
Braakkkk.....
Yasmin dan Hanafi, melonjak terkejut. Entah siapa,membuka pintu rumahnya begitu keras.
"Astagfirullah, siapa mas?". Ucap Yasmin, langsung beranjak berdiri.
"Biar aku, yang duluan". Hanafi, mencegah Yasmin lebih dulu menuju pintu rumah.Yasmin mengangguk dan mengekori dari belakang
Hanafi, mengerut keningnya. Saat melihat, kedatangan anak bu sukma.
"Leha, ngapain kamu ke sini". Tanya Hanafi, menatap tajam kearah wanita di hadapannya.
Apa,yang di rencanakan nya? Sepertinya,menarik jika aku diam saja dulu.
Yasmin, menatap lekat ke arah wanita di hadapannya. Matanya sembab,karena menangis. Siapa dia? Kenapa, penampilan acak-acakan. Batin Yasmin,melirik ke arah suaminya.
"Nak Leha,ayo pulang". Bu sukma, menarik lengan anaknya.
Oh,jadi anaknya bu sukma. Batin Yasmin, menghela nafas.
"Pak kades,jangan percaya dengan wanita itu. Dia, sangat licik pak. Pasti,dia menggunakan susuk. Agar pak kades, terpincut dengan janda gatal itu". Teriak Leha, menghempas cengkalan tangan ibunya.
Mendengar ucapan anak bu sukma,tentu Yasmin langsung naik pitam amarahnya.
"Astagfirullah,jaga ucapanmu. Jangan sembarang fitnah,aku. Emangnya,kamu punya bukti ha". Bentak Yasmin, ingin sekali menampar mulutnya agar bungkam.
"Maaf,pak kades. Anakku, sudah membuat keributan". Bu sukma,jadi gelabakan karena ulah anaknya.
"Aduhhh...Bu sukma,bawa anak mu pulang". Tegur tetangga sebelah rumah, Hanafi.
"Anakmu, ada-ada saja bu sukma. Bawa pulang,jangan bikin keributan".
__ADS_1
"Sama saja, anakmu mengganggu ketenangan orang lain. Apa lagi, dengan pak kades".
Banyak lagi, cibiran dari orang-orang sekitar. Bisik-bisik terdengar, menjadi pusat perhatian.
"Tidaaaakkkk...Aku, tidak fitnah. Buktinya,banyak ibu-ibu di sini mau menjodohkan pak kades dengan anak mereka. Tetapi,pak kades tidak mau dan malah menganggap sebagai gurauan. Sekian lama, Yasmin datang ke desa ini. Yang berstatus janda,lalu tidak lama. Malah pak kades,mau menikahinya. Apa lagi,jika wanita itu memiliki susuk dan menggoda pak kades". Teriak Leha, dengan tatapan tajam dan matanya memerah. Rasakan kamu,******. Sudah berani merebut calon suamiku. Pasti, orang sekitar akan memandang mu buruk.
"Kurang ajar sekali kamu,ha! Mengatakan diriku, wanita tidak benar". Teriak Yasmin, tidak tinggal diam. Astagfirullah, kenapa aku berurusan dengan orang seperti ini.
"Astagfirullah,sabar Yasmin. Jangan terbawa emosi,". Tegur Hanafi, menahan Yasmin. Sangat mengasikan, bagaimana Yasmin? jangan harap,aku menolong dan membantu mu.
"Lepas,mas!! Jangan bilang kamu,membela wanita gila ini. Berani sekali dia, memfitnah ku mas". Yasmin, berusaha melepaskan cengkalan tangan suaminya. Tunggu dulu,kenapa mas Hanafi tidak melakukan sesuatu. Bukankah,dia kepala desa. Lalu... Astaga,apa dia benar-benar membiarkan aku di pandang buruk oleh orang lain.
"Wahhh... Kurang ajar sekali,kamu mengatai anakku gila". Bentak bu sukma,tidak terima. Lihatlah, pak kades tidak membantu Yasmin. Tanggung sendiri,rasa malu ini.
"Iya,memang anak ibu gila. Buktinya,dia tergila-gila dengan pak kades". Sahut Yasmin,yang sudah terbawa emosi. "Kenapa diam,mas? Jangan-jangan,kamu senang aku di fitnah seperti ini". Delik mata Yasmin, tertuju pada suaminya.
"Kalau iya, kenapa?hemmm...". Bisik Hanafi, menyeringai tajam. Tidak memperdulikan, bagaimana perasaan istrinya.
Yasmin, merasakan sesak di dada. Air Matanya mengalir deras, begitu tega suaminya kepada dirinya. Sang suami, santai tanpa ada pembelaan. "Tega kamu,mas. Aku, benar-benar kecewa kepada mu. Hatiku benar-benar sakit, sangat sakit. Puassss...kamu puas,mas". Yasmin, berlarian masuk kedalam.
