Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Sabar


__ADS_3

Yasmin, mengerjapkan bola matanya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi, sebelum berangkat mengajar. Dia, berisap-siap untuk masak dan beres-beres rumah.


Meskipun pernikahannya, tidak ada ke harmonisan. Dia, melakukan kewajiban sebagai istri. Memasak sambil mencuci baju, untungnya ada mesin cuci. Mengurangi beban, pekerjaannya.


Matanya tertuju sebuah kertas,yang bertulisan.


(Mencuci baju kerjaku,jangan di campur dengan baju lainnya)


Yasmin, menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Ck, emangnya aku kekanak-kanakan. Yang tidak tahu, apa-apa". Gerutunya dengan kesal,dia memasukkan baju Suaminya ke dalam mesin cuci. Tak segan-segan,dia melempar kasar.


"Mencuci baju suami,penuh dengan ikhlas. Biar dapat pahala,jangan di lempar-lempar". Tegur seseorang dari belakang,siapa lagi kalau bukan Hanafi.


Yasmin, langsung menoleh ke sumber suara. Ck,sejak kapan dia berada di sana? Menyebalkan sekali. Batin Yasmin, meneruskan pekerjaannya. "Masih untung bajumu,yang aku lempar. Tidak sekalian, dengan mu mas". Gumam Yasmin, berlalu melewati suaminya.


Masakannya, sudah selesai dan tertata rapi di atas meja. Dia juga,mandi dan bersiap-siap.


Setengah jam berlalu, waktunya Yasmin sarapan pagi dan berangkat kerja.


Yasmin, melirik ke arah suaminya. Tengah menikmati sarapan, pagi.


"Mas,kamu tidak takut! Jika makanan itu,ada racunnya". Ucap Yasmin, sedari tadi belum mencicipi makanannya.


Uhuukkk..... Uhuukkk...


Uhuukkk.... Uhuukkk...


"Bawa minum mas,". Kata Yasmin,yang acuh saja. Dia,mulai menyantap makanan. Tidak memperdulikan, tatapan tajam dari suaminya.


Hanafi, terbatuk-batuk mendengar ucapan Yasmin. Dia, menatap tajam ke arah Yasmin. "Sialan,awas kamu". Tatapan matanya tajam, ke arah Yasmin.

__ADS_1


"Jam berapa, pulang mengajar". Tanya Hanafi, memecahkan keheningan.


"Kepo,". Jawab Yasmin, mengangkat kedua bahunya dan mencuci piring kotor.


"Jawab pertanyaan ku, Yasmin". Bentak Hanafi, menghentikan langkah kaki Yasmin.


"Tidak perlu tau,mas. Urus saja dirimu mas, tidak usah sok mengurus diriku". Jawab Yasmin, menyunggingkan senyumnya. Heran sekali,suka mengurus orang lain. Maunya apa,sih? Sok tidak perduli,tapi kepoan.


Yasmin, mengambil tas kerjanya dan ingin keluar dari rumah. Lagi-lagi Hanafi, menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi,mas? Aku,capek terus ribut denganmu". Keluh Yasmin, dengan wajah masam.


"Siapa yang menyuruhmu, keluar dari rumah ini ha? Mau, melanggar perkataan suami". Kata Hanafi, dengan santainya.


"Mana suamiku, mas? Kamu! Gak salah kah? mas,menikahi cuman balas dendam kan. Lantas, untuk apa aku menuruti perkataan mas". Bantah Yasmin,dia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan suaminya.Tak sanggup, terus-terusan saling bertengkar dan menguras tenaga mengahadapi perkataan suaminya.


"Jangan melawan perkataanku, Yasmin. Masa cuti mu,tinggal 1 hari. Besok kamu, mulai bekerja. Jangan bilang,kamu ingin menghindari ku ha". Senyum smrik, terpampang di sudut bibirnya.


Hanafi, mengunci pintu rumah dan memasukkan ke dalam saku celananya. Rasakan kamu, Yasmin. Lihatlah,apa yang aku lakukan kepadamu.batin Hanafi, mengabaikan perasaan istrinya.


Yasmin,kalah cepat dengan Hanafi. Rupanya sang suami, diam-diam memperhatikan kunci rumah dan mencari kelengahan Yasmin.


"Mas, berikan kunci itu. Aku,mau berangkat kerja. Karena sudah bilang kepada guru-guru lainnya,jika aku mengajar hari ini. Bagaimana, dengan murid-murid ku?". Pinta Yasmin, menatap lekat ke arah suaminya. Ya Allah,apa lagi yang di lakukan pria licik ini? Aku,lalai dalam gerak-gerik mas Hanafi. Rupanya,dia sudah merencanakan ini.


