
Reyhan terus senyam- senyum sendiri di sepanjang meeting, semenjak meeting dimulai hingga meeting berakhir. Reyhan sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya saat ini. Wajah Ghea terus terbayang- bayang dipelupuk matanya dan kejadian tadi pagi terus mengusik pikirannya. Reyhan benar- benar tidak berdaya menghadapi gejolak asmara yang sedang ia rasakan kepada istrinya tersebut.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya meeting tersebut berakhir juga, semua orang keluar dari ruang meeting meninggalkan Reyhan seorang diri. Reyhan bangun dari kursinya kemudian melangkah keluar sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ghea. Reyhan menghubungi Ghea hingga beberapa kali namun tidak ada jawaban dari sana.
"Kamu lagi ngapain sih,,,? Kenapa tidak diangkat,,,?".
Reyhan terus mencoba untuk menghubungi Ghea mulai dari ruang meeting hingga sampai didalam ruangannya namun tetap tidak ada jawaban. Reyhan mulai kesal dan terlihat uring- uringan karena merasa Ghea telah mengabaikan panggilan darinya.
"Angkat dong Ghe,,,! Kamu sebenarnya lagi ngapain sih,,,?".
Bram yang baru masuk kedalam ruangan Reyhan terkejut melihat raut wajah Tuan Mudanya yang terlihat sedikit kacau. Dengan ragu- ragu Bram melangkah mendekati Reyhan.
"Maaf Tuan Muda,,,! Ada masalah apa,,,?" Tanya Bram pelan.
Reyhan yang baru menyadari kedatangan Bram langsung terkejut seperti orang yang baru saja dikejutkan padahal Bram tidak mengejutkannya sama sekali.
Reyhan mengelus dadanya sambil berteriak kencang :
"Kamu bisa mengetuk pintu terlebih dahulu tidak sebelum masuk kedalam ruanganku,,,!".
"Maaf,,,! Maaf Tuan Muda,,,! Saya minta maaf atas kesalahan saya" Bram menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Saya sudah mengetuk pintu berkali- kali Tuan Muda, tapi Tuan Muda tidak menjawab apa- apa,,,! Gumam batin Bram.
"Beginilah nasib bawahan, selalu salah dihadapan atasan.
"Ada apa,,,?" Tanya Reyhan dengan nada kesal.
"Sekretaris Mr Mike bertanya apakah Tuan Muda ada waktu siang ini. Mr Mike ingin bertemu dengan Tuan Muda sebelum kembali ke Jerman" Bram berkata dengan hati- hati.
"Tidak,,,! Aku tidak punya waktu hari ini" Jawab Reyhan sambil memainkan ponselnya.
"Tapi kenapa Tuan Muda,,,? Bukankah kemarin Tuan Muda sendiri yang ingin bertemu dengan Mr Mike,,,!" Bram terlihat bingung.
"Aku bilang nggak ada waktu ya nggak ada waktu,,,! Kamu sudah mulai berani membantah semua ucapan aku ya,,,!" Reyhan mulai meluapkan kekesalannya kepada Bram.
"Hari ini aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Batalkan semua jadwalku".
"Tapi Tuan Muda punya beberapa janji dengan klien hari ini. Apa harus saya batalkan semuanya,,,?" Tanya Bram.
"Kamu tidak dengar perkataanku tadi,,,! Aku bilang batalkan semuanya,,,! Batalkan. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini,,,!" Reyhan kembali menatap ponselnya.
Di kedai Ghea
"Mbak,,,! Mbak Ghea,,,!" Andis memanggil Ghea berulang kali.
Ghea muncul dari depan ketika nama dipanggil dengan keras oleh Andis.
"Ada apa Dis,,,? Kenapa berteriak sekencang itu,,,? Ada masalah apa,,,?".
"Itu mbak,,,! Handphone mbak Ghea bunyi terus" Ucap Andis.
"Handphone,,,! Handphone aku,,,?" Tanya Ghea sambil memeriksa tasnya.
"Iya mbak, dari tadi bunyi terus".
Ghea mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari Reyhan.
__ADS_1
"Reyhan,,,! Dua puluh tujuh kali,,,!" Ghea terkejut melihat jumlah panggilan yang begitu banyak dari Reyhan.
"Ada apa,,,?".
Ghea memanggil Reyhan kembali.
Di Ruang Kerja Reyhan
"Yakin Tuan Muda mau membatalkan semua janji tersebut,,,?" Tanya Bram lagi untuk memastikan.
Reyhan melemparkan Bram dengan pulpen.
"Masih mau bertanya lagi,,,! Apa kamu mau papan nama ini melayang diwajahmu,,,?".
"Tidak Tuan Muda, maaf,,,! Maafkan saya,,,,!" Bram tidak berani bertanya lagi, ia tidak ingin wajah yang begitu ia lindungi menjadi hancur ditangan Tuan Muda Reyhan.
"Baiklah Tuan Muda, saya akan membatalkan semua janji tersebut. Tapi Tuan Mu,,,!"
Ucapan Bram terhenti ketika tangan Reyhan memberi isyarat untuk diam, ternyata ponsel Tuan Muda Reyhan berbunyi. Wajah Reyhan yang sebelumnya kesal berubah menjadi cerah merona kembali. Reyhan mengatur nafasnya kemudian menjawab panggilan yang ternyata dari Ghea, istrinya.
