
Suasana kedai Sop Tulang Sapi milik Ghea terlihat sangat sibuk, Ghea dan para pegawainya sedang mempersiapkan berbagai macam keperluan untuk menyambut para pelanggan yang akan datang untuk makan. Mereka harus bergerak cepat karena satu jam lagi memasuki waktu makan siang.
Disaat Ghea dan para pegawainya sibuk bekerja, Reyhan sendiri lebih memilih duduk santai dipojokan sambil memainkan ponselnya serta ditemani oleh segelas jus buah faforitnya. Reyhan tidak bekerja hari ini, ia ingin menemani istrinya bekerja di kedai. Tapi sepertinya Reyhan bukan menemani Ghea, lebih tepatnya ia sedang mengawasi istrinya tersebut.
Uli dan Andis tampak sedang mengamati Reyhan dari jauh, mereka mencuri- curi pandang kearah Reyhan sambil berbisik :
"Dis lihat deh,,,! Tuan Reyhan ganteng bangetkan,,,!" Ucap Uli.
"Hm,,,! Iya,,,! Ganteng banget" Andis setuju dengan ucapan Uli.
"Tuan Reyhan memang selalu tampan mau dilihat dari Angle manapun".
"Mbak Ghea beruntung banget ya bisa mendapatkan suami seperti Tuan Reyhan. Udah tampan, baik, kaya lagi" Sambung Uli.
"Ah,,,! Aku iri banget sama Mbak Ghea. Aku juga ingin bertemu pangeran tampan seperti Tuan Reyhan" Andis mulai mengkhayal.
"Ssst,,,! Pelan- pelan kalau ngomong. Nanti Mbak Ghea dengar gimana,,,,? Kamu bisa dapat masalah" Ucap Uli.
"Mbak Ghea lagi sibuk, jadi nggak mungkin bisa dengar" Ucap Andis.
"Tapi gue dengar lho,,,!" Lisa yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Uli dan Andis angkat bicara.
"Mau gue laporin sama Mbak Ghea,,,?".
Andis dan Uli kaget mendengar suara Lisa yang tiba- tiba muncul dari belakang.
"Eh, Mbak Lisa,,,!" Andis tersenyum kepada Lisa.
"Apa senyum- senyum,,,! Mau aku laporin sama Mbak Ghea,,,?" Ancam Lisa.
"Jangan dong Mbak Lisa,,,! Kita berdua cuma bercanda kok,,,!" Uli menyenggol lengan Andis.
"Iya Mbak, kami hanya bercanda,,,!" Sambung Andis.
Lisa melangkah mendekat dengan memasang wajah bijak.
"Sekarang bukan waktunya bercanda. Kalian tidak lihat kita semua sedang sibuk banget, pekerjaan kita masih banyak. Kalian tidak lihat sekarang sudah jam berapa, sebentar lagi waktu makan siang".
"Iya mbak, maaf,,,!" Uli menundukan kepalanya.
"Ya udah sana, kalian kembali bekerja. Atau mau nanti gue laporin kalian berdua sama Mbak Ghea" Ancam Lisa lagi.
"Iya, iya,,,! Kami akan lanjut bekerja. Tapi kami jangan dilaporin sama Mbak Ghea ya,,,!" Ucap Andis.
"Ya, kita lihat saja nanti,,,!" Jawab Lisa santai.
Uli dan Andis saling memandang, mereka hanya bisa pasrah dengan kemungkinan apa yang akan terjadi kepada mereka nantinya. Mereka melangkah pergi dan langsung kembali melakukan pekerjaannya.
"Bukannya kerja malah menggosip" Gumam Lisa seraya melirik kearah Reyhan.
"Suami idaman,,,! Hah,,,! Idaman apanya,,,! Suami idaman itu harus siaga, siap bantuin istrinya dalam hal apapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Lah, kalau ini mah jauh dari kata idaman,,,! Disaat Mbak Ghea sibuk bekerja, dia bukannya bantuin malah sibuk main Handphonenya sendiri".
Lisa begitu bersemangat mengomeli Reyhan hingga tanpa disadari ia mulai terpesona dengan sosok Reyhan.
"Tapi iya juga sih,,,! Tuan Reyhan memang ganteng,,,! Ganteng, pake banget. Ah,,,! Tapi sayang, dia bukan tipe gue. Hehehehe,,,!".
Lisa tertawa setelah bergumam sendiri
"Ya Tuhan, kirimkan seorang malaikat yang tampan untuk menemaniku. Aku sudah lelah menjalani hidup seorang sendiri. Aku butuh teman. Aku butuh tempat bersandar. Aku butuh dia. Kabulkanlah Tuhan,,,!".
Sementara itu Reyhan masih sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan kalau keberadaannya telah menarik perhatian seluruh pegawai kedai. Ghea datang dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Reyhan. Ghea menghela nafas melihat suaminya yang hanya duduk tanpa melakukan apapun.
"Kamu nggak pergi kekantor,,,?" Tanya Ghea sambil duduk dihadapan Reyhan.
