Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Lagi


__ADS_3

Yasmin, memandang suaminya merokok di halaman belakang rumah.


Keringat mengalir di tubuhnya yang kekar,yang bertelanjang dada.Hembusan asap rokok terlihat jelas,dia tidak melihat jika Yasmin tengah memperhatikan dirinya. Benar-benar menggoda iman kaum hawa,di tambah dengan angin sepoi-sepoi.Rambutnya bergerak terkena angin.


Yasmin, mengigit bibir bawahnya. Yang masih memandang suaminya, di ambang pintu. Sungguh pemandangan yang luar biasa, mengelus lembut perut besarnya. semoga anaknya kelak, sangat tampan seperti ayahnya.


Mata Hanafi, tertuju pada istrinya yang berbalut handuk yang menutupi tubuhnya. Rambutnya yang basah terurai,sehabis mandi.


Yasmin, mengelus wajahnya dengan tangan ala-ala nakalnya. Lalu,turun kebawah dan membuka handuknya sedikit. Memberikan kode kepada sang suami,agar masuk kedalam. Mata Yasmin, berkedip nakal dan mengigit bibir bawahnya.


Hanafi, tersenyum sumringah karena istrinya tengah menggoda dirinya. Dia langsung mematikan potong rokok, langsung melangkah mendekati sang istri.


"Aaakkhh...". Pekik Yasmin, pelan. Ketika Hanafi,mencekal lengannya. Lalu, melepaskan handuk dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Kau benar-benar menggodaku,sayang". Bisik Hanafi, mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar.


Berlahan-lahan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Hanafi menciumi istrinya tanpa terlewatkan sedikitpun.


"Sehat terus anak papah,di dalam". Kata Hanafi, mencium perut istrinya yang sudah besar. Ada tendangan kecil dari dalam, membuat dirinya terharu.


Begitu juga Yasmin, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat suaminya, menekan perut dengan lembut. Lagi-lagi ada tendangan kecil dari dalam, terdengar cekikikan tertawa dua sepasang suami-isteri itu


"Besok temanin aku USG,mas. Sudah memasuki kehamilan 9 bulan,". Kata Yasmin, mengelus lembut kepala suaminya yang manja di pelukkannya.


"Baiklah, dengan senang hati menemani mu. Coba kamu cek lagi, sayang. Siapa tahu perlengkapan bayi, masih kurang. Kebetulan kita ke kota, langsung membelinya". Hanafi, meletakkan telinganya di atas perut sang istri.


"Oke,aku akan cek ulang lagi". Jawab Yasmin, tersenyum manis.


"Sayang...". Lirih Hanafi, langsung menerkam bibir istrinya. Dia senang melihat istrinya, sangat agresif dalam bercinta. Bisa jadi bawaan hamil tua, benar-benar menikmati permainan istrinya yang memegang kendali.


"Aaahh....Aaahh...Aaah..." Suara desa-han saling bersahutan,apa lagi Yasmin merem melek keenakan.


"Aaahhh....". Des-ah Hanafi, mengeluarkan lahar panas di dalam. Mendekap erat tubuh istrinya,yang jatuh di atas tubuhnya.


Membaringkan tubuh istrinya ke samping, berlahan-lahan. Nafas mereka berdua,masih ngos-ngosan.

__ADS_1


"Biar aku bersihkan,". Bisik Hanafi, mengambil tisu dan handuk.


Tubuh Yasmin,di lap menggunakan handuk oleh Hanafi. Sesekali mengecup perut sang istri,tak sabar menggendong buah hatinya.


Terakhir bagian bawah, Hanafi membersihkan menggunakan tisu.


"Sshhhttt...". Desis Yasmin,ketika miliknya di bersihkan sampai ke dalam dan sisa cairan percintaan tadi.


Glekkk...


Hanafi, susah payah menelan salivanya. Ketika milik sang istri, sudah bersih dan menggoda dirinya.


Berlahan-lahan mendekati wajahnya,ke milik sang istri. Yasmin, merasakan hembusan nafas suaminya.


"Uughhh....Mass..!". Desis Yasmin, ketika suaminya bermain lidah di bagian bawahnya. Apa lagi Hanafi, menusuk-nusuk menggunakan lidahnya. Tubuh Yasmin, menggelinjang kegelian dan keenakan.


Gairahnya sudah memuncak lagi, walaupun tubuhnya sudah lelah. Apalah daya, karena suaminya membangkitkan gejolak gai-rah .


Tak hanya menggunakan lidah, Hanafi memainkan dua jarinya masuk kedalam dan semakin cepat.


Setelah pelep-asan Yasmin, barulah Hanafi membereskan semuanya. Tidak mau melanjutkan lagi, kasian mengganggu istrinya yang kelelahan.


