Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Dua Cokelat


__ADS_3

Keil sudah selesai memasangkan tali sepatu Athi, dan kembali bangkit menyamai tinggi Athi. Athi tak bisa berkata apa pun, hanya bisa memandang Keil dengan mata yang berbinar.


Keil memandang Athi dengan sinis, “Heh, lain kali tuh lihat-lihat. Tali sepatumu lepas, tuh! Nanti jatuh, nangis ...,” ucap Keil, yang seketika membuyarkan lamunan Athi, tentang sikap Keil yang sangat romantis tadi.


Athi mendelik kaget, “Siapa juga yang nangis! Aku mah gak cengeng, tuh!” bantah Athi, Keil memandangnya dengan sangat sinis.


“Gak percaya, tuh!” bantah Keil, Athi semakin mendelik karenanya.


“Ya udah kalau gak percaya! Aku juga gak maksa kamu buat percaya, kok!” bentak Athi yang mendadak kesal dengan Keil.


Keil mengacuhkannya, “Sampai jumpa.”


Keil pun meninggalkan Athi sendiri di sana, membuat Athi menjadi sangat kesal melihat tingkahnya yang absurd itu.


“Keil gak jelas!” teriak Athi, yang mungkin saja terdengar oleh Keil yang sudah meninggalkannya di sana.


Athi terdiam sejenak. Ia teringat dengan cokelat yang Keil berikan pada Athi. Ia tersenyum memandang ke arah cokelat yang ada di tangannya.


‘Keil itu absurd, gak jelas, tiba-tiba baik tiba-tiba juga ngeselin,’ batin Athi yang merasa aneh dengan sikap Keil yang seperti itu.


Athi pun pergi dari sana, membuat Lucas terkejut dan mengikutinya perlahan. Lucas masih penasaran dengan amarah Athi. Ia berniat untuk mencoba meminta maaf langsung pada Athi.


Di perjalanan, Lucas tak sengaja melihat sebuah mini market. Tanpa pikir panjang, Lucas segera masuk ke dalam mini market untuk membelikan sebuah cokelat batang yang sama persis dengan yang Athi terima dari Keil.


Ia mencari keberadaan cokelat itu, dan akhirnya menemukannya. Ia pun mengeluarkan sisa uangnya untuk membeli cokelat batang tersebut.


“Terima kasih,” ucap sang kasir.


Lucas yang sudah mendapatkan barang yang ia inginkan, segera meninggalkan mini market itu. Ia berjalan cepat menuju ke arah Athi yang masih terlihat berada tak jauh di hadapannya.


Lucas bergegas melangkah menuju ke arah Athi berada. Tanpa bicara, Lucas segera menyodorkan cokelat ke arah Athi, membuat Athi menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Lucas dengan sangat bingung.


“Lucas, ngapain?” tanya Athi yang kebingungan dengan sikap Lucas yang absurd, sama seperti sikap Keil.


Belum habis masalah Keil, sudah muncul Lucas.


“Buatmu,” ucap Keil, Athi memandangnya heran.


“Buat aku?” tanya Athi dengan nada heran, Lucas hanya diam memandanginya dengan datar.

__ADS_1


Athi mengambilnya dengan ragu, “Makasih,” ucap Athi.


Athi merasa sangat heran, ‘Kenapa semuanya pada kasih aku cokelat? Sekarang kan ... masih belum valentine?’ batin Athi, yang bingung dengan keadan.


Tanpa kata, Lucas pun pergi meninggalkan Athi di sana. Hari ini, Athi benar-benar sudah dibuat bingung dengan kedua temannya itu.


Athi memandang kepergian Lucas dengan tatapan heran, “Lucas aneh!” umpat Athi, yang kesal dengan keadaan.


Lucas berusaha untuk berjalan dengan cepat, sampai ia tidak bisa dilihat Athi lagi. Ia bersembunyi di dekat sebuah gang, lalu menyandarkan dirinya pada tembok itu.


Jantung Lucas terus berdetak dengan kencang, tidak bisa kembali normal. Sebenarnya, sedari tadi Lucas menahan perasaan kesal pada dirinya sendiri.


‘Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk meminta maaf! Kenapa terlalu malu untuk sekadar meminta maaf?’ batin Lucas, yang kesal dengan dirinya sendiri.


...***...


Pagi ini, Athi berangkat seperti biasa ke sekolah. Ia berjalan menyusuri lorong, dan melewati ruangan kelas Imel dan juga Sua.


