
Gemericik air terdengar dari bilik kamar mandi. Duyurannya terasa sangat menyengarkan. Tubuh tegap dan atletis itu tengah menikmati kesengaran air yang membasahi seluruh tubuhnya.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka dan Reyhan melangkah keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya. sungguh bentuk yang sangat sempurna tanpa cela sedikitpun. Reyhan berdiri didepan cermin menatap tajam seakan sedang mengangumi tubuhnya yang sempurna itu.
Tidak membiarkan dirinya terbuai terlalu lama, Reyhan melangkah menuju ke tempat tidur dan meraih pakaian yang sudah dipersiapkannya. Memakai pakaiannya satu persatu serta tidak melupakan aksesoris pelengkapnya. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Reyhan melangkah keluar kamar dan menuju ruang makan. kedatangannya telah dinanti oleh keluargannya.
"Good morning baby!" sapa mami Rita
"Morning mam,,,!" balas Reyhan
"Morning mas,,,!" Raya yang baru datang lansung mencium pipi Reyhan.
"Em,,,!" Reyhan selalu risih dengan kelakuan adiknya itu.
Hening. Semuanya sedang menikmati sarapan mereka masing- masing. Aneka roti menjadi menu sarapan mereka.
Mama Rita memandang kedua anaknya yang tengah menikmati sarapannya.
"Oma tadi nelpon mami dan ngabarin kalau Oma akan pulang besok lusa".
Hening tidak ada yang memberi tanggapan.
Kepulangan Oma bukanlah sesuatu yang special buat mereka.
"Reyhan berangkat ya mam" Reyhan bangkit yang diikuti oleh mami Rita.
Reyhan terus melangkah keluar tanpa menanggapi ocehan mami Rita.
"Rey, kamu masih berhubungan dengan Nindy kan?" Ocehan mami Rita tidak direspon Reyhan. "Semalam Nindy telpon mami, katanya kamu nggak pernah mau kalau diajak jalan".
Reyhan terus berjalan menuju ke arah mobil yang terbuka dan siap untuk masuk.
"Rey!" panggil mami Rita
"Apa sih mam,,," berhenti dipintu mobil.
Mami Rita menghampiri
"Nanti kamu telpon Nindy ya, ajak dia makan terus jalan- jalan ya".
"Reyhan sibuk mam"
"ih,,, kamu kapan sih nggak sibuknya. tiap hari kamu sibuk terus".
Reyhan menghela nafas dan masuk kedalam mobil.
"Ayo pak,,,!" ajak Reyhan
Pak Yadi yang dari tadi berdiri langsung menutup pintu mobil setelah Reyhan masuk dan bergegas masuk dan duduk dibelakang kemudi. Mobil melaju meninggalkan mami Rita yang berdiri melepaskan kepergian Reyhan dengan pandangan putus asa.
kenapa kamu sangat sulit untuk membuka diri sih Rey.
~
Motor matic melaju mulus membelah kemacetan ibu kota. Bungkusan plastik warna- warni mengantung di seluruh body motor hingga menutupi warna asli dari motor tersebut. Sedangkan kotak kardus yang diikat dibelakang motor menjulang tinggi hingga menutupi sang pengemudinya yang mungil. perlahan namun pasti motor tersebut terus melaju hingga sampai di depan sebuah gedung yang terdiri dari beberapa ruko.
Dengan cepat motor itu berhenti didepan sebuah ruko. Pengemudi motor tersebut turun dan meraih beberapa kantong plastik untuk dibawa masuk.
"Lisa, Lis,,,, Lisa,,?" berteriak
Yang punya nama akhirnya muncul.
"Iya iya gw dengar,,," jawab Lisa
Lisa muncul dari dalam dan berlari keluar
" Kok lama banget sih Ghe,,!" Tanya Lisa
"Udah nggak usah banyak tanya deh, tuh ambil barang- barang dimotor" Ghea langsung masuk
Lisa melonggo melihat semua barang di atas motor itu
"Ya ampun Ghea" Tepok jidat. " Ini motor apa becak sih, semua digelantungin disitu. Kenapa nggak sewa becak motor aja sih" Lisa geleng-geleng kepala.
"Dito,,," panggil Lisa
Dito datang dari dalam ruko.
