keil hanya bisa diam mendengarnya.
Keil pun melepaskan pelukan Athi, membuat dirinya agak malu dengan Athi saat ini. Menyadari Lucas yang sudah tidak ada, membuat Keil seketika mengedarkan pandangan ke area sekitar stasiun.
Keil melihat Lucas yang sudah berjalan lebih dulu ke arah pintu masuk stasiun.
Keil pun menoleh ke arah Athi, "Ayo, Lucas sudah pergi," ajak Keil, membuat Athi mengangguk sembari mengelap air matanya yang bercucuran.
Keil bangkit dibarengi Athi. Ia pun menarik tangan Athi untuk segera menuju ke arah Lucas berada. Tak banyak yang Athi lakukan, karena dirinya yang sedang kehilangan kepercayaan dirinya. Ia hanya bisa mengikuti Keil, yang selalu menuntun tangannya itu.
Dengan sedikit melambatkan langkahnya, Lucas sengaja menunggu kedatangan Athi dan Keil, yang sudah menyusul dirinya. Sedikit banyaknya hati Lucas menjadi terkoyak, karena ia merasa pengorbanannya sama sekali tidak dihargai. Athi malah bersikap seolah-olah kalau Keil lah yang sudah menyelamatkannya.
Lucas menghela napasnya panjang, "Sudahlah, lagipula, serangga itu selamat juga sudah bagus," gumam Lucas yang mengikhlaskan kejadian yang terjadi dengan dirinya.
__ADS_1
Keil dan Athi sudah berhasil tiba di hadapan Lucas, "Jangan cepat-cepat," ujar Keil, membuat Lucas terdiam.
Lucas melirik ke arah tangan Keil yang sedang menggenggam tangan Athi, membuat ia hanya bisa memandang sinis Keil saja.
"Gak punya waktu," ujar Lucas dengan datar, membuat Keil mengerenyitkan dahinya.
"Sok sekali," ujar Keil, membuat Lucas menyunggingkan senyumnya sembari menafikan pandangannya dari Keil.
Lucas memandang ke arah Athi, "Heh, makanya kalau mau jalan tuh lihat-lihat. Punya mata dipake, jangan diganjal pakai lensa mata," ujar Lucas, membuat Athi mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Lucas!!" teriak Athi, membuat Lucas hanya bisa mengangkat bahunya saja di hadapan Athi.
"Nyusahin orang aja," umpat Lucas, membuat Athi mendelik mendengarnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Athi sinis, membuat Lucas terdiam mendengarnya.
“Lain kali, aku gak akan ajak kamu,” ujar Lucas, membuat Athi bertolak pinggang sembari memandangnya dengan sinis.
Lucas memandang ke arah Keil, “Mau ke mana kita?” tanya Lucas, membuat Keil sedikit berpikir.
“Karena udah ada di desa, gimana kalau kita main di kebun raya?” tawar Keil, membuat Lucas berpikir sejenak.
Athi membulatkan matanya, “Hah, kebun raya?” tanya Athi yang sejak dulu memang ingin berkunjung ke tempat itu.
Lucas memandangnya dengan sinis, “Apa sih? Nanti kamu mau ketabrak lagi, terus nangis lagi, terus peluk-pelukan lagi, terus gandengan tangan lagi?” sinis Lucas, membuat Athi dan Keil mendadak kaku mendengar ucapan Lucas yang terkesan asal itu.
Wajah mereka seketika bersemu, membuat Athi dan Keil sama-sama menafikan pandangan mereka, satu sama lain.
__ADS_1
Athi bingung harus berbicara apa, karena memang pada kenyataannya yang Lucas katakan memanglah benar. Sedikit banyaknya, Athi sangat senang dengan yang Keil lakukan padanya itu.
‘Ah si bodoh ini!’ batin Athi yang sedikit geram dengan ucapan Lucas yang terdengar asal, tetapi memang tepat pada sasarannya.
Melihat ekspresi mereka yang sepertinya sangat malu satu sama lain, Lucas pun akhirnya berjalan menuju ke arah pintu keluar, meninggalkan mereka yang masih belum sadar.
Lucas terdiam sejenak sembari menoleh ke arah mereka, “Heh, mau sampai kapan di situ aja?” tanya Lucas, membuat Athi dan Keil tersadar dengan keberadaan Lucas yang sudah jauh di hadapannya.
Lucas pun pergi dari hadapan mereka, membuat Athi menjadi sangat canggung karena Lucas meninggalkan mereka berdua saja.
Keil berusaha untuk bersikap normal seperti biasanya, “Ya udah, ayo. Nanti dia ninggalin kita di sini, gimana?” ajak Keil, membuat Athi mengangguk karenanya.
Mereka pun pergi menghampiri Lucas yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.
Athi sangat senang karena hari ini, mungkin saja akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untuknya. Hari ini, adalah hari yang sangat bersejarah baginya. Meskipun ia tidak mengetahui dengan jelas tentang permasalahan yang mereka alami, akan tetapi hanya dengan melihat mereka akrab saja, sudah bisa membuat Athi menjadi sangat senang.
Mereka berlarian menuju Lucas, yang sudah lebih dulu naik ke sebuah bus. Karena Keil sudah lebih dulu menaiki bus, Keil pun akhirnya duduk di sebelah Lucas, membuat Athi menjadi harus duduk sendirian di kursi yang berada di depan mereka.
Athi mengerutkan bibirnya karena merasa sedikit kesal, “Huh ... jadi aku duduk sendiri, nih?” tanya Athi, membuat Lucas dan Keil saling menafikan pandangan dan tak ada yang mau mendengarkan ucapan Athi.
Melihat reaksi mereka yang sama sekali tidak memedulikannya, Athi pun terpaksa harus duduk pada bangku yang masih tersedia.
Tak lama kemudian, bus pun menjadi sangat penuh. Banyak sekali orang yang berdesakan di sana. Seorang pria yang terlihat lebih sedikit dewasa dari mereka, tiba-tiba pun duduk di sebelah Athi, membuat Athi terpaksa harus berbagi tempat duduk dengannya.
Lucas dan Keil menyadari hal itu, tetapi mereka sama sekali tidak ingin bersikap terlalu dekat dengan Athi.
Pria itu menatap Athi dengan sangat dalam, “Permisi, ya,” ujarnya, membuat Athi melontarkan senyuman ke arahnya.
__ADS_1
Perjalan dari tempat mereka berada, menuju ke arah kebun raya, tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar 15 menit, dan mereka pun akan sampai pada tempat tujuan.
Sepanjang jalan, Athi hanya bisa memandang ke arah jendela dan tidak memperhatikan keadaan sekitar. Ia hanya bisa memandang keindahan suasana pedesaan yang tidak akan ia jumpai di tempat ia tinggal.