Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Surat Cerai


__ADS_3

"Tanda tangan, mas". Yasmin, mengulurkan surat perceraian dan pulpen. Sungguh menguras tenaga, meminta mantan suaminya mendatangani nya. Kasian sekali kamu,mas. Tidak seperti dulu, penampilan kamu.Miris sekali,tapi aku merasa senang.


"Tidak, aku tidak mau Yasmin". Tolak Faris, beberapa kali. "Berikan mas, kesempatan lagi. Untuk memperbaiki rumah tangga kita,aku mohon". Faris, ingin menyentuh tangan Yasmin. Sial, kenapa aku langsung talak Yasmin waktu itu. Aaarghhh.... Rupanya, Yasmin lebih cerdik dariku.


Tetapi, Yasmin langsung menghindarinya. "Jangan sentuh aku,mas. Kita,bukan muhrim lagi. Apa kamu lupa, sudah menalak ku? Ingat itu,mas. Tanda tangan surat perceraian itu,akan aku cabut tuntutan ku. Mas Faris,akan bebas dan memulai kehidupan baru lagi". Kata Yasmin, dengan santainya. Yasmin,kamu sabar jangan sampai terbawa emosi.


"Yasmin, apa kamu tidak kasian kepada ku. Lihatlah, bagaimana kondisi ku? Aku, tidak memiliki apapun. Apa lagi, keluarga ku seperti itu". Kata Faris, dengan iba. Bagaimana ini? Mana mungkin,aku berlama-lama mendekam di penjara. Apakah,aku terima saja dengan tawaran Yasmin? Kesepakatan nanti,aku pikirkan lagi. Setidaknya,aku bebas dulu dari sini.


"Aku, tidak perduli mas". Bantah Yasmin, langsung. "Itu, sudah resiko hidupmu. Cukup sudah,aku bersabar dan memberikan kamu kesempatan lagi. Sakit mas,hatiku sakit". Yasmin, menunjukkan jarinya ke arah dada.


"Aku,....".


"Cukup, tandatangani ini sekarang juga. Setelahnya,kamu bebas". Yasmin, memotong pembicaraan Faris. Sekuat mungkin menahan air matanya,agar tidak menetes. Yasmin, tidak mau di pandang lemah oleh mantan suaminya itu.


Faris,menghela nafas panjang dan mendatangani surat cerai dari Yasmin. "Aku janji Yasmin, suatu hari nanti. Aku,akan kembali lagi. Setelah,aku benar-benar sukses".


"Baguslah,mas. Berubah menjadi lebih baik lagi". Kata Yasmin, langsung tersenyum. Dia, beranjak berdiri dan berjalan ke luar.


Faris, kembali ke jeruji besi lagi. Namun tatapannya kosong, menyesali apa yang terjadi.


Indah, menatap heran kepada Faris. "Faris, kenapa Yasmin datang? Sudah 4 bulan,baru nongol". Gerutu Indah, mencibik bibirnya.


Lagi-lagi tidak ada jawaban dari, Faris. Membuat Indah,kesal di buatnya.


************


"Alhamdulillah,nduk. Kamu, pulang". Bu Aminah, menyambut kedatangan anaknya.


"Iya,bu". Kata Yasmin, berusaha tersenyum. Dia,duduk di sofa ruang tamu. " Bu,kenapa rumah lama kita di robohkan". Tanya Yasmin, begitu banyak kenangan rumah lamanya.

__ADS_1


"Eee... Malam tadi,hujan deras dan angin kencang. Atap rumahnya,roboh nak. Bagaimana,masalah mu? Apa sudah beres, Faris mau mendatangani surat cerainya". Tanya bu Aminah, penasaran.


"Alhamdulillah,bu. Tapi,mas Faris bebas. Hanya itu jalan satu-satunya,cara mendapatkan tandatangani dia". Jawab Yasmin, dengan berat hati.


"Tidak apalah, Setidaknya dia merasakan bagaimana rasanya di penjara. Semoga saja, kedepannya dia tidak menganggu mu lagi. Berharap, jangan bertemu lagi". Kekehnya bu Amina.


"Iya, Yasmin tidak mau bertemu dengan mereka lagi. Cukup sudah, Yasmin merasakan sakit hati". Kata Yasmin, tertunduk sedih.


4 bulan lamanya,dia meratapi nasibnya. Rumah pemberian orangtuanya, Yasmin sewakan. Daripada, kosong melompong dan pendapatan uang tambahan.


4 bulan lamanya, Yasmin menunggu surat perceraian. Tidak sabar,dia benar-benar lepas dari mantan suaminya itu. Hatinya, benar-benar tertutup dan tidak ada niat untuk kembali lagi.


Dengan lapang dada, Yasmin menyandang status janda. Dia,masih enggan bekerja. Belum lagi cibiran dari orang-orang sekitar,yang selalu kepo dengan kehidupan Yasmin.