"Lama amat sih loe" Lisa melotot. " Nih bawa masuk semuanya. langsung kedapur ya"
"Iya ya,,," Jawab Dito
Lisa masuk kedalam ruko dan langsung menuju dapur. Di dapur terlihat Andis dan Uli sedang membereskan kantong belanjaan sementara Ghea sudah membersihkan tulang sapi dan merebusnya.
"Dis tolong bersihin iga dan buntut sapinya dong, biar sekalian di rebus" pinta Ghea.
"Iya mbak" Andis bangkit dan menuju tempat pencucian.
Lisa terus membereskan belanjaan dan sesekali melihat jam. udah jam 10.
"Ghe, udah jam 10. masih keburu nggak ya" Lisa tampak khawatir.
Ghea menatap Lisa yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Santai aja Lis, masih keburu kok" jawab Ghea menenangkan Lisa.
Tentu saja Lisa gelisah. waktu tinggal 2 jam lagi sebelum jam makan siang tiba. sedangkan tulang belulang sapi masih dalam proses rebusan yang memakan waktu 1 jam lebih. Belum lagi bumbu- bumbunya yang harus mereka siapkan.
Ghea mengelola sebuah rumah makan yang menyediakan sop tulang, iga dan buntut sapi. sudah hampir 2 tahun Ghea dan karyawannya membuka bisnis kuliner tersebut. Dan selama 2 tahun itu Ghea sudah mengalami jatuh bangun berkali- kali hingga pindah lokasi beberapa kali, ini merupakan lokasi yang ke 7 selama 2 tahun ini.
Sop Tulang Sakura. Begitulah nama yang Ghea berikan untuk rumah makannya. Sebenarnya niat awal Ghea adalah membuka cafe kekinian, tapi karena modal yang pas-pasan akhirnya ia memilih untuk membuka rumah makan dulu, nanti kalau sudah ada keuntungan lebih baru ia akan membuka cafe. Begitulah kira- kira rencananya.
Ghea sangat memahami situasi saat ini, ia harus tenang dan memikirkan strategi yang tepat dalam menghadapi situasinya kini.
Ghea membagi rebusan tulang sapi menjadi 2 bagian yang direbus terpisah agar cepat empuk. sedangkan iga dan buntut sapi juga direbus di tempat yang berbeda pula.
Sambil menunggu rebusan matang, Ghea menyiapkan bumbu kaldu bersam Lisa. Andis memotong sayuran menjadi ukuran yang kecil. sementara itu Dito dan Uli membereskan peralatan makan dan meja makan. waktu terus berlalu dan mereka terus berpacu agar semuanya dapat selesai tepat pada waktunya.
~
Tuk tuk,,,
"Masuk" perintah dari dalam
Bram masuk menemui bosnya
"Maaf Tuan, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" Ucap Bram
Reyhan yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya menghela nafas.
"Em eh,,, siapa?" tanyanya
Disaat yang bersamaan pintu terbuka. Seorang pria dewasa sedang ragu melangkah masuk kedalam ruang tersebut.
"Maaf Tuan saya datang tanpa memberitahu terlebih dahulu." Ucap pak Hardi.
"Ada informasi apa" Tanya Reyhan dingin
"Maaf Tuan, ada beberapa yang janggal dari proyek pembebasan lahan PT Adhieputera. Terdapat perbedaan yang siknifikan antara data lapangan dan data laporan yang saya terima.
Hening.
" Saya ingin meminta ijin untuk menggali lebih dalam lagi. Sepertinya ada beberapa dana yang digelapkan"Ucap pak Hardi mengakhiri laporannya.
Reyhan bersandar dikursinya dan memejamkan matanya.
"Bram,,,!" panggil Reyhan memberi kode
Bram mengangguk" Baik Tuan Muda". Bram mengerti apa yang harus dilakukannya.
Bram melangkah keluar diikuti pak Hardi.
"Pak Hardi tahu apa yang harus bapak lakukan"
Pak Hardi menerima map tersebut dan membuka melihat isinya. Beberapa saat pak Hardi terdiam dan kemudian menggangguk tanda mengerti.
"Baik, saya mengerti" Ucap Pak Hardi." saya permisi Tuan".
Pak Hardi berlalu meninggalkan Bram.
