
Athi termenung di dalam kamarnya, karena mengetahui Agha yang tiba-tiba saja mengirimkan pesan yang membuat hati Athi menjadi sedih.
"Athanasia, kita putus saja ya."
Athi selalu memandang pesan singkat dari Agha yang sejak tadi masuk ke dalam aplikasi chat miliknya.
Beberapa saat setelah Athi menerima pesan itu, seketika display picture akun Agha, menjadi hilang seketika. Athi pun tidak bisa mengirim pesan lagi padanya.
"Kenapa tiba-tiba aja kirim pesan begini, sih? Diblokir pula," gumam Athi dengan sendu, membuatnya tak sadar meneteskan air matanya.
Baru satu hari mereka menjalin hubungan, ternyata Agha sudah memutuskan hubungan dengannya secara sepihak. Entah apa alasannya, Agha hanya mengirimkan pesan demikian, setelah itu langsung memblokir semua akses yang ada.
Athi menenggelamkan wajahnya di bantal yang sedang ia peluk, membuat sisi bantalnya menjadi basah terkena air matanya.
"Kenapa pacar pertama aku, malah begini sih?" gumam Athi yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Permasalahannya adalah Athi yang baru pertama kali merasakan indahnya menjalin hubungan, dan ternyata harus kandas secepat ini dengan alasan yang tidak ia ketahui dengan jelas.
Seumur hidup Athi, hanya bully-an dan makian yang selalu ia dapatkan. Namun, ketika ia baru saja ingin mendapatkan kekasih, ia tidak tahu kalau rasanya akan lebih sakit daripada bully-an mereka.
Athi membebaskan wajahnya dari bantal yang ia peluk, "Wajar aja sih, cowok ganteng seperti dia tuh pasti dikelilingi dengan cewek yang cantik-cantik. Pasti begitu," gumam Athi dengan sendu, yang berusaha menerima keadaan dirinya yang seperti ini adanya.
Athi berusaha menegaskan hati dan perasaannya, tetapi ia ternyata tidak bisa melakukannya.
Ini adalah patah hati pertama Athi dalam hidupnya.
"Huahhh!!" teriak Athi dengan sangat kesal, dan langsung membenamkan wajahnya kembali dengan bantal yang ia peluk.
Athi menangis, tak membiarkan ibu dan kakaknya mengetahui tentang dirinya yang sedang patah hati itu. Sebisa mungkin Athi menutup dirinya agar mereka tidak mengetahui tentang apa yang ia rasakan saat ini.
...***...
Pagi-pagi sekali, Athi berjalan dengan sangat cepat menyusuri lorong sekolah, untuk menuju ke arah kelasnya. Ia menutupi wajahnya agar tidak ada yang bisa melihat wajah sembabnya sehabis menangis semalaman.
__ADS_1
Athi memandang cermin kecil yang ia pegang, "Duh ... padahal udah berusaha untuk jangan sampai bengkak. Tapi ternyata bengkak juga mata aku," gumam Athi, sembari berjalan agak pelan dari sebelumnya.
"Athanasia!" pekik seseorang yang sangat familiar untuk Athi.
Athi pun melihat ke sumber suara, dan menemukan bahwa yang memanggilnya adalah Belle.
Belle memandang Athi dengan sangat lekat, "Hai, Athi!" sapa Belle dengan sangat riang, membuat Athi sampai terkejut sekali lagi karenanya.
"Hai Belle," sapa balik Athi, sembari berusaha untuk tersenyum.
"Seneng banget kita bisa ketemu lagi di sekolah," gumam Belle, membuat Athi sejenak melupakan masalah patah hatinya.
"Aku juga senang, kok!" gumam Athi yang tak kalah bersemangat dengan Belle.
Belle menatap Athi dengan lekat, "Eh btw, gimana kabar kamu sama teman aku? Agha romantis gak orangnya?" tanya Belle, membuat Athi kembali mengingat tentang Agha yang sejak semalam mati-matian ia tangisi.
"Ah ... sepertinya aku sama dia gak cocok, Bell. Kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi," jawab Athi dengan sendu, membuat Belle menjadi tak enak dengannya.
