
Petugas IGD datang dengan cepat dan langung bertindak dengan memberikan pertolongan pertama, selanjutnya mereka membawa Yuda menuju ke IGD. Raya meminta Dion untuk memeriksa Yuda secara keseluruhan dan dengan teliti karena tubuh Yuda benar- benar babak belur. Dion mengikuti permintaan Raya, ia juga ingin memastikan kalau Yuda tidak kenapa- napa.
Yuda telah dibawa masuk keruang pemeriksaan untuk menjalani pemeriksaan secara keseluruhan. Dan beruntung tidak ada hal yang mengkhawatirkan yang terjadi, Yuda baik- baik saja.
Dion telah memberikan cairan melalui infus serta beberapa suntikan obat untuk memulihkan kondisi Yuda.
"Kondisi Yuda baik- baik saja. Tubuhnya hanya mengalami syok ringan karena benturan yang ia alami dan dia hanya memiliki memar dibeberapa titik dibagian perut dan wajah. Selain daripada itu, keadaannya baik- baik saja" Jelas Dion.
"Apa kita tidak perlu melakukan ST Scan,,,? Aku khawatir mungkin Yuda mengalami pendarahan dalam" Ucap Raya.
"Hei, loe tidak perlu sepanik itu. Yuda baik- baik saja. Dia hanya butuh istirahat".
"Kenapa loe bisa sesantai itu,,,? Loe nggak khawatir sama sahabat loe sendiri,,,?" Raya kesal karena Dion terlalu santai.
"Loe nggak percaya sama gue,,,?".
"Nggak, gue nggak bisa percaya sama loe,,,!".
Dion tertawa kecil melihat Raya yang begitu mengkhawatirkan keadaan Yuda.
"Segitu perhatiannya loe sama Yuda. Loe khawatir banget ya,,,!" Goda Dion.
"Apaan sih loe,,,!" Raya memukul lengan Dion.
"Iya gue khawatir, emang kenapa,,,? Masalah buat loe,,,!".
"Yah,,,! Jutek amat,,,! Santai dong. Gue cuma bercanda kali".
Dion mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga Raya.
"Kalau loe suka sama Yuda, loe harus berusaha dan lebih bersabar. Yuda bukan orang yang mudah untuk didekati"
Raya melirik Dion tidak mengerti maksud ucapan Dion.
"Maksud loe apa,,,?" Tanya Raya.
Dion menepuk pundak Raya seraya berkata :
"Semangat,,,! Gue dukung loe,,,!" Dion tertawa.
"Ya udah, gue balik ya,,,!" Ucap Dion.
"Eh, loe mau kemana,,,? Yuda gimana,,,?" Tanya Raya.
"Gue mau balik ke IGD" Jawab Dion.
"Biarkan saja Yuda istirahat disini dulu sebentar hingga dia merasa membaik".
"Terus Yuda gimana,,,? Masa ditinggal sendiri" Tanya Raya.
"Ya mau gimana lagi, gue nggak mungkin nunggui dia disini. Gue dinas,,,!" Ucap Dion.
"Loe aja yang temani Yuda, kalau loe emang sekhawatir itu sama dia".
"Udah ya, gue pergi sekarang. Ok,,,!" Dion keluar dari ruang perawatan meninggalkan Yuda bersama Raya.
Raya memandangi Yuda yang sedang terlelap setelah mendapatkan suntikan obat dari Dion. Raya berjalan mendekati ranjang kemudian duduk disebuah kursi disamping ranjang itu. Raya menatap wajah Yuda yang terlihat memar dan juga luka dipelipis kanannya.
"Sorry Yud,,,! Loe terluka gara- gara gue" Ucap Raya lirih.
__ADS_1
"Kenapa loe harus berurusan sama pencuri- pencuri itu. Seharusnya loe nggak perlu mikirin tas gue biarin aja mereka ambil, toh kalaupun hilang gue bisa beli yang baru".
