
Pintu kamar terbuka dan Reyhan melangkah keluar sambil memandangi sekeliling mencari keberadaan istrinya yang beberapa saat lalu keluar kamar untuk menerima telfon dari Alya. Sepuluh menit berlalu namun Ghea belum kembali juga hingga akhirnya Reyhan memutuskan untuk menyusulnya. Reyhan mendesah pelan setelah melihat Ghea sedang berdiri dibalkon sambil berbicara ditelpon.
"Seserius itukah pembicaraan yang mereka bicarakan, hingga ia tidak ingin aku mendengarnya" Batin Reyhan.
Reyhan melangkah pelan mendekati Ghea.
Ghea mendengarkan cerita Alya dengan seksama, ia benar- benar penasaran dengan peristiwa yang terjadi tadi siang.
"Dasar ba******,,,! Miko benar- benar sudah gila" Ghea begitu geram hingga tanpa sadar sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Loe bisa mengupat juga ya,,,!" Ucap Alya.
"Loe baru tahu" Sambung Ghea.
Alya terdengar tertawa dari seberang sana, ia tidak menyangka kata- kata itu keluar dari mulut Ghea karena sebenarnya diantara kedua sahabatnya itu yang paling ahli dalam hal mengupat adalah dirinya.
"Kondisi Naima bagaimana! Apa dia baik- baik saja,,,?" Tanya Ghea kembali.
"Saat ini kondisi Naima sudah membaik. Hanya saja dia masih memikirkan kejadian tadi siang. Sepertinya Naima shock berat Ghe,,,!" Jelas Alya.
"Ya, gue bisa merasakan ketakutan yang saat ini Naima rasakan. Tapi gue bersyukur akhirnya Naima bisa lepas dari jeratan Miko untuk selamanya" Ucap Ghea.
Walaupun bukan dalam situasi yang sama namun setidaknya Ghea juga pernah merasakan berada diposisi Naima saat ini. Ghea ingat betul bagaimana ia harus menghadapi sikap Ardie yang begitu nekat mengejar dirinya walaupun sudah ditolak berkali- kali, bahkan adakalanya Ardie bersikap hingga melewati batas.
"Loe jagain Naima ya Al,,,! Biarkan Naima tinggal sama loe untuk sementara waktu. Besok gue akan kerumah loe" Pinta Ghea.
"Ok,,,! Loe nggak perlu khawatir. Gue bakal jagain Naima dengan baik" Ucap Alya.
"Ya, gue percaya sama loe" Balas Ghea.
Alya memutuskan hubungan telfonnya, sementara itu Ghea masih terdiam terpaku menatap kedepan dengan tatapan mata kosong. Rasanya saat ini ia ingin berlari secepat mungkin untuk menemui Naima agar bisa memeluk dan menenangkan perasaan sahabatnya itu. Namun tiba- tiba sepasang tangan melingkar dipinggangnya dan memeluk dengan erat hingga membuyarkan lamunan Ghea.
Reyhan menyandarkan dagunya dipundak Ghea seraya berbisik :
"Kenapa lama sekali,,,! Aku sudah capek menunggumu".
Ghe melirik suaminya
"Kamu menungguku,,,!"
"Hm,,,! Iya, aku menunggumu" Reyhan semakin mempererat pelukannya.
Ghea tersenyum mendengar ucapan suaminya yang semakin lama semakin bertambah manja.
"Dasar manja,,,! Covernya saja yang gagah tapi hatinya begitu gemulai".
"Memangnya siapa yang menyuruhmu menunggu,,,? Akukan tidak mengatakan apa- apa,,,!" Goda Ghea.
"Kamu mau mencoba menggodaku. Kamu tahukan kalau aku paling tidak suka menunggu lama" Ucap Reyhan.
"Kamu marah,,,!" Tanya Ghea
"Hmm,,,! Sedikit,,,!" Reyhan semakin menenggelamkan wajahnya dibalik leher jenjang Ghea sambil mencium aroma tubuh istrinya itu.
"Maaf ya sudah membuat kamu menunggu, aku hanya mengkhawatirkan keadaan Naima" Balas Ghea.
"Kamu begitu memperdulikan sahabatmu sampai- sampai mengabaikanku, apa kamu sudah tidak peduli lagi padaku,,,! Kamu tidak menyanyangiku lagi,,,?" Reyhan memulai drama.
__ADS_1
"Hai, kenapa kamu bicara begitu,,,!".
Ghea berbalik menghadap kearah Reyhan dan tanpa diduga sebuah kecupan langsung mendarat dibibirnya. Meskipun Reyhan sudah sering menciumnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu, namun tetap saja Ghea terkejut saat mendapatkan kecupan dadakan itu.
Reyhan melepaskan ciumannya diiringi tatapan tajam dari istrinya.
"Kenapa,,,?" Reyhan bingung melihat ekspresi wajah Ghea.
Ghea masih terdiam membisu.
"Apa apa,,,?" Reyhan mulai penasaran.
"Memangnya siapa yang tidak peduli,,,!" Tanya Ghea jutek.
Reyhan tersenyum dan langsung memeluk Ghea.
"Aku cuma bercanda sayang,,,! Jangan marah begitu dong".
"Siapa yang marah, aku nggak marah,,,!".
"Iya baiklah. Tidak ada yang marah kok,,,!".
Reyhan melepaskan pelukannya dan lagi- lagi ia kembali mengecup bibir istrinya hingga berkali- kali dan Ghea dibuat kelabakan oleh aksinya itu. Reyhan memang paling senang menggoda Ghea bahkan disaat istrinya itu sedang marah.
