Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Hasutan #2


__ADS_3

Bram melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan dengan sigap ia menyalip setiap kendaraan yang berada didepannya. Bram yang duduk dibelakang kemudi tetap fokus melihat kedepan sambil sesekali melirik Reyhan yang terlihat panik dikursi belakang.


Reyhan mencoba menghubungi Ghea namun tidak ada jawaban.


"Aaa,,,! Kenapa tidak diangkat,,,! Kenapa kamu tidak menjawab Ghea, apa yang sedang kamu lakukan,,,?" Reyhan terlihat kesal.


"Kita sedang berada dimana Bram,,,? kenapa lama sekali,,,? Tidak bisakah kamu lebih cepat lagi,,,!" Tanya Reyhan.


"Masih dijalan Tuan Muda, sebentar lagi kita sampai" Jawab Bram.


"Sebentar lagi,,,! Dari tadi itu terus jawaban kamu tapi ternyata kita belum sampai juga. Kamu bisa nyetir apa tidak,,,? Kenapa laju mobil ini sangat pelan,,,!" Reyhan membentak Bram.


"Kecepatan mobil ini sudah seratus lebih Tuan, kita hanya tinggal menunggu polisi mengejar kita" Batin Bram.


Reyhan kembali menghubungi Ghea dan lagi- lagi ia tidak menjawabnya.


"Kamu kenapa sayang,,,! Kenapa telfonku tidak dijawab,,,? Jawab dong Ghe,,,! Jawab aku sayang,,,!".


"Bram, cepat,,,! Kamu tidak bisa lebih cepat lagi" Perintah Reyhan.


"Kalau terjadi apa- apa dengan Ghea, aku tidak akan pernah memaafkan kamu Bram".


"Iya, maaf Tuan Muda. Tuan Muda tenang, Nona Ghea saat ini baik- baik saja. Pengawal masih terus mengawasi Nona Ghea. Nona Ghea berada dalam pengawasan kita Tuan Muda, jadi Tuan Muda jangan khawatir,,,!". Ucap Bram menenangkan Reyhan.


"Bagaimana aku tidak khawatir,,,? Istriku sedang bersama wanita paling mengerikan dinegeri ini. Ia dalam bahaya,,,!".


Reyhan mengusap- ngusap keningnya, ia tidak bisa berfikir apa- apa saat ini.


"Nindy,,,! Apa tujuanmu mendekati istriku,,,? Untuk apa kamu bertemu dengan Ghea,,,? Apa yang sedang kamu rencanakan,,,?".


Reyhan yakin Nindy punya niat buruk kepada Ghea, Nindy pasti sedang merencanakan sesuatu dan ia sangat khawatir kalau seandainya hal buruk benar- benar terjadi kepada Ghea. Mobil terus melaju dengan kencang membawa penumpang menuju tujuan.


Sementara itu didalam kafe Nindy menatap Ghea tajam dan terus mengatakan hal yang tidak- tidak untuk menghasut Ghea.


"Laki- laki itu adalah Reyhan Putra Wijaya" Ucap Nindy.


"Apa,,,!" Ghea terkejut.


"Tidak mungkin,,,! Itu tidak mungkin. Aku tidak percaya itu. Tidak mungkin Reyhan tega berbuat seperti kepadaku".


Betapa terkejutnya Ghea mendengar nama Reyhan yang keluar dari bibir Nindy.


"Apa maksud kamu Nindy,,,?".


"Kenapa,,,? Kamu terkejut,,,? Kamu mengenalnya,,,? Kamu kenal dengan laki- laki itu,,,?" Nindy pura- pura bertanya


"Reyhan Putra Wijaya adalah suamiku. Tidak mungkin dia orang yang kamu maksudkan,,,? Pasti ada orang lain. Pasti ada orang lain yang namanya sama dengan suamiku, iyakan,,,?" Ghea masih tidak percaya ucapan Nindy.


"Aku juga berharap seperti itu Ghea, tapi aku tidak bisa melawan takdir. Kita mencintai laki- laki yang sama dan laki- laki itu adalah Reyhan, Reyhan Putra Wijaya" Ucap Nindy.


