
Sore harinya Yasmin,tengah bergabung dengan ibu-ibu lain. Duduk di rumah tetangganya,sambil memilih daster.
Ini adalah langganan bu Nimah,menjual baju keliling. Jika ada ibu-ibu, langsung berhenti dan menawarkan dagangannya.
"bu kades,beli daster yanga ada kancing dan resleting di depan. Gampang buat nyusui anak,". Bu Nimah,mulai beraksi untuk membujuk pelanggannya.
"Benar-benar itu,bu kades. Sekalian pak kades, gampang nyusu juga". Sahut ibu lainnya. Membuat lainnya, cekikikan tertawa.
"Maaf,cuman bercanda kok bu kades". Kekeh lainnya, Yasmin juga malu-malu kucing dan tertawa kecil.
"Murah kok,100 ribu dapat 3. Bisa di gonta-ganti,gak itu-itu aja". Bujuk bu Nimah, memperlihatkan daster yang terbaiknya. "Mau yang mahal ada kok,selembarnya 50 ribu. Adem,tebal,enak pokoknya dan gak menerawang".
Yasmin,melihat daster yang harganya 50 ribu 1 daster. Memang benar bahwa kualitasnya beda,yang 100 ribu dapat 3.
"Aku ambil 3,yang 50 ribu 1. Tapi, carikan beda-beda warnanya sama motifnya". Pinta Yasmin, tersenyum.
Bu Nimah, langsung semangat 45 dan mencarikan di inginkan istri kepada desa."Silahkan di pilih,bu kades". Kekehnya.
"Wahh.. Bagus-bagus dasternya,ambil 4 deh". Kekehnya Yasmin, langsung tergiur melihat daster yang di tangannya.
"Siap,bu kades! Aku bungkus ,yah". Bu Nimah, langsung beraksi menyiapkan daster yang di pilih Yasmin. Lalu, memasukkan ke dalan kresek.
Yasmin, mengeluarkan uang 200 ribu dan tersenyum sumringah. Dengan senang hati,bu Nimah menyambut uangnya. "Laris manis,laris manis". Ucapnya, sambil mengibaskan uang ke dagangan miliknya.
"Bu kades, memang benar yah. Kalau Aina, orangtuanya kerabat dekat dengan orangtuanya pak kades? Biasanya sih, Aina cerita-cerita ke kita pas di warung". Kata bu Fitri, penasaran.
"Kata mas Hanafi, mereka cuman tetanggaan. Sama-sama merantau orangtuanya,sama orangtuanya Aina. Gak ada hubungan apa-apa,". Jawab Yasmin,apa adanya.
"Wahhh...Jadi Aina, bohong sama kita-kita". Sahut ibu lainnya,yang langsung di angguki Yasmin.
Yasmin, tersenyum smrik. Mendengar ocehan ibu-ibu, yang mengolok-olok Aina. Tidak menyukai penampilan Aina, selalu penampilan seksi dan mengumbar auratnya. Menjadi risih untuk ibu-ibu,karena suaminya melihat tubuh seksi Aina.
"Aina,kaya ibu-ibu yang sudah melahirkan. Gak suka dengan penampilannya, mentang-mentang dada dan bokong besar. Aku yakin sekali, pasti tubuhnya habis di permak". Timpal ibu lainnya, merupakan tetangga Aina.
"Mana dandannya menor sekali,behh...Persis kaya badut, bulu matanya yang centil. Iiihh....Sok akrab lagi,". Sahut ibu lainnya.
Yasmin, menikmati suasana ibu-ibu yang menjelekkan Aina. "kata mas Hanafi, ketika di kantor kepala desa. Aina, seringkali memberikan bekal makanan. Sayangnya, di kasih ke Jo. Mas Hanafi,ogah mencicipi masakan Aina". Kini Yasmin, angkat bicara juga.
"Iiihh...Jangan mau, takutnya di jampi-jampi sihir". Ibu, lainnya bergidik geli jadinya.
__ADS_1
Ibu-ibu lainnya, mempercayai Hanafi yang tak mudah di taklukkan hatinya. Walaupun begitu, Yasmin harus waspada dan berhati-hati.
**************
Malam harinya, menunjukkan pukul sembilan malam. Yasmin, merasakan perutnya terasa sakit. "Apa aku akan melahirkan yah? Tiba-tiba sakit perut dan pinggul ku". Gumam Yasmin,duduk di sofa sambil memegang pinggul bagian belakangnya.
"Kenapa sayang? Ada sesuatu yang tidak beres,". Hanafi, langsung mendekati istrinya itu.
"Tidak apa,sayang. Ayo,kita tidur". Ajak Yasmin,menarik lengan suaminya ke kamar.
Hanafi, tersenyum dan mengangguk. Membiarkan istrinya,menarik lengannya. Tetapi Hanafi, merasakan sesuatu di raut wajah Yasmin.
