Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Opor Ayam Jago


__ADS_3

Ueekk....Ueekk....


Hanafi, langsung muntah-muntah ketika masuk ke kantor kepala desa dan mencium aroma parfum yang menyengat.


"Sialan,siapa sih? Yang menggunakan parfum baunya tidak enak,". Gerutu Hanafi, mencuci mulutnya."Jo....Jo..!".


"Eee...Iya,pak kades! Ada apa yah, manggil-manggil?". Tanya Jo, langsung mendekati.


"Perintah semua pekerja kantor kepala desa,besok jangan ada yang menggunakan parfum. Aku tidak sanggup, muntah. Suruh mereka balik kerumah masing-masing dan ganti pakaian lagi. Jangan lupa, suruh mereka balik lagi". Perintah Hanafi, dengan tatapan tajam.


"Baik,pak kades. Akan saya laksanakan,". Jawab Jo, langsung pergi.


"Aaarghhh.... Sampai kapan aku tersiksa seperti ini,mau makan apapun perut ku selalu menolak. Harus masakan bapak mertua, baru di terima perut". Gerutu Hanafi,obat yang di berikan kepadanya tidak mempan sama sekali.


Lagi-lagi pak Jamal, memasakkan makanan untuk menantunya itu. Jika tidak di masakkan, Hanafi tidak bisa makan dan badannya bertambah lemas.


Sedangkan Yasmin,sesuka hati mau makan apapun. Tidak ada masalah, tetap seperti biasanya. Terkadang Yasmin, menyunggingkan senyumnya. Karena sang suami tersiksa,atas kehamilannya itu.


"Pak kades, sudah saya sampaikan. Mereka yang memakai parfum,pada pulang". Kata Jo, tersenyum.


"Lalu,apa kamu meminta mereka balik ke sini lagi?". Tanya Hanafi, biasanya Jo seringkali lupa.


"Waduhh...Gawat pak,saya lupa mengatakannya". Jo, menepuk keningnya. "pantesan aja pak, mereka senang sekali karena mendapatkan kabar pulang".


"Jo...!Gak mau tau,suruh mereka balik dan setelah berganti pakaian". Teriak Hanafi, sekeras mungkin. Akhir-akhir ini, Hanafi seringkali emosi kepada anak buahnya.


"Iya,pak kades". Jawab Jo, langsung pergi meninggalkan ruang kerja Hanafi. "Duhh....Pak kades, berubah menjadi seram. Dulu gak seperti ini,apa jangan-jangan terpengaruh dengan kehamilan istrinya. Kasian sekali pak kades, mendapat karmanya. Hihihihi....". Gumamnya Jo.


"Huuu.... Menyebalkan sekali,ini apa? Ada kopi di meja kerjaku, sudah di bilang tidak mau". Hanafi, langsung membuang kopinya. Rasanya mual mencium aroma kopi,jika tidak buatan istri atau bapak mertuanya.


[Sayang,makan siang tolong masakin opor ayam. Tapi, bapakmu yang masak].


Pinta Hanafi, mengirim pesan WhatsApp kepada istrinya. Dia mana berani meminta langsung,kepada bapak mertuanya. Pasti meminta bantuan kepada sang istri, sudah pasti di setujui.


[Tapi,ayam kampung yah. Biar bapakmu, menyembelih ayamnya].


Pinta Hanafi, tersenyum manis. Membayangkan saja,dia sudah kelaparan jadinya.


[Iya, mas. Semoga saja,bapak mau ya].

__ADS_1


Jawab Yasmin, menggeleng kepalanya. Lagi-lagi sang suami, merepotkan ayahnya.


[Tapi,ayam jagonya pak Ali].


Mata Yasmin, membulat sempurna membaca permintaan suaminya. Setahu Yasmin,ayam jago pak Ali adalah ayam kesayangannya.


[Astagfirullah,mas. Itu ayam kesayangannya,pak Ali. Mana mungkin mau di sembelih,yang lain aja. Dagingnya alot sekali mas,].


Rupanya Hanafi,nampak kecewa dengan balasan sang istri.


[Gak mau tau,ayam jagonya pak Ali. Kalau gak,aku gak mau makan. Di kantor kepala desa,aku muntah-muntah. Kalau gak percaya,tanya aja sama mereka di sini. Ibumu, memiliki presto ayamnya di masak situ. Pasti dagingnya tidak alot lagi, malahan empuk].


Yasmin, mengerutkan keningnya. Sang suami tiba-tiba berubah seperti anak kecil,di saat keinginannya tidak di terkabulkan. Dia tau jika suaminya muntah-muntah dan tidak makan. Badannya akan lemas, lagi-lagi infus di tangannya.


[Baiklah mas, aku coba membicarakan kepada ibu dan bapak].


Jawab Yasmin, dengan pasrah. Semoga saja ayahnya, menuruti kemauan menantu kesayangan itu.