"Kasihan,,,! Wajah tampan ini jadi memar babak belur gara- gara pria brengsek itu. Awas aja,,,! Gue nggak akan pernah membiarkan kalian lolos begitu saja. Kalian harus bertanggung jawab" Omel Raya terhadap para pencuri itu.
Raya terus menatap Yuda tanpa berkedip sedikitpun, hatinya telah tersihir oleh pemilik wajah yang teduh dan tampan itu. Seketika terbesit dalam hati Raya keinginan untuk menyentuh wajah itu.
Perlahan Raya mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Yuda. Dengan sangat hati- hati Raya mengelus pelipis Yuda yang telah diplester, kemudian mengusap rambut dan terakhir membelai pipi Yuda yang memar.
"Aku penasaran kenapa kamu dan mbak Ghea bisa berpisah, padahal kalau dilihat- lihat kalian adalah pasangan yang serasi" Batin Raya.
"Hm,,,! Tapi mungkin Tuhan memang punya rencana lain. Kalian ditakdirkan untuk berpisah agar menjadi penawar bagi hati yang terluka lainnya. Mbak Ghea menjadi penawar hati mas Reyhan dan kamu menjadi penawar hatiku. Hihihi,,,!".
Raya tertawa geli menyadari ucapannya yang terasa konyol dan memalukan, tapi ia tetap senang saat memikirkan hal itu. Raya terus mengajak Yuda berbicara walaupun Yuda sama sekali tidak merespon setiap ucapannya, hingga tanpa disadari ia tertidur disamping ranjang Yuda.
Beberapa jam kemudian Yuda mulai terbangun dan perlahan mencoba untuk membuka matanya. Yuda memandangi langit- langit berusaha menebak dimana posisinya saat ini. Yuda merasa langit- langit itu tampak tak asing baginya dan suasana ruangan itu juga begitu ia kenali. Setelah memastikan beberapa kali akhirnya Yuda menyadari kalau dirinya sedang berada diruang perawatan.
Yuda melirik kesamping dan kaget melihat seseorang sedang tertidur disampingnya.
"Siapa dia,,,? Kenapa tidur disini,,,?".
Yuda berusaha untuk bangun namun tubuhnya sulit untuk bergerak dan masih terasa sakit. Raya merasakan ranjang yang bergoyang hingga membuatnya terbangun dan seketika kaget melihat Yuda yang sudah sadar.
"Yuda,,,!" Raya tersenyum senang karena akhirnya Yuda bangun juga.
"Akhirnya kamu bangun juga. Kamu tidak apa- apakan,,,? Apa ada yang sakit,,,?".
"Sedang apa kamu disini,,,?"Tanya Yuda.
"Dan kenapa aku bisa berada diruang ini,,,?".
"Tadi kamu pingsan Yud. Kamu pingsan setelah dipukuli oleh pencuri itu, makanya kami membawamu keruang ini agar kamu mendapatkan perawatan" Jelas Raya.
Raya membantu Yuda ketika melihatnya kesulitan untuk bangun.
"Pelan- pelan,,,!" Ucap Raya.
Setelah berusaha keras akhirnya Yuda berhasil duduk dan bersandar diranjang. Raya meletakkan bantal dipunggung Yuda sebagai penganjal agar punggung Yuda tidak sakit. Yuda mengelus lehernya sambil berdehem beberapa kali, tenggorokannya kering dan terasa tidak nyaman.
"Kamu mau minum,,,?" Tanya Raya.
Yuda mengangguk pelan.
"Sebentar ya,,,!" Ucap Raya.
Raya bangun dan pergi melangkah keluar, beberapa saat kemudian ia kembali lagi sambil membawa segelas air. Raya memberikan air itu kepada Yuda dan juga membantunya untuk minum walaupun Yuda terus menolak bantuannya.
"Jam berapa sekarang,,,?" Tanya Yuda sambil menyandarkan tubunya kembali.
Raya melirik jam tangannya seraya berkata:
"Jam tiga malam" Jawab Raya.
"Ada apa,,,? Apa kamu lapar,,,? Kamu mau makan sesuatu,,,?".
