Maukah Kau Menikah Denganku

Maukah Kau Menikah Denganku
Pria Dingin


__ADS_3

Pria berhati dingin begitulah orang- orang menganggapnya. pria kaku, pendiam tanpa ekspresi dan tidak pernah tersenyum sedikitpun membuat orang- orang takut dan segan berada didekatnya. Reyhan menutup diri dari siapapun hingga sangat sulit untuk didekati.


Reyhan Putra Wijaya merupakan pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Wijaya Putera, Putera Jaya grop. Reyhan menggantikan posisi ayah nya sebagai presdir Putera Jaya Grop. Hatama Wijaya adalah ayah Reyhan yang meninggal dunia 7 tahun yang lalu karena kecelakaan.


Menjadi putra tunggal keluarga Wijaya Putera membuat Reyhan tidak punya waktu untuk bersedih mengenang kepergian sang ayah. Ia harus segera bangkit dari kesedihannya dan mengambil kendali perusahaan yang mulai goyah dengan penghianatan dan perebutan jabatan.


Perjalanan Reyhan sebagai pewaris perusahaan tidaklah lancar dan mulus. Ia menghadapi berbagai masalah yang membuatnya harus terus waspada terhadap para penjil*t serta orang- orang yang berusaha menjatuhkannya.


Di usianya yang masih labil dan di penuhi dengan gairah anak muda, Reyhan harus mengubur mimpinya sebagai atlit renang untuk mengemban tugas baru sebagai presdir Putera Jaya grop. Tanpa pengetahun dan pengalaman apapun di bidang bisnis, Reyhan harus meneruskan kerajaan bisnis keluarganya.


Putera Jaya Grop merupakan kerajaan bisnis paling besar saat ini. Perusahaan itu bergerak hampir disetiap bidang, mulai properti, perhotelan, mall, barang jasa, medis hingga kuliner. Kerja sama yang terjalin tidak hanya didalam negeri tapi juga diluar negeri. Hal itu menjadikan keluarga Wijaya Putera sebagai salah satu keluarga terkaya dan terpopuler di negeri ini.


Berada dipuncak karir dengan posisi sebagai presdir membuat Reyhan di hormati dan dikangumi oleh siapapun.


Reyhan mengambil alih perusahaan di usia 27 tahun, dua tahun setelah kepergian sang ayahnya. Dua tahun yang paling berat dalam hidup Reyhan. Ia harus melepaskan kesempatan untuk mengikuti kejuaraan renang tingkat internasional yang menjadi impiannya selama ini.


Reyhan harus bertahan dan berusaha bangkit dari keterpurukan karena kehilangan sang ayah tercinta. Mengejar ketertinggalannya dalam memahami ilmu bisnis hingga ia layak dan cakap untuk meneruskan bisnis keluarganya tersebut.


Dan kini 7 tahun telah berlalu. Reyhan yang dulu ramah dan lembut kini telah berubah menjadi sosok pria yang dingin. Bukan tanpa asalan Reyhan mengubah image tentang dirinya tersebut. Ia tidak ingin di anggap mudah (dalam artian gampang untuk didekati) oleh para pesaingnya, hingga ia menyembunyikan semua ketakutan dan kelemahannya melalui sikap dan wajahnya yang angkuh.


Entah sampai kapan Reyhan bisa bertahan dalam dunia bisnis yang melelahkan itu. Ia butuh sandaran untuk membuatnya bertahan. Bertahan dari semua himpitan permasalahan yang di hadapinya.


~


Di ruang kerja, Reyhan terlihat sedang menatap layar komputernya dengan serius hingga suara ketukan pintu membuatnya berpaling.


Bram muncul dari balik pintu dan berjalan kearah Reyhan.


"Semua file- file telah saya bersihkan Tuan". Bram melaporkan kerjanya. " Saya pastikan tidak ada satupun artikel yang akan menulis tentang masalah ini".


Reyhan bangkit dan berjalan kearah jendela, membuang pandangannya keluar.


Berdesah panjang.


"Kenapa kamu sampai kecolongan" Ucap Reyhan. " Bukankah sudah kuperingatkan untuk lebih waspada".


"Maaf Tuan. Saya memang bersalah. Saya kurang waspada dan tidak menyadari hal itu". Bram mengaku salah.


