Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Siuman


__ADS_3

"Bu, Yasmin mohon! Aku,aku, tidak mau melihat wajah mas Hanafi". Pinta Yasmin,dia memalingkan wajahnya. Ketika Hanafi,baru melangkah masuk ke ruang inap istrinya.


Deggg....


Langkah kakinya Hanafi terhenti, saat mendengar ucapan sang istri. Mendengar Yasmin,sudah siuman. Dia, bergegas menuju rumah sakit. Tak lupa mampir,ke toko bunga.


Hanafi, membelikan sebuket bunga mawar untuk sang istri. Nyatanya,baru selangkah masuk. Sudah di usir oleh Yasmin, tangannya mengepal erat.


Air mata Yasmin, mengalir dan langsung di hapusnya.


"Nak Yasmin,jangan berbicara seperti itu. Nak Hanafi, suamimu. Dia, menjagamu siang dan malam". Bujuk bu Aminah, langsung.


"Tidak, Yasmin mohon. Yasmin, tidak sanggup untuk bertemu dengannya. Gara-gara mas Hanafi,aku kehilangan anakku". Isak tangisnya, Yasmin. Yang terdengar oleh, Hanafi masih mematung di pintu.


"Astagfirullah,nak. Ini semua takdir,mau bagaimana lagi? Ikhlaskan kepergian anakmu, ikhlaskan apa yang terjadi. Kasian nak Hanafi,dia sangat merindukanmu dan mengkhawatirkan keadaan mu". Pak Jamal, berusaha untuk membujuk anaknya.


"Bapak dan ibu,kasian kepada mas Hanafi. Tapi, tidak dengan ku. Cukup, Yasmin perlu waktu untuk seperti dulu. Sakit ibu, sangat sakit. Apa lagi, anakku telah tiada. Seakan-akan, hidupku hancur bu". Kata Yasmin, menangis kesegukan.


Hanafi, langsung mengundurkan langkahnya dan menutup pintu kembali. Dengan langkah gontai,duduk di kursi tunggu dan tertunduk. Buket bunga mawar,di letakkan di samping. Air matanya luruh sudah,mau bagaimana lagi. Hanafi, merasa sangat bersalah. "Maafkan aku, Yasmin. Aku tahu,kamu sangat membenciku". Lirih Hanafi, berusaha sabar.


Maafkan aku,mas. Aku, perlu waktu untuk bersamamu. Puas kah sudah, gara-gara kamu. Aku, kehilangan segalanya. Untuk hidup pun,aku tak sanggup lagi. Batin Yasmin,dia begitu terpuruk dalam hidupnya. Apa lagi,sang buah hati sudah tiada.


Orangtuanya Yasmin,hanya bisa mengikuti kemauan anaknya. Betapa senangnya,saat mendengar Yasmin sudah siuman. Cukup lama menumpahkan rasa rindu dan tangisan.


Yasmin, sudah melewati masa kritis dan memulai tahap pemulihan. Masih di rawat di rumah sakit, tidak di perbolehkan untuk pulang.


Dokter meminta Yasmin, untuk beristirahat total. Jangan memikirkan hal lainnya,fokus dengan kesembuhan saja.


Dokter, menyarankan agar pengunjung untuk menjenguk pasien di batasi. Takutnya Yasmin,masih trauma dan stress.

__ADS_1


"Nak Hanafi, maafkan Yasmin. Kemungkinan,dia masih trauma atas kejadian ini". Pak Jamal, keluar dari ruangan untuk menemui menantunya.


"Tidak apa,pak. Hanafi, memahami keadaan Yasmin. Hanafi,memang salah pak. Tidak becus menjaga putrinya, bapak. Wajar jika Yasmin, menyalahkan Hanafi. Tenang saja, Hanafi ikhlas dengan semuanya. Itupun jika Yasmin, meminta pisah. Aku,siap pak". Kata Hanafi, dengan sepenuh hati jika Yasmin meminta pisah dengannya.


"Astagfirullah,jangan berbicara macam-macam nak. Yasmin, tidak memungkin meminta pisah. Dia, meminta waktu untuk bersama lagi. Maafkan anak,bapak". Pak Jamal,merasa iba kepada menantunya.


"Pak, berikan Yasmin. Tolong sampaikan, kata maafku. Hanafi,harus pergi dan mengurus persidangan Yasmin. Pihak kepolisian, meminta interogasi terhadap Yasmin. Tetapi, kondisi Yasmin masih lemah. Jadi,aku mengantar surat permohonan ini kepada pihak berwajib". Ucap Hanafi,dia mengurus segalanya.


Kematian Rosella, masih teka teki. Entah,siapa pelaku yang membunuhnya. Apa motif,atas kematiannya. Sedangkan Faris dan Hamid, menuduh Yasmin yang membunuhnya.


Keluarga Rosella, tidak terima atas kematiannya. Mereka, ingin menuntut balik kepada Yasmin. Tentunya, Hanafi tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia, berusaha mencari bukti kuat bahwa Yasmin tidak bersalah.


