Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Fall In Love


__ADS_3

Ghea berbaring diatas kasur didalam ruang Raya, ia hanya membaringkan tubuhnya namun tidak dapat menutup matanya. Pikirannya terus melayang memikirkan Reyhan yang sedang berada jauh darinya. Untuk pertama kalinya setelah menikah dengan Reyhan ia harus tidur sendiri tanpa Reyhan disisinya. Tentu itu bukanlah masalah besar bagi orang lain untuk tidur jauh dari suaminya, namun tidak bagi Ghea. Ia sudah mulai terbiasa tidur disamping Reyhan dan ia tidak dapat tidur dengan nyaman kalau tidak berada disisi suaminya.


Ghea bangkit dari tidurnya dan melihat Raya sudah pergi keluar. Raya pergi menemui Bram yang membawakan makanan untuk mereka. Beberapa saat kemudian Raya masuk kembali kedalam ruangan sambil menenteng dua kantong plastik berisi makanan dikedua tangannya.


"Belum tidur,,,?" Tanya Raya ketika melihat Ghea yang sedang duduk diatas kasur.


"Aku nggak bisa tidur Ray,,,!" Jawab Ghea.


Raya meletakkan bungkusan plastik dilantai dan kemudian ikut duduk disamping Ghea.


"Iya benar, kita tidak akan bisa tidur dalam kondisi seperti saat ini,,,! Aku juga nggak bisa tidur Mbak,,,!".


Raya melirik kearah Ghea.


"Insomnia Mbak Ghea gimana,,,? Sudah membaik,,,?".


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu pasti apakah kondisi aku sudah membaik atau belum. Tapi untuk hari ini kondisi aku tidak baik, aku terus memikirkan Reyhan" Jawab Ghea.


"Aku tahu Mbak,,,! Situasi saat ini pasti membuat Mbak Ghea kesulitan untuk tidur. Maka dari itu, dari pada kita tidur lebih baik kita makan saja" Raya mengambil satu bungkusan plastik.


"Bram membawakan begitu banyak makanan untuk kita, sayang kalau tidak dihabiskan".


Raya mengambil sebungkus roti lapis dan meyerahkannya kepada Ghea.


"Nih,,,!".


Ghea mengambil roti lapis tersebut sambil tersenyum.


"Selamat makan,,,!".


Raya langsung menglahap makanannya dengan begitu nikmat hingga tidak memperhatikan Ghea yang menatapnya dengan lekat. Ghea tidak dapat menikmati roti lapisnya karena ia tidak berselera, namun ia sangat menikmati pemandangan didepannya dimana Raya sedang menikmati makanannya.


Malam semakin larut hingga akhirnya Ghea dan Raya tertidur pulas setelah menghabiskan makanan mereka dan kekenyangan. Tentu saja hanya Raya yang tertidur karena kekenyangan setelah menghabiskan semua makanan sementara Ghea tertidur karena kelelahan.


Pagi telah tiba, matahari telah menunjukkan cahayanya yang cerah benderang. Ghea berjalan dengan cepat menuju ruang rawat khusus pasien VVIP dimana Reyhan dirawat. Masa kritis Reyhan telah letah lewat sehingga ia sudah dipindahkan dari ruang intensif keruang rawat inap.


Ghea sampai didepan kamar Reyhan dan perlahan membuka pintu kamar kemudian langsung masuk kedalamnya. Ghea melihat Reyhan terbaring lemah diatas ranjang dengan mata terpejam, beberapa selang serta kabel monitor menempel ditubuhnya. Ghea menatap wajah Reyhan dengan sangat lekat dan dengan gemetar tangan Ghea mencoba untuk mengusap pipi Reyhan.


"Rey,,,! Kamu baik- baik saja,,,! Kamu bisa mendengar suaraku,,,?" Ghea berbisik ditelinga Reyhan.


"Bangun Rey,,,! Bangun,,,! Lihat aku".


Ghea terus menatap Reyhan yang terdiam membisu hingga ia tidak mendengar suara pintu terbuka. Yuda membuka pintu dan melihat Ghea sedang berdiri disamping Reyhan.


