
Ghea turun dari taxi setelah sampai di kafe tempat ia janjian untuk bertemu dengan Nindy. Ghea berdiri sejenak menatap kedepan sambil menghela nafas, ada keraguan dihatinya. Setelah merasa lebih tenang, Ghea berjalan perlahan dan memutuskan untuk masuk kedalam kafe.
Suasana didalam kafe tampak lebih ramai oleh pengunjung karena saat ini adalah waktu- waktu yang biasa digunakan pelanggan untuk bersantai. Dan kebetulan kafe itu merupakan kafe faforit bagi para remaja dan orang dewasa untuk dijadikan sebagai tempat tongkrongan mereka.
Ghea telah berada didalam kafe, ia melihat kesegala arah mencari keberadaan Nindy hingga sebuah tangan terlihat melambai sambil tersenyum kearahnya. Ghea berjalan menghampiri Nindy.
"Hai Ghea,,,!" Sapa Nindy.
Ghea tersenyum.
"Kenapa hanya berdiri, ayo silahkan duduk" Ucap Nindy.
"Terima kasih,,,!" Balas Ghea, kemudian iapun duduk dihadapan Nindy.
Ghea dan Nindy saling menatap satu sama lain dengan pikirannya masing- masing.
Dikantor Reyhan
Sementara itu dikantor Reyhan, Bram terlihat berjalan cepat menuju ruangan Reyhan dengan wajah panik dan tanpa mengetuk pintu sebelumnya Bram langsung masuk kedalam ruangan tersebut. Reyhan kaget melihat kedatangan Bram.
"Hai,,,! Kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu,,,!" Ucap Reyhan.
"Maaf Tuan Muda" Bram langsung mendekat kemeja kerja Reyhan.
Reyhan langsung bisa menebak kalau ada masalah penting yang sedang terjadi saat ini dan itu terlihat jelas dari raut wajah Bram yang panik.
"Ada apa,,,? Ada masalah,,,?" Tanya Reyhan.
"Begini Tuan Muda, saya mau menunjukkan sesuatu kepada Tuan Muda".
"Apa,,,?" Tanya Reyhan.
"Ini Tuan Muda,,,!" Bram menyerahkan sebuah Tab kepada Reyhan.
Reyhan mengambil Tab itu sambil berkata
"Apa ini,,,! Kenapa,,,?".
Bram mendekat dan menunjukan sebuah foto kepada Reyhan. Reyhan melihat Ghea didalam foto tersebut namun ia belum memahami maksud Bram.
"Ghea,,,!" Reyhan menatap foto itu bingung namun beberapa saat kemudian ia mulai sadar dan kembali bertanya :
"Apa ini Bram,,,! Apa yang terjadi dengan istriku,,,?".
Reyhan menatap Bram dengan perasaan yang mulai mencurigai sesuatu. Bram tidak langsung menjawab, ia kembali menunjukkan foto yang lain kepada Reyhan. Dan Reyhan kaget ketika melihat Ghea sedang bersama dengan Nindy disuatu tempat.
"Nindy,,,!" Reyhan kaget.
"Apa ini Bram,,,? Apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf Tuan Muda, saya baru mendapat kabar kalau Nona Ghea pergi menemui Nindy" Ucap Bram.
"Sepertinya Nona Ghea dan Nindy memang telah janjian sebelumnya untuk saling bertemu".
"Apa,,,!" Reyhan berdiri dan menghampiri Bram.
"Bagaimana bisa ini terjadi,,,? Untuk apa Ghea menemui Nindy,,,? Ada hubungan apa diantara mereka Dan bagaimana mereka bisa saling mengenal,,,?".
"Entahlah Tuan Muda, saya juga tidak mengetahui tentang masalah ini" Jawab Bram.
"Saya baru mendapat kabar ini tadi dari pengawal yang mengikuti Nona Ghea".
Reyhan mengusap kepala karena kesal dengan pekerjaan Bram yang dianggap kembali lengah.
"Kamu nggak becus Bram. Bagaimana bisa kamu kembali lengah menghadapi Nindy. Kamu tahukan siapa Nindy,,,? Dia wanita gila Bram, dia tidak waras. Dia bisa menyakiti Ghea,,,!" Reyhan benar- benar marah.
"Aku tidak akan membiarkan Nindy menyakiti istriku".
Reyhan menarik kerah baju Bram dengan kasar.
"Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap Ghea, kamu harus bertanggung jawab Bram. Aku tidak akan pernah mengampunimu".
Untuk sesaat Bram merasa ketakutan melihat reaksi Reyhan yang begitu kesal marah kepadanya. Reyhan terlihat sangat mengerikan ketika ia sedang marah, ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
"Iya Tuan Muda. Saya minta maaf" Ucap Bram dengan nafas tersengal- sengal.
"Tapi Tuan Muda jangan terlalu khawatir, ada pengawal yang melindungi Nona Ghea saat ini" Ucap Bram.