"Hallo sayang,,,!" Sapa Reyhan dengan mesra.
"Ooo,,,,! Telpon dari Nona Muda Ghea,,,! Uhm,,,!" Batin Bram.
"Hallo Rey,,,! Ada apa Rey,,,,? Kenapa kamu memanggil aku dengan panggilan sebanyak itu,,,?" Tanya Ghea.
"Kamu dari mana saja kenapa tidak menjawab panggilan dariku,,,,?".
"Aku lagi bicara dengan pelanggan didepan. Memangnya ada apa,,,? Kamu tidak apa- apakan,,,?.
"Lagi bicara apa sih,,,?" Bram mulai kepo.
Bram mendekatkan telinganya kearah Reyhan.
"Jadi kenapa kamu nelpon aku,,,?".
"Tidak ada apa- apa,,,! Hanya ingin mendengar suara kamu saja,,,!".
"Kamu aneh banget sih,,,! Kamu nggak ada kerjaan ya,,,?" Tanya Ghea.
"Memangnya tidak boleh kalau aku nelpon kamu,,,?" Reyhan kembali kesal.
"Ya bukannya tidak boleh, tapikan waktunya tidak tepat Rey,,,! Aku lagi sibuk,,,!".
"Ya,,,! Jadi begitu ya,,,! Kamu memang lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku".
"Bukan begitu Rey,,,!"
"Memang benarkan,,,! Aku memang selalu menjadi yang kedua bagi kamu,,,! Kamu lebih mengutamakan pekerjaan kamu dibandingkan dengan aku,,,!" Entah kenapa Reyhan kesal mendengar ucapan Ghea.
"Rey,,,! Bukan begitu,,,! Kamu salah paham,,,?".
Ghea terdiam bingung harus berkata apa. Karena kalau ia salah bicara lagi, Reyhan pasti akan mengamuk dikantornya. Susah untuk menjelaskan kesalahan pahaman itu kepada Reyhan.
"Rey,,,!" Panggil Ghea
Reyhan tetap tetap terdiam kesal.
__ADS_1
"Sayang,,,!" Akhirnya panggilan itu keluar juga dari bibir Ghea.
Ghea berharap dengan panggilan itu membuat Reyhan menjadi lebih tenang.
Reyhan tertawa pelan mendengar panggilan sayang yang baru pertama kali ia dengar dari bibir Ghea. Reyhan menutup mulutnya agar Ghea tidak mendengar suara tawanya, namun ia lupa kalau Bram sedang menyaksikan semua kelakuannya itu.
"Wah,,,! Gawat nih,,,! Tuan Muda sepertinya sedang kasmaran,,,!" Batin Bram.
"Reyhan sayang,,,! Ada apa sayang,,,?".
Ghea bertanya dengan penuh kelembutan hingga membuat jantung Reyhan berdebar.
"Tidak ada apa- apa sayang,,,! Aku hanya sedang merindukan kamu,,,!" Jawab Reyhan sambil mengelus dadanya yang berdebar.
Ghea tersipu malu mendengar jawaban dari Reyhan. Debaran jantungnya masih terasa karena kejadian tadi pagi, kini jantungnya kembali berdebar mendengar kata- kata Reyhan.
"Aku juga,,,!"
"Serius,,,! Kamu juga merindukan aku,,,?".
"Iya, aku serius,,,! Aku juga sedang merindukan kamu. Aku sangat merindukan suamiku,,,!".
Reyhan berdiri sambil kegirangan seakan telah memenangkan sebuah permainan.
"Emm,,,! Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi. Nanti aku jemput ya,,,!".
"Iya,,,! Aku tunggu,,,! Bey,,,!".
"Bey,,,!".
Reyhan merasa begitu bahagia setelah mendengar suara lembut istrinya itu, hanya dengan suara mendengar suara Ghea saja membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Reyhan masih terlena dengan angan- angannya hingga tidak menghiraukan Bram yang memperhatikannya sejak tadi sambil terbengong.
"Aku harus pergi sekarang,,,! Hari ini kondisi Tuan Muda tidak bisa diprediksi. Suasana hatinya sedang berubah- ubah, sulit untuk ditebak".
Bram berbalik dengan langkah pelan ingin keluar dari ruangan Reyhan, namun Reyhan menghentikan langkahnya.
"Bram,,,!" Panggil Reyhan.
Bram berhenti dan kembali berbalik.
"Ada apa lagi,,,! Sekarang kenapa lagi Tuan Muda,,,?".
"Iya Tuan Muda,,,!".
"Jam berapa Mr Mike berangkat ke Jerman,,,?" Tanya Reyhan.
"Jam dua siang Tuang Muda" Jawab Bram.
Reyhan melirik jam tanggannya.
"Kita masih punya banyak waktu. Ayo kita ucapkan salam perpisahan untuk Mr Mike" Reyhan meraih jasnya dan melangkah keluar.
"Ayo,,,! Ucap Reyhan.
"Iya,,,! Ayo Tuan Muda. Kita temui Mr Mike untuk terakhir kalinya" Bram mengikuti langkah kaki Reyhan dari belakang. Bram sungguh bingung melihat kelakuan Reyhan hari ini, ia bingung memikirkan suasana hati Reyhan yang terus berubah- ubah sejak tadi pagi.
Bersambung,,,,!
__ADS_1