
"Ngapain pagi-pagi kesini?" Tanya Yasmin, dengan nada sinis nya. Tertuju pada tangan Aina,membawa wadah. Dari aromanya harum, rupanya opor ayam. Ck, jangan harap kamu bisa mengambil hatiku kembali.
"Yasmin,kamu tengah hamil besar. Gak bagus loh, capek-capek masak atau ngurus lainnya. Ini aku bawain masakan kesukaan mu, opor ayam". Kata Aina, tersenyum sumringah.
"Idihhh....Aku sudah tidak suka dengan opor ayam,bawa sana pulang". Yasmin, menghela nafas beratnya. Sok cari muka,tapi ada tipu muslihat di wajah mu.
"Loh,masa kamu tidak suka dengan opor ayam? Bukankah opor ayam masakan kesukaan mu,". Aina, terheran-heran jadinya.
"Dulu,memang aku menyukai opor ayam. Ketika kamu bawa opor ayam ini,detik ini juga aku gak suka". Yasmin, sedikit membentak keras.
"Hmmmmm....Ya sudah,aku masakin yang lain yah. Mau makan apa,biar aku masak?". Tanya Aina, ingin masuk kedalam rumah. Sialan,dia menolak masakan ku. Percuma dong,aku capek-capek masak sepagi ini.
"Ngapain kamu,ha? Nyolong masuk kedalam, emangnya aku ijin kamu masuk". Cegah Yasmin, lagi-lagi bersuara keras. Wahh....Belum apa-apaan, sudah berani nyolong masuk.
Sudah pasti menjadi pusat perhatian tetangganya, membuat Aina malu.
"Yasmin, pelankan suaramu. Jangan kencang-kencang, takutnya orang salah paham kan jadi malu". Tegur Aina, dengan pelan.
"Oh,kamu menegur ku Aina? Karena kencang-kencang bersuara begitu,ha? Yang malu itu kamu,bukan aku. Pagi-pagi sudah ke sini,bawa opor ayam. Bilang saja kamu, ingin bertemu dengan suamiku. Heran sekali dengan mu, tidak ada badai dan tsunami. Tiba-tiba mencari kerja di desa ini, bahkan bekerja di kantor kepala desa. Bukankah kamu seorang guru,mengajar di kota. Ngapain jauh-jauh ke sini segala,kalau bukan karena....". Yasmin,sengaja menggantung ucapannya dan melirik ke arah Hanafi. Karena Yasmin,masih marah kepada suaminya.
"Yasmin,kamu kenapa sih? Tiba-tiba berubah seperti ini,mana Yasmin yang aku kenal dulu. Niatku ke sini kerja, tidak tau rezekinya ada sini. Oke,aku minta maaf soal yang dulu-dulu. Aku mengaku salah, Yasmin. Makanya aku ke sini, uang menebus kesalahanku dan memperbaiki pertemanan kita". Bantah Aina, langsung.
"Hahahaha... Kata-katamu itu,basi. Pastilah ada maunya,kalau bukan karena". Yasmin, lagi-lagi menggantung ucapannya dan melirik ke arah Hanafi.
Hanafi, pasrah dan menerima tuduhan istrinya itu. Tidak bisa berkata apa-apa, masalah akan semakin rumit.
"Terserah apa yang kamu katakan, menuduhku macam-macam. Aku ke sini untuk memperbaiki hubungan kita, Yasmin. Cuman kamu teman baikku,plisss...Aku berusaha untuk membujukmu,agar kembali seperti dulu". Kata Aina, memasang wajah sedihnya.
"Basi! Aku tidak mau seperti dulu lagi,sama saja aku mempersilahkan benalu merusak rumah tangga ku". Yasmin, benar-benar muak dengan tipu muslihat Aina. Lebih dulu mencurigainya, pasti ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
"Aina, pulanglah. Jangan mengganggu Yasmin, dia tengah hamil besar. Sangat sensitif terhadap apapun,". Hanafi, meminta Aina pulang.
"Oh,kamu menyuruhnya pulang mas? Ck,bilang saja kamu membela dia kan. Oh, sudah pasti kamu membela karena sahabat masa kecil". Yasmin, menatap tajam ke arah suaminya.
Glekkkk...
Hanafi, mengusap wajahnya dengan kasar. Lagi-lagi salah paham,di mata istrinya.
"Yasmin,jangan menyalahkan Hanafi. Aku yang salah, tidak ada apa-apa. Langsung ke sini,lalu memasak untuk mu. Walaupun aku berniat baik, untuk kebersamaan". Aina, langsung di pihak Hanafi.