"Apa itu sudah cukup,,,?" Reyhan kembali menatap Bram.
"Kamu yakin dia bisa melindungi Istriku,,,?".
Bram terdiam, sepertinya semua ucapannya dianggap salah oleh Reyhan.
__ADS_1
Reyhan meraih jas sambil berkata :
"Bawa aku menemui Ghea. Aku harus melindungi istriku dengan tanganku sendiri".
"Baik Tuan Muda,,,!".
Reyhan melangkah dengan cepat keluar dari ruangannya dan Bram mengikutinya dari belakang.
Kembali Ke Kafe
Nindy menatap Ghea dengan penuh kebencian, ia merasa harus melakukan sesuatu kepada Ghea.
"Bagaimana bisa perempuan sepertinya menjadi istri Reyhan, apa Reyhan tidak bisa membedakaan perempuan berkelas dengan perempuan kampungan. Heh,,,!".
Batin Nindy.
"Apa kamu pikir kamu telah menang dariku,,,! Tidak,,,! Sorry, aku nggak akan pernah membiarkan kamu menang. Kita akan bersaing hingga akhir".
Nindy terus memaki Ghea didalam hatinya, ia sangat marah kepada Ghea karena kehadirannya telah membuat Reyhan berpaling dari cintanya. Sementara itu Ghea tetap santai sambil menikmati minumannya karena ia memang tidak punya niat apapun kepada Nindy dan ia juga tidak tahu apa niat Nindy yang sebenarnya.
"Wajahmu terlihat sangat cantik hari ini, apa kamu sedang bahagia,,,?" Tanya Nindy.
Ghea memengang wajahnya yang tersipu malu
"Ah masa sih,,,!" Ghea malu- malu.
"Memangnya aku telihat sebahagian itu,,,?".
"Iya,,,! Kamu terlihat sangat bahagia" Jawab Nindy.
"Sepertinya suamimu sangat mencintaimu,,,!".
"Hm,,,! Iya,,,!" Ghea tersenyum senang.
"Sepertinya memang begitu. Tingkahnya semakin lama semakin aneh, aku nggak pernah menyangka dia bisa melakukan hal- hal yang cukup konyol".
"Kamu mencintainya,,,?".
"Iya. Aku sangat mencintainya".
Nindy tersenyum sinis
"Cinta,,,! Heh,,,! Cinta bus**,,,! Kamu bahagia diatas penderitaanku,,,!".
"Aku iri. Aku iri dengan kebahagiaanmu dengan suamimu".
"Tidak. Tidak apa- apa,,,! Aku juga ikut senang dengan kebahagiaan yang tengah kalian rasakan. Aku hanya merasa iri dengan pernikahan kalian".
"Semua pasti akan bahagia setelah menikah, apalagi jika orang itu adalah orang yang kita cintai. Kamu tidak perlu iri Nindy,,,! Kamu juga pasti akan bahagia setelah menikah dengan kekasihmu" Ucap Ghea.
"Benarkah,,,!".
"Tentu saja".
"Tapi sayang, sepertinya kini aku tidak akan pernah bisa merasakan itu".
Nindy menghela nafas panjang
"Pernikahanku batal".
"Apa,,,! Batal".
Ghea terkejut mendengar ucapan Nindy kalau pernikahannya telah batal. Padahal beberapa minggu yang lalu Nindy masih begitu bersemangat membicarakan tentang rencana pernikahannya. Nindy bahkan memohon kepada Ghea untuk tidak membatalkan kesepatan kontrak katering yang pernah mereka sepakati sebelumnya.
"Apa yang terjadi,,,? Kenapa rencana pernikahanmu batal,,,?" Ghea begitu bersimpati kepada Nindy tanpa tahu niat hati Nindy yang sesungguhnya.
"Pria yang sangat aku cintai telah berpaling dariku dan memilih wanita lain. Wanita tidak tahu diri itu telah merebutnya dari tanganku,,,!" Ucap Nindy penuh amarah.
"Nindy,,,!" Ghea merasa bersalah karena ia bahagia disaat Nindy terluka.
"Aku membencinya,,,!" Nindy mulai histeris.
"Apa yang sebenarnya terjadi,,,?".
"Aku juga tidak tahu apa salahku. Calon suamiku tiba- tiba saja meninggalkanku dan membatalkan pernikahan kami, dia lebih memilih untuk menikahi wanita lain tanpa membicarakannya terlebih dahulu denganku".
"Menikah,,,! Dia sudah menikah,,,!" Tanya Ghea ingin memastikan.
"Iya, ia sudah menikah dengan wanita itu".
"Siapa wanita itu,,,? Apa kamu mengenalnya,,,?".
"Iya, aku mengenalnya,,,! Aku sangat mengenalnya".
__ADS_1
"Wanita itu sedang duduk dihadapanku. Dan aku ingin sekali memb****nya. Haruskah aku melakukan itu,,,?" Batin Nindy.
