
Yasmin, beranjak dari ranjang. Saat bel rumah berbunyi,dia tengah kebingungan. "Siapa yang datang? Sedangkan Aina, tidak ngasih kabar mau ke sini". Gumamnya.
Bergegas menuju pintu rumah,membuka handle. Senyuman memudar,ketika melihat siapa yang datang.
Yasmin,menghela nafas dan membuang muka ke arah lain.
"Yasmin....!". Lirih Hanafi, ingin sekali memeluk tubuh istrinya yang di rindukannya.
"Pulanglah mas,aku tidak ingin bertemu dengan mu". Ingin sekali Yasmin,berkata seperti itu. Akan tetapi, dia tidak tega dengan suaminya. Yang datang jauh-jauh,malah di usir. "Masuk mas, tidak enak di lihat orang lain".
Hanafi,menghela nafas lega karena Yasmin tidak mengusirnya. Tak lupa bingkisan buah dan makanan di tangannya.
"Iya". Jawab Hanafi,masuk kedalam rumah Yasmin. Ini adalah pertama kalinya,masuk ke rumah sang istri di kota.
Setelahnya Yasmin, menutup pintu rumahnya. Orang-orang sekitar tercengang,ada seorang pria masuk kedalam rumah. Orang-orang sekitar, mengetahui jika Yasmin hanya tinggal sendiri. Sudah Pastilah, mereka berpikir yang bukan-bukan.
Apa lagi Yasmin, menutup pintunya. Satu persatu mereka berbisik,bisa jadi mereka akan menggerebek rumah Yasmin.
Hanafi, meletakkan bingkisan di meja. "Aku membelikan makanan dan buah-buahan untukmu,".
"Makasih mas,". Jawab Yasmin, suasana semakin tegang. Sesekali melirik ke arah suaminya, begitu juga Hanafi.
"Maaf aku ke sini dan mengganggu mu. Bukan maksudku untuk...". Hanafi, menghentikan perkataannya. "Jujur mas sangat merindukan mu dan begitu mengkhawatirkan mu di sini. Apa lagi kamu,cuman tinggal sendirian".
Hanafi,berusaha menyentuh jemari tangan istrinya. Kamu kurusan Yasmin, segitunya kah kamu memikirkan masalah ini? Maafkan aku, sebagai suami yang tidak becus. Batinnya Hanafi, menggeser posisi duduknya.
Yasmin,masih dalam keadaan diam dan mematung. Sejujurnya dia juga, sangat merindukan sesosok sang Suaminya. Memerlukan tempat curahan isi hatinya, mengeluarkan beban yang di pikirkan selama ini.
Hanafi, berlahan-lahan membawa istrinya ke dalam pelukannya. Tangisan Yasmin, langsung pecah begitu saja.
__ADS_1
"Maafkan mas, Yasmin. Sebagai suami,gagal menjaga istri dan anaknya. Aku terlambat menolong mu, sehingga kehilangan buah hati kita. Aku sangat bersalah Yasmin, maafkan suamimu ini". Hanafi, semakin erat memeluk tubuh istrinya. Membiarkan Yasmin, menumpahkan air matanya.
Mas Hanafi, menangis? Ya Allah, maafkan hamba sudah meninggal suami sendiri. Batin Yasmin, terdengar suara isak tangisnya Hanafi.
"Hssssttttt.... Anak kita sudah bahagia di surga,apa lagi melihat orangtuanya bersama-sama lagi. Yasmin,maukah kamu membuka lembaran baru bersama ku. Walaupun,aku tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan lagi. Apa lagi, aku seringkali menyakiti mu". Hanafi, langsung berlutut di hadapan Yasmin. Menatap lekat manik-manik mata istrinya itu, berharap mendapatkan kesempatan lagi.
"Iya mas,aku mau. Maafkan aku,selama ini seringkali mengerjai mu. Seperti aku menaruh udang serbuk di makanan mas,lalu alergi kambuh lagi". Kata Yasmin, tertunduk dan mengulum senyumnya.
"Eee.... Terimakasih, sudah memberikan kesempatan untukku. Mas janji akan berubah menjadi lebih baik lagi,". Hanafi, mencium punggung tangan istrinya. Mendapatkan kesempatan lagi, sangat bersyukur bagi Hanafi.
Mereka berdua saling berpelukan, menumpahkan rasa rindu dan menyadari kesalahan masing-masing.
Yasmin, membutuhkan sandaran hati dari suaminya. Kini pikiran dan hatinya,mulai plong kembali. Tidak seperti dulu,terasa berat dan ingin menyerah.
Ting... Nong.... Ting... Nong....
Suara bel rumah berbunyi,entah siapa bertamu. Hanafi, melerai pelukannya dan menatap ke arah istrinya.
