Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Mengalah


__ADS_3

"Maafkan, Mbak Faris. Mbak,bukan bermaksud apa-apa". Indah, sudah tertangkap basah karena ingin memfitnah istrinya.


"Pergilah, Mbak. Dari kediaman kami,tak sudi rasanya menampung Mbak di sini. Niatnya saja, sudah buruk kepada Yasmin". Bentak Faris,tak memperdulikan tatapan kakaknya.


Sial, jika aku diusir dari sini. Mau tinggal dimana? Di tempat ibu,gak mungkin. Selalu saja,ibu memarahiku. Batin indah, langsung bersimpuh di kaki adiknya. "Mbak mohon, Faris. Berikanlah, kesempatan untuk Mbak. Semua ini,ide ibu untuk memfitnah Yasmin. Mbak, tidak berniat seperti itu. Yasmin, Mbak mohon kepadamu. Biarkanlah,aku tinggal di sini. Cuman kalian,yang Mbak punya".


"Mas,aku tidak mau mbak tinggal di sini. Takutnya, kenapa-kenapa nanti". Kata Yasmin,dia muak melihat akting kakak iparnya.


"Tidak,aku mohon Faris. Berikan, Mbak kesempatan lagi". Pinta indah, matanya sudah berkaca-kaca.


Faris, menghela nafas beratnya.


"Baiklah,aku mengijinkan Mbak Indah tinggal di sini". Jawab Faris, merasa iba kepada kakaknya. Apa lagi, kehilangan buah hati.


Yasmin, memutarkan bola matanya. "Mas,kamu apa-apaan sih? Aku,gak mau. Tau sendirikan, Mbak indah gimana". Sungut Yasmin, membuat Indah geram kepada adik iparnya.


"Dek, kasian Mbak indah. Dia, sudah kehilangan buah hatinya. Ingat Mbak,hanya sekali kesempatan saja. Jangan ngelunjak,jika tinggal di sini. Kerjakan rumah ini,jika perlu cari kerjaan Mbak. Awas,jangan macam-macam dengan Yasmin. Jika itu terjadi,tak segan-segan aku mengusir Mbak". Ancamnya Faris.


Indah, tersenyum smrik. Akhirnya Faris,luluh dengan ucapannya. "Iya, Faris. Mbak akan, berubah dan jadi lebih baik lagi. Makasih banyak,dek ipar".


"Dek, Abang mau bicara denganmu. Ayo,kita ke kamar". Faris,membawa istrinya masuk ke dalam kamar.


Tentunya Indah, menempelkan daun telinga dan samar-samar mendengar pembicaraan mereka.


"Mas, kenapa kamu mengijinkan Mbak Indah tinggal di sini. Katanya, tidak mau perduli dengan mereka". Kesal Yasmin, menepis tangan suaminya.


"Dek, Mbak indah sudah janji akan berubah. Jika dia, ngelunjak seperti dulu. Terserah,kamu usir dia dan seret keluar. Mas, tidak akan melarang mu lagi. Berikanlah, mbak indah kesempatan sayang. Apa lagi, keadaan kamu seperti ini. Mas, khawatir nantinya. Pastilah,mas sibuk kerja". Faris, berusaha membujuk istrinya.


Dengan berat hati, Yasmin mengangguk dan sabar.


Dering ponsel Faris, melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Dari siapa, mas? Coba pakai, pengeras suara". Pinta Yasmin,saat mengetahui siapa yang menelpon suaminya.


"Halo, Diana! Ada apa,?". Tanya Faris, melalui telponnya


(Waduh,maar Faris. Aku, mengganggu ketenangan mu. Apa lagi dengan istrimu,aku jadi tidak enak).


"Katakanlah,ada apa? Jangan membuat penasaran ". Kekehnya Faris, merangkul pinggang istrinya.


(Bisa tidak,sore nanti kamu mulai bekerja. Aku,mau keluar kota Faris. Tapi, tidak ada sopir. Beliau,pulang kampung karena istrinya melahirkan. Aku mohon,mau yah. Plisss...Doble gajih,mau gak).


"Eeee...Oke,aku mau". Jawab Faris, membuat Yasmin terkejut mendengarnya.


(Baiklah,aku jemput sore nanti jam 4. Ijin dulu, sama istrimu). Diana, langsung mematikan telponnya.


"Mas, kenapa tidak mendengar persetujuan ku dulu. Mas, tiba-tiba memilih sendiri". Tanya Yasmin, tidak suka dengan sikap suaminya.


"Kamu, dengarkan dek. Gajihku bakalan doble,dibayar Diana. 10 juta dek, lumayan besar dan bisa membayar hutangku Kepadanya. Plisss.... Jangan marah dek,ini semua demi kebaikan kita". Faris, menggenggam jemari tangan istrinya.