Bram merupakan orang kepercayaan Reyhan yang selalu membantunya dalam menyelesaikan berbagai permasalah dikantor. Posisi Bram sangatlah penting, hampir semua kebutuhan dan keperluan Reyhan menjadi tanggung jawabnya. Bram sangat memahami keinginan Reyhan, hingga tidak perlu berkata apa-apa Bram sudah tahu apa yang harus dilakukannya. itulah yang membuat Bram sangat disengani oleh seluruh karyawan.
Bram kembali masuk kedalam kantor Reyhan.
"Mereka ingin bermain- main dengan ku rupanya" Reyhan menghela
"Saya akan terus mengawasinya Tuan" Ucap Bram
Bram sangat memahami dibalik sikap Reyhan yang dingin itu menyimpan amarah yang sangat besar. Reyhan sangat menutup diri dari sekitarnya, hingga orang- orang menganggapnya sombong dan angkuh. Reyhan tidak pernah menunjukkannya kesenangan dan kemarahannya kepada siapapun termasuk keluarganya, hanya Bram yang tahu itu.
~
Waktu menunjukkan jam 12 kurang 10 menit. Masakan telah matang sempurna dan siap untuk dihidangkan. Ghea memastikan semuanya sempurna dan layak untuk dihidangkan. Ghea memang sangat teliti dalam hal ini, ia meracik sendiri bumbunya untuk memberikan rasa yang sempurna dan memuaskan para pelanggannya.
Waktu makan siang telah tiba. satu persatu pelanggan datang. mereka merupakan para karyawan yang bekerja di daerah tersebut. Dan mereka adalah pelanggan setia dan penggemar sop tulang buatan Ghea.
Lokasi itu memang sangat strategis, terletak di pinggir jalan. Hampir semua perusahaan besar berada didaerah tersebut. kawasan itu memang sangat ramai. Terdiri dari gedung- gedung pencakar langit, mall, hotel, kafe dan taman juga berada didaerah itu. Tak heran harga properti disana sangatlah mahal dan terus naik setiap tahunnya.
Ghea sangat bersyukur bisa membuka usahanya didaerah itu. Walaupun harus membayar harga sewa dengan sedikit lebih mahal. Namun itu di anggap sebanding dengan penghasilan yang diperolehnya.
Para pelanggan terus berdatangan silih berganti. saat- saat waktu makan siang seperti ini memang sangat ramai. Mereka rela mengantri untuk bisa makan di Sakura Kuliner. Sop tulang memang menjadi makanan faforit didaerah itu . Rasa gurih dan segar yang disajikan dalam semangkok sop itu sungguh menggugah selera.
Para karyawan dari perusahaan besar di wilayah tersebut sengaja datang untuk makan siang. Cuaca yang mendung dan gerimis membuat siapa saja ingin menikmati sop hangat yang nikmat itu.
waktu terus berjalan hingga waktu makan siang selesai. Suasana yang sebelumnya sibuk dan berisik kini menjadi sunyi dan hening tanpa ada yang bersuara. Ghea dan karyawannya tampak lelah tergetak di dikursi, matanya yang menatap kesekeling melihat rukonya yang berantakan. Senyum menghiasi bibir itu. Senang dan bahagia itu yang dia rasakan.
Perasaan capek, lelah dan lapar menghampiri.
"Terima kasih kerja kerasnya" Ucap Ghea dengan senyuman.
Dan di balas dengan senyuman oleh karyawannya.
"Kalian pasti lelah dan lapar. Ayo kita makan" Ghea mengajak mereka makan dan dari dapur Andis berlari.
"Mbak Ghea" Panggil Andis
"Ada apa Dis,,,?" tanya Ghea
__ADS_1
"Anu mbak, makanan udah habis semua" Jawab Andis ragu.
Ghea terdiam dan menatap kearah Lisa, Dito dan Uli. Secara bersamaan mereka tertawa. Andis ragu tapi akhirnya ikut tertawa juga.
Makanan habis. Itu menandakan kalau sop tulang memang menjadi faforit. Biasanya Ghea selalu menyisihkan makanan untuk dirinya dan karyawan. Tapi hari ini ia benar- benar lupa dan akhirnya
"Kita pesan makanan atau makan di luar?"
Tanya Ghea.
"Pesan aja" Jawab Lisa. "Gue udah nggak ada tenaga lagi untuk jalan" Lisa duduk di kursi sambil memijit betisnya.
