Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Insiden


__ADS_3

Alya dan Ghea duduk tenang sambil menatap Naima yang sedang duduk dihadapan mereka. Naima nampak risih ketika menyadari dua sahabanya sedang menatap tajam kearah dirinya.


"Kalian kenapa sih,,,? Kok lihatin aku tajam banget,,,!" Tanya Naima.


Alya menyipitkan matanya ingin mencari sebuah kebenaran dari wajah Naima.


"Loe udah baikan lagi sama Miko,,,,?" Tanya Alya.


Naima tidak langsung menjawabnya, ia hanya tersenyum malu.


"Tuh,,,! Benarkan dugaan gue Ghe,,,! Nih anak emang nggak bakal pernah bisa lepas dari Miko. Pikiran dia itu sudah diracuni sama tuh cowo gila,,,!" Alya meradang marah.


"Benar Nai,,,! Loe baikan lagi sama Miko,,,?" Tanya Ghea.


"Iya,,,!" Naima mengangguk pelan.


"Tuh kan benar,,,!" Alya benar- benar kesal.


"Kenapa,,,? Kenapa loe mau balikan lagi sama Miko,,,? Loe sendirikan yang bilang kalau loe udah capek jalan sama Miko. Tapi kenapa sekarang loe mau balikan lagi sama dia,,,?" Ghea kembali bertanya.


"Jawab,,,! Kenapa loe diam aja,,,!" Alya semakin kesal.


"Tenang dulu Al,,,!" Ghea menenangkan Alya.


"Gue bingung Ghe,,,! Gue nggak bisa menolak Miko. Gue juga nggak tahu gimana cara menolaknya,,,!" Naima menunduk malu.


"Loe bingung kenapa,,,? Apa yang membuat loe ragu,,,?".


"Gue juga nggak tahu Ghe,,,! Setiap kali Miko memohon untuk balikan sama gue, gue selalu luluh dan tidak berdaya untuk menolaknya".


"Loe pasti udah kena pelet si Miko,,,!" Ujar Alya.


"Ngomong apa sih loe Al,,,! Jangan ngomong yang aneh- aneh deh,,,!" Ghea menyenggol lengan Alya.


"Iya benar dong Ghe,,,! Gue yakin kalau gue nggak salah. Loe bayangin aja sendiri, Naima nggak pernah bisa marah sama Miko setiap kali mereka bertengkar. Dan udah berapa kali Naima dan Miko putus tapi mereka tetap bersatu kembalikan. Bukannya itu aneh,,,!" Ucap Alya menggebu- gebu.


Ghea menatap Naima yang semakin menundukkan kepalanya. Ghea yakin kalau Naima pasti sedang kebingungan dengan situasinya saat ini.


"Nai,,,! Sekarang loe jujur sama kita. Loe cinta nggak sama Miko,,,?" Tanya Ghea.


Naima mengangguk.


"Loe sayang nggak sama Miko,,,?".


Naima kembali mengangguk.


Ghea kembali bertanya


"Loe bahagia apa nggak bersama dengan Miko,,,?".


Naima terdiam sesaat kemudian menatap Ghea dan Alya bergantian.


"Nah,,,! Sudah jelaskan,,,! Apa gue bilang. Loe udah kena pelet Nai,,,!" Ucap Alya penuh keyakinan.


"Apaan sih loe Al,,,! Dari tadi pelat pelet terus. Emang siapa yang kena pelet,,,?" Naima kesal


"Eloe,,,! Emang siapa lagi,,,!" Jawab Alya.


"Gue nggak kena pelet Al,,,! Gue normal,,,!" Ucap Naima.


"Orang yang terkena pelet itu nggak bakal sadar kalau ia kena pelet,,,!" Balas Alya.


"Kok loe ngomong gitu sih,,,!".


"Ya emang iyakan,,,!".


"Sudah- sudah,,,! Kalian nggak perlu berdebat tentang masalah yang tidak penting itu. Kita disini bukan untuk saling berdebat, tapi kita mau mencari solusi untuk permasalahan Naima" Ghea terdiam sejenak kemudian kembali berkata


"Sekarang apa yang harus kita lakukan,,,?".


"Kita datangi Miko bareng- bareng, terus kita hajar dia sampai babak belur,,,!" Alya menggepalkan tinjunya.


"Yang benar dong Al,,,! Loe bercanda aja dari tadi. Itu bukan mencari solusi tapi mencari masalah baru,,,!" Ucap Ghea.


"Kok Bercanda sih Ghe,,,! Gue serius,,,! Loe nggak lihat kepalan tangan gue ini sudah siap untuk meninju wajah Miko" Ujar Alya.


"Jangan gitu dong Al,,,! Kasihan Miko,,,!" Naima masih kasihan kepada Miko.