"Kenapa dia bisa sejahat itu,,,! Bukankah rencana pernikahan kalian bulan depan,,,? Tapi bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan wanita lain dan meninggalkan kamu disaat- saat menjelang hari pernikahan" Ghea ikut kesal.
"Tega sekali laki- laki itu,,,!".
Nindy tersenyum sinis karena Ghea telah terhasut olehnya.
"Iya, marah. Marahlah,,,! Kamu harus terus marah agar aku bisa terus meracuni pikiranmu. Dan aku harus membuat kamu membenci Reyhan".
"Iya, kamu benar. Dia memang sangat tega. Dia sangat tega meninggalkan aku disaat aku telah jatuh cinta kepadanya" Nindy memandangi Ghea dengan wajah yang begitu sedih hingga membuat Ghea ikut merasakan kepedihannya.
Untuk sesaat, Ghea kembali mengenang masa lalunya dikala Yuda memutuskan untuk melepas dirinya demi wanita pilihan ibunya.
"Dia tega meninggalkan aku demi wanita itu. Apa salahku,,,! Aku sangat mencintainya dengan sepenuh hatiku. Aku bahkan telah memberikan diriku untuknya" Suara Nindy terdengar melemah.
"Aku telah memberikan kesucianku kepada dirinya".
"Hah,,,!" Ghea tidak pernah menyangka hal itu terjadi kepada Nindy.
Ghea telah sangat bersimpati mendengar cerita Nindy, dan itu membuat Nindy semakin menjadi.
"Bagus,,,! Semakin kamu bersimpati, semakin mudah untuk aku membodohimu".
"Apa yang harus aku lakukan Ghea,,,? Bagaimana cara aku menanggung aib ini,,,?" Perlahan Nindy mengelus perutnya.
"Haruskah menanggung aib ini seorang diri,,,?".
"Kamu hamil,,,?" Tanya Ghea.
Nindy mengangguk
"Apa,,,!" Ghea menutup mulutnya tidaj sanggup berkata- kata.
Bagaimanapun juga Ghea adalah seorang wanita, ia wanita yang mempunyai perasaan yang sangat lembut dan tulus. Tidak ada wanita yang tega melihat wanita lain tersakiti oleh seorang laki- laki.
"Haruskah aku membuang bayi ini,,,!" Ucap Nindy semakin memprovokasi Ghea.
"Jangan,,,! Jangan lakukan itu. Apa kamu gila,,,? Bagaimana bisa kamu berfikir sebodoh itu".
"Lantas apa yang harus aku lakukan,,,? Aku tidak sanggup menanggung aib ini seorang diri,,,?".
Ghea bingung harus menjawab apa, ia tidak bisa berfikir jernih.
"Apa yang harus aku lakukan Ghea,,,? Apa yang harus aku lakukan dengan hidupku ini,,,! Jawab aku Ghea,,,! Jawab aku,,,!" Nindy terus mendesak Ghea untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku, aku tidak tahu Nindy,,,! Aku juga bingung" Ghea bingung tidak tahu harus menjawab apa hingga ia tidak menyadari kalau ponselnya berbunyi.
"Haruskah aku meminta pertanggung jawaban laki- laki itu,,,? Haruskah aku melakukan itu,,,?" Nindy menatap Ghea tajam.
"Maukah kamu membantuku untuk bicara dengannya,,,?".
"Entahlah,,,!" Ghea tidak tahu harus menjawab apalagi.
"Aku mohon Ghea, cuma kamu yang bisa menolongku saat ini,,,!" Nindy terus memohon.
"Kamu tidak kasihan melihat penderitaanku, apa kamu tega melihat calon bayiku menderita,,,?".
Kata- kata Nindy begitu menyentuh hati Ghea hingga akhirnya iapun setuju.
"Baiklah, aku akan bicara dengan laki- laki itu" Ucap Ghea akhirnya.
"Siapa dia,,,? Siapa laki- laki yang telah menyakiti dan menyia- nyiakan kamu,,,?".
Nindy menyingirkan bibirnya.
"Inilah saatnya,,,! Inilah saat pembalasan untuk kamu Reyhan".
"Laki- laki itu adalah Reyhan Putra Wijaya" Ucap Nindy lantang.
"Apa,,,!".
Betapa terkejutnya Ghea mendengar nama Reyhan yang keluar dari bibir Nindy. Reyhan yang merupakan suaminya, suami yang begitu ia cintai. Ghea tidak sanggup berkata apa- apa lagi, ia meraih ponsel yang terus berdering dan tanpa terasa air mata Ghea menetes perlahan ketika melihat nama yang keluar dari layar ponselnya 'Suamiku',,,!".
Bersambung,,,,!
Terima kasih karena masih setia dengan kisah ini
Author jadi semakin bersemangat dalam menulis.
Mohon dukung terus ya
Jangan lupa Like, Comment, vote dan Share
__ADS_1
Terima kasih
🙏