"Tidak,,,! Aku tidak apa- apa,,,!" Jawab Yuda.
Raya memeriksa cairan infus sambil mengontrol cairan yang masuk ketubuh Yuda.
"Ini cairan infus yang ketiga" Ucap Raya sambil melirik Yuda.
__ADS_1
"Sepertinya tubuhmu kehilangan banyak cairan. Cairan infus ini masuk ketubuhmu begitu cepat".
Yuda tidak menanggapi ucapan Raya.
"Kenapa kamu disini,,,?" Tanya Yuda.
"Kenapa,,,? Kamu tidak suka,,,?" Raya balas bertanya.
"Padahal aku menyukainya".
"Ini sudah akhir malam, bukankah seharusnya kamu pulang" Ucap Yuda tanpa menghiraukan ucapan Raya sebelumnya.
"Iya, kamu benar. Seharusnya aku pulang" Jawab Raya.
"Tapi apa boleh buat, seseorang terluka karena bersikap sok jagoan".
Yuda tidak menjawab, matanya melirik kearah lain. Entah mengapa kata 'sok jagoan' yang diucapkan Raya mengganggu hatinya. Raya mengambil sebuah kantong kompres dan mendekatkan kewajah Yuda hingga membuat Yuda kaget karena merasa dingin.
"Tenang, ini hanya kantong kompres" Ucap Raya ketika melihat Yuda kaget.
"Aku tidak apa- apa,,,!" Yuda berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan Raya.
"Ssst,,,! Diam,,,!" Raya kembali mendekatkan kantong kompres diwajah Yuda.
"Wajahmu memar dan sedikit bengkak, jadi harus dikompres agar lebih membaik".
Yuda diam menerima perlakuan Raya.
"Maaf ya,,,! Kalau keberadaan aku disini membuat kamu merasa tidak nyaman. Aku tahu kamu pasti tidak suka aku berada disini saat ini. Hm,,,! Tapi aku tidak tega membiarkan kamu seorang diri disini. Aku hanya tidak bisa melihat kamu sendirian ketika terbangun tanpa ada yang mendampingi".
"Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan pergi disaat kamu telah merasa lebih baik. Aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu" Ucap Raya sambil tersenyum.
Yuda memandang Raya yang masih disibuk mengompres wajahnya. Hingga beberapa saat mata mereka saling bertemu.
"Terima kasih,,,! Karena kamu sudah mengkhawatirkan aku" Ucap Yuda.
"Aku juga mengucapkan terima kasih, karena kamu berhasil menggagalkan pencurian mobilku. Walau kamu yang harus menjadi korbannya" Raya tersenyum
"Jadi, sekarang kita impas,,,!".
Yuda mengangguk sambil membalas tersenyum kepada Raya.
"Kamu tidak menghubungi keluargamu,,,?" Tanya Raya basa- basi.
"Tidak. Mereka tidak perlu tahu" Jawab Yuda.
"Kenapa,,,?" Tanya Raya lagi.
"Tidak apa- apa,,,! Aku hanya tidak ingin mereka tahu" Jawab Yuda.
Sudah hampir satu tahun Yuda pergi dari rumah dan tinggal terpisah dari keluarganya. Yuda memilih keluar dari rumah karena tidak ingin terus menerus berbedat dan mengikuti keinginan sang mama.
"Hm,,,! Dingin banget. Kenapa Yuda berkata sedingin itu,,,? Sepertinya hubungannya dengan keluarganya tidak terlalu baik" Batin Raya.
Yuda kembali terdiam dan Raya juga tidak ingin bertanya lebih dalam lagi karena Yuda terlihat tidak nyaman dengan pertanyaannya tadi. Raya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bercerita sesuatu yang menyenangkan dan berusaha membuat Yuda tenang kembali. Malam itu Raya tetap menemani Yuda sambil saling berbagi cerita hingga tanpa disadari mereka menjadi sedikit lebih dekat.
**Bersambung,,,!!!
Jangan lupa like, comment, vote dan share
__ADS_1
Terima kasih**