
Reyhan membuka matanya perlahan saat pagi mulai menjelang, ia bangun dari tidurnya setelah semalam tertidur dengan nyenyak. Reyhan melirik Ghea yang masih terlelap dalam tidurnya, Ghea tertidur didalam pelukan Reyhan. Semalam Reyhan dan Ghea saling bercanda dan bermesraan layaknya pasangan remaja yang sedang dimabuk asmara hingga mereka tertidur menjelang tengah malam.
Ghea masih kesulitan untuk tidur dengan nyenyak walaupun ia tidak tidur diatas ranjang, ia tidur diatas kasur yang sudah disiapkan oleh Bram. Bram menyiapkan sebuah kasur khusus untuk Reyhan dan Ghea yang tentunya atas perintah Tuan Muda Reyhan.
Reyhan membelai kepala Ghea sambil sesekali memainkan rambut yang menutupi wajah Ghea. Reyhan memberi sebuah kecupan dikening dan juga dipipi Ghea membuat Ghea bergumam manja namun ia tetap tertidur pulas. Reyhan terus memandangi wajah Ghea semakin lama semakin dalam seakan tidak pernah ada rasa bosan baginya.
"Kamu lucu banget sih,,,! Pengen rasanya aku mencubit seluruh wajahmu".
Moment inilah yang paling diimpikan Reyhan selama ini, moment dimana ia tertidur sambil memeluk Ghea dan bangun dipagi hari dengan melihat wajah bantal Ghea. Menurut survei wajah seseorang akan tampak sangat cantik ketika bangun tidur dipagi hari dan ternyata itu memang benar.
Bram mengetuk pintu kamar Reyhan perlahan kemudian langsung masuk kedalam dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pemadangan didepan matanya yang membuat jiwa jomblonya menjerit histeris.
"Kenapa aku harus melihat pemandangan ini lagi. Ya Tuhan,,,! Ampuni Hamba. Hamba sungguh tidak sanggup lagi menghadapi godaan ini".
Reyhan tahu kedatangan Bram dan ia melirik kearah Bram yang baru masuk.
"Maaf Tuan Muda,,,! Saya tidak bermaksud lancang" Bram meminta maaf atas kelancangannya.
"Huss,,,!" Reyhan memberi isyarat agar Bram tidak bersuara.
"Maaf,,,!".
Reyhan mengangguk.
"Bagaimana,,,?".
"Memang benar seperti dugaan Tuan Muda, ada unsur kesegajaan dibalik kecelakaan itu" Ucap Bram.
"Terus,,,!" Reyhan mendengarkan laporan Bram dengan seksama sambil membelai rambut Ghea.
"Sepertinya kejadian ini memang sudah direncanakan sejak lama" Sambung Bram.
Ternyata memang benar seperti dugaan Reyhan sebelumnya, ia merasa ada yang aneh dibalik kejadian yang menimpa dirinya dan Ghea. Pasti ada orang yang telah merencanakan hal itu sebelumnya. Tapi siapa,,,? Siapakah yang berani bermain- main dengannya.
"Siapa target mereka yang sebenarnya,,,?".
"Target mereka adalah Nona Muda, Tuan,,,!" Jawab Bram hati- hati.
"Kurang ajar,,,! Siapa yang berani bermain- main denganku,,,?".
"Saya akan melacaknya Tuan Muda".
"Ok cukup,,,! Kamu lanjutkan tugasmu" Ucap Reyhan.
"Jangan biarkan siapapun tahu tentang masalah ini".
"Baik, Tuan Muda,,,!".
Bram berbalik ingin keluar namun pada saat yang bersamaan Yuda masuk ke dalam kamar Reyhan.
"Dokter Yuda,,,!" Sapa Bram ketika melihat Yuda masuk.
Yuda hanya mengangguk sambil meneruskan langkahnya.
"Maaf Dokter,,,! Tunggu. Tunggu dulu,,,!".
__ADS_1
Bram berniat menghentikan Yuda agar tidak meneruskan langkahnya, namun terlambat karena saat ini Yuda telah berdiri disamping kasur Reyhan dan Ghea.
Yuda terkejut melihat Reyhan dan Ghea masih tidur diatas kasur, raut wajahnya mulai berubah. Perasaan Yuda bercampur aduk mulai dari kesal, marah hingga malu pada dirinya sendiri.
"Sial,,,! Apa yang sedang mereka lakukan disini,,,! Apa mereka berpikir ini hotel".
Yuda melihat Ghea sedang tidur terlelap dipelukan Reyhan sedangkan Reyhan sedang membelai dan memainkan rambut Ghea. Yuda tahu Reyhan memang dengan segaja melakukan hal itu untuk memancing emosinya.
"Maaf Tuan Muda,,,!" Bram kembali meminta maaf karena tidak berhasil menghentikan Yuda.
"Sudahlah,,,! Lagipula cepat atau lambat ia memang harus melihat saat- saat seperti ini agar ia sadar dimana posisinya saat ini" Ucap Reyhan.
Reyhan segaja ingin pamer kepada Yuda kalau Ghea sudah berbahagia hidup bersama dengannya dan Yuda sudah tidak punya kesempatan untuk mendapatkan Ghea kembali.
Ghea mulai sadar dari tidurnya yang nyenyak dan perlahan membuka matanya. Ghea memandangi wajah Reyhan yang sedang menatapnya sambil tersenyum dan Ghea membalas senyuman itu.
