
Amaar As'ad, itulah nama yang di berikan oleh Hanafi untuk anaknya. Yang berjenis kelamin laki-laki, wajahnya sangat mirip dengan dirinya.
Sungguh kebahagiaan yang tiada duanya, akhirnya sang buah hati sudah lahir ke dunia. Yasmin, melahirkan secara normal dan sedikit sobekan. Karena sang buah hati, mencapai bb 3.5 kg. Yasmin, tidak menyangka anaknya seberat itu. Terakhir USG masih bb 3 kg, sekarang malah naik lagi.
"Jaga kesehatan mu,sayang". Hanafi, mengecup kening istrinya. Matanya tertuju pada bayi mungil, pipinya yang gembul dan menggemaskan.
Yasmin, tidak di biarkan bekerja yang berat-berat. "Aku sedih mas,air susuku tidak keluar". Kata Yasmin, menunduk kepalanya. Apa lagi sang buah hati,menyusu sangat deras. Untungnya Hanafi,sudah stok banyak susu formula.
"Hussssttttt... Tidak masalah kita memberinya,susu formula yang terbaik. sudahlah jangan di pikirkan masalah itu, sayang. Yang penting kalian berdua, sama-sama sehat". Kata Hanafi, tersenyum.
Yasmin, tersenyum sumringah karena sang suami tidak mempersoalkan susunya tidak mengeluarkan ASI.Di sisi lainnya,merasa sedih apa yang terjadi kepada Aina.
Dia benar-benar di usir dari desa ini,tanpa balas kasian dari Hanafi. Karena dia sudah muak dengan sikapnya,Ania. Selalu posesif untuk memilikinya, sampai nekat melakukan hal yang tidak wajar.
Hanafi, murka kepada Aina. Membiarkan para warga, mengusirnya keluar dari desa. Walaupun Aina, menjerit-jerit meminta ampun kepadanya. Berjanji tidak akan pernah melakukan lagi,namun Hanafi sudah terlanjur kecewa.
Yasmin,merasa malu dengan orang-orang sekitar. Bahkan dengan dirinya sendiri, tidak menyangka Aina bisa senekat itu.
"Ibu, sangat malu nak. Apa yang di lakukan Aina. Syok ibu mendengarnya,". Bu Aminah, tidak menyangka jika Aina berniat untuk memfitnah menantunya.
"Sudahlah bu,yang penting Aina sudah tidak di sini lagi". Yasmin, tersenyum sambil sarapan paginya.
Hanafi, memperkejakan seseorang untuk membersihkan rumah dan lainnya. Agar sang istri,full untuk istirahat dan mengurus anak mereka.
__ADS_1
"Ibu, pamit pulang dulu. Nanti ke sini lagi". Bu Aminah, pamit pulang dulu.
"Hati-hati bu,". Kata Yasmin, beruntung masih memiliki seorang ibu. Bisa mengurus anaknya,karena Yasmin takut memandikan anaknya."Sini biar aku mas,yang menggendongnya". Pinta Yasmin.
"Gak perlu sayang,mas letakkan di sini. Dia sudah terlelap tidur,". Hanafi, berlahan-lahan meletakkan anaknya yang sudah terlelap tidur.
"Mas, makanlah dulu. Ini sudah jam 9 pagi,belum sarapan. Mau aku siapkan?". Tanya Yasmin, kepada sang suami.
Hanafi,duduk di samping sang istri dan menciumnya dengan lembut. "Tidak perlu sayang,bi Ani sudah memasak tadi. Kamu jangan capek-capek,yah". Pintanya.
Yasmin, mengangguk kepala dan menatap suaminya keluar dari kamar. "Makasih banyak mas,". Gumamnya pelan.
Yasmin, berlahan-lahan mendekati anaknya yang tertutup kelambu. Agar nyamuk-nyamuk, tidak bisa mengigit anaknya. "Jadi anak yang sholeh, seperti bapakmu nak. Seorang pria bertanggung jawab,sehat selalu. Apapun yang kamu inginkan, semoga tercapai sayang".
**************
Yasmin, membawa anaknya keluar rumah yang sudah berusia 2 bulan.
Menyambut kedatangan suaminya, yang baru pulang bekerja. Hanafi, langsung masuk dan membersihkan dirinya. Sudah tak sabar untuk menggendong anak,dan bermanja-manja dengan istrinya.
Yasmin, meletakkan anaknya di stroller bayi. Membuat kopi panas untuk suaminya,yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Makasih ya sayang,aku sangat merindukan istri dan anakku. Rasanya cepat-cepat mau pulang,". Kekehnya Hanafi, menghirup kopi panas buatan sang istri.
__ADS_1
"Kamu ini mas, ada-ada aja". Gumam Yasmin, menyiapkan makanan untuk suaminya. "Makan dulu,mas. Baru gendong Amaar,".
Hanafi, mengangguk dan menurut saja. Amaar, bermain-main dengan odot di stroller bayi. Saking tak sabaran, Hanafi menyantap makanan dengan tergesa-gesa.
Yasmin, melihatnya cuman menggeleng kepala saja. Dia tahu jika suaminya tidak sabar untuk menggendong sang buah hati. Berat badannya Amaar,semakin bertambah. Cuman sebentar menggendong, pasti sudah lelah.
****************
Malam harinya Hanafi, menerima telpon seseorang. Yasmin,yang penasaran langsung menghampiri suaminya dan bertanya.
"Telpon dari siapa,mas?". Tanya Yasmin,di pelukan suaminya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Faris, meninggal dunia". Kata Hanafi, sontak membuat Yasmin terkejut.
"Innalilahi, kapan mas?". Yasmin, menutup mulutnya dengan tangan. Tidak menyangka,mantan suaminya meninggal dunia.
Faris, sudah lama sakit-sakitan dan di rawat rumah sakit. Tidak lama merenggang nyawanya. Sedangkan Hamid, menyandang penyakit HIV tidak bisa di sembuhkan lagi. Miliknya di nyatakan busuk,baunya yang menyengat.
Mendengar kematian Faris,bu Yahya dan Indah tidak memperdulikan Jenazahnya. Menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib, terserah mau di kubur dimana. Mereka berdua, tidak memperdulikan Jenazah Faris.
Gara-gara Faris, semuanya seperti ini. Bu Yahya, bersyukur atas kematian anaknya itu. sudah membawa sial,di sisi lain anak pertamanya di rawat rumah sakit.
Menggelikan bagi bu Yahya dan Indah. Karena Hamid, menyandang penyakit menular seksual itu. Sudah pasti mereka berdua, tidak perduli keadaannya bagaimana.
__ADS_1
Bu yahya, sudah menganggap mereka bukan anaknya lagi. Siapa juga yang mau, mengurus orang yang berpenyakitan.
******************TAMAT*********************