"Kamu sudah datang,,,!".


Suara Yuda membuat Ghea kaget dan melirik kearah pintu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menghubungiku saat Reyhan dipindahkan kemari" Tanya Ghea.


"Maaf,,,! Kalau aku tidak memberitahukan tentang kepindahan Reyhan keruang ini kepada kamu. Reyhan kami pindahkan keruang ini saat subuh tadi. Aku tidak menghubungi kamu karena tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu".


"Tapi tetap saja seharusnya kamu menghubungi aku. Aku harus tahu perkembangan kondisi Reyhan. Apa kamu tahu aku mengkhawatirkan Reyhan semalaman".


"Maaf, maafkan aku,,,! Aku tidak berpikir sejauh itu".


Yuda bisa memahami kekecewaan Ghea kepada dirinya, ia sangat mencemaskan keadaan suaminya.


"Kamu begitu mencemaskan Reyhan hingga kamu tidak menghiraukan keadaanmu sendiri. Kamu terlihat begitu kelelahan Ghe,,,! Dan matamu,,,! Matamu masih bengkak. Kamu pasti menangis lagi semalam".


"Kenapa Reyhan belum bangun,,,? Apa Reyhan baik- baik saja,,,?" Ghea kembali menatap Reyhan.


Yuda sungguh tidak suka dengan sikap Ghea yang begitu mengkhawatirkan Reyhan. Yuda tidak pernah menyukai Ghea khawatir kepada laki- laki lain, walaupun itu adalah suaminya sendiri. Hingga saat ini Yuda masih memiliki perasaaan kepada Ghea, perasaan yang belum usai antara dirinya dengan Ghea.


Namun begitu Yuda sadar bagaimana posisinya saat ini. Ia telah kehilangan Ghea untuk selama- lamanya karena kebodohannya sendiri. Yuda harus bisa mengendalikan perasaannya walaupun hatinya sedang dibakar cemburu.


"Reyhan akan segera bangun, kamu tidak perlu khawatir,,,!".


"Tapi bukankah Reyhan sudah tidur terlalu lama. Apakah ia masih dipengaruhi oleh obat bius,,,?" Tanya Ghea.


"Sebenarnya Reyhan sudah sadar sejak dini hari tadi, namun ia kembali tertidur karena pengaruh obat penghilang rasa sakit yang aku berikan. Kamu tidak perlu khawatir ya,,,!".


"Syukurlah kalau Reyhan sudah sadar. Aku sungguh tidak terbiasa melihatnya terbaring tidak berdaya seperti ini" Ucap Ghea.


Ghea berbalik menatap Yuda.


"Kamu tidak perlu berterima kasih seperti itu, semua ini memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang Dokter. Aku sudah terikat sumpah jabatan dimana aku harus menolong siapapun yang sedang terluka tidak perduli siapapun orang itu dan apapun pekerjaan orang itu".


"Termasuk orang yang tidak aku sukai,,,!" Yuda melirik kearah Reyhan.


"Kita patut bersyukur karena kondisi Reyhan tidak mengalami luka yang parah, sehingga ia akan cepar untuk pulih kembali".


"Iya kamu benar. Aku sangat bersyukur akan hal itu" Ucap Ghea.


Ghea mengelus tangan Reyhan.


Yuda merasa tidak nyaman bila terus berada didalam ruang itu, ia memutuskan untuk pamit kepada Ghea.


"Ghea,,,!".


Ghea melihat kearah Yuda.


"Aku pamit dulu. Aku harus kembali ke ruang UGD. Kalau ada apa- apa kamu bisa langsung menghubungiku. Kamu masih menyimpan nomerku,,,?".


Ghea ragu untuk menjawab yang sebenarnya karena ia telah menghapus nomer Yuda. Ghea hanya mengangguk pelan agar Yuda tidak kecewa.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu ya,,,!".


Yuda keluar dari ruang rawat Reyhan meninggalkan Ghea berdua dengan suaminya.