************


"Yasmin, terimalah ini kado untuk anakmu". Aina, memberikan kado 1 set perlengkapan bayi. "Enak yah, jalan-jalan membawa perut mu yang besar". Dia cepat-cepat menghampiri Yasmin dan Hanafi. Sungguh pemandangan memuakkan bagi, Aina. Setelah pulang dari kota,cek kehamilan Yasmin.


"Terimakasih, Aina". Kata Yasmin, barulah Hanafi menyambut kado dari Aina. Jika tidak istrinya, berucap terimakasih. Mana berani dia, mengambil. Sama saja mengibarkan bendera perang,bisa seminggu tidak dapat jatah si Joni. "Mumpung belum brojol,jadi nikmati dulu jalan-jalannya".


"Sayang,masuk kedalam saja. Biar aku membawa barang yang di dalam mobil". Kata Hanafi, tersenyum manis.


"Hanafi,biar aku membantu kalian". Aina, langsung menawarkan diri dan mendapatkan tatapan tajam dari Yasmin.


"Tidak perlu,". Tegas Hanafi, menolaknya langsung. Seketika wajah Aina, langsung berubah menjadi masam. Dadanya naik turun mengontrol emosi, tangannya mengepal erat.


Yasmin, mendekati Aina dan tersenyum sumringah. "Walaupun kamu bertelanjang bulat, suamiku tidak akan bergairah memandanginya. Bahkan dia melihat bangkai yang bau busuk, tidak memiliki harga diri sama sekali". Kata Yasmin, dengan santainya.

__ADS_1


Setelah selesai berbicara dengan Aina, barulah Yasmin masuk kedalam. Tidak memperdulikan tatapan Aina, penuh dengan kebencian.


"Yasmin,Prita sudah melahirkan di rumah". Ucap bu Nanik, memberitahu kepadanya.


"Benarkah bu,mas aku mau ke rumah Prita". Pinta Yasmin, menoleh ke arah Suaminya.


"Kita pergi sama-sama, setelah selesai memasukkan barang ini". Jawab Hanafi, langsung.


Beberapa menit kemudian, Hanafi dan Yasmin menuju ke rumah Prita. Tak lupa memberiku hadiah untuk bayinya, tentu saja kado dari Aina.


Semakin marahlah Aina, mengetahui kadonya di berikan kepada orang lain. "Aaaarrgghh...Sialan," Gumamnya, dengan amarah yang membara.


Lagipula Yasmin, tidak sudi menerima kado dari Aina. Sampai kapan pun, tidak akan menerima sebagai teman lagi.


"Yasmin,aku memberikan kado spesial ini untuk mu. Lalu, kenapa kamu memberikan kepada orang lain?". Tanya Aina, mencegah Yasmin yang baru pulang dari rumah Prita.


"Loh, terserah akulah. Itukan jadi hakku,mau aku apain juga gak papa. Daripada aku rusak dah di buang". Jawab Yasmin, dengan santainya.


"Dasar tidak punya hati kamu, Yasmin. Pemberian orang harus di hargai dong,". Aina, menghela nafas beratnya dan berusaha mengontrol diri.


"Aku tidak mengharapkan kado darimu, sedangkan suamiku banyak uang. Bakalan aku hargai dong,apa yang di berikan orang lain kepadaku. Kecuali,bukan kamu". Kata Yasmin, tersenyum merekah. Membiarkan Hanafi, menggeleng kepalanya.


"Pak kades,apa pantas istri anda bersikap seperti itu? sungguh memalukan dan mencoreng nama baik pak kades". Sungutnya Aina, tersenyum smrik.


"Tunggu dulu,Aina? Apa katamu tadi, mencoreng nama baikku. Astaga, istriku tidak salah loh. Kamu kan memberikan kado kepada istriku,lalu sah menjadi miliknya. Terserah dia,mau di apakan Kadomu". Sahut Hanafi, dengan lantang. "Daripada nganggur gak di pake, warna pink lagi. Aku tidak suka warna itu,".


"Ck,pak kades sudah di butakan oleh cintanya Yasmin. Sehingga pak kades, tidak berpikir mana yang benar dan salah". Aina, mengepalkan kedua tangannya.


"Eee... ******, wajarlah suamiku cinta buta kepada ku ha! Karena kami sepasang suami-isteri, tidak seperti mu". Yasmin, menunjukkan jarinya tepat di wajah Aina.


"Yah...Aku di butakan oleh cintanya Yasmin dan cinta mati. Lalu,apa hubungannya dengan mu?". lanjut Hanafi, menatap tajam ke arah Aina.


"Ck, menyebalkan sekali". Gerutu Aina, berlalu pergi meninggalkan rumah Hanafi. Hatinya merasa dongkol, tidak senang melihat kebahagiaan mereka.


Terdengar cekikikan tawanya Yasmin dan Hanafi. Cibiran dari ibu-ibu lainnya, mengolok-olok Aina.

__ADS_1


"Sialan, lama-lama aku tidak betah di desa ini". Gerutunya Aina, mengacak-acak rambutnya.


__ADS_2