Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Pahlawan #2


__ADS_3

Miko mendorong tubuh Alya dengan kasar hingga membuatnya terjatuh kebelakang. Beruntung Alya tidak terjatuh dilantai karena tiba- tiba Bram dengan sigap menangkap tubuh Alya dengan tangannya hingga Alyapun terjatuh didalam pelukannya. Alya terkejut menyadari tubuhnya telah berada didalam pelukan seseorang yang tak lain adalah Bram.


Alya memandangi wajah Bram yang saat ini berada diatas wajahnya, Bram menahan tubuh Alya dengan tangannya yang melingkar dipinggang Alya. Bram membalas tatapan Alya dengan senyuman. Deg deg deg,,,! Alya merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Alya sungguh tidak siap menerima perlakuan Bram yang sangat mendebarkan itu.


"Kenapa jantungku jadi berdebar tidak karuan begini,,,! Dan kenapa kamu tersenyum seperti itu kepadaku. Ah, apa yang kamu pikirkan Alya,,,!" Batin Alya.


Bram perlahan membantu Alya untuk berdiri kembali seraya berbisik.


"Akukan sudah menyuruhmu untuk tetap disana dan jangan pernah ikut campur. Kenapa kamu tidak mendengarkan ucapanku,,,! Dasar keras kepala. Apa kamu tidak tahu kalau ini bisa berbahaya buatmu".


Berkat bantuan Bram, Alya akhirnya bisa berdiri kembali. Alya dan Bram saling berpandangan untuk sesaat.


"Terima kasih,,,!" Ucap Alya.


"Kamu tidak apa- apa,,,!" Tanya Bram.


"Apa ada yang sakit,,,?".


"Aku tidak apa- apa. Aku baik- baik saja,,,!" Jawab Alya.


"Lainkali jangan keras kepala lagi dan jangan berlagak sok berani. Kamu harus sadar siapa lawanmu itu".


Bram mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Alya kemudian mengacak- ngacak rambutnya.


"Jangan bandel lagi ya,,,! Tunggu aku disini".


Alya semakin terkejut saat mendapat perlakuan semanis itu dari Bram, ia tidak pernah menyangka kalau pria dingin dan kaku seperti Bram bisa bersikap semanis itu kepadanya. Tanpa disadari raut wajah Alya mulai memerah.


"Wah, apa ini,,,! Kenapa dia jadi sok manis begini sih,,,! Apa maksudnya coba dan untuk apa juga dia membelai rambutku".


Alya menyentuh dadanya yang terus berdebar tak menentu.


"Kenapa jantungku terus berdebar begini sih,,,! Ah, aku tidak kuat lagi. Tuhan,,,! Ada apa ini, kenapa jantung ini terus berdebar"


Alya memukul wajahnya berkali- kali.


"Sadarkan dirimu Alya,,,! Kamu jangan berpikir yang tidak- tidak. Ingat, Bram hanya menolongmu karena kalian satu tim bukan karena alasan yang lain. Ingat itu,,,!".


Bram melepaskan tangannya dari pinggang Alya setelah memastikan Alya baik- baik saja. Bram berbalik dan menatap Miko dengan tajam, entah kenapa perasaannya kini menjadi sangat kesal kepada laki- laki itu. Bram marah karena Miko telah berbuat kasar kepada para wanita yang lemah tidak berdaya.


"Lepaskan Naima,,,!" Perintah Bram.


"Aku tidak akan meminta kedua kali. Jadi lepaskan dia sekarang".


"Aku tidak akan pernah melepaskannya. Dia adalah milikku, jadi aku berhak melakukan apa saja terhadapnya. Kamu tidak usah ikut campur" Ucap Miko dengan suara kasar.


"Apa kamu tidak punya rasa malu sedikitpun setelah bersikap sekasar itu kepada wanita" Bram perlahan berjalan mendekat.


"Aku bahkan merasa sangat malu atas perbuatanmu yang begitu kejam kepada mereka".


"Aku tidak meminta pendapatmu, kamu tidak usah ikut campur".


Miko semakin mempererat genggaman hingga Naima kembali menjerit kesakitan.


"Aww,,,! Sakit Miko,,,!" Naima berteriak kesakitan.


"Aku mohon lepaskan aku,,,!".


"Diam kamu,,,! Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan laki- laki itu merebutmu dari tanganku" Ucap Miko.


"Kamu sudah gila Miko,,,! Aku sudah tidak sanggup lagi menjadi kekasihmu. Aku benci kamu Miko. Aku sangat membencimu" Naima berteriak kencang kepada Miko.


"Apa,,,! Kamu bilang apa,,,! Ulangi sekali lagi,,,!" Suara Miko lebih kencang dari suara Naima.


Naima sudah tidak tahan lagi dan akhirnya ia berteriak dengan suara yang sangat kencang


"Aku membencimu Miko. Aku tidak mencintaimu lagi. Aku mau kita putus,,,!".


"Apa,,,! Berani kamu bicara seperti itu dihadapanku,,,!" Miko kembali mengangkat tangannya dan ingin memukul Naima.