Karena sudah lama tidak berjumpa dengan mereka, Athi pun penasaran, dan segera masuk ke dalam ruangan kelas mereka.


Athi melongok, dan kebetulan sekali melihat Sua dan Imel yang sedang bercengkerama di sana.


Athi mendelik girang, “Hai semuanya!” sapa Athi dengan sangat bersemangat, membuat Imel dan Sua mengalihkan fokus ke arahnya.


“Hai,” sapa Sua.


Athi pun duduk pada kursi kosong, yang berada di hadapan mereka.


“Udah lama gak ketemu, sepanjang liburan pada ke mana?” tanya Athi.


“Aku di rumah aja,” jawab Sua dengan datar.


“Aku juga di rumah, tapi ikut kursus bahasa Jepang, dong!” ucap Imel, membuat Athi mendelik tak percaya.


“Serius?”


“Serius, dong! Aku gak mau sia-siain waktu liburan kemarin,” jawab Imel, membuat Athi menjadi sangat senang mendengarnya.


“Kalu kamu ke mana, Thi?” tanya Sua yang sedikit penasaran dengan liburan Athi.

__ADS_1


“Hah? Aku, tentu saja di rumah, tidak ke mana-mana,” jawab Athi, membuat Imel dan Sua menahan senyumannya.


“Eh, btw mau dengar hasil belajarku, gak?” tanya Imel mendadak membuat Athi merasa sangat bersemangat.


“Mau!”


Imel tersenyum, “Dengar ya, Moshi moshi! Watashi no namae wa Imeru-desu. Yoroshiku onegaishimasu!” ucap Imel dengan aksen yang khas seperti orang Jepang pada umumnya.


Mata Athi berbinar, “Wah! Keren banget Imel! Aku jadi mau belajar bahasa Jepang!” ucap Athi, merasa bersemangat mempelajari bahasanya.


“Kamu beneran mau belajar bahasa Jepang, Thi?” tanya Imel, Athi mengangguk dengan cepat.


“Oke, kita belajar dari yang dasar dulu, ya!”


“Oke!”


“Kalau kita ingin menyapa seseorang, kita bisa ucapkan ‘moshi moshi’, artinya sama seperti kita menyapa ‘halo’ ke orang lain,” ucap Imel, Athi hanya mengangguk kecil mendengarnya.


“Setelah moshi moshi, lanjut ke perkenalan diri sendiri. Bilang ‘watashi’ untuk ‘saya’, ‘namae wa’ untuk ‘nama’, setelah itu sebutkan nama kamu ditambah dengan kata ‘desu’ di belakangnya. Jadi seperti ini nih, ‘watahshi no namae wa Imeru-desu’ begitu,” ucap Imel menjelaskan pada Athi.


“Terus ‘no’ itu apa?” tanya Athi yang masih kebingungan dengan tiap kata dari yang Imel ajarkan padanya.


“Itu partikel, gak ada artinya, cuma bisa untuk penyambung kata jadi kalimat aja,” jawab Imel.


“Wah ... Imel udah lancar banget ngomong bahasa Jepang!” ucap Athi yang sangat senang mendengar temannya bisa melakukan suatu pencapaian.


“Iya, aku tertarik belajar karena bagiku orang Jepang itu kalau bicara imut-imut, apalagi pas aku nonton anime atau kartun dari Jepang, bikin gemes!” ucap Imel dengan sangat bersemangat.


Sua memandangnya dengan tatapan datar, “Gak semua begitu, Mel. Justru nada orang Jepang itu terkesan kasar,” bantah Sua, membuat Imel mendelik ke arahnya.


“Yang aku tonton semuanya imut!” bantah keras Imel, yang tidak ingin kalah dari Sua.


“Ya deh!” Sua mengalah pada temannya yang tak bisa menahan emosinya itu.


Melihat mereka bertengkar seperti itu, membuat Athi menjadi sangat senang. Karena walaupun mereka bertengkar seperti itu, mereka juga bisa mengatasi situasi dan kondisi, agar tidak terus seperti itu.


Athi memandang ke arah Imel, “Makasih ya, udah ajarin aku bahasa Jepang, Mel! Aku jadi pengen belajar bahasa Jepang,” gumam Athi dengan sangat senang.


“Yuk aku ajarin!” ucap Imel, membuat Athi sumringah seketika.

__ADS_1


“Yuk!”


...***...


__ADS_2