Reyhan melirik layar komputernya yang masih menyala. Seorang gadis sedang meraih tangganya sambil tersenyum manja.


"Jangan biarkan dia mendekatiku lagi" Tegas Reyhan.


Wajah Reyhan terlihat merah padam menyembunyikan amarah.

__ADS_1


Bram melihat amarah di wajah Reyhan. Ia tidak pernah menyangka kalau akan kecolongan hingga Nindy bisa melakukan hal itu.


Kejadian semalam kembali muncul di ingatan Bram.


Reyhan keluar dari ruang VVIP sebuah restoran mewah yang di ikuti Bram. Bram melangkah cepat menyusul Reyhan sambil membisikkan sesuatu.


Reyhan menggangguk.


Bram berbalik melangkah kedalam ruang sebelumnya.


Reyhan terus melangkah dengan gagahnya hingga sebuah suara terdengar memanggil namanya.


" Rey,,,,,!"


Sebuah suara terdengar memanggilnya.


Reyhan terus melangkah, ia tidak memperdulikan suara yang memanggil namanya.


Reyhan memang tidak pernah memperdulikan siapapun yang memanggil namanya.


"Rey,,,,. Reyhan,,,!"


Suara itu masih terdengar dan semakin lama semakin dekat hingga akhirnya seseorang meraih tangannya.


Reyhan tersentak dan berpaling.


"Nindy,,,," gumam Reyhan.


"Hei Rey,,,!" Nindy tersenyum


"Aku pikir aku salah, tapi ternyata memang kamu ya Rey,,!" Ucap Nindy


Reyhan membuang wajahnya ke arah lain mencari Bram. ia tidak menjawab Nindy.


Melihat Bram yang tidak muncul, Reyhan berbalik dan mengabaikan Nindy.


Nindy menyadari itu. Ia kembali menyusul Reyhan hingga akhirnya berdiri tepat di depan Reyhan.


Reyhan tersentak. Ia merasa kesal dengan sikap Nindy.


"Kamu kok gitu sih Rey! Kamu nggak senang ketemu sama aku,,,? Nindy tersenyum


" Maaf, aku harus pergi"

__ADS_1


Reyhan kembali melangkah namun tiba- tiba Nindy meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya lembut sambil tersenyum manja.


Reyhan terkejut melihat tangannya yang digenggam Nindy. Amarah mulai terlihat dari wajahnya. Dihempaskannya tangan Nindy hingga genggaman itu terlepas.


Reyhan begitu marah. Ia paling tidak suka ada orang yang menyentuh tubuhnya, apalagi orang itu adalah Nindy.


Reyhan juga terkenal sebagai orang yang tidak suka bersalaman dengan orang lain.


"Beraninya kamu menyentuh tanganku" Reyhan geram menatap Nindy


Bram yang tiba- tiba muncul dengan tergesa- gesa mencoba menghalau pandangan Nindy kepada Reyhan. Ia kini berada di tengah- tengah antara Reyhan dan Nindy.


"Tenang Tuan" Bram berbalik menenangkan Reyhan yang mulai marah.


"Maaf Tuan, ayo kita pergi"


Bram menunjukkan jalan untuk di lewati Reyhan serta memberi aba- aba kepada pegawal untuk melindungi Reyhan.


Melihat Reyhan yang melangkah pergi membuat Nindy kesal dan meremas lengan Bram.


"Hei apa yang kamu lakukan,,,! Aku mau bicara sama Reyhan" Nindy terlihat kesal


"Cukup Nona. Jangan sampai saya berbuat kasar" Tegas Bram


Bram melangkah pergi meninggalkan Nindy. Nindy berdumam kesal.


" Sialan."


Disebuah sudut ruang seseorang sedang tersenyum sambil menggenggam kamera.


Bram membasuh wajahnya mengingat kejadian itu. Sungguh ia tidak menyangka kalau hal tersebut akan terjadi. Ia benar- benar kecolongan.


Bram menatap Reyhan yang masih berdiri di jendela.


Bersambung,,,,,


Hai,,,,!!!


Gimana,,,,


udah masuk belom kedalam karakter Reyhan


Emang masih jauh sih untuk memahaminya, tapi lama- lama kalian pasti akan bucin deh sama Reyhan

__ADS_1


dijamin,,,


😅


__ADS_2