"Biar aku saja,yang membukakan pintunya". Hanafi, beranjak berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tak lupa menghapus air matanya. Yasmin, mengikuti dari belakang. Karena dia sangat penasaran,siapa bertamu.
Ceklekk....
Hanafi langsung terkejut, melihat orang-orang datang lumayan banyak. Dia cuman cengengesan dan tersenyum ramah.
"Pak RT,ada apa yah? Apa lagi ada para tetangga,". Tanya Yasmin, tersenyum sumringah. Ada apa,ini? emangnya ada yang salah kah,tapi apa?.
"Maaf bu, Yasmin. Saya mendapatkan informasi dari ibu-ibu, tentang bu Yasmin membawa seorang pria masuk kedalam rumah ini. Mereka semua merasa risih, takutnya berbuat yang tidak di inginkan . Maklum lah, mereka pasti berpikiran aneh-aneh". Ucap pak Rt, langsung.
"Benar, ini pria yang kami lihat pak RT. Mana rumahnya dikunci lagi,pasti kalian pada ngapain yah". Kata ibu lainnya, tersenyum smrik.
__ADS_1
"Iya,kami tidak salah. Jika ada pria bertamu, bisakan duduk di teras rumah saja. Tidak perlu masuk kedalam,mana di tutup lagi". Sahut lainnya, sontak membuat Yasmin terkejut.
"Apa lagi prianya,bukan suamimu itu". Timpal lainnya,para tetangga mengenali Faris.
"Maaf pak RT dan ibu-ibu sekalian. Pria ini adalah suami saya,kami sudah menikah beberapa bulan lalu. Setelah saya, resmi bercerai dengan mas Faris,". Ucap Yasmin, menjelaskan semuanya.
Mendengar ucapan Yasmin, semua orang tercengang dan saling pandang. "Maaf bu Yasmin, apakah ada bukti-bukti". Tanya pak RT, merasa lega karena lingkungan tidak tercemar hal negatif.
"Ini buktinya,pak". Hanafi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto dan video lainnya.
Semua orang, mengangguk dan mempercayai ucapan Yasmin. Jika mereka berdua sepasang suami-isteri, kini mereka merasa lega.
"Waduh... Maafkan warga saya,pak Hanafi dan bu Yasmin. Jadi gak enak,". Kekehnya pak Rt, merasa malu bersalah. Begitu yang lainnya juga, meminta maaf. Sudah menuduh yang bukan-bukan, merasa tak nyaman jadinya.
"Tidak apa, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Malahan saya merasa senang,atas kejadian ini. Karena lingkungan sini,taat pada aturan". Kata Hanafi, tersenyum sumringah.
"Maafkan saya juga, bapak-bapak dan ibu-ibu. Karena tidak bercerita lebih dulu, sekarang malah jadi seperti ini". Kekehnya Yasmin, menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Setelah selesai semua,para tetangga langsung membubarkan diri masing-masing.
Yasmin,yang cekikikan tertawa menyaksikan kejadian ini. "Apa yang lucu, Yasmin? Untuk saja,kita sudah menikah". Hanafi, langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Mas beli apa aja? di kresek hitam,isinya kotak apa itu,?". Tanya Yasmin, matanya tertuju pada bingkisan yang di bawa Hanafi.
"Eee...Itu, makanan kesukaan kamu. Ayo,kita makan sama-sama. sudah lama kita, tidak makan berdua". Hanafi, menarik tangan istrinya. "Makasih banyak, Yasmin. Jujur saja,aku masih tidak percaya sepenuhnya. Jika kamu, memberikan kesempatan untuk ku lagi".
"Mas jangan memikirkan hal itu,karena kamu tidak sepenuhnya bersalah. Seandainya saja,aku tidak pergi dan menuruti perkataan mu. Sudah pasti anak kita, tidak hilang mas". Kata Yasmin,air matanya luruh lagi.
"Tidak apa, Yasmin. Anggap saja, semua ini menjadi pelajaran kepada kita. Untuk kedepannya nanti,kita harus hati-hati lagi.Sampai detik ini,aku masih belum ikhlas apa yang mereka lakukan kepadamu. Jika bisa,mas akan membunuh mereka satu persatu". Hanafi,masih terngiang-ngiang dengan kondisi istrinya sangat mengesankan. Saat menemukan sang istri, berlumuran darah. Wajahnya lembam bekas pukulan.
__ADS_1
"Tidak apa,mas. Mereka semua, mendapatkan ganjaran yang setimpal. Aku juga, tidak bisa memaafkan mereka. Apa lagi ikhlas,mas. Seandainya aku,masih memiliki tenaga kuat. Kemungkinan besar, mereka mati di tangan ku". Ucap Yasmin,penuh dengan kesabaran untuk menjalani hidup ke depannya.