Marriage On Agreement

Marriage On Agreement
Pengakuan Lova


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 15:00 sore. Waktunya toko Jahit lova dan Lala tutup 30 menit lebih awal, Lala dan lova berjalan melintasi jalan menuju perhentian bus. Lala menggenggam tangan lova untuk segera naik ke bus, untuk hari ini lova sering sekali melamun. Membuat Lala begitu kawatir pada sahabatnya ini.


Mereka berdua duduk paling belakang untuk menghindari orang lain.


"Kita akan berhenti di apotek kan?" Tanya Lala memecahkan lamunan lova.


"Hahh,, aa iya" jawab lova.


"Lova, berhenti lah terus melamun"


"Aku tidak melamun Lala" jawab lova dengan lembut.


"Tidak apanya, sepanjang jalan kau terus melamun, aku berbicara saja kau tidak mendengar nya, waktu bekerja tadi kau sering tidak fokus, disaat naik bus juga kau melamun, hampir saja membuat kita berdua tertinggal bus, dan ini kau baru saja melamun,..."


Lova hendak membuka mulutnya untuk berbicara sudah Lala bungkam mulutnya dengan tangannya.


"... Eeh diam kau, aku akan mendengar kan penjelasan mu nanti dirumahku, sekarang mari kita turun dan pergi ke apotek"


Tanpa lova sadari bahwa mereka sudah sampai di perhentian bus. Mereka berdua pun turun dan langsung berjalan menuju apotek yang sudah dekat.


Lova masuk ke apotek sedang kan Lala pergi ke minimarket dekat apotek tersebut.


Lova masuk dan mencoba bertanya pada wanita paru baya yang menunggu apotek tersebut.


"Nyonya, apa anda punya pil kontrasepsi?"


Wanita paru baya itu tersenyum manis pada lova.


Gadis yang cantik. Batin wanita paru baya tersebut memuji lova.


"Nona manis, kau butuh berapa botol?" Tanya wanita


Lova begitu kebingungan mendengar pertanyaan wanita paru baya tersebut.


"Berapa ya, 1 atau 2.." gumam nya pelan sambil menghitung jarinya.


"Nyonya beri aku 3 botol" ucap lova sambil mengacukan jari nya. Wanita paruh baya tersebut tersenyum pada lova.


"Ini nona manis pil mu" lova langsung membayar dan tak lupa mengucapkan.

__ADS_1


"Terimakasih nyonya" wanita paruh baya tersebut tersenyum.


Gadis yang polos.


Lala sudah menunggu lova didepan apotek tersebut.


"Apa yang kau beli ?"tanya Lala.


"Beberapa pil yang ku butuhkan" jawab lova.


"Oh, yasudah ayo" Lala menggandeng tangan lova dan mereka berjalan pergi ke rumah lova yang hanya di dekat perempatan jalan didepan.


Sampai mereka dirumah lova dan Lala langsung memasak dan makan bersama sore hari tersebut.


Selesai sudah mereka berdua makan. Lala dan lova duduk di kamar Lala yang kecil namun sangat nyaman untuk di tempati.


Lova masih saja melamun sambil menunduk, dia bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan masalah yang sudah terjadi padanya selama ini.


Lala yang melihat sahabatnya yang begitu sangat menyedihkan jadi ikut merasa kawatir.


Lala memegang tangan lova dan mengelusnya.


Huhh


"Lala, aku sudah menikah" ucap lova sambil menatap Lala yakin.


Lala yang mendengar pengakuan lova langsung menatap sahabatnya itu dengan tatapan tidak percaya, namun dapat Lala lihat kejujuran dari mata lova.


"Kapan?, Kenapa kau tidak bilang padaku, dan mengapa kau bisa menikah, siapa suami mu?, Apa kah orang tua angkat mu yang lucnat itu yang memaksa mu?, aku yakin itu pasti bukan kehendak mu kan? Lova"


Begitu banyak pertanyaan yang Lala lontarkan pada lova, sampai-sampai lova tak kuasa menahan tawa nya karna sahabatnya ini begitu cerewet karna mengawatirkan nya.


"Ini hanya pernikahan kontrak, yang menjamin kan aku untuk membayar utang ayahku, aku tidak punya pilihan Lala.


Mungkin dengan merelakan kebahagiaan ku aku dapat berbakti dan membalas kebaikan orang tua ku"


air mata lova mengalir dari pelupuk mata nya yang indah. Lala yang ikut menangis melihat sahabatnya itu yang begitu menderita.


"Dan tadi malam, dimana aku hiks hiks, kesucian ku di ambil paksa oleh suami di atas kertasku, aku kotor Lala, sangat menjijikkan, aku sudah tidak pantas untuk kak Vito hiks.."

__ADS_1


Lala memeluk sahabatnya itu guna menenangkan lova yang begitu menyedihkan.


"Kenapa kau begitu bodoh lova, kau punya aku, kau tidak sendirian" ucap Lala sambil mengelus punggung lova.


"Aku sudah kotor Lala hiks hiks" ucap lova lagi dengan nada lembut nan menyedihkan


"Tidak bodoh, kau tidak kotor, kau masih bersih seperti lova ku biasa, jangan bilang dirimu seperti itu, jangan buat dirimu payah seperti ini, bukan lova ku yang suka menyerah dan rapuh"


"Lova ku ada wanita yang tegar seperti karang, cantik seperti sinar bulan, murah hati seperti bunda Maria, ceria seperti matahari"


"Hiks hiks, terimakasih Lala, terimakasih"


"Sudah-sudah, rahasia mu aman bersama ku, jangan pernah menyerah, kau bilang, kau menikah kontrak kan, jadi setelah kontrak nya berakhir kau akan bebas mengejar kebahagiaan mu."


Lova mengangguk mengerti.


"Lala aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan kak Vito"


Lala terkejut


"Kenapa?" Tanya Lala


"Aku sudah kotor Lala, aku sudah tidak pantas untuk nya, kak Vito adalah lelaki yang baik, dia  pantas mendapatkan yang wanita yang jauh lebih baik"


Lala menghela nafas nya.


"Lova, jangan sampai kak Vito tau, dan setelah kontrak nya berakhir kau bisa bahagia bersama kak Vito, itu saran ku"


Lova berpikir sejenak mencerna apa yang Lala katakan.


"Kau mencintai kak Vito kan?" Tanya Lala


Lova pun mengangguk.


"Maka jadi lah wanita egois untuk cinta mu" ucap Lala meyakinkan lova.


Lova mengangguk mengerti.


"Aku tidak ingin hamil lala, maka nya aku membeli pil kontrasepsi ini"

__ADS_1


"Baiklah aku mengerti, ngomong ngomong siapa nama suami mu?" Tanya lala


__ADS_2