"Yasmin,kamu sudah pulang nak. Apakah, lancar urusan kamu". Pak Jamal, baru datang.


"Tidak apa, Yasmin. Yang penting,kamu bebas. Masa Iddah mu juga selesai, bagaimana jika kamu menikah dengan nak Hanafi". Kata pak Jamal,tanpa ba-bi-bu lagi.


Deggg....


Yasmin, mengerutkan keningnya. Apakah secepat itu,dia menikah lagi. Sedangkan dia, masih trauma menjalin hubungan rumah tangga.


"Pak,apa tidak kecepatan. Sedangkan Yasmin, baru mengurus surat perceraian. Mengertilah, perasaan anak kita". Bu Aminah, langsung menenangkan pikiran suaminya.


"Pak, Yasmin minta waktu. Untuk saat ini, Yasmin tidak sanggup menjalani rumah tangga lagi. Pahami keinginan, Yasmin". Pinta Yasmin,air matanya menetes.


"Yasmin, turuti perkataan bapak. Coba saja,kamu menuruti perkataan bapak dan tidak menikah dengan Yasmin. Pastilah,kamu bahagia bersama Hanafi. Mumpung Hanafi, masih mau menikah dengan mu. Walaupun,kamu berstatus janda. Sekarang Hanafi,jadi mandor di kebun sawit. Kehidupan mu,terjamin Yasmin. Bapak dan ibu,jadi lega". Pak Jamal, berbicara panjang lebar.


"Tapi,pak...".

__ADS_1


"Tidak ada, tapi-tapian Yasmin. Turuti perkataan bapak, sudah cukup selama ini membantah perkataanku. Sekarang apa,ha? kamu, sudah mencoreng wajah bapak dan ibu. Apa lagi, kelakuan mantan suamimu itu. Jangan selalu membantah Yasmin, sekarang giliran kamu menuruti perkataan bapak. Dulu,bapak turuti keinginan kamu tanpa membantah sedikit pun". Tegas pak Jamal, membuat Yasmin langsung bungkam.


"Maaf kan,ibu. Apa yang di katakan bapakmu, memang benar. Ibu, mau menyiapkan makan siang bapak". Bu Aminah,menyusul suaminya ke dapur.


Yasmin,menghela nafas beratnya dan menatap langit-langit rumah. Dia, kebingungan harus berbuat apa. "Yah,aku harus menemui mas Hanafi. Kenapa,dia mau menikah dengan ku yang berstatus janda ini? Apa segitunya,dia mencintai ku". Gumam Yasmin,masih ingat kejadian 2 tahun silam.


Dimana Hanafi, seorang diri dan datang kerumah orangtuanya. Niat untuk melamar Yasmin,katanya dia menyukai Yasmin sejak lama. Pak Jamal, menyambut dengan hangat dan merestui Hanafi. Tetapi, Yasmin menolaknya langsung.


"Bapak,aku tidak mau menerima lamaran mas Hanafi. Karena Yasmin, punya kekasih di kota. Kami, sebentar lagi akan menikah". Tolak Yasmin, membuat Hanafi tertunduk lesu.


Pak Jamal, terlihat tidak nyaman dengan Hanafi. Karena anaknya, tidak mau menerima pinangan darinya.


****************


Faris dan Indah,bebas dari penjara. Sesuai janji Yasmin,dia tidak mau berbohong kepada mantan suaminya itu.


"Baguslah,kita tidak lama-lama di penjara. Kurang ajar sekali, Yasmin". Gerutu indah, dengan kesal."Ayo,kita pulang dan temu ibu. Pastilah,ibu senang. Kamu,ada uang kan. Tuh,ada dompet dan ponsel. Lumayanlah, untuk makan kita dan ongkos ke sana".


Faris, lagi-lagi diam dan tidak menjawab perkataan kakaknya.


"Faris,mau kemana kamu ha? Jangan ngelunjak,". Cegah indah,saat Faris naik bus kota.


"Lepaskan,mbak. Aku, ingin menyusul Yasmin. Aku, tidak mau kehilangan dia lagi". Bentak Faris, tujuannya adalah untuk kembali kepada Yasmin.


"Jangan gila kamu, Faris. Apa kamu lupa, bahwa dia memasukkan kita ke jeruji besi ha". Bentak indah, tidak mengerti mengapa Faris masih berharap dengan Yasmin. Astaga,apa dia gila? Masih saja berharap, dengan wanita licik itu.


"Terserah,apa kata Mbak. Aku, tidak perduli". Bantah Faris, langsung. Yasmin, tunggu mas datang. Maa,akan menemui dirimu.


Indah, mengepalkan kedua tangannya. Dia, benar-benar geram dengan adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2