
"Pak kades,maaf mengganggu". Ucap Lela, cengengesan. "Ini bekal untuk,pak kades".
Lela, menyodorkan bekal makanan untuk Hanafi. Tetapi, Hanafi ragu untuk mengambilnya. Namun matanya,melirik ke arah Yasmin. "Makasih,Lela". Hanafi, terpaksa menerima bekal makanan dari Lela. Hanya membuat Yasmin, cemburu saja.
Yasmin, bersikap biasa saja. Toh, untuk apa cemburu segala.
"Sekian lama, akhirnya pak kades menerima bekal makanan dari ku". Lela, tersipu malu-malu. Membuat Yasmin, ingin muntah mendengarnya. "Aku, lihat-lihat pak kades tidak di buatkan bekal oleh istri mu. Apakah istri pak kades, tidak becus menjadi seorang istri". Sindir Lela, melirik ke arah Yasmin.
"Eleh-eleh...Sok tau,". Sahut Yasmin, berlalu pergi saja.
"Ya sudah, aku pamit untuk mandi". Hanafi, berlalu meninggalkan Lela. Dia, meletakkan bekal makanan di meja.
"Yakin,kamu makan mas?". Tanya Yasmin, langsung.
"Jelaslah,aku makan di kantor kepala desa nantinya. Kenapa,kemu cemburu". Hanafi, tersenyum smrik.
"Idihhh....Gak jelas, ngapain cemburu pada wanita gila itu". Jawab Yasmin,dia menumis sayur kangkung.
Hanafi,menghela nafas dan berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Mata Yasmin, memandang ke arah bekal makanan Lela. "Sepertinya,aku memiliki ide. Bagaimana,jika aku menambah kan terjadi udang di tumis kangkung. Katanya,mas Hanafi alergi udang. Rasain kamu,mas. Sudah waktunya,aku membalas". Yasmin, langsung melancarkan aksinya. Dalam hatinya, tertawa lepas.
Masakan Yasmin, sudah tertata rapi di meja makan. Begitu Hanafi, sudah siap dengan baju dinasnya.
Mereka berdua, menyantap makanan di meja. Hanafi, tidak menaruh rasa curiga kepada Yasmin. Dia, begitu lahap menyantap tumis kangkung yang sudah bercampur dengan terasi udang.
Yasmin, tidak sabar. Apa yang terjadi, selanjutnya. Apakah,terasi udang bisa terpengaruh dengan elergi. Takutnya, malah tersia-siakan dan gagal mengerjainya.
Selesai makan, Hanafi membawa bekal makanan dari Lela.
************
Sesampai di kantor kepala desa, Hanafi merasakan tubuhnya gatal-gatal. "Aissss...Kenapa tubuhku, gatal-gatal seperti ini? Aku, tidak memakan udang". Gerutu Hanafi, tidak konsen dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Sial,mana bintik-bintik merah lagi. Aaaarrgghh... Alergi apa,lagi? Apa aku,alergi tumis kangkung lagi". Hanafi, langsung meminum obat gatalnya.
Bekal makanan dari Lela, langsung di berikan kepada pak koko. Biarkanlah,orang lainnya memakannya. Tak Sudi rasanya,memakan bekal dari Lela. Takutnya,ada jampi-jampi sihir.
"Pak kades,ada seseorang menemui anda". Kata pak koko,yang langsung di angguki hanafi.
Tak berselang lama, seseorang masuk ke dalam. Seorang wanita cantik, tersenyum manis.
Sedangkan Hanafi, tersenyum kecil dan mempersilahkan duduk.
"Ini data-data yang di minta pak kades, makasih banyak atas bantuannya". Ucap wanita itu, tersenyum manis.
"Sama-sama, semoga betah tinggal di desa ini dan semoga lancar usaha laundrynya". Kata Hanafi, tersenyum.
"Makasih,pak kades. Saya permisi dulu,". Ucap Rosella, langsung di angguki Hanafi.
Berjam-jam Hanafi, menyelesaikan pekerjaannya. Waktu menunjukkan pukul,satu siang. Dia, bergegas pulang ke rumah. Tak lupa,dia menahan rasa gatal pada tubuhnya. Alerginya,tak kunjung hilang.
"Saya, ingin berbicara dengan pak kades. Tanpa ba-bi-bu lagi, jangan pernah menyakiti Yasmin". Tegas Faris, sorot matanya menyeringai tajam.
"Lalu,apa bedanya dengan anda. Membayar seorang pria,lalu melecehkan istrinya. Ck, munafik". Kata Hanafi, tersenyum smrik.
"Brengseeekk....". Faris, mencekram kerah baju Hanafi. Tetapi, langsung di tepis Hanafi dan mendorong tubuh Faris.