"Tidak, itu tidak mungkin,,,! Kamu pasti salah. Tidak mungkin Reyhan tega berbuat seperti itu,,,!".


"Aku sudah menduga kamu pasti tidak percaya padaku, kamu pasti menganggap aku pembohong".


"Aku tidak bisa percaya itu, Reyhan yang aku kenal tidak akan pernah berbuat hal semacam itu".


"Jadi kamu menuduh aku berbohong,,,! Kamu tidak percaya dengan semua ucapanku,,,? Kalau kamu sendiri tidak percaya padaku, bagaimana dengan orang lain. Orang lain juga pasti tidak akan ada yang percaya sama aku, terus aku harus mengadu kepada siapa lagi Ghe,,,! Kepada siapa aku harus mengadu kalau kamu tidak percaya padaku".


Nindy menangis histeris.


"Sekarang aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi Ghea,,,! Aku bingung, aku tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana nasibku,,,? Bagaimana nasib bayi ini yang tidak berdosa ini,,,?" Nindy kembali pura- pura mengelus perutnya.

__ADS_1


Ghea tidak kuasa menahan tangis, air matanya terus mengalir. Ada pecahan kaca yang menusuk relung hatinya hingga ia merasa terluka dan kesakitan.


Nindy menyingir melihat Ghea menangis


"Bagus,,,! Sepertinya ia mulai percaya kata- kataku. Menangislah Ghea, teruslah menangis. Rasakan kesakitan itu. Rasakan luka itu. Semakin kamu bersedih semakin aku bahagia. Air matamu adalah kebahagian untukku".


Nindy menggenggam tangan Ghea


"Ghea,,,! Maafkan aku karena harus menceritakan semua ini kepadamu. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu tapi aku bisa apa, aku juga terluka. Aku juga merasakan luka itu".


Ghea menepis tangan Nindy.


"Bohong,,,! Kamu bohongkan,,,! Kamu pasti sedang berbohong. Aku tidak percaya semua ucapan kamu. Kamu pasti segaja membohongiku. Iyakan,,,?".


"Kamu tidak percaya sama aku,,,? Kamu mau bukti,,,?" Nindy mengeluarkan beberapa foto yang memperlihatkan Reyhan dan dirinya sedang saling berpelukan mesra.


"Foto- foto itu pernah dirilis media, tapi Reyhan berhasil menyingkirkannya.


Ghea mengambil foto- foto itu dengan tangan yang gemetar.


"Apa semua ini benar Rey,,,!".


"Ghea,,,! Reyhan telah menjerat kita dengan rayuannya hingga kita terlena. Reyhan telah membohongi kita berdua Ghe,,,! Reyhan pembohong,,,!".


"Cukup Nindy,,,!" Suara Reyhan terdengar sangat lantang hingga membuat Ghea dan Nindy terkejut.


Ghea dan Nindy berdiri secara bersamaan ketika melihat Reyhan berjalan kearah mereka.


"Reyhan,,,!" Batin Nindy.


"Reyhan,,,!" Panggil Ghea lirih.


Reyhan mendekat dan langsung merebut foto- foto yang berada ditangan Ghea. Reyhan sangat marah ketika melihat foto- Foto tersebut dan langsung menyerahkannya kepada Bram.


"Baik Tuan Muda,,,!" Bram mengambil foto itu dari tangan Reyhan.


Reyhan merangkul pundak Ghea sambil berkata :


"Sayang,,,! Kamu jangan mendengarkan semua ucapan wanita ini. Apa yang dia katakan itu bohong".


Entah kenapa ketika mendengar pembelaan Reyhan membuat hati Ghea semakin terluka. Ghea merasa seperti orang bodoh yang sedang berdiri diantara orang- orang yang sedang menipunya. Ghea ragu harus percaya kepada siapa.


Reyhan mulai khawatir melihat Ghea yang terdiam tidak memberikan respon apa- apa. Reyhan melepaskan rangkulannya dan menatap Ghea.


"Sayang,,,! Kamu tidak apa- apa,,,? Wanita ini tidak menyakiti kamukan,,,?" Tanya Reyhan khawatir.


Nindy tersenyum senang melihat Reyhan yang begitu panik.


