
Entah apa yang merasuki Reyhan hingga membuatnya berteriak sekeras itu dihadapan Ghea, gadis yang kini begitu ia cintai.
"Apa maksud dari semua ini Ghe,,,! Jelaskan,,,! Jelaskan apa maksud dari semua ini" Reyhan kembali emosi.
Reyhan benar- benar kalut, banyak hal yang tidak bisa dipahami olehnya.
"Ghea tidak bisa tidur diatas ranjang,,,! Bukankah itu berarti sama saja dengan mengatakan kalau dia tidak bisa tidur denganku,,,? Ghea tidak bisa tidur bersamaku,,,! Ghea takut untuk tidur denganku karena dia memang tidak pernah mencintaiku,,,!".
Reyhan terus berpikir yang tidak- tidak tentang bagaimana perasaan Ghea yang sebenarnya kepadanya.
Ghea tidak tahu harus bagaimana cara menjelaskan lagi kepada Reyhan, karena apapun yang ia jelaskan pasti tidak akan pernah membuat Reyhan percaya.
Ghea berpikir kalau ia harus menghindari Reyhan untuk saat ini, Ghea takut Reyhan semakin sulit mengendalikan emosinya hingga melakukan hal- hal yang diluar kendalinya.
Reyhan memengang kepalanya karena ia begitu sulit mempercayai setiap ucapan Ghea. Ghea memanfaatkan kesempatan itu untuk menghindar dari Reyhan dan matanya tertuju ke pintu keluar apartemen.
"Aku harus bagaimana sekarang,,,? Aku harus menghindar, Reyhan benar- benar sangat emosi. Haruskah aku pergi,,,?".
Ghea menggerakkan badannya kesamping dengan perlahan- lahan, ia tidak bisa mundur karena meja dapur menghalangi tubuhnya dan Reyhan berada tepat dihadapannya. Ghea memanfaatkan kelengahan Reyhan dan dengan cepat berlari menuju pintu keluar.
Reyhan menyadari kalau Ghea telah menghilang dari hadapannya dan kini sedang berlari keluar. Dengan cepat Reyhan menyusul Ghea dan berhasil meraih tangan Ghea hingga membuat Ghea terkejut.
"Lepasin Rey,,,! Lepasin aku,,,! Biarkan aku pergi" Ghea memohon kepada Reyhan.
Wajah Reyhan memerah padam karena menahan emosi.
"Kamu mau pergi kemana,,,! Kamu mau kabur,,,! Kamu mau meninggalkan aku begitu,,,?".
"Bukan begitu Rey,,,! Aku tidak punya niat ingin meninggalkan kamu. Aku hanya ingin menghindarimu, kamu sedang emosi. Aku takut Rey,,,? Aku takut kamu khilaf,,,!" Ucap Ghea.
"Kamu tidak boleh pergi,,,! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi".
Reyhan menggenggam tangan Ghea dengan sangat erat dan menariknya kedalam kamar hingga Ghea berteriak kesakitan.
"Aww,,,! Sakit Rey,,,! Sakit,,,,! Lepasin aku,,,! Kamu menyakitiku,,,?" Ghea terus meronta kesakitan namun Reyhan tidak memperdulikannya.
Reyhan membuka pintu kamar dan menghempaskan tangan Ghea hingga tubuhnya terjatuh ke atas ranjang.
"Jadi kamu takut tidur diatas ranjang,,,? Kamu takut tidur bersamaku,,,?".
Reyhan membuka kancing piyamanya dan melepaskan baju kemudian melemparnya kelantai.
Ghea kaget melihat apa yang sedang dilakukan Reyhan.
"Reyhan,,,,! Apa yang kamu lakukan,,,! Kamu mau apa,,,?".
"Aku mau lihat seberapa takut kamu kepadaku".
Reyhan naik keatas ranjang sambil mendorong tubuh Ghea hingga terbaring diatas kasur dan tanpa basa- basi langsung mencium bibir Ghea dengan kasar. Ghea memberontak sambil mendorong tubuh Reyhan yang terus mendekat kepadanya.
"Cukup Rey,,,! Hentikan,,,!" Ghea mulai menangis.
Ghea terus memberontak ingin melepaskan diri dari Reyhan namun hal itu tidak membuat Reyhan berhenti justru Reyhan semakin menjadi hingga akhirnya karena perlawanan Ghea yang begitu kuat maka tanpa segaja bibir Ghea tergigit oleh Reyhan.
