Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Malam Pengantin,Yang Tertunda


__ADS_3

"Sampai kapan pun,aku tidak akan melepaskan mu". Tegas Hanafi, mencekal tangan Yasmin.


"Ck, omong kosong mas. Tentu saja, kamu tidak akan melepaskan ku. Karena kamu, begitu tergila-gila mencintai ku kan". Senyum smrik, Yasmin. Tidak memperdulikan tatapan tajam, dari suaminya.


"Jangan Kepedean kamu...".


"Karena aku, menikah mu karena balas dendam. Kata-kata kamu, sangat basi mas. Sangatlah basi, manik-manik mata tidak akan pernah berbohong". Yasmin, memotong perkataannya.


Hanafi, langsung mengalihkan pandangannya. Berusaha sabar, menghadapi Yasmin. Jangan sampai, terpancing dengan ucapannya.


"Kenapa diam,mas? Apa yang aku, katakan memang benar kan. Kamu, tidak pandai bersilat lidah dengan ku mas". Yasmin,tak mengalihkan pandangannya. "Ayo, kita berpisah mas. Cepat atau lambatnya,aku akan mengurus surat perceraian kita".


Yasmin, berusaha untuk sesantai mungkin. Sebenarnya, dia tak sanggup menggugat cerai ke pengadilan agama. "Tenang saja,mas. Aku, menanggung beban semuanya. Agar kamu puas, untuk membalas dendam rasa sakit di hatimu. Aku janji mas,aku siap di fitnah berselingkuh. Terserah apa yang kamu katakan,aku siap untuk pergi dari desa ini. Aku,juga siap di benci kedua orangtuaku".


"Cukup, Yasmin!! Jangan pernah berkata pisah,karena aku tidak akan melepaskan mu". Bentak Hanafi, langsung membawa Yasmin masuk kedalam kamar.


Dengan beringasnya, Hanafi langsung merobek pakaian Yasmin. Dirinya,di kuasai oleh amarah dan dendam. Tak memperdulikan teriakan dan raungan Yasmin.


Yasmin, berusaha melawan suaminya. Air matanya mengalir deras,saat sang suami menghu-jam tu-buh nya.


Hanafi, menghajar istrinya habis-habisan. Tak memperdulikan, permohonan Yasmin. Dia,terus melakukan dengan kasar. Terdengar suara desa-han, menggema di kamar. Malam pengantin,yang begitu lama tertunda. Akhirnya, sudah terlaksana juga.


Tak memperdulikan, tatapan sayu Yasmin. Tubuhnya gemeteran sudah, merasakan remuk seluruh badan. Bahkan, tubuhnya lemas tak berdaya lagi.


Awalnya Yasmin, memberontak terhadap suaminya. Lama-kelamaan,dia pasrah menerima perlakuan dari suaminya.


"Aaaaahhh.....". Des-ah, Hanafi mengakhiri permainannya. Dia, menyelimuti seluruh tubuh istrinya yang polos.


Yasmin, sudah terlelap dalam tidurnya. Dia, merasakan teramat sangat lelah. Begitu kuat tenaga suaminya,jauh di bandingkan mantan suaminya dulu.


**********


"Uughhh....". Yasmin,meringis kesakitan di bagian bawahnya. "Ssshhhhttt.....Perih sekali,badanku lemas. Sangat haus,massss... ". Lirih Yasmin, berharap sang suami mendengarnya.


Ceklekk....


Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok pria yang bertelanjang dada.

__ADS_1


Matanya, menatap tajam ke arah Yasmin.


"Massss....Haus,". Pinta Yasmin, berusaha duduk dan menahan rasa perih.


Tanpa ba-bi-bu, Hanafi mengundur langkahnya.


Beberapa saat kemudian, Hanafi membawa secangkir air putih dan memberikan kepada Yasmin.


"Makasih,mas". Kata Yasmin, sudah menghabiskan secangkir air putih.


"Masih haus,mau lagi". Tanya Hanafi,nampak segar dan seperti tidak terjadi apa-apa. Yasmin, langsung menggeleng kepalanya. "Mau aku,bentu". Tanya Hanafi, melihat istrinya susah payah turun dari ranjang.


"Tidak perlu,aku cuman mau ke kamar mandi". Jawab Yasmin, merasa tidak nyaman masih terasa sisa cairan percintaan paksa tadi.


Kaki Yasmin,mulai menyentuh lantai. Tiba-tiba dia hampir terjatuh,ke lantai. Jika Hanafi, tidak sigap menahan tubuh istrinya.


Yasmin, menahan rasa malu dan memegang erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Makanya,jangan melawan perkataan ku". Kata Hanafi,dia puas sudah membuat Yasmin lemas tak berdaya.


Sudah selesai, membersihkan diri. Yasmin,nampak kebingungan karena tidak membawa handuk. "Mas, handukku lupa bawa". Pinta Yasmin,di balik pintu.