Pak Jamal, beruntung memiliki menantu seperti Hanafi. Selepas kepergian Hanafi,pak Jamal masuk kedalam dan memberikan buket bunga kepada Yasmin.


"Terimalah nak,dari suamimu". Kata pak Jamal, meletakkan buket bunga di samping Yasmin.


Yasmin, mengambil dan melemparkannya ke lantai.


"Jangan membenci suamimu,nak. Jangan menyalahkan dirinya,kasian suamimu. Dia, berusaha untuk mencari bukti kuat. Karena kematian Rosella,masih teka teki. Faris dan Hamid, menyalahkan mu. Masalah besarnya, keluarga Rosella menuntut mu". Kata pak Jamal, sontak membuat Yasmin tercengang.


"Aku, tidak salah pak. Tenang saja, Yasmin memiliki bukti kuat". Jawab Yasmin, tidak terima atas tuntutan keluarga Rosella.


"Pak, sudahlah jangan membahas tentang ini. Yasmin,masih dalam pemulihan. Jangan menambah pikirannya,kasian pak". Bu Aminah, langsung mencegah suaminya. Agar tidak, melanjutkan pembicaraannya lebih jauh lagi.


"Tenang saja,bu. Yasmin, sudah sembuh". Jawab Yasmin, tersenyum kecil. Tangannya, menyentuh perut yang rata. Air matanya mengalir deras, mengingat sang buah hati. Maafkan ibu,nak. Tidak mampu, menjagamu. Terimakasih, sudah singgah di rahim ibu.


Bu Aminah,menangis melihat anaknya yang masih kepikiran buah hatinya. Dia, merasakan kehilangan calon cucunya.


Pak Jamal, berusaha untuk membuat anaknya tegar. Apapun terjadi, semoga bisa di lewati dengan ikhlas.

__ADS_1


***************


Hari demi hari berlalu, Yasmin sudah mulai membaik. Dokter, menyatakan bahwa Yasmin bisa di perbolehkan untuk pulang. Asalkan rutin meminum obat dan cek kondisinya sebulan sekali. Jangan lupa jaga pola makan dan jangan banyak pikiran.


Selama Yasmin,di rumah sakit. Terkadang Hanafi, menunggu istrinya di luar. Karena Yasmin, tidak mengijinkan untuk menemuinya.


"Yasmin, ingin tinggal di rumah bapak dan ibu". Pinta Yasmin, langsung di setujui orangtuanya.


Hanafi,tak lupa menyiapkan keperluan Yasmin dan membawa ke rumah mertuanya. Saat mendengar, Yasmin tidak mau tinggal di rumahnya.


Kepulangan Yasmin, disambut hangat oleh tetangga dan lainnya. Itupun pak Jamal, langsung membawa anaknya ke dalam. Tidak mengijinkan, tetangganya untuk menemui Yasmin. Takut kondisi anaknya,masih terguncang.


Hanafi,hanya memandang dari kejauhan. Sampai Yasmin, menghilang dari pandangannya.


"Pak kades,sabar yah. Kemungkinan, istri pak kades masih trauma". Ucap tetangganya, tersenyum.


Hanafi, tersenyum dan mengangguk kepala. Semenjak kejadian itu,dia seringkali tidak fokus bekerja. Pikirannya tertuju kepada,sang istri.


"Pak,bu, Yasmin meminta sesuatu. setelah selesai masalah ini, Yasmin ingin tinggal di kota. Cuman ingin menenangkan diri,". Pinta Yasmin, menatap kedua orangtuanya.


"Bagaimana, dengan suamimu". Tanya pak Jamal, tidak nyaman dengan menantunya.


"Pak, tidak bisakah menuruti kemauan Yasmin. Dia,butuh ketenangan pak. Jangan memaksa kehendak, bapak". Bu Aminah,membela anaknya.


"Aku, tidak tau pak? Yasmin, meminta waktu. Tidak tau, sampai kapan. Hidupku hancur, semangat untuk hidup terasa hilang". Jawab Yasmin, tertunduk sedih. Derai air matanya, luruh sedari tadi.


"Yasmin,jangan salahkan suamimu nak. Ingat itu,jangan menggantungkan rumah tangga kalian. Sama saja,kamu menyiksa diri sendiri". Pak Jamal,mengelus lembut pucuk kepala anaknya.


"Bicaralah nak,kepada suamimu. Dia juga sangat terpukul,atas kehilangan buah hati kalian. Dirinya, sangat tersiksa dengan kejadian ini. Karena dia,gagal menjagamu. Di tambah lagi,kamu mengabaikannya". Bujuk bu Aminah, memeluk putrinya. "Ingatlah nak, tidak sepenuhnya suamimu salah. Introspeksi diri sendiri,jangan menyalahkan orang lain".

__ADS_1


Mendengar ucapan sang ibu, Yasmin menangis kesegukan di pelukkan ibunya. Sedangkan Rizky dan istrinya, terdiam. Cuman mendengar ucapan mereka,di luar pintu.


__ADS_2