Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Di Sengat Lebah


__ADS_3

Hari demi hari,pak Ali merenung di kandang ayam jagonya.


Mau tidak mau, menyerahkan ayam jagonya di sembelih dan menjadi opor ayam.


Orang ngidam harus di turuti kemauannya,apa lagi Hanafi seorang kepala desa.


Walaupun Hanafi, memberikan ayam jago sangat mirip dengan ayam pak Ali sebelumnya. Tetapi saja,pak Ali masih berduka cita.


"Rambooo...! Huu....Huu...". Pak Ali, merindukan ayam jago kesayangannya. Memberikan makan di kandang ayam, meskipun ayamnya tidak ada.


Terkadang sang istri tak henti-hentinya, mengomel-ngomel. Karena sang suami, tidak bisa melepaskan kepergian ayam jagonya.


"Ikhlaskan saja,pak. Ayam jagonya sudah jadi tai,mau tuh ayam gentayangan. Karena sang pemiliknya belum ikhlas,atas kepergiannya". Kata sang istri, meledek suaminya itu.


"Huaaaaaa.....". Pak Ali, semakin kencang meraungnya.


Byurrrrr....


Sang istri sudah geram atas kelakuan suaminya, terpaksalah menyiram air ke arah suaminya itu. Pak Ali, sudah basah kuyup dan mengusap wajahnya.


"Astagfirullah,bu. Ngapain menyiram bapak? Emangnya,bapak ini tanaman". Kata pak Ali, menggeleng kepalanya.


"Ruqyah,pak. Sudah hampir seminggu, kelakuan mu seperti itu. Mau ke sambet setan,ha? Setan Rambo,". Bentak sang istri,masuk kedalam rumah.


"Astagfirullah, punya istri tidak pernah memikirkan perasaanku yang galau gulana ni". Gumam pak Ali,menghela nafas beratnya.


Semenjak Hanafi, memiliki kemauan yang aneh-aneh. Setiap warga sekitar, semakin waspada terhadapnya. Takut senasib dengan pak Ali, sungguh memperihatinkan sekali.


Pak Jamal,tak mampu menghindari keinginan menantunya. Mau tak mau, menurut saja.


Yasmin, tersenyum dan cekikikan tertawa. Melihat ayahnya tersiksa,atas menantu kesayangannya. Mau kabur pun, tidak bisa.


"Pak, Hanafi pengen....". Hanafi, menggantung ucapannya.


Sedangkan pak Jamal, sudah ketar-ketir mendengarnya. Pasti ada sesuatu yang tidak baik, entah keinginan apa lagi.


"Pengen apa,nak? Bilang aja,". Jawab pak Jamal, bibirnya sedikit monyong. Akibat di sengat lebah,karena Hanafi menginginkan buah mangga muda. Rupanya ada sarang lebah, langsung menyengat bibir atas pak Jamal.


Begitu banyak pengorbanan pak Jamal, tidak mematahkan rasa kasian Hanafi.


"Cuman mau melihat bapak,jual sapi". Jawab Hanafi, tersenyum manis.

__ADS_1


"Allahuakbar, permintaan apa lagi itu?". Gumam pak Jamal, mengusap wajahnya dengan kasar. "Bapak,masih banyak uang. Ngapain jual-jual sapi segala, lebaran juga lama".


"Oh,gak jadi". Terdengar suara ketus Hanafi, sontak membuat bapak mertuanya menelan ludah.


"Hehehehe.... Bapak,cuman bercandakok. Ayo,kita jual sapi bapak. Tapi,carikan pembelinya". Pak Jamal, langsung mengalah pagi.


Yasmin dan kakak iparnya, cekikikan tertawa mendengar pembicaraan mereka.


"Benar-benar yah, cuman Hanafi bisa menaklukkan hati bapak. Sedangkan kita,mana berani". Kata Rizky, menggeleng kepalanya.


"Benar sekali, bang. Selalu saja,kita menuruti perkataan bapak. Sekarang bapak,kena karmanya. Tau rasanya,". Kekehnya Yasmin, tersenyum smrik.


Lestari, cengengesan mendengar ucapan kakak beradik ini. Entah kenapa, mereka berdua senang melihat ayahnya menderita.


"Iya, sampai bibir bapak monyong di gigit lebah. Sudah dua hari,gak ikut nongrong di warung. Katanya malu efek bibir bengkak,jadi bahan ketawaan". Kata Rizky, cengar-cengir.


"Bahkan nih,cucu sendiri aja gelak tawa. Ketika bapak, gendong dan jalan-jalan di teras doang. Tapi,bapak masih setia menuruti kemauan Hanafi. Heran sekali kan,mas Hanafi jadi beban bapak". Kekehnya Yasmin.


"Itu,pak Ali sampai mogok makan katanya. Gara-gara kehilangan Rambo, sudah ludes di makan Hanafi". Akhirnya lestari, ikut gosip.


