
"Faris,indah,asal kamu tahu. Yasmin, sudah membohongi kita selama ini". Ucap bu Yahya,kepada anaknya.
"Berbohong? Bohong,apa bu". Tanya Faris,yang penasaran.
"Iya,jangan buat kami penasaran bu". Sambung Indah, yang sudah tidak sabar lagi.
"Yasmin, anak orang kaya. Orangtuanya, memiliki mobil dan rumah yang di berikan oleh bapaknya. Di bayar secara cash, tidak ada cicilan perbulan segala". Bu Yahya, memberitahu kepada Faris dan Indah.
"Apa?". Ucap Faris dan indah, bersamaan. Mereka berdua syok mendengarnya, rupanya Yasmin lebih dulu bermain-main.
"Jadi, aaarghhh... Sialan,dia berani sekali membohongi kita". Faris, mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Gara-gara Yasmin, rumah tanggaku hancur berantakan. Jika kita,bisa menggadaikan sertifikat rumah itu. Pastilah, baik-baik dan tidak mendekam di penjara ini". Indah, memijit pelipisnya.
"Bagaimana,lagu? Sedangkan Faris, sudah menjatuhkan talak kepada Yasmin. Dasar ceroboh, tidak becus menjaga Yasmin". Gerutu bu Yahya, geram kepada anaknya.
"Kamu ini, tidak berguna Faris. Selalu menyusahkan saja, masa kamu bisa di bodohi Yasmin". Decak Indah,yang kesal.
"Kenapa,jadi salahin aku? Semuanya, pasti ke aku. Sedangkan kalian mana ada, membantu ku. Jangan salahkan aku,yang tidak berguna. Lalu,mantan suami Mbak mana? Mana katanya,orang kaya raya. Sama saja, tidak berguna". Kata Faris, meledek Kakaknya.
"Faris,jangan salah kan Mbak mu lah". Bu Yahya,membela indah.
"Cukup,bu! Selama ini,ibu selalu pilih kasih. Setelah aku, keluar dari penjara ini. Jangan harap,aku memberikan kalian tumpangan gratisan dan perduli dengan kalian. Anggap saja, tidak kenal. Bu, aku tahu semuanya. Dari dulu sampai sekarang,ibu selalu pilih kasih. Hanya aku,yang di abaikan". Bentak Faris, beranjak berdiri dan meninggalkan mereka. Sesak di dadanya, karena ibunya masih membela Kakaknya. Tanpa memikirkan perasaannya, Faris menangis kesegukan dan bersandar pada dinding.
"Sepertinya, Faris marah bu". Kata indah, membuyarkan keheningan.
"Biarkanlah,ibu enek melihat kelakuan Faris. Yang tidak berguna sama sekali,kalian juga. Ya sudah,ibu pulang dulu. Siapa tahu, Hamid punya uang untuk belanja". Bu Yahya, pergi meninggalkan indah.
Indah, menatap kepergian ibunya dan kembali ke jeruji besi lagi. Matanya tertuju pada Faris,yang meringkuk di lantai dan menangis kesegukan.
**************
"Yasmin,kamu yakin? Mau tinggal sendirian, tidak ikut dengan kami ke desa". Tanya bu Aminah,hari ini orangtuanya pamit pulang. Karena pak Jamal, sudah merindukan sapi-sapi.
__ADS_1
"Iya,bu. Yasmin, menunggu surat perceraian keluar. Setelah beres, Yasmin akan menyusul ibu dan bapak". Kata Yasmin, tersenyum. Dia, ingin memberikan pelajaran sedikit kepada keluarga serakah itu.
"Kamu, hati-hati nak. Jika ada sesuatu, hubungi bapak". Kata pak Jamal, menyentuh kepala anaknya.
"Pasti pak, hati-hati di jalan". Yasmin, mengangguk pelan. Dia, menatap kepergian orangtuanya dan melambaikan tangan.
"Huuuff.... Sekarang, aku mulai tenang". Gumam Yasmin, menutup pintu rumahnya.
Dering ponselnya, berbunyi. Yasmin, segera mengangkat telponnya.
"Halo,ada apa Aina?". Tanya Yasmin,kepada temannya.
(Yasmin,mantan ibu mertua mu tinggal di belakang sekolah. Tempat kamu, dulu). Aina.
Yasmin, tercengang mendengar ucapan dari temannya. "usir saja Aina, suruh pak satpam sekolah. Jangan biarkan mereka,tinggal di sana. Keenakan nantinya". Pinta Yasmin, langsung di iya kan Aina.