"Kenapa, tidak terima mantan istrimu aku sakiti? Tenang saja, sampai kapan pun. Aku, tidak akan melepaskannya. Jangan macam-macam, kepadaku. Aku, bisa melakukan apapun. Termasuk, menyeret mu pergi dari desa ini". Hanafi, langsung masuk kedalam mobil pick up nya.
"Sialan....". Faris, mengacak-acak rambutnya. "Dek, maafkan mas. Tidak bisa, menolong mu dan membebaskan diri mu daru jeratan pria iblis itu". Gumam Faris, mengepalkan kedua tangannya.
************
Ting....Ting...Ting...
"Bakso....!!". Teriak Yasmin bersamaan dengan tetangganya,saat tukang bakso keliling lewat.
__ADS_1
"Eee... Kita sama,mau manggil bakso. Kenalkan Rosella, tetangga baru sebelah rumah ini". Dia, mengulurkan tangannya.
Yasmin, mengangguk dan menyambut uluran tangan Rosella. Rumah mereka, cuman berhalat satu buah rumah. "Yasmin,".
"Oh,jadi kamu istrinya pak kades. Pantesan saja,pak kades menyukaimu. Rupanya cantik dan masih muda. Oh iya,aku buka laundry di rumah". Rosella, memberitahu pekerjaannya.
"Wahhh... Semoga lancar,usahamu. Salam kenal, Rosella. Mang, baksonya dua bungkus". Pinta Yasmin, menatap ke arah suaminya yang baru datang.
"Salam kenal balik,mang dua bungkus juga". Pinta Rosella, menatap intens ke arah Yasmin. Sebenarnya, Yasmin merasa risih dengan tatapan tetangga sebelahnya itu.
Setelah selesai, Yasmin langsung pergi. Tetapi, langsung di tahan oleh Rosella. "Makan baksonya, barengan yuk. Di teras rumah ku,atau di teras rumah mu".
"Gak,aku mau makan sama suami. permisi dulu, kapan-kapan saja". Tolak Yasmin, langsung.
sesampai di rumah, Yasmin menyiapkan bakso dan menuang ke mangkok. "Aaakkkhh....". Pekik Yasmin,saat tangannya di tarik paksa oleh Hanafi.
"Berani sekali,kamu mengerjai ku ha!!". Bentak Hanafi, semakin erat mencengkram tangan Yasmin.
"Auuukk...Sakit mas, lepaskan tanganmu. Aku, tidak paham apa, maksud mu". Yasmin, meringis kesakitan.
"Lihatlah, tanganku dan seluruh tubuh ku. Banyak sekali bintik-bintik merah, karena alergi terhadap udang. Atau jangan-jangan,kamu mengerjai ku. Tidak perlu,kamu berbelit-belit Yasmin". Bentaknya lagi, dengan suara menggelegar seisi dapur.
"Jangan menuduhku macam-macam,mas. kamu,ada bukti aku yang melakukannya ha? Bukankah,kita makan sama-sama dan aku tidak memasak udang. Palingan bekal Lela,yang kamu makan. Terus ada udangnya,jangan mengelak perkataan ku. Aku paham sekali,kamu berusaha menuduhku macam-macam". Ucap Yasmin, langsung memalingkan wajahnya. Rupanya Hanafi,hanya menggunakan handuk melilit di pinggangnya.
"Jangan memfitnah orang lain, Yasmin". Elak Hanafi, membela Lela.
"Baiklah,aku buktikan sendiri. Jika aku, tidak bersalah. Pakai baju mas,kita temui Lela. Barani tidak mas,jika tidak mas sengaja menuduhku sembarangan". Kata Yasmin, tersenyum smrik. Dia, sudah merencanakan untuk melawan suaminya.
"Tidak perlu,kali ini kau selamat Yasmin". Hanafi, langsung menolaknya. Karena dia,tak ingin kebohongannya terbongkar. Karena dia, tidak memakan bekal Lela.
"Ck, pengecut kamu mas. Atas keteledoran dirimu sendiri,terus menuduhku macam-macam. Tega sekali kamu,pas". Teriak Yasmin, sekuat tenaga. "Pergi sana mas,aku muak melihat wajah mu sok belagu itu. Selalu mencari kesalahan,agar kamu bisa menindas ku lagi. Jangan harap,aku cuman tinggal diam. Sama saja,kamu mengibarkan bendera perang".
Hanafi, langsung diam dan tidak berbicara apapun. Tangannya, ingin meraih semangkok bakso. Tetapi, Yasmin langsung menepis tangannya. "Ngapain kamu,mas? Ini bakso ku, takutnya kamu memfitnah diriku lagi. Sana, belilah sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan memasakkan untuk mu lagi". Tegas Yasmin, langsung pergi dan membawa dua mangkok bakso.
__ADS_1