Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Moment #1


__ADS_3

Raya menjatuhkan tubuhnya keatas sofa, ia merasakan tangan dan kakinya sangat lemas dan pegal. Bekerja di rumah sakit besar membuat tanggung jawabnya menjadi lebih besar juga. Raya memengang perutnya yang terus berbunyi, ia merasa sangat lapar.


"Awh,,,, Lapar,,,,!Ada makanan nggak ya,,,,?" Raya bangkit dan mengeledah laci mejanya.


"Kosong,,,! Masa nggak ada apa- apa sih,,,?" Raya menggaruk kepalanya.


"Aku udah nggak tahan lagi. Aku lapar banget,,,!".


Disaat yang bersamaan pintu terbuka dan Ellis masuk menyapa Raya.


"Loe kenapa,,,?" Tanya Ellis melihat wajah Raya yang murung.


"Ellis,,,,! Gue lapar. Gue belom makan Lis,,,!" Jawab Raya.


"Kalau lapar ya makan,,,! Emang ada yang ngelarang loe makan,,,?" Ucap Ellis.


"Gue emang mau makan, tapi nggak ada apapun yang bisa dimakan. Loe lihat itu,,,, Kosong,,,! Semuanya kosong. Gue harus makan apa coba,,,!".


Raya kembali menggaruk kepalanya.


"Dan loe juga. Masa nggak ada apapun sih didalam laci meja loe. Loe nggak pernah nyetok makanan apa,,,?"


"Kalau nggak ada makanan, ya loe belilah,,,! Kenapa jadi sewot sama gue. Lagi pula loe kira gue ibu- ibu kantin yang harus selalu nyetok makan didalam laci" Sewot Ellis.


Ellis meletakkan beberapa map yang ada ditangannya ke atas meja kerjanya dan mengeluarkan sebungkus wafer dari tasnya.


"Nih ambil,,,!" Ellis melempar wafer kepada Raya dan langsung disambut oleh Raya.


"Buat ngeganjel tu perut. Loe nggak asyik kalau lagi lapar" Ucap Ellis.


Raya membuka bungkus wafer itu dan langsung memakannya.


"Cuma satu,,,?" Tanya Raya sambil mengunyah wafer.


"Ya elah nih bocah. Udah untung gue kasih juga bukannya terima kasih, masih aja protes. Loe kira gue mini market yang harus punya water berdus- dus. Kalau mau lebih, loe beli aja sendiri. Sebel,,,!" Ellis kesal.


"Yee,,,! Gitu aja marah,,,, Hahahaha,,,! Dasar tukang ngambek".


Ellis diam tidak menghiraukan Raya lagi, ia mulai sibuk dengan laporan- laporannya.


"Loe jadi ikut seminar,,,?" Tanya Raya menghampiri meja Ellis.


"Eemm,,, Jadi,,,!"Ellis mengangguk. "


Gue harus menimba ilmu yang lebih banyak lagi biar posisi gue saat ini aman. Loe mah enak Ray,,,! Keluarga loe punya pengaruh yang besar di rumah sakit ini, jadi loe nggak perlu susah- susah cari muka sama para anggota direksi".


Ellis menatap Raya.


"Loe sendiri gimana,,,! Nggak mau ikut,,,?".


"Gue nggak tahu. Gue belum lapor ke panitia. Ya,,, seperti ucapan loe tadi, gue bisa menggunakan pengaruh keluarga gue kalau posisi gue mulai terguncang. Hehehe,,,,!!!".


Ellis cemberut menatap Raya.


Raya berdehem dan kembali berkata:


"Loe tahu sendirikan, dari dulu gue paling males ikut seminar. Loe banyangin coba, mana mungkin gue bisa duduk diam menatap layar kedepan tanpa bisa bergerak sedikitpun. Gue harus begong seharian didalam ruangan Kayak gitu,,,! Gue nggak sanggup Lis,,,,! Sorry,,, Gue benar- benar nggak sanggup".


Raya mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah.


"Ya gue tahu. Apa sih yang nggak gue tahu tentang eloe. Anak gedongan yang super manja, yang nggak mau mengalah dan harus mendapatkan apa yang diinginkan".


Ellis dan Raya telah bersahabat sejak mereka sama- sama kuliah di fakultas kedokteran. Ellis merupakan senior satu tingkat diatas Raya, namun walaupun begitu mereka sangat dekat. Ellis sangat mengenal Raya, mulai dari kebiasaan sehari dan juga kesukaannya.

__ADS_1


Ellis menatap Raya yang sedang duduk didepannya.


"Eh tapi kayaknya loe bakal berubah pikiran deh kalau loe tahu siapa aja yang bakal ikut seminar".


Ellis memancing Raya agar ia penasaran.


"Emang siapa,,,? Terus penting banget gitu sampe gue harus tahu" Raya cuek.


Ellis tersenyum dan terus memancing.


"Loe yakin nggak mau tahu,,,?".


Raya tetap cuek.


"Ya udah Kalau loe nggak mau tahu, gue juga nggak minat buat kasih tahu sama eloe. Tapi loe jangan nyesel ya,,,!".


"Terserah, gue nggak pengen tahu dan nggak mau tahu". Raya berdiri dan meraih tasnya seraya berkata :


"Bodo amat,,,! Gue nggak peduli,,,! Gue mau pulang. Bey,,,,!!!".