"Oh,jadi beberapa hari ini. Mereka tinggal di sana,jangan sampai aku biarkan. Di sana,masih banyak perabotan rumah tangga ku". Gumam Yasmin, tersenyum smrik.
**************
Ceklekk....
Yasmin, langsung berubah ekspresi wajahnya. Rupanya mantan ibu mertua dan kakak iparnya.
"Bagus sekali kamu, Yasmin. Sudah lama kami, menunggumu dan menggedor-gedor pintu. Baru saja, membukakan pintu untuk kami. Dimana,letak sopan santun mu ha". Bentak bu Yahya, langsung.
"Yasmin,jangan kurang ajar kamu. Pasti, gara-gara kamu kan. Kami di usir,di sana". Sambung Hamid, dengan tatapan sinis.
"Terus, apa masalahnya. Baguslah,kalian di usir dari sana. Toh,kalian orang kaya raya. Tidak pantas,tinggal di tempat sempit seperti itu". Ucap Yasmin, sedikit meninggikan suaranya.
"Yasmin,jaga ucapanmu itu. Tidak mau tahu,kami akan tinggal di rumah ini". Bentak bu Yahya,tanpa memperdulikan tatapan orang-orang sekitar.
"Hahahaha....Kita, tidak ada hubungan apa-apa bu. Anak ibu, sudah menjatuhkan talak kepada ku. Sana pergilah dari sini,tak sudi memberikan tumpangan gratisan kepada kalian yang serakah". Tegas Yasmin, langsung.
__ADS_1
"Yasmin,kamu...". Hamid, menunjukkan jarinya ke arah Yasmin.
"Kenapa,bang Hamid? Mau, memaksa Yasmin. Tidak takut, masuk penjara ha". Ancam Yasmin, tersenyum smrik. Dia, langsung menutup pintu rumahnya.
"Jaga ucapan mu, Yasmin. Sok berkuasa kamu,ha! Tidak mau tau,kami akan tinggal di rumah ini". Tegas bu Yahya.
"Atas dasar apa,bu. Berhak tinggal di sini, katanya orang kaya. Masa tinggal sama mantan menantu,dimana letak harga diri bu Yahya". Ucap Yasmin,mengejek mantan ibu mertuanya.
"Yasmin, tidak pantas kamu mengejek ibuku". Bentak Hamid, mengusap wajahnya.
"Ck,punya anak tidak berguna. Mana bu, menantu ibu yang kaya raya dan selalu di banggakan. Sekarang malah, tidak berguna sama sekali. Masa mau menumpang, di rumah mantan adik ipar. Ckckck.... Memalukan sekali". Yasmin,puas sekali mengejek mereka.
Bu Yahya, ingin melayangkan tangan. Tetapi, Yasmin langsung menepisnya. "Jangan harap,bu. tangan ibu, menampar wajah ku". Tegas Yasmin, sorotan mata tajam.
"Sialan,awas kamu Yasmin. Lambat laun berjalan, kamu akan mendapatkan penderitaan yang setimpal". Ucap Hamid,yang geram kepada Yasmin.
"Ingatlah Yasmin, Faris tidak akan sudi bersamamu lagi. Aku, sudah mengatakan semuanya. Jika kamu, berbohong kepada Faris". Seringai tajam bu Yahya, tetapi Yasmin tersenyum sumringah.
"Hahahaha....Bu,sadar diri dong. Aku, tidak sudi kembali lagi. Tenang saja, surat perceraian akan keluar". Kata Yasmin, dengan santainya.
Braakkkk....
Bu Yahya dan Hamid, melonjak terkejut dengan sikap Yasmin.
"Yasmiiiiinnn....Buka pintunya,kamu jangan kurang ajar kepada ku". Teriak bu Yahya,yang di hiraukan oleh Yasmin.
"Sudah bu,kita pergi saja. Malu, di liat orang". Pinta Hamid, berusaha keras menarik lengan ibunya.
"Awas kamu, Yasmin". Teriak bu Yahya, tidak terima dengan perlakuan dari Yasmin.
Sedangkan Yasmin, tertawa cekikikan. Melihat penderitaan mereka, rupanya tidak memiliki rasa malu sedikitpun. Sehingga mereka,barani menemui Yasmin.
"Rasakan kalian,emang enak tidur memiliki tempat tinggal. Sama seperti dulu,aku selalu di usir". Gumam Yasmin, kebaikannya sudah berubah menjadi kebencian. Tidak lama lagi,bisa saja mereka kembali lagi. Terutama mantan suaminya, pastilah itu.
__ADS_1
Yasmin, memandang langit-langit kamarnya. Ada rasa perih di hatinya, mengingat kenangan indah bersama sang suami.