__ADS_1


"Loe bilang apa Nai,,,? Kasihan,,,! Loe kasihan sama Miko,,,?" Alya menatal Naima penuh kekesalan


"Kalau loe kasihan sama cowo gila itu, terus ngapain loe ngajak kita ketemuan disini. Loe pergi aja sama Miko, ngapain loe ngadu sama kita berdua,,,!".


Naima tidak menjawab pertanyaan Alya.


"Alya,,,! Loe harus tenang dulu Al,,,!" Ghea menepuk tangan Alya.


"Nggak ada gunanya kita marah- marah, yang ada kita malah akan pecah".


"Nai,,,! Gue mau bertanya serius sama loe dan loe harus jujur sama gue. Gue nggak peduli loe masih suka atau loe masih cinta sama Miko. Loe mau mengakhiri hubungan loe sama Miko untuk selamanya atau tidak,,,?" Ghea bertanya tegas.


Naima mengganguk pelan


"Iya Ghe,,,! Gue mau putus sama Miko. Gue mau lepas dari Miko untuk selama- lamanya.


Ghea dan Alya saling berpandangan, mereka memiliki pikiran yang sama.


"Gue rasa kita memang harus bicara langsung dengan Miko" Ucap Ghea.


"Gue setuju,,,!" Alya kembali menggepalkan tinjunya.


"Gue nggak bilang mau main tangan Al,,,! Gue bilang kita harus bicara bukan berantem" Ghea menunurunkan kepalan tinju Alya.


"Miko nggak bakal nyerah kalau kita nggak beri dia pelajaran Ghe,,,! Dia pasti akan mengulanginya lagi".


"Terus loe mau ngasih Miko pelajaran pake tinju loe ini,,,?".


Alya mengangguk.


"Loe yakin kalau loe mampu menghadapi Miko,,,? Badan loe aja kalah jauh dari Miko, apalagi tenaga loe Al,,,!".


Alya menurunkan kepalan tinjunya, ia mulai meragukan kekuatannya.


"Gue akan bicarakan hal ini dengan Reyhan terlebih dahulu. Jujur gue sendiri nggak berani menghadapi Miko secara langsung. Miko bukan orang yang mudah kita hadapi" Ucap Ghea.


"Gue setuju sama ide loe Ghe,,,! Kita sepertinya memang butuh bantuan laki- laki,,,!" Sambung Alya.


"Tapi loe yakin Reyhan mau bantuin kita menyelesaikan masalah ini Ghe,,,? Kalau Reyhan nggak mau gimana,,,?" Naima sedikit khawatir.


"Kenapa loe bertanya begitu Nai,,,! Mana mungkin Reyhan tidak mau membantu kita. Apa mungkin Reyhan akan membiarkan Ghea terlibat dalam masalah,,,! Reyhan bukan laki- laki seperti itu iyakan Ghe,,,? Reyhan berbeda sama Miko" Ucap Alya.


"Itu sudah pasti,,,! Tuan Muda Reyhan punya kekuasaan untuk mengendalikan semua orang" Ucap Alya sambil tertawa garing.


Ghea tertawa mendengar ucapan Alya yang begitu bersemangat berbicara tentang Reyhan. Ah,,,! Mendengar nama Reyhan disebut membuat rasa rindunya kembali mencuak. Ghea mulai khawatir karena sampai saat ini Reyhan belum datang- datang juga.


"Kamu dimana Rey,,,! Aku kangen kamu,,,! Kamu baik- baik saja kan,,,?".


Ghea mengambil ponselnya ingin menghubungi Reyhan. Entah mengapa perasaan Ghea tiba- tiba mulai gelisah tak menentu. Ia mencemaskan Reyhan yang tak kunjung tiba untuk menjemputnya.


"Ada apa Ghe,,,? Kamu kok kelihatan gelisah,,,? Ada masalah,,,?" Alya melihat Ghea yang tiba- tiba cemas.


"Nggak apa- apa kok Al,,,! Aku cuma sedikit cemas, kok Reyhan belum sampai- sampai juga ya,,,!" Ucap Ghea.


"Mungkin Reyhan masih dijalan Ghe,,,! Kamu tenang aja dulu,,,! Nggak usah cemas ya,,,,!" Alya menenangkan Ghea.


Ghea mencoba untuk menghubungi Reyhan dengan perasaan harap- harap cemas.


Setelah menunggu lama akhirnya Reyhan menjawab panggilan Ghea.


"Hallo sayang,,,!" Sapa Reyhan dari seberang sana.


Ghea menghela nafas lega setelah mendengar suara Reyhan.


"Hallo Rey,,,! Kamu dimana,,,?" Tanya Ghea.


"Kenapa,,,? Kamu udah kangen banget ya sama aku,,,?".


Ghea tersipu malu mendengar pertanyaan dari Reyhan. Alya dan Naima menatap Ghea dengan tatapan sinis (kepo).


"Kamu bicara apa sih,,,?" Ghea mulai risih melihat tatapan dari dua sahabatnya itu.


"Lho, emang kenapa,,,? Emang nggak boleh,,,?".