"Kalian mau makan apa?" Ghea kembali bertanya
"Nasi padang aja" Ucap Dito
"Soto pak Yuyun" Ucap Uli
" Terus kalian berdua,,,?" Ghea menatap Lisa dan Andis.
"Terserah" Jawab mereka bersamaa.
Ghea akhirnya memutuskan untuk membeli nasi padang dan soto. Dito bertugas untuk membelinya, tidak jauh sih letaknya disamping ruko Ghea dan masih satu gedung.
Akhirnya mereka menikmati makanannya, setelah itu membereskan ruko, mencuci peralatan masak dan makan menyapu dan membereskan kursi dan meja makan. sungguh hari yang melelahkan.
~
Mobil spot hitam memasuki halaman rumah mewah dengan interior american klasik.
Mobil berhenti dan Reyhan turun dari mobil itu dengan wajah yang datar. Melangkah masuk kedalam rumah dan langsung naik kelantai dua menuju kamarnya.
Suasana rumah sudah sunyi pertanda orang- orang sudah terlelap. Detak jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam.
Reyhan masuk kedalam kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa empuk di samping ranjangnya.
Reyhan membasuh wajahnya dan memijit pangkal hidungnya. Pusing.
Reyhan begitu lelah hingga hampir terlelap, namun ia langsung bangkit membuka sepatu dan seluruh pakaiannya serta aksesoris di tangannya.
Perlahan Reyhan melangkah menuju kamar mandi. Reyhan sangat memperhatikan kebersihan dan dia tidak akan tidur kalau belum mandi. Reyhan selesai mandi dan dengan sisa tenaganya melangkah menuju tempat tidur. Hingga beberapa saat ia pun terlelap.
~
Ghea masih sibuk dengan bon- bon yang berserakan di dalam kamarnya.
setelah berbaku dengan kertas- kerta itu, Ghea berdumam
"Semoga bulan ini cukup untuk membayar sewa ruko"
Ghea menghela nafas. Sungguh ia di buat pusing dengan situasi saat ini.
Disaat Ghea masih berbaur dengan penatnya perasaannya, pintu kamarnya terbuka. Ghea berbalik dan sebuah senyuman mengukir dibalik pintu itu.
"Mama belum tidur,,?" Tanya Ghea kepada mama Lidya.
"Kamu sendiri belum tidur ?" mama Lidya masuk. " Sudah larut malam begini masih saja main sama kertas- kertas ini" Tangan mama Lidya mengacak- ngacak kertas dilantai.
"Mama,,," Ghea menghentikan tangan mamanya.
"Jangan di acak- acak dong, nanti bercampur lagi. Ntar Ghe harus ngulang lagi" Ghea cemberut.
"Makanya mama bilang tidur ya tidur. Nih nanti mama acak- acak lagi loh.
Ghea berdumam kesal kerjaannya di ganggu.
Setelah mengganggu pekerjaan putrinya, mama Lidya keluar sambil menahan tawa. Ghea memang gila kerja, kalau mama Lidya tidak masuk dan menyuruhnya tidur, pasti Ghea tidak akan pernah tidur sebelum pekerjaannya selesai.
Ghea membereskan semua kertas yang berserakkan, memasukkannya kedalam kotak dan meletakkannya di samping tempat tidur. Lalu bergeser menuju tempat tidur. Ghea tidur diatas kasur yang diletakkan diatas lantai, ia tidak memiliki ranjang.
Karena pernah terjatuh waktu kecil hingga benjol membuatnya trauma tidur diatas kasur.
Ghea- Ghea ada- ada aja sih. Trauma sama ranjanglah. Sekarang mungkin ia bisa tidur di kasur begitu. Nanti kalau udah nikah gimana tuh ceritanya. Masa nggak mau tidur diranjang. 😂
Bersambung,,,,,,!!!
Hai,,,,,
Gimana kesan awal kalian yang udah baca novel ini.
Mungkin masih ngambang ya,,,, di air kali pake ngambang segala. hehehe
Semoga kesannya baik ya
Maklum masih amatiran
Penasaran nggak sih gimana cerita selanjutnya
Sabar,, ini baru epd 1
Kira- kira kapan ya Reyhan ngajak Ghea Nikah,,,,,!!!
Terus nantikan ya,,,,
__ADS_1