"Aakkhh...Huu...Huu..". Yasmin, merasakan perutnya bertambah sakit.
"Yasmin, sepertinya kamu mau melahirkan. Ayo, kita kerumah bidan". Hanafi, sudah mulai tenang.
"Sepertinya mas,tapi belum saatnya. Aakhh..Huu...Huu..". Yasmin, berusaha mengontrol nafasnya."Ssshhhhttt.... Ssshhhhttt...".
"Jangan lupa berdoa sayang,aku akan menghubungi orangtua mu. Ayo,kita ke rumah bidan". Hanafi,sigap mengangkat tubuh istrinya.
"Stop,mas! Kita tunggu orangtuaku dulu,gak mungkin secepat ini melahirkan. Pastilah lama, sampai pembukaan 10. Huu...Huu... ssshhhhttt....". Lagi-lagi Yasmin, menahan sakitnya.
Tanpa mengikuti perkataan istrinya, Hanafi tetap bersikukuh membawa ke rumah bidan. Berhalat 3 rumah saja,takut sang istri kenapa-kenapa.
"Masuk-masuk pak kades,bawa istrinya ke dalam". bidan Sri, langsung mempersilahkan masuk. sigap menangani Yasmin, langsung menceknya.
"Tenanglah sayang,ada mas di sini". Hanafi,tak tega melihat istrinya menangis dan menahan rasa sakit.
"Alhamdulillah, sudah pembukaan 6 pak. Sepertinya, tidak lama lagi akan melahirkan. Aku akan menyiapkan bersalin, istri pak kades". Kata bidan Sri, langsung di angguki Hanafi.
"Bu bidan,mana anakku". Bu Aminah, tergopoh-gopoh mendekati bidan Sri.
"Di dalam, sudah pembukaan 6. Aku mau hubungi seseorang, untuk membantu dan menyiapkan segalanya. Beritahu pak kades,bawa perlengkapan bayinya". Pinta bu bidan,belum sempat berbicara dengan Hanafi.
Pak Jamal, langsung mengangguk kepala. Masuk kedalam ruangan bersalin, bersama istrinya.
Hanafi,menghela nafas lega dan pulang ke rumah untuk mengambil keperluan lainnya. Air bening mengalir di pipinya, segera mungkin di hapus. "Jo,ikut aku". Kata Hanafi, mengajak ke rumah.
Tiba di rumahnya, tangannya Berlahan-lahan membuka pintu. Saat pergi tadi, tidak di kuncinya dan memberikan kode agar Jo diam. Takutnya Aina, benar-benar nekat dan diam-diam masuk ke dalam.
__ADS_1
Hanafi, menghidupkan lampu di ruang tamu, matanya membulat sempurna dan melihat Pemandangan menjijikkan.
"Aaakkkhh.... Toloooong.... Toloooong...". Teriak Aina, dalam keadaan acak-acakan. Menutupi tubuhnya yang polos, menggunakan kemeja Hanafi.
Hanafi, membuang muka ke arah lain. Tak lama Jo, mengikuti ke dalam bersama 2 bapak-bapak lainnya.
Jo, mendapatkan informasi tentang Aina yang keluar rumah mengendap-endap menuju rumah Hanafi.
"Aaaakkhhh.....". Aina, semakin berteriak keras. Karena idenya gagal total. Sangat memalukan karena ketahuan orang lain,bu Rt sigap maju ke depan dan menjambak rambut Aina.
"Pak kades,biar kami urus". Ucap pak Rt, yang di angguki Hanafi. Dia mengambil perlengkapan melahirkan sang istri,serta perlengkapan anaknya nanti.
"Aaaarrgghh.. Sakiiitttt.. Toloooong...Hanafi! jangan tinggalkan aku, aaakkhh....". Aina, menahan rasa sakit dan di seret paksa oleh bu Rt, keluar dari rumah.
Tangan kanan Aina, menahan kemeja Hanafi menutupi tubuh polosnya. Ada seorang ibu,yang geram dan menarik paksa kemeja penghalang tubuh Aina.
Aina, sangat jelas dengan tubuh polosnya. Suara maki-maki terhadapnya, semakin menjadi-jadi.
"Pelacuuuurr...!".
"Wanita gatel...!".
"Usir dia dari desa ini! Tidak pantas ada seorang wanita,binal di desa kita!".
"Siram dengan air kotoran!".
"Iya,seret dia!".
"Wanita tidak tahu diri,murahan!".
Byuurrrr....Byurrrrr..
Plak plak plak!
Aina,di lempari benda-benda busuk dan air comberan yang baunya menyengat.
Ibu-ibu,mengeluarkan barang miliknya Aina. Karena pemilik sewaan, meminta bantuan. Tidak pantas wanita ******, menempati rumahnya.
Diluaran sana memang heboh, memberikan pelajaran kepada Aina.Kondisi Aina, sangat memperihatinkan keadaannya. Cuman bisa meminta ampun,dan menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1