"Dek, tolong pahami keadaan kita. Mau maju,tidak? Mas, bekerja demi dirimu dek. Mas, tidak macam-macam. Apa lagi,mas dan Diana beda kasta. Jujur dek,mas minder kerja sama Diana. Malu,malu dek. Tapi,demi dirimu apapun mas akan lakukan. Selagi mas jauh,kamu baik-baik di sini. Jangan macam-macam,ada mbak indah juga. Jika dia, berani ngelunjak seperti dulu. Lapor kepada mas, untuk menyeret paksa keluar dari rumah ini". Faris, mencubit pipi istrinya.


Yasmin, terpaksa mengangguk dan memahami segalanya. Walaupun, hatinya sangat berantakan dan pikirannya tertuju kemana-mana. Satu yang dia pinta, berharap sang suami setia.


Yasmin, memasukkan beberapa lembar pakaian suaminya untuk di bawa. Dadanya terasa sesak, sungguh tak rela di tinggalkan suami.


"Aku,kerja mbak. Menemani bosku,keluar kotak. Masih ingatkan Diana? Nah, dia memberikan aku kerjaan. Walaupun,gak seberapa gajihnya". Kata Faris, tersenyum.


"Baguslah, kerjaannya santai-santai saja. Sukses yan, sekarang Diana. Gak papa, Yasmin sama Mbak. Mbak,akan menjaga istrimu ini". Kata indah,namun hatinya bersorak-sorai gembira.


"Ingat Mbak,jangan macam-macam. Apa lagi, Yasmin terjadi sesuatu. Mbak, harus bertanggung jawab". Tegas Faris, menatap tajam ke arah kakaknya.


"Iya, Mbak paham Faris. Aku, tidak akan pernah melakukan apapun terhadap Yasmin. Percayalah,". Kata Indah, sebenarnya muak terus mengalah dan mengikuti perkataan mereka.

__ADS_1


Faris, menemui istrinya di dalam kamar. Dia, tersenyum sumringah dan memeluk erat tubuh Yasmin.


"Dek,mas sudah menasehati Mbak dan mengancam juga. Agar dia, tidak berbuat macam-macam terhadap mu". Faris, mengecup kening istrinya.


"Iya,mas. Kamu hati-hati,jaga dirimu. Ingatlah,kamu punyaku". Yasmin, memeluk suaminya dan menangis kesegukan.


"Astaga,aku berangkat kerja dek. Bukan kemana-mana,kamu juga yah. Adek,cuman milik mas. Jujur,mas khawatir dengan mu". Kata Faris, menghapus air mata istrinya."Hemm...mas, sering-sering menghubungi mu.Dek,mas pengen. Masih ada waktu, untuk kita bersama". Bisik Faris,yang langsung di angguki oleh istrinya.


Mereka berciuman mesra dan saling menghangatkan. Sebelum pergi, Faris meminta jatah dulu. Entah berapa hari,dia berada di luar kota.


**********


Sore harinya Yasmin, melepas kepergian sang suami. Memang benar, suaminya akan jadi sopir Diana.


Hatinya merasa lega, karena Diana duduk di kursi belakang. Tetap saja,dia tak menyukai pakaian bos sang suami. Memperlihatkan lekukan tubuh dan pangkal paha mulus.


Yasmin, melambaikan tangannya. Saat sang suami,mulai menjauh dari pandangan.


"Cantik juga istri mu, Faris. Rupanya, kamu bisa memilih istri". Kekehnya Diana,di belakang.


"Hehehehe....Bisa aja,bos". Kata Faris, tersenyum.


"Jangan panggil aku,bos. Panggil nama aja,kaya aku bos besar aja". Kata Diana, tersenyum. Dia,juga me mengubah posisi duduknya ke depan.


Sontak membuat Faris, tercengang. "Eee... Diana,kenapa pindah? Gak enak,aku seorang sopir loh".


"Alahhh....Kita teman, Faris. Malah,aku gak nyaman seperti tadi. Sama saja,aku merendahkan dirimu". Bantah Diana, tersenyum sumringah. Terlihat jelas, pakaian kurang bahan.


Dada Diana, sangat menonjol. Faris, semakin menegang di buatnya. "Maaf, sikap istriku sedikit cuek tadi. Kemungkinan,dia masih pusing habis kecelakaan Kemarin. istriku, sangat berterimakasih kepada mu. Sudah meminjamkan uang dan memberikan pekerjaan kepadaku". Alasan Faris,agar Diana senang.


"Oh, benarkah! Sampaikan, kepada istrimu. Jika aku, merasa senang". Ucap Diana,dia merapikan rambutnya ke belakang. Terlihat jelas,putih mulus lehernya.

__ADS_1


__ADS_2