"Lihatlah mas,dia langsung berpihak kepada mu. Seakan-akan dia tidak terima aku menyalahkan dirimu, sangat serasi". Decak Yasmin, menyunggingkan senyumnya.
Aina, mencekram kuat wadah di tangannya. Ingin sekali menyirami wajah Yasmin, menggunakan opor di tangannya.
Malu itulah yang di rasakannya,banyak sepasang tetangga tertuju kepadanya. Sudah pastilah,orang lain menilainya salah paham.
Sedangkan Hanafi,cuman diam dan tidak berani membantah perkataan istrinya.
"Aku berbicara dengan fakta kan, kenapa tidak terima? Seharusnya kamu malu, Aina. Demi cintamu, rela melakukan apapun. Termasuk kamu ke sini,ck". Yasmin, benar-benar menghempas harga dirinya Aina.
Bisik-bisik tetangga mulai, sudah pasti membicarakan tentangnya. Mau tak mau Aina, langsung beranjak pergi meninggalkan rumah Hanafi dan Yasmin. Ada rasa sesak di dadanya,kenapa Hanafi tidak ada pembelaan terhadapnya.
"Kenapa mas,diam? Gak terima sahabatnya, pergi". Kata Yasmin, melipat kedua tangannya ke depan.
Hanafi, menggeleng kepalanya dan masuk mengikuti langkah istrinya. Dia harus berhati-hati mengahadapi Yasmin,karena suka marah-marah tidak jelas.
"Sayang,mau makan apa? Biar mas beli,atau masakin". Hanafi, membujuk istrinya.
"Pecat Aina,mas. Aku tidak suka dia bekerja di kantor kepala desa,sama saja kamu dan dia seringkali berduaan". Pinta Yasmin, langsung.
__ADS_1
Hanafi,menghela nafas beratnya dan memijit pelipisnya. "Maafkan aku,sayang. Yang mengurusnya bukan aku,mana mungkin sembarangan memecat orang. Maaf,mas tidak bisa berbuat apa-apa".
"Bilang sajakan,mas suka ada sahabat dekat dan 1 kerjaan. Lama-kelamaan aku tersingkir dari hatimu,". Kata Yasmin,dalam isak tangisnya.
Hanafi, sudah menduganya dari tadi. Tidak akan lama lagi,sang istri tiba-tiba menangis kesegukan.
"Sayang, jangan menangis. Aku cuman milikmu, percayalah". Hanafi, menghapus air matanya.
"Gak percaya aku,mas. Semua pria selalu berkata seperti itu, ujung-ujungnya bohong lagi". Air matanya semakin deras, Yasmin tidak mau memandang wajah suaminya.
"Ya sudah,mas beli makanan dulu. Sudah jam 7 pagi,gak sempat masak kayanya". Hanafi, mencium pipi kanan istrinya.
"Bilang saja,mau cepat-cepat berangkat ke kantor kepala desa dan bertemu dengan Aina. Suka hati ngobrol macam-macam,bisa jadi mengulangi masa lalu". Gumam Yasmin, sempat terdengar oleh suaminya.
Lagi-lagi salah di mata istrinya, bingung berkata apa.
"Yasmin,aku bekerja bukan macam-macam. Jangan asal menuduhku, perasaan ku jadi gak enak. Plissss....". Pinta Hanafi, sudah pusing melawan istrinya.
Yasmin, tidak berkata apa-apa lagi. Membiarkan suaminya pergi, membeli sarapan pagi untuk mereka berdua.
"Maafkan aku mas,aku pernah kehilangan sesosok yang aku cintai. Sekarang aku tidak mau, walaupun kamu tidak sama dengannya". Yasmin, mengelus perutnya sudah besar.
Sedangkan Hanafi,menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Seharusnya,dia tidak berbicara seperti itu. Sama saja melukai perasaannya, sebagai seorang suami harus bisa menjaga moodnya.
"Hanafi,mau kemana?". Tanya Aina, tiba-tiba menghampiri."Lalu, kenapa Yasmin marah-marah tidak jelas".
"Aina,cukup! Jangan mendekati ku, apapun alasannya. Kita memang dekat, tapi dulu. Kau paham perkataan ku,kan?" Hanafi, sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga perasaan Yasmin.
"Hanafi,kenapa kamu berubah? Aku rindu padamu,yang dulu". Lirih Aina, dengan pelan.
__ADS_1
"Satu hal yang kau ketahui,Aina. Jangan sampai kamu, macam-macam terhadap rumah tangga ku. Kalau tidak,aku mencari sesuatu untuk menyingkirkan dirimu". Tegas Hanafi, langsung meninggalkan Aina yang tengah mematung seketika.