"Ini bukan kesalahan kamu kok, memang aku aja yang merasa gak cocok sama Agha. Makanya kami berpisah," bantah Athi, membuat Belle sendu mendengarnya.
Belle menatap Athi dengan lekat, "Kamu baik-baik aja kan, Thi?" tanya Belle, membuat Athi tersenyum mendengarnya.
"Tentu, dong! Aku baik-baik aja. Memang awalnya kita asing, dan kini kembali asing. Gak ada yang berubah dari kita," jawab Athi dengan sangat riang, membuat Belle terdiam menatapnya dengan dingin.
'Kok bisa mereka putus? Lagian, kok gak terjadi sesuatu ya sama dia? Harusnya kalau mereka putus, Athi bakalan nangisin Agha. Kenapa ini kelihatannya malah baik-baik aja, sih?' batin Belle yang kebingungan dengan keadaan yang sebenarnya.
Athi terlalu hebat menyembunyikan perasaannya, sehingga dirinya mampu memanipulasi keadaan.
Belle kembali memandang sendu Athi, "Baguslah kalau kamu baik-baik aja. Oh ya, aku ke kelas dulu, ya. Sampai jumpa," ucap Belle, membuat Athi melambaikan tangannya teriring senyuman.
Athi memandang kepergian Belle, membuat dirinya menghela napas panjang karena lagi-lagi ia harus teringat tentang Agha.
Athi tak sengaja melihat seseorang yang tak asing baginya. Ia memandang dengan heran, laki-laki yang sedang berjalan ke arah hadapannya.
__ADS_1
"Hai," sapa Keil, membuat Athi kebingungan dengan wajah Keil yang sepertinya terlihat memar.
"Oh hai, Keil! Wajah kamu kenapa?" tanya Athi yang terkejut melihat wajah tampan Keil yang terlihat memar.
"Vas bunga," tambah Keil, membuat Athi mendelik heran, karena ternyata Keil sedang menyapa vas bunga yang ada di sebelah Athi, membuat Athi sangat jengkel dibuatnya.
"Heh, kamu gak lihat ada aku di sini?" tanya Athi dengan kesal kepada Keil, membuat Keil menatapnya dengan datar.
Sebetulnya, Keil hanya tidak ingin Athi bertanya-tanya tentang memar yang ada di wajahnya saat ini, jadi Keil terpaksa harus mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak ingin Athi tahu, kalau dirinya semalam sudah berkelahi dengan Agha, karena terlalu kesal dengan Agha yang sudah menduakan Athi. Keil terlalu kesal melihat Agha bermesraan dengan wanita lain.
"Apa sih?" umpat Keil, membuat Athi menjadi kesal dengannya.
"Pagi-pagi udah bikin kesel aja!" gumam Athi dengan lirih, sembari menatap kesal ke arah Keil.
"Hey, gimana kabar kamu dengan pacar kamu?" tanya Keil tiba-tiba, yang membuat Athi kembali mengingat tentang Agha.
Athi menafikan pandangannya, "Aku sama dia udah gak ada hubungan apa-apa," jawab Athi dengan sendu, membuat Keil tersenyum tipis ke arahnya.
Tidak sia-sia percakapan hingga perkelahian Keil dengan Agha semalam. Ternyata, Agha benar-benar melakukan apa yang Keil perintahkan.
"Baguslah. Sebentar lagi kan ... ujian, kamu harus belajar yang benar. Ingat, nilai kamu itu jelek," ucap Keil mengingatkan, membuat Athi mendelik kaget mendengarnya.
"Enak aja kalo ngomong!" bantah Athi yang kesal, membuat Keil tertawa kecil melihat reaksinya.
Melihat Keil tertawa, membuat Athi menyeringai ke arahnya. Sangat jarang Athi melihat Keil yang bisa tertawa seperti itu, membuat Athi menjadi senang melihatnya.
"Cie ... ketawa," ledek Athi, membuat Keil mendelik dan seketika menghentikan tawanya.
"Gak tuh, siapa yang ketawa?" ucap Keil, yang langsung berlalu pergi meninggalkan Athi di sana.
Athi menganga bingung dengan kelakuan Keil, "Eh Keil, tunggu!" pekik Athi, yang segera menghampiri Keil.
...***...
__ADS_1