Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Saling Mengenal Part 2


__ADS_3

Ghea duduk disamping Reyhan yang sedang fokus mengemudi. Ia berada didalam mobil berdua bersama Reyhan. Ghea hanya terdiam menatap kedepan tanpa tahu harus berbicara apa, sungguh membutuhkan materi yang tepat untuk memulai pembicaraan.


Sesekali Ghea mencuri pandang kesamping, ia melihat Reyhan yang menatap fokus kedepan tanpa bicara. Sekejap Ghea mulai terpesona dengan sosok yang duduk disampingnya itu. Pria kaku dan berwajah dingin namun terlihat sangat tampan, tangan yang sedang memengang kemudi mobil tampak sangat gagah dengan kemeja yang tergulung sampai siku. Sungguh makhluk Tuhan yang paling seksi.


"Kita mau kemana,,,?" Ghea mulai bertanya.


"Ketempat yang akan kamu sukai" Jawab Reyhan


"Jawaban apa itu, 'ketempat yang akan kamu sukai'. Emang dia tahu tempat yang aku sukai,,,!" Ghea berucap lirih.


Ghea kembali terdiam, sungguh ini bukan situasi yang ia sukai. Ghea menatap kaca spion, sebuah mobil terlihat mengikuti mereka dari belakang.


"Sampai kapan mereka mengikuti kita terus,,,?" Ghea kembali bertanya.


Reyhan melirik kaca spion kemudian kembali menatap kedepan, ia tidak menjawab pertanyaan Ghea.


Ghea mulai kesal, kesabarannya mulai hilang.


"Stoppp,,,!!!" Teriak Ghea.


Reyhan terkejut dan langsung menghentikan mobilnya.


"Kenapa,,,? Ada apa,,,,? Ada masalah,,,?" Reyhan memburu dengan beberapa pertanyaan.


Ghea menarik nafas kemudian menatap Reyhan.


"Tuan Reyhan yang terhormat, kita mau kemana,,,? Kenapa belum sampai ditujuan juga,,,? Dan mereka, kenapa mereka terus mengikuti kita,,,? Tolong bisa jelaskan,,," Ghea bertanya dengan emosi tertahan.


"Kamu begitu penasaran, hingga tidak bisa duduk diam saja hingga kita sampai ditujuan,,,? Tanya Reyhan.


"Bagaimana aku bisa duduk diam dan hanya menatap kedepan sedangkan aku tidak tahu akan dibawa kemana,,,! Dan kamu, kenapa kamu bisa begitu dingin seperti es batu, tidak bisakah kita ngobrol sesuatu. Apakah kita akan tetap membisu,,,? Tidak adakah sesuatu yang bisa kita bicarakan,,,?".


Ghea mendesah kesal, kenapa ia harus mengikuti kemauan Reyhan yang mengajaknya keluar.


Bram datang menghampiri mobil Reyhan yang berhenti tiba- tiba, ia khawatir terjadi sesuatu.


Bram mengetuk kaca mobil Reyhan, dan perlahan kaca mobil itu terbuka.


"Maaf Tuan Muda, apa ada masalah,,,? Kenapa Tuan Muda berhenti disini,,,?" Tanya Bram.


"Kalian boleh kembali Bram, kami hanya akan pergi berdua saja" Perintah Reyhan.


"Tapi Tuan Muda, kami tidak bisa membiarkan Tuan Muda pergi sendiri. Kami akan mengikuti dan melindungi Tuan Muda dimanapun Tuan Muda berada" Ucap Bram.


"Ghea merasa tidak nyaman jika kalian terus mengikuti kami" Reyhan menatap Ghea.


Ghea terdiam tidak ingin terlibat dalam pembicaraan Reyhan dan Bram.


"Maafkan kami nona, jika telah membuat nona tidak nyaman. Namun kami harus menjalankan tugas kami, saya harap nona bisa mengerti" Bram memberi penjelasan kepada Ghea.


"Tuan Muda bisa melanjutkan perjalanan, kami akan menjaga jarak".


Bram meninggalkan mobil Reyhan dan kembali kemobilnya.