"Iya udah terserah kamu,,,! Kamu dimana sekarang,,,?".


"Aku baru saja sampai sayang. Ini masih diparkiran. Kamu tunggu sebentar ya, aku jemput kamu kedalam,,,!".

__ADS_1


"Eh,,, nggak usah,,,! Kamu nggak usah masuk kedalam. Aku aja yang keluar sekarang,,,!" Ucap Ghea.


"Kamu jangan kemana- mana,,,! Tunggu aku disana,,,!".


"Ok,,,! Kamu jangan lama- lama ya,,,!".


"Iya,,,!" Ghea menutup telponnya sambil senyam senyum.


Sementara itu Alya dan Naima masih menatapnya dengan tatapan iri.


"Kamu jangan kemana- mana ya,,,!" Alya menggoda Ghea.


"Tunggu aku disana,,,?" Sambung Naima.


"Emang Reyhan masih anak kecil Ghe, loe takut banget kalau Reyhan akan hilang,,,!" Alya kesal sekaligus iri kepada Ghea.


"Kalian apaan sih,,,! Iri,,,! Bilang bos,,,,!".


Ghea tertawa melihat wajah Alya dan Naima yang kesal.


"Makin lama makin tambah nyeselin tuh anak,,,!" Ucap Alya.


"Iya loe benar,,,!" Sambung Naima.


Ghea berjalan keluar menuju kearah parkiran namun ia tidak menemukan mobil Reyhan disana.


"Reyhan dimana,,,?".


Ghea mengambil ponselnya dan menghubungi Reyhan kembali.


"Hallo,,,!".


"Hallo,,, Kamu dimana Rey,,,? Aku nggak melihat mobil kamu,,,?".


"Aku diluar Ghe,,,! Tempat parkirnya penuh, jadi aku parkir diseberang jalan".


"Dimana,,,?" Ghea melihat kekanan dan kekiri.


"Disini,,,!" Reyhan melambaikan tangannya kearah Reyhan.


Ghea tersenyum melihat Reyhan yang sedang melambaikan tangan kepadanya. Entah kenapa rasanya Ghea ingin berlari secepat mungkin untuk memeluk Reyhan dengan erat.


Ghea mencoba untuk menyebrang jalan namun ia kesulitan karena kondisi jalan yang terlalu ramai. Reyhan melihat Ghea kesulitan untuk menyebrang jalan hingga akhirnya Reyhan memutuskan untuk menjemput Ghea. Perlahan Reyhan melewati kendaraan yang begitu ramai dan akhirnya berhasil menyusul Ghea.


Reyhan melingkarkan tangannya dipinggang Ghea dan menuntunnya berjalan.


"Hati- Hati,,,!" Ucap Reyhan.


Ghea mengangguk.


Mereka melangkah pelan hingga akhirnya sampai diseberang jalan. Reyhan membuka pintu mobil agar Ghea masuk kedalamnya.


"Tunggu,,,!" Ghea menyadari kunci kedainya terjatuh.


"Ada apa,,,?" Tanya Reyhan.


"Kunci aku terjatuh,,,?" Ghea melihat kesegala arah dan menemukan kuncinya yang terjatuh dipinggir jalan.


"Itu dia,,,!".


Ghea tersenyum senang karena kuncinya tidak hilang, ia bergegas mengambil kuncinya tersebut. Ghea menunjukkan kunci tersebut kepada Reyhan hingga tidak menyadari ada motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dibelakangnya. Beruntung Reyhan melihat situasi tersebut dan ia langsung menarik Ghea kedalam pelukannya sehingga mereka terhindar dari motor itu. Namun sayangnya karena tarikan tangan Reyhan yang begitu kuat membuat tubuh Ghea dan tubuh Reyhan saling membentur satu sama lain hingga membuat mereka terjatuh.


Ghea merintih kesakitan karena tubuhnya membentur tanah. Ghea kemudian berbalik menghadap Reyhan yang terjatuh tepat disampingnya. Ghea melihat Reyhan yang terdiam tanpa ada pergerakan membuat ia langsung histeris.


"Reyhan,,,!" Ghea menepuk- nepuk pundak Reyhan namun tidak ada jawaban.


"Tidak,,,! Tidak,,,! Tidak Rey,,,!" Ghea mulai menangis.


"Bangun Rey,,,! Jangan diam saja,,,! Bangun,,,! Jawab aku Rey,,,!".


Ghea mengangkat kepala Reyhan perlahan dan melihat noda merah dipinggir trotoar, ternyata kepala Reyhan membentur pinggir trotoar hingga mengeluarkan darah.


"Tidak,,,! Reyhan,,,! Bangun Rey,,,?" Ghea terisak tangis.


"Tolong,,,! Tolong suamiku,,,! Aku mohon tolong suamiku,,,!" Ghea berteriak dengan sekuat tenaga.


Orang- orang yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Ghea dan memberikan pertolongan.

__ADS_1


Bersambung,,,,!!!


__ADS_2