
Reyhan masuk kedalam ruang dokter dan bertemu dengan dokter yang sudah menunggunya. Dokter tersebut tersenyum ramah melihat kedatangan Reyhan.
"Tuan Reyhan,,,! Silahkan duduk Tuan,,,! Ucap dokter Shinta.
Reyhan duduk dikursi yang berhadapan dengan dokter Shinta.
"Bagaimana keadaan istriku dokter,,,?" Tanya Reyhan sambil melihat keseluruh ruangan mencari Ghea.
"Ghea berada dimana,,,?".
"Nona Ghea sedang berada diruang terapi, kami memberikan sedikit terapi untuk membuat nona Ghea menjadi lebih rileks sehingga lebih mudah bagi kami untuk memberikan perawatan kepada beliau".
"Tapi Ghea tidak apa- apakan,,,? Kondisinya tidak terlalu parahkan dok,,,!" Reyhan benar- benar khawatir.
Dokter Shinta membuka sebuah map dan memberikan kepada Reyhan.
"Itu beberapa hasil yang kami peroleh dari pemeriksaan dan konsultasi tadi, dan saya dapat menyimpulkan ada beberapa poin penting dari kondisi nona Ghea".
"Apa itu dokter,,,,?" Tanya Reyhan.
"Begini Tuan muda, Nona Ghea menderita traumatik psikis terhadap sesuatu yang membuatnya merasa cemas dan gelisah. Dalam hal ini nona Ghea memiliki traumatik yang membuat ia tidak bisa memejamkan mata ketika harus tidur diatas ranjang karena kondisi inilah sehingga nona Ghea akhirnya menderita Insomnia.
Dokter Shinta menghela nafas dan kembali berkata :
"Yang lebih parahnya lagi nona Ghea menderita Insomnia akut".
"Apa hal itu berbahaya dokter,,,?".
"Iya,,,! Kalau tidak ditangani dengan cepat kondisinya akan semakin parah dan itu akan berdampak buruk bagi kesehatannya yang bisa membuat nona Ghea menjadi mudah sakit karena sistem imun dan kekebalan tubuhnya terganggu".
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang,,,? Apa harus aku lakukan untuk membuat Ghea sembuh. Tolong lakukan sesuatu dokter,,,,! Tolong sembuhkan istriku,,,!" Reyhan semakin terpukul mengetahui kondisi Ghea yang tidak baik.
"Istriku bisa sembuhkan dokter,,,?".
"Tenang Tuan,,,! Tuan Reyhan tenang dulu,,,,!" Dokter Shinta menenangkan Reyhan yang mulai gelisah.
"Jujur saya tidak bisa memastikan apakah nona Ghea bisa sembuh seutuhnya atau tidak. Karena ini adalah trauma dan trauma itu tidak bisa disembuhkan dengan mudah, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa sembuh seutuhnya.
Reyhan terdiam.
Dokter Shinta menatap Reyhan dan kembali berkata :
"Tapi Tuan muda jangan khawatir, saya sudah menemukan beberapa metode yang bisa kita lakukan untuk membantu nona Ghea. Kita harus mencobanya terlebih dahulu, kita harus mencoba segala cara".
"Terus sekarang apa yang harus kita lakukan,,,?" Reyhan mulai tenang.
"Pertama kita harus menjauhkan nona Ghea dari faktor- faktor pencetus trauma tersebut, kalau nona Ghea trauma terhadap tempat tidur maka kita harus menjauhkan itu darinya" Jelas dokter Shinta.
"Kedua ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, hal ini dapat membuat nona Ghea bisa beristirahat tanpa perlu merasa cemas dan gelisah sehingga imsomnia yang ia derita bisa sembuh perlahan- lahan".
__ADS_1
"Saya rasa kedua cara yang saya sebutkan tadi hanya bisa dilakukan oleh orang terdekat nona Ghea, termasuk Tuan Reyhan. Sisanya biar kami yang akan menanganinya" Ucap dokter Shinta.
"Ya,,,! Baiklah, aku akan ikuti semua saran dari dokter. Aku hanya ingin Ghea benar- benar sembuh" Ucap Reyhan.
"Iya,,, Saya juga berharap demikian,,,?" Sambung dokter Shinta.
"Untuk hari ini saya rasa sudah cukup, nanti saya akan memberikan jadwal untuk terapi lanjutan.
"Baik dokter terima kasih,,,!".
Reyhan mengulurkan tangan bersalaman dengan dokter Shinta kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.
Reyhan keluar dan langsung menemui Ghea yang ternyata sudah menunggunya dari tadi.
"Kamu udah selesai,,,! Kenapa tidak panggil aku,,,!" Reyhan duduk disamping Ghea.
"Perawat bilang kamu lagi bersama dokter dan aku tidak ingin mengganggu, jadi aku tunggu disini saja. Bagaimana,,,! Aku nggak apa- apakan,,,? Dokter bilang apa,,,?" Tanya Ghea.