"Aww,,,!" Ghea berteriak.
Reyhan menghentikan aksinya kemudian perlahan mengangkat wajahnya menatap wajah Ghea yang sedang menangis dan betapa terkejutnya Reyhan ketika melihat noda merah dibibir Ghea. Reyhan langsung bangkit dan duduk dipinggir ranjang kemudian mengcengkram kepalanya dengan kedua tangan, ia merasa bersalah dan sangat menyesali apa yang telah ia lakukan kepada Ghea.
__ADS_1
"Gila,,,! Apa yang telah aku lakukan,,,! Apa yang sudah aku lakukan kepadanya,,,! Ghea,,,! Ghea ku menangis, ia menangis karena perbuatanku,,,!" Reyhan kembali menatap wajah Ghea yang sedang menangis.
"Maafkan aku Ghea,,,! Aku minta maaf. Aku sungguh menyesal,,,! Ghea,,,!".
Reyhan memukuli kepalanya
"Dasar bodoh,,,! Apa yang sudah aku lakukan,,,!"
Ghea menangis, ia terus menangis bukan karena luka dibibir yang ia rasakan namun hati yang telah sakit karena Reyhan tidak percaya padanya.
"Ghea,,,! Maafkan aku Ghe,,,! Aku tidak segaja Ghe,,,! Aku benar- benar tidak sengaja" Reyhan benar- benar menyesali kebodohan yang telah ia lakukan.
Reyhan mengulurkan tangan ingin menyentuh bibir Ghea yang terluka namun Ghea menepisnya.
"Sudah puas,,,! Apakah sekarang kamu sudah puas,,,! Sudah puaskah kamu menyakiti aku,,,!" Ghea masih terbaring diatas kasur dan air matanya terus mengalir.
"Ghea,,,!" Suara Reyhan terdengar lemah.
"Kenapa kamu tidak mau mendengarkan penjelasan dariku,,,? Kenapa kamu tidak membiarkan aku menjelaskan semuanya kepadamu,,,? Apakah kamu puas karena kemarahanmu telah terlampiaskan,,,?".
Ghea bangkit dan kini ia telah duduk dipinggir ranjang berhadapan dengan Reyhan.
"Ghea,,,!" Tangan Reyhan bergetar ingin membelai wajah Ghea.
"Apa yang kamu inginkan Rey,,,?".
"Ghea,,,! Aku minta maaf,,,! Aku benar- benar minta maaf. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku Ghe,,,! Aku begitu marah ketika kamu mengatakan kalau kamu tidak bisa tidur dengan aku. Aku hanya merasa sangat kecewa dan terluka dengan penolakanmu selama ini". Suara Reyhan bergetar, tanpa ia sadari air matanya telah menetes.
"Kamu salah paham Rey,,,! Bukan itu maksud aku,,,! Bagaimana mungkin aku kamu. Bagaimana mungkin aku tidak ingin tidur dengan suamiku sendiri. Bagaimana mungkin Rey,,,!".
Reyhan dan Ghea saling menatap satu sama lain dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
"Jadi maksud kamu apa Ghe,,,? Kenapa kamu tidak bisa tidur diranjang ini,,,? Apa yang sebenarnya terjadi,,,?".
"Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya Rey,,,! Itu trauma,,,! Itu karena trauma masa laluku. Aku tidak ingat sejak kapan itu terjadi, tapi yang pasti aku tidak pernah bisa tidur diatas ranjang lagi sejak saat itu" Ghea menjelaskannya dengan terbata- bata.
"Jadi kamu tidak bisa tidur disini bukan karena aku, tapi karena ranjang ini,,,?" Reyhan menepuk ranjangnya.
Ghea mengangguk.
"Itu sebabnya selama ini kamu selalu tidur disofa dan ketika aku mengajakmu tidur diranjang ini kamu menjadi gelisah dan tidak bisa tidur, jadi untuk itu kamu minum obat- obatan itu,,,!" Reyhan bertanya dengan hati- hati.
"Dan karena itu kamu tidak memiliki sebuah ranjang dikamarmu,,,?".
Ghea kembali menggangguk dan air matanya kembali mengalir.
"Iya,,,!".
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya hal itu padaku Ghe,,,! Kenapa kamu membiarkan kesalah pahaman ini terjadi,,,? Tidakkah kamu menyadari betapa menyesalnya aku atas semua yang telah aku lakukan padamu".
"Maaf Rey,,,! Maafkan aku,,,!".