"Ck, dasar janda gatal,kemana kamu ha? Benarkan,kamu memikat pak kades menggunakan susuk. Cuiihh....Mana tadi, sok-sokan ngatain aku gila". Leha, tersenyum kemenangan.
Percuma bagi Yasmin, melawannya. Nyatanya,sang suami diam dan tidak membela dirinya. Lebih baik menghindari, tidak perduli dengan kata-kata orang lain. Yang jelas,dia tidak benar melakukan hal itu. Seandainya,ada pilihan lain. Dia juga , tidak mau menjadi istri Hanafi.
"Leha, cukup!! Kamu, sudah membuat ibu malu". Bentak bu sukma,kepada anaknya. "Lihatlah, Yasmin sudah di permalukan. Ayo, kita pergi". Bisiknya.
Bu sukma,menarik tangan anaknya. Tidak memperdulikan tatapan, orang-orang sekitar. Pastilah ,dia jadi bahan pembicaraan orang-orang. Karena anaknya, membuat keributan di rumah pak kades.
"Huuuu.... Dasar wanita penggoda,janda gatal". Maki, Leha dengan nyaring.
"Cukup, pulanglah. Bawa anak bu sukma,tidak enak dipandang orang lain". Pinta pak kades.
__ADS_1
"Pak kades, hati-hati dengan wanita penggoda itu. Takutnya, dia merampas harta kekayaan pak kades". Ucap Leha, sebelum pergi.
"Pak kades, maafkan anak ibu. Dia, sudah keterlaluan sekali kepada istrimu". Bu Sukma, meminta iba kepada Hanafi.
"Sudahlah,bu. Pulanglah,jangan membahas ini lagi". Jawab Hanafi, tersenyum. Seakan-akan tidak ada masalah, apapun. Dengan santainya, Hanafi masuk kedalam rumah.
Hanafi, langsung masuk kedalam kamar. Dia, mencari Yasmin. Akan tetapi, tidak ada. Di dapur,juga tidak. "Kemana,dia?". Gumam Hanafi, tetapi matanya tertuju pada kamar mandi.
Dia, mencoba mendekati pintu kamar mandi dan terdengar suara tangisan di dalam. Hanafi, ingin membuka handle pintu. Tetapi,di urungkan niatnya. Dia, langsung berubah jadi benci. Di saat mengingat, Yasmin menolak lamarannya dulu. "Ck, untuk apa aku peduli dengannya".
Hanafi, menjauhkan diri dari pintu dan duduk di kursi. Sambil menunggu Yasmin, keluar dan tidak sabar mengejek-ejeknya habis-habisan.
***********
Tiga jam, berlalu.
Tetapi Yasmin, tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sedangkan Hanafi, mencoba tenang. Padahal dia, tengah gelisah dan mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Azan zhuhur,berkumandang nyaring. Yasmin,keluar dari kamar terbuka dengan keadaan memprihatinkan. Matanya tertuju ke arah lain, melongos melewati suaminya.
Yasmin,masuk kedalam kamar dan sholat sendiri. Tanpa ada suaminya, mulutnya bergetar membaca doa-doa dan di sertai buliran air mata mengalir.
"Bagaimana, pertunjukan tadi Yasmin? Jangan harap,aku membelamu. Malahan, aku senang melihat mu sakit hati dan di permalukan". Ucap Hanafi, setelah Yasmin selesai sholat.
Hanafi, sedari tadi tidak sabar mengejek-ejek Yasmin. Akhirnya, tersampaikan juga.
Yasmin,meremas mukenanya dan membalikkan badannya. Dia,harus melawan ucapan Hanafi. Tidak memperdulikan,jika itu suaminya sendiri.. "Ck,kamu memang berhati iblis mas. Demi balas dendammu, terbayarkan. Jangan sampai kamu, menyesal nantinya".
"Ckckck... Menyesal apa, Yasmin? Yang jelas,aku tidak melakukan apapun". Jawab Hanafi, dengan entengnya.
"Terserah,apa katamu mas. Lakukanlah,apa yang kamu mau. Apapun,agar kamu senang dan balas dendam mu terbalaskan. Sampai kamu puas,atau bunuh saja aku". Yasmin, menatap tajam ke arah suaminya.
__ADS_1
"Iya,aku akan melakukan apapun untuk balas dendam Yasmin". Ucap Hanafi, menyeringai tajam.
"Lakukan mas,satu yang aku pinta kepadamu. Tolong, jangan buat orangtuaku kecewa dan sakit hati. Sudah cukup aku, menoreh luka kepada bapak dan ibu". Pinta Yasmin,dia pergi dan keluar dari kamar. Tak sanggup, berlama-lama bersama suaminya. Yang selalu, menciptakan luka baru.