Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Insiden Di Parkiran


__ADS_3

Ellis masuk kedalam kamar khusus dokter untuk beristirahat dan melepas lelah setelah melayani begitu banyak pasien yang datang berkonsultasi dengannya. Ellis merupakan dokter spesialis penyakit dalam sehingga ia memiliki pasien yang cukup banyak. Ellis melihat Raya berbaring diatas ranjang dengan seragam lengkap tanpa melepas jas dan sepatunya.


Ellis mendekat mencoba membangunkan Raya.


"Ray,,,! Bangun Ray,,,! Bangun,,,! Raya,,,!" Ellis menguncangkan tubuh Raya beberapa kali namun ia tidak bergeming.


"Ini anak kalau udah ketemu bantal sama kasur langsung pulas".


Ellis mencoba membangunkan Raya kembali.


"Raya Bangun,,,!" Ellis berteriak kencang ditelinga Raya.


"Ya ya ya,,,! Siap,,,! Darurat,,,! Siap, siap,,,!" Raya terkejut mendengar teriakan Ellis hingga membuatnya bangun dan langsung duduk dipinggir ranjang namun dengan mata yang masih terpejam.


"Hei bangun,,,! ngomong apa sih loe,,,? Loe mimpi ya,,,?" Ellis duduk disamping Raya.


Raya membuka matanya melihat Ellis yang sedang menertawakannya.


"Sialan,,,! Kurang ajar loe,,,!" Raya melempar bantal kewajah Ellis.


"Loe ngerjain gue,,,!".


"Hahahaha,,,! Sorry, sorry,,,! Gue minta maaf" Ucap Ellis.


"Salah loe sendiri kenapa tidur dengan memakai seragam dan sepatu lengkap begitu".


"Gue ketiduran tadi".


Raya memijit tengkuk lehernya yang terasa pegal.


"Jam berapa sekarang,,,?" Tanya Raya sambil berdiri.


"Jam sembilan malam. Kenapa loe mau pulang,,,?" Tanya Ellis.


"Iya,,,!" Jawab Raya.


"Kenapa nggak tidur disini aja malam ini,,,? Lagian loe kayaknya capek banget. Emang loe masih sanggup nyetir,,,?" Tanya Ellis.


Raya melakukan peregangan untuk melenturkan kembali tubuhnya yang kaku.


"Nggak, gue mau pulang aja, badan gue sakit semua karena tidur dikasur padat itu. Malam ini gue mau tidur nyenyak dirumah, gue kangen banget sama kasur lembut kesayangan gue" Jawab Raya.


"Ya, ya,,,! Pulang sana. Anak borju kayak loe itu emang nggak cocok tidur disini, jadi lebih baik loe pulang sekarang. Gue juga nggak butuh teman yang nggak setia kawan kayak loe" Ucap Ellis bercanda.


Raya tertawa mendengar canda Ellis.


Raya melepas jasnya dan meletakkan disangkutan.


"Ya ya ya,,,! Habis gimana lagi dong, gue nggak biasa gitu lho,,,! Hahahaha,,,!" Ucap Raya sambil tertawa.


"Gue balik dulu ya,,,!" Raya meraih tasnya.


"Loe dinas malamkan,,,?".


"Yups,,,! Resiko jadi dokter kesayangn pasien, gue nggak diizinkan pergi jauh- jauh dari mereka. Gue rasa bentar lagi gue harus pindah rumah deh" Ellis merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Ah,,,! Gue kangen kamar gue,,,!".


"Hahahaha,,,! Nikmati aja Beb,,,! Bentar lagi loe juga bakal pensiun dini. Setelah nikah nanti loe pasti akan kangen banget sama kamar ini. Gue jamin itu,,,!" Ucap Raya.


Ellis mendesak


"Ah,,,! Gue jadi kangen David. Seharian ini gue belum mendengar suaranya. Dia lagi ngapain ya,,,?" Ellis merindukan kekasihnya.


Raya mengambil sebuah handuk dan melemparkannya kewajah Ellis.


"Nih, peluk tu handuk. Anggap aja itu David. Hehehhe,,,!".


"Eh,,,!" Ellis mengambil handuk tersebut dan berkata :


"Sialan,,,! Masa loe mau samain handuk jelek ini sama David sih,,,! Jahat banget sih loe".

__ADS_1


Raya tertawa senang melihat Ellis yang sedang kesal, ia bergegas pergi tanpa menghiraukan Ellis lagi.


Sementara itu Yuda telah memakai mantelnya dan bergegas ingin pulang. Hari ini ia sangat kelelahan setelah seharian melakukan banyak operasi dari pasien darurat.