Hanafi, langsung mengambil handuk istrinya dan memberikan kepada Yasmin.


Terlihat jelas Yasmin, malu-malu. Hanya menggunakan handuk, yang melilit di tubuhnya. kakinya masih terasa lemas,keluar dari kamar mandi.


Hanafi, langsung menggendong istrinya dan membawa ke kamar. Tak lupa,dia mengambil pakaian istri dan lainnya.


"Pelajaran untuk mu, Yasmin. Jangan coba-coba, mengatakan pisah kepadaku. Jika tidak,kamu akan aku buat tidak bisa berjalan. Lihatlah, apa yang aku lakukan kepadamu ha? Aku, melakukannya dengan kasar". Kata Hanafi, mampu menusuk hatinya Yasmin.


Yasmin,mengigit bibir bawahnya. Tangannya meremas sprei,air matanya luruh sudah. Rupanya, sang suami tidak berubah. "Kamu, jahat mas. Segitunya kah,kamu menyakiti ku". Lirih Yasmin,menangis kesegukan di atas ranjang.


Hanafi, berlalu meninggalkan kamar. menutup pintu kamarnya, dia tersandar dan mengusap wajahnya. Ada rasa sesal,apa yang dilakukan tadi. "Maaf". Lirih Hanafi, berusaha menenangkan dirinya.


************


Hari demi hari, Yasmin melakukan aktivitas seperti biasanya. Tetapi,saat ini dia penuh ketegangan. Karena Hanafi,mengajak dirinya pergi ke rumah orangtuanya sendiri.

__ADS_1


Karena Kakaknya Yasmin, datang bersama istrinya yang baru melahirkan. "Mas,". Yasmin, menghentikan langkah kaki Hanafi.


"Tidak perlu takut, bapak dan ibu tidak apa-apa. Mereka tidak akan memarahi mu,ayo". Hanafi, menggenggam jemari tangan Yasmin.


Mas, seandainya kamu seperti ini? Betapa senangnya hatiku, sayangnya cuman di luaran saja. Agar orang lain, memandang rumah tangga kita baik-baik saja. Nyatanya, penuh dengan kebohongan. Batin Yasmin, menghela nafas panjang.


Pak Jamal dan bu Aminah, menyambut kedatangan anak dan menantunya. Yasmin, bernafas lega karena orangtuanya tidak marah seperti kemarin.


"Dek, bagaimana menikah dengan pak kades? Apa dia, memperlakukan mu lebih baik". Tanya kakak iparnya, tersenyum.


"Jangan di ragukan lagi,nak. Pastilah,nak Hanafi memperlakukan adik ipar mu sangat baik". Sahut bu Aminah, langsung.


Lestari, menatap intens ke arah adik iparnya. "Yasmin,kamu tidak apa-apa? Ceritakan semuanya,dek". Lestari, merasa janggal dengan adik iparnya.


"Apa yang di katakan ibu,benar Mbak". Yasmin, berusaha tersenyum dan menahan air matanya.


"Dek,matamu tidak berbohong. Mbak tahu,apa yang terjadi". Lestari, langsung memeluk tubuh adik iparnya.


Tangis Yasmin, pecah di pelukkan kakak iparnya. Sontak membuat bu Aminah, langsung tercengang. "Astagfirullah,kalian ini. Jangan mewek seperti ini,ibu tau sekali. Kalian berdua, saling rindu". Kekehnya bu Aminah.


Yasmin, langsung menghapus air matanya. "Ibu,bisa aja. Yasmin,kangen sekali dengan mbak".


"Sama,mbak juga kangen sama kamu". Lestari, menghapus air mata adik iparnya. Kasian sekali kamu,dek. Apa yang terjadi,ya Allah.


Kediaman orangtuanya Yasmin, sangat ramai sekali. Apa lagi Yasmin,suka sekali menggendong keponakannya.


"Duhh...Adek abang, sudah pas menjadi seorang ibu". ucap kakaknya Yasmin, tersenyum.


"Doakan saja, semoga cepat hamil istriku". Sahut Hanafi, langsung. Membuat pak Jamal dan bu Aminah tersenyum sumringah.


"Aaammiiinn....". Sahut mereka bersama, sambil menikmati cemilan yang ada.


Mereka semua saling berbincang hangat dan menceritakan apapun. Terdengar gelak tawa,di ruang tamu. Sedangkan di dapur, Yasmin tengah memasak di bantu ibunya.


"Yasmin,kamu tidak menuda kehamilan kan? Kamukan tau,umur nak Hanafi tidak muda lagi". Kata bu Aminah, memecahkan keheningan.


"Yasmin, tidak menunda kehamilan". jawab Yasmin, walaupun mereka baru sekali melakukan hubungan suami-istri. Tiba-tiba saja,dia merasakan takut. Jika suaminya, meminta hak batin lagi.

__ADS_1


__ADS_2