"Dokter tadi bilang kalau imsomnia kamu itu sudah sangat parah jadi kamu harus melakukan perawatan, tapi bukan dirawat dirumah sakit, kamu hanya perlu mengikuti beberapa terapi dari dokter" Reyhan menggenggam tangan Ghea sambil menatapnya.
"Kami tidak perlu khawatir, kamu pasti akan sembuh".
"Aku tidak menyangka kalau aku harus mengalami semua ini, aku sudah seperti pasien sakit jiwa yang harus konsultasi dengan psikiater" Ghea terlihat sedih.
"Kamu jangan bicara seperti itu,,,? Kamu nggak sakit, kamu hanya sedang konsultasi dan itu hal yang wajar. Saat ini hampir semua orang juga mengalami hal yang sama. jadi kamu jangan berpikiran yang aneh- aneh, ok,,,!".
Reyhan merangkul bahu Ghea menuntunnya untuk berdiri.
Reyhan menggenggam tangan Ghea dan mereka berjalan beriringan menuju keluar.
Raya yang baru mengetahui keadaan kakak iparnya langsung bergegas menemui mereka.
"Mas Rey,,,!" Raya melihat Reyhan dan Ghea.
Reyhan dan Ghea berbalik melihat Raya yang sedang berdiri dibelakang mereka.
*
Raya meletakkan nampan berisi minuman dan beberapa kue diatas meja kemudian ia duduk bersama Reyhan dan Ghea.
"Bagaimana hasilnya,,,? Dokter bilang apa,,,? Mbak Ghea nggak apa- apakan,,,? Nggak ada masalah yang berbahayakan,,,,?" Raya terus bertanya tanpa berhenti.
"Ya,,, Kenapa diam,,,! Kenapa aku dicuekin begitu,,,!".
"Kamu kalau bertanya bisa satu- satukan,,,? Gimana kami jawab kalau kamu terus bertanya seperti itu,,,?" Reyhan mengomeli Raya.
Raya cemberut
"Namanya juga orang lagi khawatir, gimana bisa diam coba kalau kakak ipar ternyata lagi sakit".
__ADS_1
"Sudah,,, sudah,,,! Aku nggak apa- apa kok,,,! Kalian tidak perlu berdebat lagi,,, Ok!" Ghea melerai Raya dan Reyhan.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi,,,?" Raya kembali bertanya.
Reyhan akhirnya menjelaskan semua yang dibicarakannya dengan dokter Shinta tentang keadaan Ghea kepada Raya.
"Wah,,,,! Berat juga ya" Ucap Raya.
"Berati mulai sekarang mas Reyhan harus lebih perhatian lagi sama mbak Ghea. Trauma itu nggak bisa dianggap enteng loh karena dapat mempengaruhi kondisi psikis seseorang".
"Mas juga tahu, dokter Shinta sudah menjelaskan semuanya" Ucap Reyhan.
"Itukan penjelasan dari dokter Shinta, tapi dokter Raya belum menjelaskannya".
"Nggak perlu, penjelasan kamu malah bikin kepalaku tambah pusing,,,!".
"Loh kok begitu,,,!" Raya tampak kecewa.
Ghea tertawa melihat perdebatan antara Reyhan dan Raya, mereka terlihat sangat lucu.
"Oya Ray,,,! Kamu jangan menceritakan masalah ini kepada Mami dan Oma. Mereka akan sangat khawatir kalau tahu masalah ini" Ucap Reyhan.
"Iya Ray,,,! Kamu jangan cerita apapun sama Mami dan Oma ya,,,!" Sambung Ghea.
"Iya ya,,,! Raya bukan anak kecil yang suka ngadu, jadi mas Rey dan mbak Ghea tenang aja,,,!" Ucap Raya.
Raya masih terus berbagi cerita dengan Reyhan dan Ghea sambil sesekali tertawa bersama hingga tiba- tiba sesosok bayangan muncul dan membuatnya kehilangan fokus.
"Dokter Yuda,,,!" Raya memanggil Yuda yang sedang duduk santai dimeja yang tidak jauh darinya.
Reyhan dan Ghea kaget mendengar Raya memanggil nama Yuda. Mereka melihat kearah pandangan mata Raya dan ternyata itu memang Yuda yang mereka kenal. Pandangan mereka bertemu karena Yuda juga melihat kearah mereka.
"Hai,,,!" Raya menghampiri Yuda
"Dokter Yuda sendiri ya,,,! Mau bergabung bersama kami".
Yuda masih melihat kearah Reyhan dan Ghea yang sebelumnya duduk bersama Raya.
"Mereka siapa,,," Tanya Yuda.
"Apa,,,!" Raya tidak mengerti maksud Yuda.
"Oh mereka,,,,! Mereka itu keluarga aku, Kakak kandungku dan istrinya".
"Kenapa,,,,?".
Raya bingung dengan situasi yang sedang dilihatnya itu. Reyhan dan Yuda saling memandang namun tidak berkata apapun, sementara itu Ghea berpaling tidak ingin menatap Yuda.
"Why,,,! Apa yang sedang terjadi dengan mereka,,,,! Kenapa hawanya jadi berubah dingin begini sih,,,?" Batin Raya.
__ADS_1