"Ehm,,,!".
Bram segaja berdehem agar Ghea sadar kalau ada orang lain didalam kamar itu. Bram khawatir kalau Reyhan mungkin akan segaja melakukan adegan yang lebih vulgar lagi dihadapan dirinya dan juga Yuda.
Ghea mendengar suara deheman itu dan menyadari ada orang lai didalam kamar itu. Ghea melirik kesumber suara tersebut dan melihat Bram sedang berdiri bersama dengan Yuda sambil memandang kearahnya.
Ghea terkejut dan langsung membenamkan wajahnya kedalam pelukan Reyhan kembali. Ghea benar- benar malu ketika ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan seperti itu.
"Apa yang sedang mereka lakukan disini,,,? Kenapa mereka memandangiku seperti itu. Ah,,,! Aku sangat malu. Aku sungguh sangat malu. Kenapa Reyhan tidak membangunkanku,,,? Dia pasti segaja".
Reyhan tersenyum geli melihat tingkah Ghea yang malu- malu itu, ia kembali menggodanya.
"Ada apa sayang,,,,? Kenapa kamu bersembunyi seperti itu,,,?" Goda Reyhan.
"Kamu lucu banget sih,,,!" Reyhan tertawa senang.
Bram dan Yuda seperti penonton yang sedang menyaksikan drama romantis, mereka tidak sanggup berkata- kata.
Yuda telah dapat menguasai perasaannya kembali, ia merasa malu karena harus melihat kemestraan antara Ghea dan Reyhan.
"Maaf kalau aku sudah mengganggu. Aku hanya ingin memeriksa kondisi Reyhan. Tapi sepertinya saat ini tidak tepat. Aku akan kembali lagi nanti. Permisi,,,!".
Yuda pamit dan meninggalkan kamar Reyhan. Bram juga ikut keluar bersama dengan yuda.
Reyhan tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia telah memenangkan hati Ghea dan membuat saingan terberatnya mundur dengan terhormat.
Ghea mengangkat kepalanya kembali setelah Bram dan Yuda pergi keluar.
Ghea bangun dan kini ia telah duduk dipinggir kasur.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku Rey,,,? Aku sangat malu dengan Bram dan Yuda".
"Kamu tertidur dengan sangat nyenyak, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu. Lagipula kamu tidur terlalu larut semalam, makanya aku tetap membiarkan kamu tidur walaupun Bram dan Yuda datang".
Reyhan juga ikut bangun dan kini ia duduk sejajar dengan Ghea.
"Kenapa,,,? Kamu marah,,,!".
Ghea memang sedikit kesal namun ia tidak mungkin bisa marah kepada Reyhan. Reyhan belum sepenuhnya sembuh, jadi ia harus menjaga suasana hati Reyhan agar tidak mengganggu proses penyembuhannya.
__ADS_1
"Sedikit,,,!" Ucap Ghea.
"Ya udah, aku minta maaf ya,,,!".
Ghea tidak menjawab apa- apa, ia bergeser kepinggir ingin bangun namun Reyhan kembali menarik tangan Ghea hingga Ghea terjatuh kembali diposisi semula.
"Kamu mau kemana,,,?" Tanya Reyhan.
"Kamu benar- benar marah,,,?".
"Nggak,,,!" Jawab Ghea.
"Benar kamu tidak marah,,,?" Reyhan kembali bertanya karena ia masih tidak percaya dengan jawaban dari Ghea.
"Iya Rey,,,! Aku nggak marah. Aku benar- benar tidak marah" Ucap Ghea.
Reyhan cemberut mendengar Ghea memanggilnya dengan panggilan itu.
"Kamu sudah lupa dengan janjimu sendiri. Semalamkan kamu sudah berjanji tidak akan memanggil aku dengan panggilan itu lagi. Apa kamu sudah lupa,,,?".
"Oh ya,,,! Masa sih,,,! Kok aku nggak ingat ya,,,!" Ghea segaja mengerjai Reyhan.
Reyhan melepaskan tangan Ghea dengan wajah kesal.
"Kamu marah,,,?" Ghea menggoda Reyhan
"Rey,,,!".
Reyhan tidak menjawab panggilan Ghea.
"Rey,,,! Reyhan,,,!" Panggil Ghea kembali.
Ghea tertawa geli melihat Reyhan yang marah karena kesal kepadanya.
"Kamu bisa marah juga ya,,,! Hahahahahaha,,,! Kamu gemes banget sih sayang,,,!" Ghea mengacak- ngacak rambut Reyhan.
"Kamu panggil aku dengan sebutan apa tadi,,,?" Tanya Reyhan.
"Rey,,,!" Jawab Ghea.
"Bukan,,,! Setelah itu".
"Reyhan,,,!".
"Bukan,,,! Yang tadi, yang baru saja kamu ucapkan. Kamu memanggil aku dengan pangilan apa,,,?"
"Panggilan apa sih,,,? Ooo panggilan yang itu" Ghea berbisik ditelinga Reyhan
"Sayang,,,!".
Ghea bangun dengan cepat agar Reyhan tidak bisa menarik tangannya lagi. Ghea berdiri dan langsung berjalan keluar meninggalkan Reyhan.
"Awas kamu ya,,,!" Ucap Reyhan lirih.
Bersambung,,,!!!
__ADS_1