"Hm,,,!" Gumam Reyhan.
__ADS_1
Reyhan masih sibuk dengan ponselnya.
"Memangnya nggak apa- apa kalau kamu nggak pergi kekantor,,,? Bukannya Bram juga sedang cutikan,,,!".
"Hm,,,!" Reyhan kembali bergumam. Ia sama sekali tidak merespon pertanyaan Ghea.
"Oh, jadi kamu mulai coba- coba untuk mengabaikan aku. Kamu sudah berani ya,,,! Baiklah, kita lihat seberapa lama kamu sanggup cuek sama aku" Batin Ghea.
"Waktu itu kamu pernah marah banget sama aku ketika aku mengabaikanmu, tapi sekarang kamu sendiri juga mulai mengabaikan aku" Ucapan Ghea pelan namun tegas.
"Haruskah aku marah,,,?" Ghea sengaja memancing Reyhan.
Ucapan Ghea membuat Reyhan seketika tersadar, dengan cepat ia mematikan ponselnya dan langsung memandang istrinya. Reyhan tidak ingin memicu pertengkaran baru dengan Ghea. Dalam beberapa hari ini saja mereka sudah sangat sering bertengkar padahal itu hanya masalah sepele.
Ghea sebenarnya bukanlah orang yang mudah marah, namun kalau ia sudah marah maka akan sangat sulit untuk dijinakkan dan Reyhan paham betul akan hal itu. Reyhan dan Ghea merupakan pasangan yang memiliki karakter yang hampir mirip satu sama lain. Mereka sama- sama memiliki sifat yang santai namun tegas, to the point dan juga keras kepala. Karena beberapa kesamaan itulah yang membuat mereka bisa saling memahami dan saling mengalah ketika terjadi perdebatan.
Reyhan memandang Ghea sambil tersenyum
"Iya sayang,,,! Ada apa,,,? Tadi kamu bicara apa,,,?".
"Yah,,,! Nggak jadi marah deh. Gimana aku bisa marah kalau dia memasang wajah sok imut begitu. Goyah sudah kekuatanku" Batin Ghea.
Ghea menghela nafas, senyuman Reyhan telah meredakan amarahnya.
"Kamu nggak pergi kekantor,,,?" Ghea akhirnya mengulang pertanyaan yang sama.
"Nggak,,,!" Reyhan menggelengkan kepala dengan santai.
"Memangnya ada apa,,,?".
"Ya nggak ada apa- apa,,,! Aku hanya sekedar bertanya" Jawab Ghea.
"Ooo,,,!" Gumam Reyhan.
"Ooo,,,!" Ghea mengulang ucapan Reyhan dengan penekanan yang penuh makna.
"Kamu kenapa sih sayang,,,? Kamu nggak suka kalau aku ada disini,,,? Kamu nggak senang kalau aku berada dekat sama kamu,,,?" Tanya Reyhan lembut.
"Ya, bukannya begitu,,,!".
"Terus kenapa,,,?" Tanya Reyhan.
"Apa aku ganggu pekerjaanmu,,,?".
"Nggak Rey, kamu nggak ganggu sama sekali. Aku malah senang banget karena kamu ada disini menemani aku" Ghea tersenyum kepada Reyhan.
"Aku hanya khawatir Rey,,,! Aku khawatir nanti pekerjaan kamu akan terganggu kalau kamu tidak pergi kekantor" Ucap Ghea.
"Kamu tidak pergi kekantor dan Bram juga tidak ada dikantor, apa itu tidak apa- apa,,,? Apa tidak ada masalah kalau kalian berdua tidak pergi kekantor,,,?".
Reyhan tersenyum senang setelah mendengar ucapan dari Ghea, ia sangat senang ternyata Ghea benar- benar perhatian kepada dirinya dan juga pekerjaannya.
"Sayang,,,! Kamu sangat baik. Kamu masih sempat memikirkan pekerjaanku disaat kamu sendiri sedang sibuk. Kamu memang seorang istri yang paling sempurna Ghe,,,! Ah,,,! Aku bisa gila kalau begini terus. Maaf sayang, aku nggak bisa menahannya lagi".
Reyhan meraih tangan Ghea dan menuntunnya untuk berdiri, sementara itu Ghea mengikuti gerakan tangan Reyhan tanpa mengetahui apa maksudnya. Reyhan menuntun Ghea agar mendekat dan tanpa basa- basi langsung menarik tubuh Ghea hingga terjatuh didalam pangkuannya.
"Rey,,,!" Ghea kaget karena tidak menyangka Reyhan akan melakukan hal itu.
"Apa yang kamu la,,,,!".
Ucapan Ghea terhenti karena dengan cepat bibir Reyhan telah mengunci bibirnya. Ghea mencoba untuk menolak namun Reyhan telah merangkulnya dengan erat hingga Ghea tidak dapat bergerak sedikitpun. Akhirnya Ghea menyerah dan membiarkan Reyhan menciumnya walaupun ia merasa malu kepada para pegawainya.
