
"Barusan menghubungi siapa,mas?". Tanya Yasmin, penasaran.
"Kepo!". Hanafi, terkekeh.
"Iiissshhh.... Nyebelin banget sih! Katakan mas,siapa yang kamu hubungi?". Tanya Yasmin, melorotkan matanya.
"Kepo!". Jawab Hanafi, cengengesan.
"Iiissshhh....Awas kamu yah,mas." Yasmin, langsung mencubit perut suaminya.
"Aaauukkk....Auuuk..Auuukk... sakiiitttt.... Sakiiitttt....Iya,aku jawab sayang. Tapi, lepasin dulu cubitan kamu". Pinta Hanafi,meringis kesakitan.
"Makanya mas,jangan meledek ku". Sungutnya Yasmin, langsung melepaskan cubitan. "Cepat,siapa yang mas hubungi tadi?". Jiwa penasaran Yasmin, meronta-ronta.
"Eee...Kepo! Iya,iya...Mas,akan jawab. Ampun sayang, ampun". Hanafi, langsung memeluk tubuh istrinya. Memegang tangan Yasmin, begitu erat. Takutnya di cubit istrinya,lagi.
"Mas, lepaskan tanganmu. Menyebalkan sekali,kamu mengerjai ku yah". Yasmin, memberontak di bawah Kungkungan suaminya.
"Nah,kalau seperti ini! Kamunya gak bisa ngapa-ngapain,sesuka hatiku melakukan apapun". Kata Hanafi, tersenyum smrik.
"Jawan dong, pertanyaan ku tadi". Wajah Yasmin, langsung berubah masam.
"Bakalan aku jawab, asalkan lepasin semua pakaian ku". Tantang Hanafi, menyunggingkan senyumnya.
"Mas, kamu ada-ada saja". Wajah Yasmin, sudah memerah merona.
"Loh,kalau gak mau! Gak bakalanku jawab, pertanyaan mu tadi". Kekehnya Hanafi, melihat sang istri malu-malu kucing. "Ngapain malu,sayang. Bukankah sudah seringkali melihat tubuh polos ku". Bisik Hanafi,di telinga Yasmin.
"Menyebalkan sekali,makin ke sini makin mesum". Yasmin,membuang muka ke arah lain.
"Dede gemesnya, pengen di elus-elus oleh mu. Persis kaya malam kemarin, ketagihan di elus-elus". Kedip mata Hanafi, mengecup sekilas di bibir Yasmin.
"Gak mau,mas. Tolong jangan di ingatin, aku malu". Yasmin, menepis tangan suaminya. Ketik sang suami, menuntun ke arah dede gemesnya.
"Pengen di elus-elus,sayang". Bisik Hanafi, dengan suara seraknya. Lalu, mengecup bibir Yasmin. Lama-kelamaan, ciuman semakin agresif. Gairah sama-sama memuncak, ingin lebih dan lebih.
Yasmin, mengikuti permainan suaminya. Malu-malu mau,mengelus dede gemes milik suami. Sudah mengeras,berurat dan siap meluncur.
"Aauuukkk...Jangan di gigit,mas... ssshhhhttt.... Ssakkkiiitt...". Desis Yasmin, ketika Hanafi mengigit ****** melonnya.
"Hehehehe....Maaf,aku gemes sayang". Hanafi, tersenyum manis dan melanjutkan permainannya.
__ADS_1
"Aaahhh...Masss.... Sshhhttt....Oouughh...". Tubuh Yasmin, meliuk-liuk merasakan sensasi yang luar biasa. Ketika Hanafi, semakin cepat memainkan jarinya di bawah sana.
Tak lupa memberikan jejak di leher Yasmin, kepalanya mendongak ke atas. "Aaaahh...Mass.... Hhhmmmpptt.... Oouughh....".
Nafas Yasmin, ngos-ngosan jadinya. Matanya sayu, menatap sang suami.
Hanafi, tersenyum puas karen sang istri sudah mendapatkan puncaknya.
Dering ponselnya berbunyi, tertera nama Aina.
"Siapa mas,yang nelpon?". Tanya Yasmin, masih ngos-ngosan.
"Tidak penting, sayang. Sekarang giliran ku,". Hanafi, langsung ******* bibir istrinya dengan lembut.
Permainan semakin panas, penuh semangat menghujam tubuh istrinya. Suara desa-han menggema di kamar, tentu saja terdengar oleh Aina. Karena Hanafi, sengaja mengangkat telponnya dan membiarkan mendengar mereka bercinta.
Ini pelajaran kepada mu, Aina. Yang sudah membohongi ku,batin Hanafi.
Matanya tertuju pada ponselnya, masih menyambung telepon. Rupanya Aina,masih bertahan mendengar suara desa-han mereka berdua.
"Massss...Hanafiii...Aaahhh.... Hhhmmmpptt...". Yasmin, mencekram lengan kekar suaminya itu.
"Yahh... Panggil namaku,sayang. Aku suka sekali, sangat seksi suara desa-han mu". Racau Hanafi, sengaja memanasi Aina.
Kemungkinan tidak tahan lagi, Aina langsung mematikan panggilannya.