"Loe mau pulang sekarang,,,?" Tanya Dion melihat Yuda sedang berkemas.


"Iya,,,! Gue mau istirahat dirumah" Jawab Yuda.


"Loe memang harus istirahat Yud, seharian ini loe telah keluar masuk ruang operasi tanpa break sedetikpun".


Dion menepuk pundak Yuda seraya berkata:


"Loe harus menjaga kondisi badan loe agar tetap fit, kami nggak mau kehilangan loe walaupun cuma sehari. Loe adalah Dokter andalan unit kita, jadi loe harus tetap sehat, ok,,,!".


Yuda menyingkirkan tangan Dion dari pundaknya


"Kalau gue nggak ada, kan masih ada eloe. Bukannya loe udah bosen jadi asisten gue terus,,,! Loe bisa ambil kesempatan ini untuk jadi Dokter utama di IGD".


"Ya bedalah. Loe sama gue berada dilevel yang berbeda. Dokter Yuda nggak ada yang bisa gantiin. Loe tetap Dokter bedah terbaik dirumah sakit ini. Gue mah apa atuh,,,! Hahahaha,,,!" Ucap Dion.


"Sialan loe,,,!".


Yuda mengambil tasnya dan melangkah pergi sambil berkata :


"Oh iya,,,! Malam ini gue mau istirahat dengan tenang dan nggak mau diganggu. Jadi,,,! Loe jangan penah menghubungi gue. Ok,,,!".


"Ok,,,! Siap. Gue nggak akan ngangguin loe. Janji. Tugas malam ini, gue yang bakal ambil alih. Loe tenang aja,,,!" Ucap Dion sambil tertawa.


"Janji loe nggak pernah bisa dipengang" Ucap Yuda.


"Pokoknya loe jangan pernah menghubungi gue malam ini. Handphone gue,,,!" Yuda menunjukkan ponselnya.


"Gue matiin,,,!.


"Iya,,, Iya,,,! Gue janji nggak bakal nelfon eloe. Loe nggak percaya banget sama gue. Udah sana loe pulang aja, lama- lama darah tinggi gue gara- gara loe" Dion mengusir Yuda.


Yuda mengangguk sambil tersenyum kemudian ia melangkah keluar dari ruangannya. Yuda berjalan menuju tempat parkir dilantai paling bawah yang merupakan tempat parkir khusus untuk pegawai rumah sakit.


Yuda tetap berjalan dengan santai tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya, sampai akhirnya ia sampai ditempat mobilnya terparkir. Yuda menghentikan langkahnya ketika melihat dua pria sedang berdiri disamping sebuah mobil Mercy yang tidak jauh dari mobilnya dengan gerak gerik yang mencurigakan.


"Mereka siapa,,,? Apa yang sedang mereka lakukan disana,,,?" Batin Yuda.


"Hai,,,! Sedang apa kalian,,,?" Yuda memanggil pria- pria itu.


Kedua pria itu terkejut mendengar panggilan Yuda dan saling menatap dengan wajah panik.


"Ada orang bro,,,!" Ucap seorang pria.


"Sialan,,,! Siapa sih,,,? Nganggu aja,,,!" Ucap Pria lainnya.


Penasaran dengan tujuan kedua pria itu, Yuda akhirnya berjalan mendekat


"Hai,,,! Kalian siapa,,,? Apa yang sedang kalian lakukan,,,?".


"Cepat Bro,,,! Orang itu mendekat kearah kita" Pria itu mulai panik.


Yuda berjalan semakin dekat


"Kalian pencuri ya,,,?".


Kedua pria tampak semakin panik dan tanpa berpikir panjang seorang pria langsung memecahkan kaca mobil itu dan mengambil sebuah tas yang sejak lama memang mereka incar. Seketika alarm mobil itu berbunyi dengan sangat kencang hingga membuat situasi menjadi tidak kondusif.


"Sialan,,,! Ayo cepat kabur,,,!".


Kedua pria itu berusaha untuk kabur namun langkah mereka terhenti karena Yuda telah berdiri dihadapan mereka dan menghalangi jalannya.


"Jadi benar kalian pencuri,,,!" Yuda melirik tas yang berada ditangan pria itu.


"Letakkan itu,,,! Itu bukan milik kalian" Perintah Yuda.


"Minggir loe, nggak usah ikut campur,,,!".