Lisa, Andis dan Uli yang tanpa sengaja lewat terkejut melihat adegan itu, mereka benar- benar dibuat syok oleh kelakuan Reyhan dan Ghea.
"Ya Tuhan,,,! Ada apa ini,,,!" Andis langsung memalingkan wajahya karena merasa sedikit malu.
__ADS_1
"Kita sedang diuji Mbak,,,!" Ucap Uli kepada Andis.
"Wah, luar biasa,,,! Mereka benar- benar sesuatu" Lisa menyaksikan adegan itu tanpa mengedipkan matanya.
"Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu disini. Apa mereka tidak kasihan melihat jiwa- jiwa jomblo ini".
Reyhan sudah tidak memperdulikan keadaan disekitarnya lagi, ia tidak peduli walaupun ada orang yang melihat mereka saat ini. Ia hanya ingin menuntaskan hasratnya walaupun hanya dengan sebuah ciuman. Ya, ciuman dalam arti 'lain'.
Reyhan dan Ghea saling melepaskan ciuman mereka dengan nafas tersengal- sengal. Reyhan menyatukan keningnya dengan kening Ghea sambil tersenyum bahagia, sementara itu Ghea masih berusaha mengatur jalan nafasnya.
"Kamu gila ya,,,! Kamu sudah nggak waras,,,?" Bisik Ghea dengan nafas yang masih belum teratur.
Reyhan tertawa mendengar pertanyaan dari Ghea.
"Ya, aku memang sudah gila. Aku tergila- gila kepadamu,,,!".
Ghea mengangkat wajahnya dan menatap Reyhan.
"Tapi nggak disini juga. Disini banyak orang. Bagaimana kalau tiba- tiba ada yang datang. Apa yang akan mereka pikirkan,,,?".
"Aku tidak peduli pada mereka semua. Aku tidak peduli sama siapapun".
"Tapi aku malu Rey,,,! Aku malu kalau sampai ada yang lihat".
"Kenapa harus malu,,,! Kita adalah pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama. Hubungan kita halal dan telah mendapat restu dari Tuhan. Kita tidak melanggar aturan apapun sayang,,,! Jadi tidak ada yang perlu kamu risaukan. Biarkan saja mereka melihatnya, aku nggak peduli itu" Jawab Reyhan santai.
"Kamu itu memang susah ya untuk diajak bicara serius" Ghea berusaha melepaskan diri namun Reyhan tidak membiarkannya.
"Kamu mau kemana,,,?" Reyhan mempererat pelukannya.
"Aku mau kebelakang, masih banyak yang harus aku persiapkan".
"Tunggu sebentar,,,! Aku masih ingin memelukmu. Sebentar saja,,,!" Reyhan merengek manja.
Ghea tidak dapat berbuat apa- apa lagi selain mengikuti keinginan suaminya. Ghea membelai kepala Reyhan yang bersandar didadanya dengan lembut. Reyhan semakin mempererat pelukannya dan ia begitu menikmati sentuhan yang Ghea berikan kepadanya.
"Rey,,,!" Panggil Ghea.
"Hm,,,!" Balas Reyhan.
"Kamu yakin Bram bisa menyelesaikan masalah Naima,,,?".
"Hm,,,! Kenapa,,,? Kamu tidak percaya pada kemampuan Bram,,,?".
"Bukan,,,! Bukan begitu. Aku bukannya tidak percaya pada kemampuan Bram, tapi aku hanya khawatir kalau dia tidak bisa mengurus Miko dan malah semakin memperburuk keadaan Naima" Ghea merasa sedikit khawatir.
Reyhan mengangkat wajahnya dan menatap Ghea dengan mesra.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku mengenal Bram dengan sangat baik. Bram tahu apa yang harus ia lakukan, kamu jangan pernah meremehkan memampuannya, dalam hal ini dia lebih hebat daripada aku".
Reyhan mengusap wajah Ghea
"Jadi kamu jangan khawatir lagi ya,,,! Kamu nggak perlu memikirkan itu, biar Bram yang menyelesaikannya. Dan satu hal lagi, kamu jangan pernah menyebut nama laki- laki lain didepanku walaupun itu adalah nama Bram, karena aku nggak suka itu, aku bisa cemburu. Kamu hanya boleh menyebut namaku dan hanya boleh memikirkan aku seorang. Mengerti,,,!".
"Dasar,,,! Kamu bisa cemburu juga sama Bram,,,!".
Ghea tersenyum mendengar kata- kata konyol yang keluar dari mulut Reyhan dan Reyhan membalas senyuman istrinya itu.
Kalau saja tidak ada pelangan yang datang Reyhan pasti tidak akan pernah melepaskan Ghea dari pangkuannya.
Bersambung,,,!!!
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian setelah membaca cerita ini.
Tinggalkan jejak kalian dengan cara like, comment, vote dan share.
__ADS_1
Terima kasih,,,,!