Tangan kiri Reyhan menarik tubuh Ghea kedalam pelukannya kemudian melingkarkan tangannya dipinggang istrinya itu dan tangan yang satunya lagi merengkuh dagu Ghea sambil dikecup lembut. Ghea menutup matanya pasrah menerima perlakuan dari suaminya itu, perlahan ia membalas pelukan dan ciuman itu dengan mesra.
Reyhan melepaskan ciumannya kemudian menatap wajah istrinya lekat, ia melihat garis senyuman dari bibir Ghea. Bibir Ghea yang kecil dan imut memberikan kesan seksi tersendiri bagi Reyhan hingga ia tidak sabar ingin merengkuh bibir itu kembali. Dan benar saja, Reyhan kembali ******* habis bibir istrinya itu secara mendalam dan semakin dalam hingga membuat ia kehilangan kesadarannya.
Ghea mulai kesulitan bernafas, ia memukul dada Reyhan berkali- kali untuk menyadarkannya kembali.
Sontak hal itu membuat Reyhan terkejut, ia langsung melepaskan ciumannya kemudian menatap istrinya yang sedang berusaha mengatur nafasnya yang tersengal- sengal.
Untuk sesaat Reyhan benar- benar lepas kendali.
"Sayang,,,!" Reyhan menatap mata Ghea.
"Gila,,,! Kenapa aku jadi kehilangan kendali begini sih. Aku hampir saja mencelakai istriku sendiri. Maafkan aku sayang,,,!" Reyhan mengelus pipi Ghea lembut.
"Kamu tidak apa- apa,,,?" Reyhan panik melihat Ghea yang masih kesulitan bernafas.
"Kamu ingin membunuhku ya,,,!" Ucap Ghea asal.
Ucapan Ghea begitu menusuk hati Reyhan hingga membuatnya gemetar, ia meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat.
"Maafkan aku sayang,,,! Kamu jangan bicara seperti itu".
"Hm,,,! Kalau aku terus membalasnya maka ini akan kembali menjadi perdebatan yang panjang. Aku sedang tidak ingin berdebat. Saat ini aku hanya ingin menikmati pelukan hangat dari suamiku ini" Batin Ghea.
Ghea membiarkan Reyhan memeluk tubuhnya tanpa membalas, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
"Apa kamu benar- benar marah sayang,,,! Kenapa kamu tidak membalas pelukanku" Batin Reyhan.
"Maafkan aku ya sayang, aku benar- benar menyesal" Reyhan sungguh merasa sangat menyesal, ia sadar kalau kali ini aksinya benar- benar sudah kelewatan.
Reyhan melepaskan pelukannya dan menatap Ghea dengan lekat.
"sayang,,,!".
__ADS_1
Ghea membalas tatapan mata suaminya sambil berucap manja :
"Aku masih mau dipeluk," Rengek Ghea.
Reyhan tersenyum dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan mesra.
"Kamu tidak marah lagikan,,,?".
"Kamu ingin aku marah,,,?" Ghea semakin membenamkan wajahnya didalam pelukan Reyhan.
"Tidak, aku tidak ingin kamu marah. Aku tidak suka itu" Ucap Reyhan dengan perasaan yang lega.
Reyhan membelai rambut Ghea dengan lembut seraya berkata :
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Naima, ia baik- baik saja. Bram sudah menceritakan semuanya kepadaku".
"Apa Bram juga cerita kalau ia terluka,,,!" Tanya Ghea.
"Hm,,,! Hanya luka kecil, itu tidak ada artinya bagi Bram. Dia lebih kuat dari apa yang kita pikirkan".
"Kamu tidak mengkhawatirkan Bram, kenapa kamu bisa sedingin itu kepadanya,,,?".
Reyhan melepaskan pelukannya dan kembali menatap Ghea
"Sayang,,,! Bram itu laki- laki, untuk apa aku khawatir padanya. Lagipula dia bisa melindungi dirinya sendiri. Saat ini tidak ada yang lebih penting bagiku selain kamu. Kamu adalah yang nomer satu dalam hidupku. Jadi, jangan pernah membuat aku khawatir, Ok,,,!".
"Nomer satu,,,!" Goda Ghea.
"Iya, nomer satu" Balas Reyhan.
"Benarkah,,,!" Ghea tersenyum nakal dan langsung kabur dari Reyhan.
Reyhan tersenyum
"Kamu mulai nakal ya,,,!".
"Sayang, jangan lari,,,!" Reyhan berlari menyusul istrinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu ya,,,! Sayang,,,!".
Ghea terus berlari tanpa menghiraukan panggilan suaminya, ia tahu Reyhan tidak akan membiarkannya lepas kalau suaminya itu berhasil menangkapnya. Reyhan mengejar Ghea hingga kesegala sudut, ia sungguh tidak akan melepaskan istrinya itu. Tentu saja Ghea bukanlah lawan yang sesuai bagi Reyhan karena dalam hitungan menit Reyhan telah berhasil menggiring Ghea masuk kedalam kamar dan menjadi tahanannya.
Terkadang dalam hubungan suami istri memang diperlukan adanya perdebatan- perdebatan kecil sebagai bumbu penyedap agar rumah tangga tidak hambar dan menjadi lebih berwarna. Namun satu hal yang harus dipahami bahwa bumbu itu jangan digunakan secara berlebihan dan harus sesuai dengan takarannya agar rasa yang tercipta pas dan nikmat.
Bersambung,,,!!!
Ada yang kangen dengan Reyhan dan Ghea tidak,,,?
Maaf ya bary up sekarang setelah break beberapa hari
Harap maklum ya
Terima kasih bagi yang masih setia mengikuti cerita ini.
Jangan bosan- bosan ya untuk memberikan dukungan kalian kepada Author dengan cara Like, comment, vote dan share.
Terima kasih
__ADS_1