"Sepertinya aku berhasil menghasut Ghea. Hah,,,! Saat ini Ghea pasti sangat marah. Aku harus bisa memanfaatkan situasi ini untuk membuat Reyhan dan Ghea bertengkar".


"Jadi karena wanita ini kamu meninggalkan aku Rey,,,! Kamu tega meninggalkan aku setelah apa yang terjadi diantara kita,,,! Kamu jahat Rey,,,! Kamu adalah laki- laki yang paling jahat didunia ini" Nindy mulai menangis.


"Cukup Nindy,,,! Aku tidak akan pernah termakan omong kosongmu itu".


Reyhan kembali menatap Ghea.


"Ghea,,,! Sayang,,,! Kamu percayakan sama aku,,,?".


Ghea menepis tangan Reyhan yang menyentuh kedua pundaknya.


"Sayang,,,! Kamu kenapa,,,? Apa yang telah wanita ini katakan hingga membuat kamu menjadi seperti ini,,,?".

__ADS_1


"Kamu mengenalnya,,,? Kamu mengenal Nindy,,,? Kalian berdua saling mengenal,,,?" Tanya Ghea terbata- bata.


"Sayang,,,!" Reyhan tidak menjawab pertanyaan Ghea.


"Kalian saling kenal,,,? Iyakan,,,!" Tanya Ghea lagi.


"Iya, aku memang mengenal Nindy tapi ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu harus dengerin penjelasan aku dulu" Reyhan berusaha menjelaskan.


"Kamu sudah dengar sendirikan Ghe,,,! Reyhan mengakui kalau dia memang mengenalku. Jadi aku tidak berbohong padamu. Apa yang aku katakan semuanya adalah kebenaran" Nindy semakin berusaha memanaskan hati Ghea.


"Tutup mulutmu Nindy,,,!" Reyhan berteriak kencang hingga membuat orang disekitarnya terkejut.


Reyhan berpaling menatap Nindy.


"Apa yang telah kamu katakan kepada Ghea,,,? Kebohongan apa yang telah kamu katakan kepada istriku,,,?".


Nindy sama sekali tidak takut dengan amarah Reyhan, justru itu pesona Reyhan dimatanya.


"Aku mengatakan kebenaran. Kebenaran yang terjadi diantara kita. Ghea sudah tahu semuanya".


"Kebenaran,,,! Kebenaran apa,,,?" Reyhan tidak mengerti ucapan Nindy.


"Kebenaran kalau aku sangat mencintaimu dan dia,,,!" Nindy menunjuk Ghea.


"Dan wanita itu telah merebutmu dari tanganku. Dia telah memisahkan cinta kita".


"Apa,,,! Gila kamu,,,! Siapa yang mencintai kamu, aku tidak pernah mencintaimu,,,!" Reyhan semakin murka kepada Nindy.


"Kamu gila,,,! Kamu benar- benar tidak waras,,,!".


"Hahahhahahaha,,,,! Jadi kamu lebih percaya kepada siapa Ghea, aku atau Reyhan,,,? Hahahhaaha,,,!" Nindy tertawa kencang.


Reyhan kembali menatap Ghea


"Sayang,,,! Kamu jangan percaya dengan ucapannya, dia bohong sayang, dia sudah tidak waras. Kamu percaya sama aku ya,,,!" Reyhan terus membujuk Ghea.


"Aku gila karena kamu Reyhan,,,!" Ucap Nindy lagi.


"Diam kamu,,,!" Teriak Reyhan.


"Bram, kenapa kamu diam saja,,,? Urus perempuan gila ini,,,!".


"Baik, Tuan Muda,,,!".


Ghea meraih tasnya dan pergi meninggalkan Reyhan dengan perasaan yang sangat terluka.


"Ghea tunggu,,,! Tunggu sayang,,,! Kamu mau kemana,,,?" Reyhan berlari menyusul Ghea.


Ghea terus berjalan sambil menangis tanpa menghiraukan panggilan Reyhan. Entah siapa yang harus ia percayai, Reyhan atau Nindy.


**Bersambung,,,,!


Bagi yang suka jangan lupa


Like


Comment


Vote


Share

__ADS_1


Terima kasih**


__ADS_2