
Jam mengajar sudah selesai, waktunya pulang. Area parkiran terlihat sepi,ada beberapa motor saja. Mata Yasmin, tertuju pada seorang pria.
Ngapain lagi,mas Faris menemuiku? Apa lagi,mas Faris duduk di motor ku. Batin Yasmin, terpaksa menghampiri mantan suaminya. Berharap, tidak ada terjadi sesuatu nantinya. Walaupun dia, merasakan hawa tak enak.
"Yasmin,jangan menghindar ku". Pinta Faris, menatap mantan istrinya. "Yasmin, apa kamu bahagia atas pernikahan mu".
"Mas,jangan temui aku lagi. Karena bisa saja, suamiku membuat skenario untuk menyakiti ku". Yasmin, menepis tangan mantan suaminya. Saat Faris, ingin menyentuh tangan.
"Apa dia, menyakiti mu Yasmin? kurang ajar sekali, mentang-mentang dia berkuasa dan selalu di percaya ribuan orang. Seenaknya melakukan itu, kepadamu. Kita, tidak bisa tinggal diam Yasmin. Kita,harus melakukan Sesuatu". Faris,mengusap wajahnya. Tak tega, melihat Yasmin di sakiti.
"Cukup,mas! Sekali lagi,jangan temui aku. Kehadiran mu yang menemui ku,sama saja membuat masalah besar". Bentak Yasmin, dengan tegas.
"Yasmin, seandainya kamu memilih ku kemarin. Kemungkinan,kamu tersakiti Yasmin. Aku,akan berusaha membahagiakan dirimu dan membuat kedua orangtuamu bangga kepadaku". Kata Faris,yang tidak tahu apa-apa.
"Ini jalan hidupku,mas. Tidak semudah itu,yang kamu bayangkan. Mas Hanafi,bukan sembarang orang. Dia, pasti melakukan hal kejam lagi daripada yang aku rasa saat ini". Yasmin, menggeleng kepalanya. "Permisi mas,aku pergi". Yasmin, menghidupkan mesin motornya.
"Yasmin,kenapa kamu tidak menggugat cerai suamimu? Aku siap, balikan dengan mu lagi. Setelah kamu, bercerai dengan pria licik itu". Faris, menahan kepergian Yasmin.
"Kamu,kira mudah mas? Tidak mas,dia memiliki hati iblis. Apapun yang akan di lakukannya,dia mana mungkin semudah itu melepaskan aku. Sedangkan kedua orangtuaku, lebih mempercayai dia dibandingkan anak sendiri". Tegas Yasmin, langsung pergi meninggalkan mantan suaminya.
Yasmin, sangat yakin sekali bahwa suaminya tau akan mudah melepaskan dirinya. Sampai pada akhirnya,sang suami menuntaskan balas dendamnya.
Kepalanya hampir pecah, sudah memikirkan kehidupannya. Sungguh tak menyangka, suaminya sedikit demi sedikit menghancurkan segalanya.
***********
__ADS_1
Deggg....
Yasmin,mengelai motor di halaman rumah suaminya. Itu adalah motor kedua orangtuanya, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Kakinya, enggan melangkah masuk ke dalam. Namun apa daya,dia tak kuasa untuk kabur.
"Bismillahirrahmanirrahim". Gumam Yasmin, dengan langkah berat. Dia,masuk ke dalam dan terlihat kedua orangtuanya dan suami. Tengah duduk di ruang tamu, dengan tatapan sulit di artikan.
"Duduk dulu, Yasmin. Ada yang di bicarakan,". Pinta bu Aminah, Yasmin mengenal suara ibunya yang tengah marah padam.
Yasmin, mengangguk dan duduk di samping ibunya. Dia, melirik ke arah sang suami. Tetapi, Hanafi menyunggingkan seringai tajam. Suasana semakin tegang,mata Yasmin beralih ke arah ayahnya. Tentu tatapan ayahnya, melebihi setajam samurai.
Ya Allah,apa lagi ini? Apa terjadi sesuatu,apa masalah baru. Lalu, masalah apa? Apa jangan-jangan, tidak mungkin. Jika secepat itu, mereka mengetahui bahwa aku bertemu dengan mas Faris. Batin Yasmin, tangannya sudah gemeteran.
"Kamu,tahu apa kesalahan mu Yasmin?". Bentak pak Jamal, suaranya menggelegar seisi ruang tamu.
Yasmin, menunduk dan menggelengkan kepalanya. Dia, tengah kebingungan. Apa lagi,yang dilakukan mas Hanafi? Segitu teganya,dia menyakiti ku melalui orangtuaku.Batin Yasmin, sekuat tenaga menahan air matanya.
"Jujur apa,bu? Yasmin, tidak melakukan kesalahan apapun. Mas,yang kamu lakukan? Jangan mengada-ada, seperti ini". Kata Yasmin, mendongak ke arah suaminya.