[Baiklah,sayang. Makasih sudah mengabulkan keinginanku,i love sekebun sawit untuk mu].


Yasmin,menghela nafas beratnya dan segera ke rumah orangtuanya. "Haa..! Mas,mas, pasti ada aja merepotkan orang lain".


***************


"Pasti nak Hanafi,mau di masakin bapak yah?". Tebak lestari, cengengesan.


"Apa lagi,nak. Cuman masakan bapak doang,yang bisa di makan Hanafi. Untung menantu kesayangan, pastilah di turuti". Kekehnya bu Aminah, tersenyum.


"Hehehehe.....Tau aja,". Yasmin, cengengesan.


"Lalu,mau di masakin apa suamimu?". Tanya pak Jamal, apapun sigap mengerjakan tugas yang di perintahkan oleh menantunya itu.


"Mau di masakin opor ayam,pak". Jawab Yasmin, menggantung ucapannya dulu. Tidak mungkin langsung memberitahukan,ayamnya siapa.


"Oh,masak opor ayam. Itu gampang sekali,". Pak Jamal, tersenyum sumringah.


"Tapi,ayam kampung pak. Ayam jagonya pak Ali,". Lanjutnya Yasmin, cengengesan.


Byuuuurrrrr....

__ADS_1


Uhukk....Uhuukk


Pak Jamal, langsung tersedak karena mendengar ucapan anaknya. Air kopi di mulutnya, membasahi baju sang istri.


"Apa? Ayam jagonya pak Ali". Ucap pak Jamal, setengah berteriak.


"Bapak,basah baju aku". Gerutunya bu Aminah. "Rasakannya itu, penuhi keinginan menantu kesayangan mu". Beranjak pergi dan ingin berganti pakaian.


"Iya,pak. Kalau gak mau,gak makan katanya. Apa lagi di kantor kepala desa,mas Hanafi muntah-muntah. Entah kenapa,pak". Kata Yasmin, memasang wajah sedihnya.


"Allahuakbar....!". Pak Jamal,mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamukan tau, bagaimana pak Ali sangat menyayangi ayam jagonya. Kemana-mana di bawa,mana mau ayamnya di sembelih. Soal harga,gak masalah bagi bapak. Masalahnya pak Ali,mau gak di jual ayamnya".


"Tapi,gak salahnya pak di tanya dulu". Pinta Yasmin, merengek.


"Dituruti pak,mau cucu kita ileran nantinya. Bilang aja,kalau menantu bapak ngidam. Pastilah mau pak Ali,coba sana". Perintah sang istri,yang di angguki suaminya.


"Baiklah,bapak tanyakan dulu. Mumpung pak Ali,ada di rumah. Pastilah bermanja-manja dengan ayam jagonya,". Pak Jamal, beranjak pergi dan menuju rumah pak Ali. Cuman berhalat beberapa rumah saja, langsung sampai.


Di teras rumah, terlihat sang istri pak Ali menyapu lantai. "Ada pak Ali nya,bu". Tanya pak Jamal, langsung di beritahu ke halaman belakang rumah.


"E'ehmmm...". Pak Jamal, menegur pak Ali sekaligus teman dekatnya.


"Eee...Pak Jamal,tumben sekali ke sini. Ada apa,hemmm..?". Tanya pak Ali, sambil memberikan makan ayam jagonya.


"Pak Ali,aku ada hal penting dengan mu. Ini sangat penting sekali,". Pak Jamal, merasa tidak nyaman dengan temannya.


"Hal penting? Katakan apa, jangan buat temanmu ini penasaran". Kekehnya pak Ali,duduk di samping pak Jamal.


"Pak Ali,menantuku lagi ngidam dan minta aneh-aneh". Kata pak Jamal,mulai basa-basi.


"Oh,pak kades yah. kasian sekali dia, tersiksa dengan kehamilannya. Waktu itu,ada urusan penting ke kantor kepala desa. Wajahnya pucat,cium bau parfum muntah-muntah". Kekehnya pak Ali. "Yang sabar yah, apapun yang di inginkan menantumu. Itu harus di turuti kemauannya,pemali katanya".


"Justru itu,pak Ali. Menantuku minta opor ayam kampung, tapi ayam jagonya pak Ali. Tuh,yang itu". Tunjuk pak Jamal,ke arah ayam jago kesayangan temannya.


"Allahuakbar,pak Jamal!". Pak Ali,syok mendengarnya. Mana mungkin ayam jagonya,di sembelih dan di masak opor ayam.


"Aku tidak setuju pak Jamal,masa ayamku jadi ikutan kena korban".


"Mau gimana lagi,pak. Ini menantuku yang ngidam,kata pak Ali harus di turuti". Wajah pak Jamal, langsung berubah sedih.

__ADS_1


Glekk...


Pak Ali, memandang ayamnya dan di potong-potong. Lalu, berubah menjadi opor ayam. "Huaaaaaa.....!". Tariak pak Ali, menggelegar.


__ADS_2