Raya keluar meninggalkan Ellis sendiri yang masih sibuk dengan kerjaannya.


Ellis tersenyum.


"Loe nggak mungkin masih cuek kalau loe tahu Yuda juga ikut seminar itu".


Raya menyusuri lorong rumah sakit dan berjalan keluar. Sampai dilobby tiba- tiba Raya berhenti.


"Oya,,, Gue lapar. Gue beli makan dulu aja kali ya".


Raya berbalik dan berjalan menuju kantin rumah sakit, ia ingin membeli roti lapis kesukaan. Raya berjalan santai sambil menyapa para medis yang lewat juga para pengunjung rumah sakit. Raya memang ramah dengan semua orang, berasal dari keluarga terpandang dan kaya kaya tidak membuatnya menjadi orang sombong.


"Raya,,,!".


"Apa,,,!" Tanya Raya.


"Wih,,,, Ketus banget sih. Emang gue nggak boleh manggil eloe lagi" Ucap Alif.


"Nggak,,,! Nggak boleh. Emang loe nggak lihat di punggung gue ada tulisan dilarang memanggil" Jawab Raya sambil menunjukkan punggungnya.


"Hahahahaha,,,,! Parah nih anak. Makin lama makin parah penyakit loe" Ucap Alif sambil tertawa.


"Ketawa aja terus,,,! Asal loe tahu ya, gue lagi lapar nih. Dan loe tahukan apa yang bakal terjadi kalau ada orang yang gangguin gue saat gue kelaparan,,,?" Raya menatap Alif tajam.


"Sorry, sorry dr Raya,,,," Alif memohon maaf.


"Saya tidak bermaksud begitu, saya hanya bercanda".


"Makanya, jangan macam loe sama gue" Ucap Raya.


"Loe mau makankan,,,? Yuk barengan. Gue juga lagi lapar" Ajak Alif.


"Ok,,,! Loe yang traktir ya,,,!" Ucap Raya sambil berlalu pergi.


"Anak orang kaya memang begitu semua ya. Bukannya traktirin tapi malah minta di traktir. Nasib, nasib,,,!" Alif menyusul Raya dari belakang.


Raya memesan roti lapis kesukaannya.


"Mbak,,, dua ya,,,!"


"Nggak sekalian loe pesan double Ray,,,!" Ucap Alif.


"Emang boleh,,,,!" Tanya Raya menggoda.

__ADS_1


"Ya bolehlah,,,! Tapi loe bayar sendiri" Jawab Alif.


"Yeahh,,,!" Raya mengerutkan bibirnya.


Disaat Raya dan Alif sedang menunggu pesanannya, tiba- tiba Yuda datang dan ikut memesan roti lapis juga.


"Hallo,,, dr Yuda,,,!" Sapa Alif sopan


Yuda adalah atasan Alif di unit gawat darurat, dimana Yuda bertugas sebagai dokter spesialis bedah umum.


"Ya,,,!" Jawab Yuda dingin.


Raya yang menyadari kedatangan Yuda juga ikut menyapa.


"Sore dr Yuda,,,!" Sapa Raya.


"Iya,,, Sore,,,,!" Jawab Yuda dingin.


Suasana hening, mereka terdiam sambil menunggu makanan siap. Satu persatu makanan diberikan kepada Raya, Alif dan Yuda. Mereka menerima makanannya dan berjalan ke arah meja untuk menikmati makanan mereka.


Raya menatap Yuda yang sedang menikmati makanannya tanpa basa- basi.


"Oh iya,,, Dr Dion tadi menanyakan kepastian apakah dr Yuda bisa menghadiri seminar atau tidak,,,!" Alif terdiam sejenak kemudian melanjutkan bicaranya.


"Dr Yuda belum memberikan keputusan kepada mereka ya,,,!".


"Nanti aku akan bicara langsung sama dr Dion" Ucap Yuda.


"Seminar itu akan dihadiri oleh para anggota direksi rumah sakit. Jadi pasti akan menjadi acara yang paling untuk para medis dirumah sakit ini" Ucap Alif.


"Iya,,, Kamu benar. Semua orang pasti ingin menunjukkan yang terbaik dihadapan para direksi" Lanjut Yuda.


Raya yang awal bingung dengan arah pembicaraan Alif dan Yuda akhirnya tahu apa maksud dari pembicaraan mereka.


"Tunggu sebentar,,,,! Seminar yang kalian bicarakan itu adalah seminar ******** kan,,,?" Tanya Raya.


"Iya. Kamu juga ikut Ray,,,?" Tanya Alif.


"Nggak. Aku nggak ikut" Jawab Raya.


"Kenapa,,,,? Bukannya keluargamu juga salah satu anggota direksi dan juga pimpinan rumah sakit ini".


Raya menginjak kaki Alif menyuruhnya untuk diam.


"Aww,,,! Kenapa sih,,,?" Teriak Alif sakit


"Diem loe" Bisik Raya.


Raya tidak ingin Yuda mengetahui pengaruh keluarganya terhadap rumah sakit permata.


"Ada apa,,,?" Tanya Yuda ketika melihat gelagat aneh antara Raya dan Alif.


"Nggak apa- apa kok dok,,,!" Ucap Raya.


Alif hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raya.


**Bersambung,,,,!!!


Like


Comment


Share

__ADS_1


🙏**


__ADS_2