"Yasmin, suamimu tidak tahu apa-apa. Dia, bahkan membela mu Yasmin. Asal kamu tahu itu,jadi istri harus patuh pada suaminya. Selagi,suami itu benar". Tegas pak Jamal, dadanya naik turun mengontrol dirinya. "Jawab pertanyaan bapak, Yasmin. Untuk apa lagi,kamu menemui mantan suamimu itu ha".
"Astagfirullah,pak. Yasmin, tidak menemuinya. Tetapi, mas Faris sendiri menghampiri Yasmin ke sekolahan". Bantah Yasmin, begitu cepatkah orangtuanya mengetahui.
"Pak, mungkin mereka bertemu cuman berbincang sebentar. Aku yakin sekali, Yasmin tidak melakukan sengaja. Wajarlah, mereka berdua pernah hidup bersama cukup lama". Terdengar suara Hanafi,membela Yasmin. Tetapi,dia melakukan hal tak wajar. Agar Yasmin, semakin di marahi ayahnya.
"Nak Hanafi,jangan memanjakan dirinya. Jangan membela Yasmin,dia harus di nasehati habis-habisan. Mentang-mentang,kamu mengijinkan dia bekerja. Lalu, mengabaikan perasaan mu. Apa kamu tidak memikirkan, perasaan suami mu Yasmin? Berhentilah bekerja, turuti perkataan suamimu". Perintah pak Jamal, dengan mata memerah.
__ADS_1
Mas Hanafi,apa yang di katakan kepada orangtuaku. Astagfirullah,kejam kamu mas. Batin Yasmin,meremas ujung bajunya. "Pak, Yasmin tidak sengaja bertemu dengan mas Faris. Lagi pula,kami bertemu di tempat umum".
"Yasmin, kamu bisa menghindarinya tanpa meladeni pembicaraan mantan suamimu itu. Sama saja,kamu memberikan dia harapan. Jangan sampai mantan suamimu, mendapatkan celah untuk merusak rumah tangga mu". Sahut bu Aminah,yang kesal kepada anaknya.
"Pak,bu. Kalian salah paham,aku tidak...".
"Pak, sudahlah jangan membahas tentang ini lagi. Kasian Yasmin,dia lelah baru pulang kerja. Yang salah Hanafi, menikah dengan Yasmin secepat itu. Hanafi,paham kepada Yasmin yang masih mencintai mantan suaminya". Hanafi, memotong perkataan Yasmin. Tentunya dengan berekspresi,tengah tersakiti.
"Kamu dengarkan, Yasmin. Sesabar apa lagi, suamimu ini. Sedangkan kamu, merusak kepercayaannya. Pokoknya,mulai sekarang kamu berhenti mengajar. Bapak,akan mengurusnya langsung. Kamu, jangan sesekali membantah perkataan suamimu". Tegas pak Jamal, dengan mata melotot.
"Pak, Yasmin mohon. Jangan lakukan itu,". Kini air matanya, tumpah Sudah.
"Yasmin,jika tidak seperti itu. Kamu,akan mendapatkan kesempatan untuk menemui mantan suamimu itu. Pokoknya,ibu setuju dengan pendapat bapak. Ibu, benar-benar kecewa kepada mu Yasmin". Ucap bu Aminah, menghela nafas panjang.
"Tidak apa,bu. Hanafi, mengijinkan mereka bertemu. Karena Hanafi, tidak ada hak mengatur Yasmin. Apa lagi, Yasmin tidak mau urusan di campur". Hanafi, tersenyum smrik ke arah Yasmin.
"Astagfirullah, Yasmiiiinn.....!!! Apa yang kamu, pikirkan ha? Bapak, tidak mau tahu lagi. Jika bapak, mendengar semuanya. Bahwa kamu, membantah perkataan Hanafi. Tak segan-segan,bapak menghukum mu".
Yasmin, mengepalkan tangannya dan menatap benci terhadap sang suami. Air matanya mengalir deras, hatinya sangat sakit.
"Ayo,pak. Kita pulang sekarang,ibu sangat kecewa dengan sikap putri ibu. Bagaimana nanti, jika abang mengetahui sikap adiknya". Bu Aminah, menghapus air matanya dan beranjak berdiri. "Nak Hanafi, makasih sudah sesabar ini menghadapi sikap Yasmin. Ibu, benar-benar malu dan sangat bersalah kepada mu".
"Maafkan Yasmin,bu". Lirihnya pelan,menangis kesegukan meratapi nasibnya.
"Tidak apa,bu. Semua ini, sudah kewajiban Hanafi. Untuk menjaga Yasmin, insyaallah selalu sabar". Jawab Hanafi, tersenyum.
__ADS_1
"Maafkan bapak, memiliki putri sikapnya selalu melawan mu. Bapak, sangat malu Hanafi. Entah, harus berbuat apa lagi. Bapak dan ibu,pamit pulang dulu. Ingatlah Yasmin, Patuh kepada suami dan jangan membantah lagi". pinta pak Jamal,tak memperdulikan perasaan anaknya.
"Tidak apa,pak. Insyaallah, Yasmin akan berubah nantinya". Kata Hanafi, mengantar kedua mertuanya ke keluar dari rumah.