"Kamu sudah lihatkan,,,! Bukan aku yang meminta mereka untuk ikut. Mereka hanya menjalankan tugasnya saja" Ucap Reyhan.


"Baiklah mari kita lanjutkan".


Reyhan menjalankan mobilnya kembali, ia melirik Ghea yang masih mengoceh tidak jelas.


"Akhirnya Bram bisa membuatmu terdiam".


Mereka meneruskan perjalanan menyusuri jalan yang mulai menanjak. sementara itu Ghea memutuskan untuk diam tanpa ingin membicarakan apapun, ia juga mulai menikmati perjalanan yang sedang ditempuhnya. Pemandangan hijau yang terbentang panjang sejauh mata memandang terlihat sungguh indah. Ciptaan Sang Maha Pencipta yang sungguh sempurna.


~


Setelah menempuh tiga jam perjalanan akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Mereka sampai disebuah villa mewah yang terletak dikaki bukit. Ada beberapa villa mewah yang berdiri kokoh di dikaki bukit tersebut. Villa- villa itu merupakan milik para pejabat serta pengusaha kaya, dan biasanya mereka berlibur di villa tersebut disaat akhir pekan dan masa liburan akhir tahun.

__ADS_1


Reyhan turun dari mobil yang juga diikuti oleh Ghea. Ghea sungguh takjub melihat kemewahan villa serta keindahan alam disekitarnya. Senyum terukir dibibir Ghea, rasa lelah dan kesalnya selama perjalanan tadi telah sirna terbayarkan oleh keindahan alam yang mempesona matanya.


Reyhan membiarkan Ghea menikmati suasana disekitar villa.


"Kamu suka,,,?" Tanya Reyhan


Ghea mengangguk sambil tersenyum, perasaan sudah kembali membaik.


"Villa ini milikmu,,,?" Ghea menghirup udara yang terasa begitu segar.


"Eemmm,,, segarnya,,,!".


"Iya, dan sebentar lagi akan menjadi milikmu" Ucap Reyhan.


Ghea menatap Reyhan


"Milikku,,,! Kenapa villa ini menjadi milikku. Inikan milikmu. Aku tidak punya cukup uang untuk membelinya. Dan kalaupun aku punya uang, aku tidak akan membeli villa ini".


"Kenapa,,,? Kamu tidak suka,,,?" Tanya Reyhan kembali.


Ghea tidak menjawab, ia tidak ingin membicarakannya lebih jauh.


Bram menghampiri Reyhan


"Tuan Muda, semua sudah siap".


Reyhan mengangguk dan menyuruh Bram pergi. Ia melangkah mendekati Ghea.


"Ayo kita masuk".


Ghea mengikuti Reyhan yang membawanya masuk kedalam villa. Villa itu sungguh sangat mewah, Ghea selalu mengangumi interior dan desain yang dilihatnya. Mereka terus berjalan menyusuri villa hingga sampai diteras belakang. Dan kembali mata Ghea terpesona melihat keindahan didepannya, sebuah danau berwarna hijau terbentang dengan indah.


"Jadi aku boleh memiliki villa ini,,,?" Ghea lupa kalau ia telah menolaknya tadi.


"Tentu saja. Ini akan menjadi milikmu, tetapi setelah kita menikah nanti" Ucap Reyhan.


"Apalagi yang bisa kamu berikan jika aku mau menikah denganmu,,,?".


"Apapun,,,!"


"Iya, apapun,,,!"


"Kalau aku minta seluruh kekayaanmu, apa akan kamu berikan juga".


Reyhan menatap Ghea ingin mengetahui keseriusan dari ucapannya tadi.


Ghea tertawa melihat raut wajah Reyhan yang bingung.


"Hahaha,,, tenang saja, kamu nggak usah khawatir. Aku cuma bercanda kok. Aku tidak serakus itu. Lagipula aku juga cukup kaya, kamu lupa kalau aku juga seorang pengusaha,,,!".


Reyhan menatap Ghea sambil tersenyum


"Bagaimana bisa dia menggodaku seperti itu, tidakkah dia tahu sikapnya itu membuatku semakin ingin memilikinya".


"Oh iya, aku sampai lupa,,,!" Ghea mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ada apa,,,?" Pertanyaan Reyhan terhenti, karena jari telunjuk Ghea telah menempel dibibirnya.