Ghea menarik sebuah kursi dan kemudian duduk disamping ranjang Reyhan, tangannya menggenggam tangan Reyhan dengan erat sambil dibelai lembut. Ghea menatap wajah Reyhan dengan perasaan terdalam hingga ia tidak kuasa menahan gejolak didalam dadanya, tanpa terasa air mata menetes dipipinya.


"Rey,,,!".


Ghea tidak sanggup untuk berucap, ia sungguh merasakan kesedihan yang teramat dalam melihat Reyhan terbaring tidak berdaya. Disaat- saat seperti ini membuat Ghea tersadar apa arti Reyhan yang sesungguhnya didalam hidupnya. Reyhan hadir didalam hidupnya dan ia telah membawa kebahagian baru bagi dirinya. Hatinya yang dulu pernah terluka kini menjadi sembuh karena ketulusan yang diberikan oleh Reyhan kepada dirinya.


Ghea akhirnya sadar kalau ia tidak ingin kehilangan Reyhan dari sisinya, Ghea tidak ingin Reyhan pergi kemanapun karena kini ia bisa merasakan benih- benih cinta mulai tumbuh didalam hatinya. Ya,,,! Ghea akhirnya sadar kalau sudah jatuh cinta kepada Reyhan, laki- laki yang telah menikahinya tiga bulan yang lalu. Laki- laki yang memaksanya untuk menerima lamaran tanpa kompromi sedikitpun.


Dan yang membuat Ghea sedih adalah ia belum sempat mengatakan hal itu kepada Reyhan. Ghea belum pernah sekalipun mengatakan kalau ia mencintai Reyhan dengan sepenuh hatinya. Ghea sungguh menyesali kenapa baru sekarang ia merasakan hal itu disaat Reyhan terbaring tidak berdaya.


"Maafkan aku Rey,,,! Aku terlambat menyadari perasaanku kepadamu. Aku terlambat memahami perasaanku sendiri. Aku cinta kamu Rey,,,! Aku telah jatuh cinta kepadamu" Ghea tidak kuasa menahan air matanya lagi.


Sementara itu Reyhan seperti sedang bermimpi mendengar kata- kata yang baru saja diucapkan oleh Ghea kepadanya, hingga Reyhan membalasnya


"Aku juga cinta kepadamu Ghea,,,! Aku sangat mencintaimu,,,!".


Reyhan membuka matanya perlahan dan melihat sesosok bayangan sedang duduk disampingnya. Pada awalnya pandangan mata Reyhan kabur hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas namun setelah beberapa kali mengedipkan matanya akhirnya Reyhan bisa melihat dengan jelas bayangan tersebut yang tak lain adalah Ghea, istrinya tercinta.


"Ghea,,,!".


Ghea terkejut mendengar suara Reyhan yang memanggil namanya. Ghea melihat mata Reyhan yang terbuka sedang menatapnya.


Ghea tersenyum bahagia karena akhirnya Reyhan sadar


"Rey,,,!".


Reyhan mengangkat tangannya menyentuh pipi Ghea sambil membelai lembut. Reyhan melihat mata Ghea yang sembab dan bengkak seperti orang yang habis menangis.


"Sayang,,,! Kamu tidak apa- apa,,,?" Tangan Reyhan menyeka air mata Ghea yang kembali menetes.


"Apa kamu sakit,,,?".


Ghea meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya dengan erat, ia juga mencium tangan Reyhan.


"Bagaimana bisa kamu masih memikirkan aku disaat kondisi kamu sendiri sedang terbaring tidak berdaya Rey,,,! Mengapa kamu terus mengkhawatirkan aku sedangkan kamu sendiri yang sedang kesakitan. Sebegitu besarkah perasaan cintamu kepadaku,,,! Maafkan aku Rey,,,! Maafkan aku,,,! Maafkan aku yang belum pernah membalas cintamu".


Ghea menciumi tangan Reyhan tanpa henti, ia sungguh menyesal karena terlambat menyadari perasaannya kepada Reyhan.


**Bersambung,,,,!!!


Terima kasih bagi kalian yang udah baca.


Tinggalkan pesan agar Author dapat mengoreksi diri bila ada kesalahan dan kesilapan dalam penulisan.

__ADS_1


Terima kasih


🙏**


__ADS_2