************
Yasmin, terbangun dalam tidurnya. Mengerjapkan bola matanya, entah jam berapa sekarang. "Astaga, kenapa masih menancap". Gerutu Yasmin,milik suaminya masih di dalam. Dia membangunkan Hanafi, menggoyangkan lengannya.
Yasmin, sedikit bergerak membangunkan suaminya. Hanafi, memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Tak lupa miliknya,masih bersarang di gawang Yasmin.
"Ada apa, sayang? Mau lagi,hmmm...". Tanya Hanafi, matanya terpejam dan merasakan miliknya mengeras lagi.
Sontak membuat Yasmin, terkejut karena merasakan sesuatu yang tegang di dalam miliknya. Hanafi, mulai menggerakkan pinggulnya.
"Mas, jangan sekarang. Aaahhh.... Cabut mas,aku mau pipis. Nanti malah,pipis di sini. Aaahh..... Hhhmmmpptt....Mas,cabut". Rengeknya Yasmin, akhirnya Hanafi melepaskan miliknya.
"Setelah selesai,main lagi. Lihatlah punya ku, sudah mengeras dan mengkilat karena cairan milikmu". Ucap Hanafi, cengar-cengir.
"Dasar mesuuuummm!". Kata Yasmin, menghilang dari pandangannya.Tak lupa Yasmin, menyelimuti tubuhnya yang polos dengan selimut.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Yasmin sudah kembali ke dalam kamar. Rupanya Hanafi,duduk bersandar di tepi ranjang.
"Duduklah di pangkuan ku,". Pinta Hanafi, menepuk pangkal pahanya.
Yasmin, mengangguk kepala."Sekali aja mas,aku lelah". Cicitnya yang di angguki sang suami.
"Masukin,enak gaya beginian". Kekehnya Hanafi, menuntun miliknya dan...
"Aaahhh.... Pelan-pelan, hhmmmmpptt...". Des-ah Yasmin,ketika milik suaminya menancap tegak."Ooughhh..." sepenuhnya masuk kedalam, matanya merem melek.
Hanafi, semakin bersemangat memainkan pinggul istrinya naik turun. Yasmin, sudah kehilangan tenaga dan lemas. Biarkanlah suaminya,yang memegang perannya.
**************
Pagi harinya, Hanafi bertempur dengan alat masaknya. Sedangkan Yasmin,belum bangun tidur.
Beruntung sekali hari ini, Hanafi libur bekerja. Bisa melayani istrinya dan memasak untuk sarapan pagi.
Tak lupa Hanafi,mencuci pakaian miliknya dan Yasmin. Sangat mudah sekali,tinggal di masukkan ke dalam mesin cuci.
Dering ponsel Hanafi, membangunkan Yasmin.
(Assalamualaikum,bang Hanafi. Hikss....Hiks ..Hiksss ..Aku,aku di perkosa bang. Tolongin Aina,bang! Hiks...Hiks...)
Yasmin, terkejut mendengar ucapan temannya itu. "Astagfirullah, Aina! Apa benar,yang kau katan". Tanya Yasmin,masih tidak percaya sepenuhnya.
(Yasmin! Ini kamu,mana bang Hanafi? Berikan ponselnya kepadanya,aku tidak ada urusan dengan mu. Gara-gara kamu, mencegah bang Hanafi ke sini. Aku,aku di perkosa. Ini semua kesalahan mu, Yasmin). Caci maki, Aina.
"Tidak akan, Aina. Kamu berbohong,mana mungkin itu terjadi. 1 yang aku inginkan,jangan mengganggu ketenangan rumah tangga kami. Mas Hanafi,cuman menganggap sebagai teman. Itu semua tidak lebih, Aina. Aku benar-benar kecewa kepada mu, begitu tega kah dengan temanmu. Munafik kau, Aina". Yasmin, sudah tak sanggup menahan dirinya.
"Sayang,kenapa teriak-teriak? kamu, tidak apa-apa". Tanya Hanafi, bergegas mendekati istrinya. Matanya tertuju pada ponsel, rupanya Aina menelponnya kembali.
"Aina,kenapa kamu suka sekali mengganggu ku. Jujur saja kepadaku,kamu berbohong perihal ibumi. Nyatanya ibumu, sudah meninggal dunia. Aku sempat bertanya-tanya,kepada orang di dekat rumah mu kemarin". Tegas Hanafi, rahangnya mengeras seketika.
(Bang,aku di perkosa. Hikss....Hiks.... Begitu tega sekali kepadaku,bang. Apa karena Yasmin, mencegah dirimu ke sini. Aku takut bang, takut. Hiks....Hiks...). Aina, terisak-isak dalam tangisnya.
"Jangan bodoh, Aina. Ada dua orang sudah membantu tempat tinggal mu,mereka suruhan ku. Kau tahu, apa yang di katakan mereka. Kamu sengaja membawa pria masuk kedalam rumah,lalu aku tidak tahu? Seandainya,aku tiba-tiba ke sana. Kemungkinan besar,aku di jebak oleh mu". Ucap Hanafi, langsung memutuskan panggilannya.
"Sabar yah,mas. Aku tidak tahu,kenapa Aina seperti itu? Sungguh mengerikan sekali,". Yasmin, bergidik ngeri.
Hanafi, memeluk erat tubuh istrinya. Memberikan ciuman bertubi-tubi di wajahnya, mengelus lembut pipi sang istri.
__ADS_1