"Hallo Al,,,! Kamu dimana,,,? Iya, aku tahu. Iya,,,,,! bla bla bla bla bla,,,,"


Ghea berbicara serius dengan Alya hingga tidak menyadari bahwa tangannya tengah menyentuh bibir Reyhan, Reyhan membiarkannya sambil menikmati sentuhan itu.


Ghea selesai berbicara dengan Alya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Ghea akhirnya menyadari apa yang telah dilakukannya tadi, ia tertunduk malu.


"Kamu sudah mulai agresif ya,,,! Tapi tidak masalah, aku suka itu. Itu berarti kamu sudah mulai bisa membuka diri"


Reyhan duduk dengan santai

__ADS_1


"Ayo duduk. Sampai kapan kamu akan berdiri disitu terus".


Ghea duduk dikursi yang terletak didepan Reyhan.


"G*la, apa yang sudah aku lakukan,,,! Bagaimana kalau dia berpikir yang tidak- tidak. Apa yang akan dia pikirkan,,,,?".


"Eeemmm,,,! Sorry, tadi nggak segaja. Kamu jangan berpikir yang aneh- aneh ya" Ucap Ghea khawatir.


"It's ok,,,! Kamu tidak perlu menjelaskannya, aku mengerti maksudmu" Reyhan tersenyum penuh makna.


"Memang kamu mengerti apa,,,? Terus apa maksud dibalik senyumanmu itu. Jangan ngayal yang aneh- aneh ya,,,!".


"Hahaha,,, kamu sangat lucu kalau sedang panik begitu".


Ghea memalingkan wajahnya dari pandangan Reyhan. Reyhan sungguh membuatnya menjadi salah tingkah.


"Aku sudah menentukan tanggal pernikahan kita. Sebagian undangan sudah tersebar dan sebagian lagi akan dikirimkan hari ini, sisanya adalah undangan untuk sahabat dan kenalanmu" Ucap Reyhan.


"Apa,,,!" Ghea kaget "Kenapa kamu langsung memutuskannya tanpa tanya persetujuan dariku dulu. Bagaimana aku bisa menikah kalau mamaku saja belum tahu. Aku belum membicarakannya dengan mama"


"Aku akan bicara kepada mamamu dan aku akan melamarmu secara langsung".


"Kamu tidak mengenal mamaku, jalan pikiran beliau sangat sulit untuk dipahami. Aku tidak yakin kamu bisa menghadapi mama" Ghea kembali berkata : "Bagaimana kalau mama tidak setuju,,,!".


"Aku akan menyakinkannya".


"Bagaimana caranya,,,?"


Reyhan menatap Ghea dengan lekat


"Kamu tidak perlu khawatir. Serahkan saja semuanya kepadaku. Aku pastikan semua akan berjalan lancar".


"Lantas bagaimana dengan keluargamu,,,? Apa mereka akan menerimaku,,,? Bagaimana kalau mereka tidak suka padaku".


"Keluargaku telah setuju. Aku sudah memastikan itu".


"Kamu yakin,,,?" Ghea masih ragu.


"Iya, aku sangat yakin" Jawab Reyhan.


Reyhan tahu masih ada keraguan dihati Ghea. Ia memahami tidak mudah bagi Ghea untuk menerima pernikahan ini, apalagi pernikahan mereka berlangsung secara mendadak.


Reyhan meraih tangan Ghea dan membelai lembut


"Ghea,,,! Aku meminta kesediaanmu untuk terakhir kalinya. Maukah kau menikah denganku,,,!".


Suara Reyhan menyentuh hati Ghea dengan lembut. Entah kenapa ada getaran yang menggelitik hatinya.


Akhirnya Ghea mengangguk pelan


"Iya, Aku mau,,,! Aku mau menikah denganmu, Reyhan".


Hari itu Reyhan dan Ghea sepakat untuk menikah. Mereka sepakat akan menghadapi semuanya bersama- sama.


~


**Bersambung,,,!!!


Terimakasih atas dukungannya**


🙏


Vote


Like


Comment

__ADS_1


Share


Thanks,,,!!!


__ADS_2