__ADS_1


Bram menghentikan langkahnya, ia tidak ingin Miko terus menyakiti Naima. Bram berusaha memikirkan sesuatu untuk bisa melepaskan Naima dari tangan Miko.


"Tunggu,,,!" Bram berusaha menghentikan niat Miko yabg ingin memukul Naima.


"Baiklah, aku tidak akan mendekat lagi. Aku tidak bisa melihat wanita yang aku cintai disakiti seperti itu" Bram mencoba melunakkan hati Miko.


Bram menatap Miko tajam


"Aku ingin bertanya satu hal kepadamu. Apa kamu mencintai Naima,,,?".


"Pertanyaan macam apa itu. Ya, tentu saja,,,! Aku sangat mencintai Naima hingga aku tidak sanggup untuk kehilangannya" Jawab Miko.


"Apa kamu mencintai Naima sebesar cintaku kepadanya,,,?" Bram semakin memancing Miko.


"Hah,,,! Apa kamu bercanda. Asal kamu tahu, cintaku kepada Naima lebih besar dari cintamu" Ucap Miko.


"Jadi menurutmu, cintamu lebih besar daripada cintaku,,,?" Tanya Bram lagi.


"Ya, tentu saja. Bahkan tidak ada yang bisa mencintai Naima sebesar cintaku" jawab Miko dengan penuh percaya diri.


"Lantas, apa kamu bisa mencintai Naima seperti caraku mencintainya,,,? Apakah kamu bisa mencintainya setulus cintaku,,,? Bram sengaja melemahkan suaranya.


"Apa maksudmu,,,?" Suara Miko mulai ikut melemah.


Bram tersenyum didalam hati.


"Perasaanmu perlahan mulai goyah".


"Aku mencintai Naima dengan sepenuh hati, aku bahkan rela melakukan apapun asal ia bahagia. Aku tidak akan pernah membiarkan Naima terluka sedikitpun dan akan berusaha untuk melindunginya bahkan dengan nyawaku sendiri" Ucapan Bram begitu menyentuh.


"Aku tidak akan pernah tega menyakiti dirinya sedikitpun dengan tanganku, walau hanya dengan sebuah sentuhan. Dan aku tidak akan pernah menyentuhnya kalau ia tidak suka akan hal itu".


Tanpa sadar jantung Alya kembali berdebar mendengar ucapan dari Bram, entah mengapa kata- kata itu begitu menyentuh perasaannya.


"Bagaimana bisa ucapannya terdengar begitu tulus,,,! Aku bahkan tidak percaya kata- kata itu keluar dari bibirnya. Bram,,,! Ternyata kamu lebih misterius dari dugaanku".


Ucapan Bram membuat Miko melemah dan tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Naima. Bram melihat itu dan ia memanfaatkan perasaan Miko yang mulai melemah.


Miko perlahan menjauh dari Naima, ia benar- benar telah dirasuki oleh perasaan bersalahnya kepada Naima. Melihat hal itu, Bram dengan cepat menyuruh Alya untuk membawa Naima pergi dari tempat itu.


"Bawa Naima pergi Al,,,! Bawa Naima pergi menjauh dari tempat ini" Perintah Bram kepada Alya.


Alya langsung tersadar akan tugasnya, dengan cepat Alya meraih tangan Naima dan menariknya untuk keluar dari tempat itu.


"Bawa Naima kemobilku" Ucap Bram sambil melempar kunci mobilnya kepada Alya.


Alya menangkap kunci itu seraya berkata :


"Baik. Kamu hati- hati,,,!".


Alya langsung membawa Naima pergi dari tempat itu sesuai perintah dari Bram. Sedangkan Bram masih berdiri diposisinya sambil menatap Miko yang mulai linglung dengan perasaannya sendiri. Setelah sesaat bergelut dengan perasaannya sendiri, Miko akhirnya sadar kalau ia telah dipermainkan oleh Bram. Dan Miko semakin marah saat melihat Alya berhasil membawa Naima pergi dari hadapannya.


"Berengsek,,," Teriak Miko kepada Bram.


"Sialan,,,! Dasar kurang ajar,,,!" Miko terus mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya, ia meradang karena merasa telah dipermainkan.


"Naima sudah memutuskan untuk pergi dari sisimu. Jadi aku minta kamu jangan pernah menemuinya lagi. Atau kamu akan menyesal" Ancam Bram.


"Kalian semua berengsek. Berani- beraninya kalian mempermainkan aku" Miko menatap Bram dengan tatapan yang tajam.


"Kamu berani menantangku,,,! Kamu tidak tahu siapa aku,,,?".


"Tentu saja aku. Aku tahu kalau kamu itu 'Sampah',,,!" Ejek Bram.


Emosi Miko semakin tidak terkendali, ia menendang sebuah meja yang berada didekatnya.


"Aaa,,,! Dasar berengsek,,,!".