"Tidak, ambilah sendiri jika bisa. Apa lagi,kunci pintu belakang. Sudah aku simpan, tempat yang aman". Kata Hanafi, memiringkan kepalanya. Mana mungkin,kamu bisa mengambil kunci rumah ini. Ayolah, aku ingin melihat aksi keberanian mu.


Apa? Dia, meminta aku mengambil kuncinya sendiri. Dihhhh...Ogah,bilang saja. Kalau mau,di pegang-pegang sama aku. Batin Yasmin, mengepalkan tangannya.


"Dihhh... Kepedean deh,mas. Bilang aja, kamu mau di pegang-pegang sama aku".

__ADS_1


"Ck,kamu yang sok Kepedean. Ambilah kuncinya,di saku celana ku. Jika tidak, kau akan terlambat". Hanafi, menepuk kantong celananya yang berisi kunci rumah. Apa kamu lupa,ini sudah jam berapa? Aaaahhh.... Menyenangkan sekali, mengerjai dirimu.


"Mas, berikan kunci itu. Jangan main-main,mas. Aku, tidak suka dengan sikapmu seperti ini. Suka sekali, semena-mena terhadap ku". Bentak Yasmine, dengan keras. Matanya, melirik ke arah jam dinding. Dia, benar-benar telat berangkat kerja.


Jangan bilang, mas Hanafi melakukan ini dengan sengaja.Batin Yasmin,dia baru sadar jika tengah dikerjai oleh suaminya. "Mas, berikan kunci rumah itu. Lihatlah,aku sudah telat untuk berangkat. Apa kata guru-guru lainnya,jika aku seorang guru. Tidak bisa datang, tepat waktu. Mas,jangan bilang ini ide licikmu".


Lagi-lagi Hanafi, tersenyum merekah dan cekikikan tertawa. "Kalau iya, kenapa? Karena aku, sangat senang. Jika dirimu,di salahkan. Apa kata guru lain dan muridmu, seorang guru tidak tepat waktu. Yah... mencerminkan kepribadian buruk". Ucap Hanafi, dengan lantang. Karena cukup terlambat, Yasmin berangkat kerja.


Barulah Hanafi, melemparkan kunci rumah di lantai. Tepat di hadapan Yasmin,yang terdiam membisu.


Mendengar ucapan sang suami, Yasmin langsung mengambil kuncinya dan berlalu pergi. Sepanjang perjalanan, Yasmin menangis kesegukan. "Kamu, benar-benar ingin menghancurkan kehidupan ku mas. Tega sekali,kamu berhati iblis. sampai kapan,kamu menyakiti terus mas. Ya Allah,tolong ubahlah sikap suamiku. jika tidak,tolong pisahkan kami". lirih Yasmin, bibirnya bergetar tangannya meremas setir motor.


************


"Ciyeee....Bu Yasmin,telat. Tumben-tumbenan, sekali. Biasanya,datang lebih awal. Apa lagi,hari senin". Kekeh guru, lainnya.


"Maklum bu, pengantin baru. Hahay...". Sahut lainnya.


"Hemmm... masih bucin-buncinnya,mau nempel terooosss". Timpal guru lainnya.


Yasmin,tak menanggapi ucapan guru lainnya. Dia,cuman tersenyum dan malu-malu. Apa yang di katakan mereka, memang salah besar. Nyatanya,sang suami ingin menghancurkan kehidupannya.


"Kenapa, sudah turun mengajar bu Yasmin? Padahal,masa cutimu ada masih". Tanya bu Wina, mendekati Yasmin.


"Hmmm...Bosan sendiri bu,suami juga ada pertemuan penting. Jadi,gak ada di rumah ". Alibi Yasmin, berusaha menutupi yang sebenarnya.


"Bu Yasmin, jangan kebiasaan telat datang. Gak baik,sama aja kamu mengajarkan murid-murid tidak disiplin". Kata Meta, tersenyum smrik.


"Huusssstttt... Namanya juga, pengantin baru. Maklum lah,masih indah-indahnya". Guru lainnya, membela Yasmin.

__ADS_1


"Maaf,lain kali tidak akan terlambat lagi. Maaf bu Meta,saya tau yang mana baik dan enggaknya". Yasmin,menghela nafas beratnya. Dia,telat karena Hanafi yang mengerjainya.


Yasmin, sudah menduga akan terjadi seperti ini. Di awal mungkin,guru lainnya dapat memaklumi keterlambatan. Jika terus-terusan, apa lagi alasan yang kuat. Ingin sekali mengeluh,jika suaminya yang melakukan hal itu. Mana mungkin,orang lain percaya dengan ucapannya. Karena orang lain, lebih mempedulikan pria licik dan berhati iblis.


__ADS_2