"Hahahaha....Iya,mbak. Kerjaannya cuman melamun,di kandang Rambo. Sungguh berat kehilangan ayam jago kesayangannya, semenjak kejadian itu. Para warga harus waspada terhadap peliharaan kesayangannya,takut jadi korban kepala desa". Kekehnya Yasmin,suka sekali menggosip.


Tak berselang lama,pak Jamal dan Hanafi keluar dari rumah. Mewujudkan kemauan menantunya, untuk jual sapi.


Pak Jamal,melirik ke arah menantunya. "Nak Hanafi,mau melihat bapak jual sapi".


"Walah...Ya sudah,sana. Masih untung jual sapi, tidak yang lainnya". Bu Aminah,bodo amat dan tidak memperdulikan penderitaan suaminya.


Cukup lama Jo,mencari informasi untuk membeli sapi pak Jamal. Setelah selesai berbicara,lalu sepakat dengan harga.


"Pak,aku gak mau sapinya di jual". Kata Hanafi, dengan santainya. Tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Apa?". Ucap mereka bersamaan,lalu menepuk kening masing-masing.


"Waduhh....Yang sabar pak,". Ucap pak Kohil, pembeli sapi.


"Bagaimana lagi,pak? istrinya hamil,tapi dia yang merasakan kehamilannya. Kalau tidak mau di turuti, ngambek". Bisik pak Jamal,di angguki pak Kohil.


Mereka berempat memutuskan untuk pulang,pak Jamal merasa lega karena sapinya tidak dijual.


"Di jual berapa,pak? Mana uangnya,mau belanja". Baru juga sampai, sudah di minta oleh sang istri.

__ADS_1


"Bagi-bagi dong,pak". Pinta Yasmin,ikutan.


Pak Jamal, mengusap wajahnya dengan kasar. Duduk di sofa, menatap wajah mereka saling bergantian. "Gak jadi,".


"Ha? Kenapa,gak jadi!". Mereka semua terkejut mendengarnya.


"Sayang sekali, sapinya di jual". Sahut Hanafi, cengengesan. Masing-masing langsung berubah ekspresi wajah, awalnya senang karena dapat uang. Hasil jual sapi,namun akhirnya pupus sudah.


****************


Yasmin, menyelimuti tubuhnya yang polos. Mereka berdua,habis menyelesaikan ritual sebelum tidur.


Saling berpelukan dengan mesra, Yasmin merasakan kebahagiaan di rumah tangganya. "Mas,besok jalan-jalan yuk. Pengen aja,gitu". Cicit Yasmin, terdengar suara manjanya.


"Boleh,mau kemana sayang?". Tanya Hanafi, mencium kening istrinya.


"Di desa sebelah ada pasar malam,mas. Aku mau jajan cemilan, pokoknya". Jawab Yasmin, membayangkan makanan lezat di hadapan matanya.


"Oke,besok sore ke sana.Sudah lama juga,gak jalan-jalan ke desa sebelah"


Hanafi, menyetujui ajakan istrinya.


"Makasih mas,". Kata Yasmin, memeluk erat tubuh suaminya. Senyum merekah, mengembang di bibirnya "Mas, ponsel mu berdering".


"Sebentar,aku angkat telpon dulu". Hanafi, beranjak dari ranjang dan mengambil ponselnya di atas meja. Mengerutkan keningnya, melihat nama kontak yang menelponnya.


"Siapa,mas?". Tanya Yasmin, penasaran. Karena suaminya,tak kunjung mengangkat panggilan seseorang tersebut.


"Gak penting,sayang". Jawab Hanafi, langsung menonaktifkan ponselnya.


"Aina yah,mas". Tebak Yasmin, mendekati suaminya yang masih berdiri.


"Hmmmm... Entahlah,apa maunya? Sudah lama tidak ada kabar,nongol lagi". Gerutu Hanafi, mengangkat tubuh istrinya ke atas meja rias.


"Ngapain mas,iiihh..?Aaahh...Masss...!". Des-ah Yasmin, rupanya sang suami memasukkan miliknya.


"Habisnya kamu telanjang bulat,membuat milikku tegang lagi". bisik Hanafi, sambil memainkan pinggulnya.


"Massss... Hhhmmmpptt....Janji.. Aaahhh.. Beso...Besok...Ke pasar,hmmm...Malam". Kata Yasmin, merasakan hujaman dari suaminya.


"Iya,sayang. Oouhhh..... Ssshhhhttt....". Hanafi,lebih bersemangat memainkan pinggulnya dan berhati-hati. Takutnya sang buah hati, kenapa-kenapa.

__ADS_1


Mereka berdua saling berciuman dengan mesra, membiarkan suara meja yang bergesekan. Seirama dengan suara desa-han mereka berdua.


__ADS_2