Setelah puas melampiaskan kekesalannya pada benda- benda disekitarnya, Miko berjalan mendekat kearah Bram dan langsung melayangkan sebuah pukulan kewajah Bram. Beruntung Bram menyadari hal itu dengan cepat dan ia langsung bergerak menghindari pukulan dari Miko hingga membuat Miko tersungkur dilantai.

__ADS_1


Miko bangkit sambil menatap Bram dengan tatapan yang mengerikan, ia benar- benar sudah lepas kendali. Miko kembali melayangkan pukulan kearah Bram hingga berkali- kali dan merekapun terlibat dalam pertempuran yang sengit.


Perkelahian yang terjadi antara Bram dan Miko membuat pelangan yang berada didalam kafe menjadi histeris. Sebagian dari mereka ketakutan dan memilih untuk pergi namun sebagian lagi malah memilih untuk menyaksikan pertarungan duel tersebut. Mereka berusaha menikmati pertempuran yang disajikan secara gratis itu.


Bram dan Miko saling memberi dan membalas pukulan namun sejauh ini Miko berada dilevel bawah karena mendapatkan lebih banyak pukulan dari Bram. Disaat mereka berdua tengah asyik berduel tiba- tiba dua pria berseragam keamanan datang dan menghentikan pertikaian itu. Pria itu menarik tubuh Miko karena ia yang paling bersemangat untuk melanjutkan perkelahian itu.


"Lepaskan, lepaskan aku. Aku masih ingin menghajar laki- laki itu" Ucap Miko dengan penuh emosi.


Bram tertawa melihat Miko yang semakin menggila dan dengan santainya ia berkata :


"Aku harap ini menjadi pertemuan yang pertama dan terakhir kita. Aku tidak ingin melihat kamu mendekati Naima lagi. Kalau kamu masih mendekatinya maka aku tidak akan bersikap sebaik ini lagi".


Miko kembali tersulut emosi, ia berusaha menghempaskan tangannya dengan kuat dan langsung melayangkan sebuah pukulan keras kearah Bram. Bram tidak pernah menyadari akan datangnya pukulan itu, ia lengah dan akhirnya tersadar setelah tangan Miko meninju wajahnya.


Kedua pria berseragam keamanan itu kembali menarik tubuh Miko dan kini mereka memengangi Miko dengan kuat. Bram mengusap pangkal bibirnya yang sakit karena pukulan Miko kemudian melangkah mendekati Miko dengan senyuman yang sinis.


"Game over,,,!" Ucap Bram seraya tersenyum.


Pria berseragam itu langsung menyeret tubuh Miko untuk keluar dari tempat itu. Mereka akan mengintrogasinya diruang keamanan. Bram memandangi situasi disekitarnya yang terlihat kacau dan berantakan. Bram mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan melangkah menemui seorang pelayan.


"Kirimkan semua tagihan kealamat ini. Aku tidak punya waktu untuk mengurusnya saat ini" Ucap Bram sambil berlalu pergi.


Pelayan itu menerima kartu pemberian dari Bram dengan mengucapkan terima kasih. Bram berbalik dan melangkahkan kaki menuju kepintu keluar seraya berkata :


"Mission complete,,,!".


Sementara itu Alya tampak sangat gelisah menunggu Bram yang tidak kunjung datang. Alya terus menatap kearah pintu keluar hingga akhirnya Bram muncul dari sana dan Alya langsung bergegas menghampiri Bram.


"Kenapa lama sekali,,,! Kamu tidak apa- apakan,,,?" Alya langsung menghujani Bram dengan pertanyaan.


"Aku tidak apa- apa,,,!" Jawab Bram.


"Dimana Naima,,,?" Tanya Bram.


"Naima didalam mobil, dia terlihat sangat ketakutan" Jawab Alya.


"Syukurlah Naima tidak apa- apa,,,!" Ucap Bram lega.


"Ayo kita pergi,,,!".


Bram melangkah pergi namun Alya menghentikannya.


"Tunggu,,,!" Alya menarik lengan Bram hingga mereka saling berhadapan.


"Wajahmu kenapa,,,?" Refleks tangan Alya menyentuh pipi Bram.


Bram terkejut merasakan tangan Alya membelai pipinya, namun ia tetap membiarkan Alya melakukannya.


"Kamu terluka,,,?" Tanya Alya khawatir.


Bram menyentuh tangan Alya yang berada dipipinya.


"Aku tidak apa- apa,,,! Kamu tidak perlu khawatir".


"Tapi wajahmu,,,!" Alya tidak melanjutkan ucapannya.


Bram menggenggam tangan Alya seraya berkata :


"Aku tidak apa- apa,,,! Sungguh,,,!".


Bram menatap wajah Alya sambil tersenyum sebagai isyarat bahkan ia benar- benar baik- baik saja. Alya akhirnya tersenyum lega karena melihat pria yang sedang berdiri dihadapannya itu sungguh baik- baik saja.


Bersambung,,,!!!


Terima kasih bagi teman2 yang masih setia mengikuti cerita ini.


Jangan bosan2 untuk terus mampir ya


Mohon berkenan untuk meninggalkan jejak kalian dengan Like, comment, vote dan share

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2