__ADS_1


Pria itu meletakkan tas tersebut dan langsung melayangkan sebuah pukulan kearah Yuda. Beruntung Yuda menyadari hal itu dan langsung bergerak menghindar. Kedua pria itu mulai geram karena Yuda telah menganggu pekerjaan mereka dan akhirnya perkelahian itu tidak dapat dihindari.


Raya tiba ditempat parkir kemudian berjalan menuju mobilnya. Sayup- sayup Raya seperti mendengar suara alarm mobil, namun ia tidak menghiraukannya. Awalnya Raya sempat bingung dan mengabaikan suara alarm mobil yang terdengar menjerit dengan kencang itu, namun ia sangat terkejut ketika melihat lampu mobilnya yang berkedip hingga ia menyadari kalau alarm itu berasal dari mobilnya.


Dengan cepat Raya berlari kearah mobilnya yang terus berteriak dan berapa terkejutnya ia ketika melihat kaca mobilnya pecah dan berserakan dilantai.


"Apa ini,,,? Apa yang telah terjadi kepada mobilku,,,?" Raya kebingungan.


Raya mengambil kunci dan langsung mematikan alarm mobilnya itu.


"Siapa yang melakukan semua ini,,,?" Raya melihat kesegala arah dan akhirnya matanya tertuju kepada para pria yang sedang berkelahi.


"Apa yang sedang mereka lakukan,,,?".


Raya mencoba melihat lebih jelas dan ia terkejut ketika menyadari salah satu dari pria itu adalah Yuda.


"Yuda,,,!".


Yuda terus berusaha menghindari pukulan dari pria- pria itu dan mencoba untuk bertahan, namun karena tenaganya yang sudah terkuras habis membuat kekuatannya menjadi melemah hingga tanpa ia sadari sebuah pukulan melayang diperutnya dan membuatnya terjatuh kelantai.


"Ya Tuhan,,,! Yuda,,,,!".


Raya terkejut melihat kejadian itu dan langsung berlari menghampiri Yuda.


Raya meraih tubuh Yuda yang tersungkur kelantai.


"Yuda,,,! Kamu tidak apa- apa,,,?".


"Kamu ngapain disini,,,?" Yuda berusaha untuk berdiri.


Raya memengangi lengan Yuda dan membantunya berdiri. Raya melirik sebuah tas yang tergelat dilantai dan mengenalinya.


"Itu tasku,,,! Kenapa tas itu ada disini,,,?" Raya menatap kedua pria itu.


"Kalian pencuri ya,,,! Berani- beraninya kalian mencuri dimobilku,,,!".


Raya tampak kesal dan ingin melangkah maju namun Yuda menghalanginya.


"Kamu minggir,,,! Ini bukan urusan perempuan" Ucap Yuda.


Raya melangkah mundur. Yuda dan para pria itu kembali terlibat pertempuran dan sekarang menjadi semakin panas. Raya terlihat begitu panik hingga membuatnya putus asa tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Raya meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang merupakan petugas keamanan. Ia menceritakan situasi yang terjadi dan setelah memberikan laporan Raya mematikan ponselnya.


Yuda mulai kewalahan menghadapi kedua pria itu, ia telah terjatuh beberapa kali dan akhirnya sebuah pukulan terakhir melanyang tepat diwajahnya hingga membuat Yuda terjatuh.


"Yuda,,,!" Raya berlari menghampiri Yuda dan meraihnya.


"Sudah cukup,,,! Kamu terluka" Raya menghusap darah yang keluar dari bibir Yuda.


Yuda tidak memberikan respon penolakan terhadap perlakuan yang diberikan Raya padanya, tubuhnya benar- benar hancur saat ini.


Selang beberapa saat para petugas keamanan datang dan langsung meringkus para pencuri itu. Mereka digelandang menuju pos keamanan untuk diperiksa.


"Nona Raya tidak apa- apa,,,?" Tanya seorang petugas keamanan.


"Tidak,,,! Aku tidak apa- apa,,,!" Jawab Raya.


"Tolong panggilkan petugas IGD. Ada pasien yang terluka" Perintah Raya.


"Baik, Nona,,,!"Jawab petugas itu dan langsung melangkah pergi.


Raya menatap Yuda yang memengang perutnya seperti menahan sakit.


"Yuda, tenang ya,,,! Aku akan membawamu ke IGD" Ucap Raya.


Yuda tidak memberi jawaban, ia benar- benar tidak berdaya. Tubuhnya yang sejak awal sudah lemah kini menjadi semakin lemah. Seluruh tenaganya sudah hilang tak bersisa.


**Bersambung,,,,!!!


Setelah membaca


Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan memberi like, comment, vote dan share.

__ADS_1


Terima kasih**


__ADS_2