Betapa hancurnya perasaan Reyhan ketika mengetahui beban yang selama ini dialami Ghea. Itu bukanlah sebuah beban biasa namun itu adalah trauma yang sangat mengerikan bagi penderitanya. Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan merupakan perasaan yang amat berat untuk tanggung oleh seseorang.
Reyhan meraih tubuh Ghea dan menariknya kedalam pelukannya, ia memeluk Ghea dengan kuat sangat kuat hingga tidak ingin Ghea terlepas.
"Maafkan aku Ghea,,,! Maafkan aku sayang,,,! Maaf aku belum bisa memahamimu seutuhnya. Aku telah gagal menjadi suami yang baik untukmu".
__ADS_1
Reyhan membelai rambut Ghea dengan lembut sambil mengecup kening Ghea dan ia makin mempererat pelukannya. Ghea membalas pelukan Reyhan serta menyandarkan kepalanya didada Reyhan, entah kenapa pelukan Reyhan saat ini membuat Ghea merasa sangat nyaman dan tenang.
Beberapa saat kemudian Reyhan dan Ghea keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Reyhan tahu Ghea pasti tidak akan bisa tidur didalam kamar sehingga ia membawa Ghea keluar dan membiarkan Ghea berbaring diatas sofa. Reyhan mengambil selimut dan menyelimuti seluruh tubuh Ghea setelah itu Reyhan duduk dibawah sofa, ia ingin menatap dan membelai wajah Ghea.
"Kamu istirahat ya,,,! Aku akan menemanimu disini,,,!" ucap Reyhan sambil membelai wajah Ghea.
Ghea memengang tangan Reyhan yang sedang menyentuh pipinya sambil tersenyum. Reyhan melihat ruam merah dipergelangan tangan Ghea dan itu membuatnya kaget, sekejam itukah ia saat itu.
"Ruam merah ini,,,! Seberapa kuat aku menggenggamnya sehingga bisa meninggalkan bekas merah seperti ini".
Reyhan meraih tangan Ghea dan mengelus pergelangan tangannya tersebut.
"Apakah sakit,,,?" Reyhan menatap Ghea.
"Tidak,,,! Aku tidak apa- apa" Ghea membalas dengan senyuman.
Reyhan masih mengelus tangan Ghea kemudian mengelus bibir Ghea yang juga terluka karena perbuatannya. Malam ini ia telah memberikan dua luka ditubuh Ghea dan itu membuat Reyhan merasa semakin menyesal.
"Maaf ya sayang,,,! Aku telah membuat kamu terluka".
"Aku juga minta maaf telah membuat kamu marah".
Reyhan dan Ghea saling tersenyum seakan bunga- bunga cinta sedang bersemi.
Sudah lebih dari satu jam berlalu namun Ghea masih belum bisa tidur sedangkan Reyhan sudah terlelap disamping sofa sambil menggenggam tangan Ghea.
Ghea membelai rambut Reyhan lembut sambil berbisik :
"Maafkan aku Rey,,,,! Aku telah banyak menyusahkanmu".
Reyhan merasakan tangan Ghea membelai rambutnya sehingga ia terbangun.
"Kamu belum tidur,,,?" Tanya Reyhan ketika melihat Ghea masih belum tidur.
"Kenapa,,,? Kamu tidak bisa tidur,,,?".
Ghea mengangguk.
"Ya Tuhan,,,! Separah inikah kondisi istriku,,,! Kenapa aku tidak menyadarinya selama ini,,,!".
"Kamu butuh obat itu,,,?" Tanya Reyhan.
"Tidak,,,! Tidak apa- apa Rey,,,! Aku cuma butuh kamu" Ghea akhirnya menyadari betapa ia membutuhkan Reyhan.
"Ya sudah aku temani ya,,,!".
Reyhan mengecup kening Ghea sambil membelai rambutnya. Ghea memenjamkan matanya berusaha untuk tidur. Butuh waktu lama hingga akhirnya Ghea benar- benar tertidur.
"Sesulit inikah untuk membuat kamu tertidur,,,!" Reyhan masih membelai rambut Ghea. "
Kamu tidak perlu khawatir Ghe,, aku akan mencari jalan keluar untuk membantumu".
Reyhan melepaskan tangannya dari tangan Ghea kemudian meraih ponsel dan langsung berdiri. Reyhan ingin menghubungi seseorang.
"Hallo Bram,,,! Aku punya pekerjaan penting untuk kamu,,,!".
Bersambung,,,!!!
__ADS_1