Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Menemui Yasmin


__ADS_3

"Yasmiiiinn.....ini mas, Yasmiiiinn....keluar yasmiiiinn....". Teriak Faris,di luar dan menggedor-gedor pintu.


Yasmin, ingin melangkah untuk membukakan pintu. Karena hari sudah malam, tetapi di cegah pak Jamal.


"Diam di kamar,jangan keluar . Biar bapak, mengurusnya. Kamu, ingin balikan lagi dengan pria bejat itu ha". Seringai tajam, pak Jamal.


Yasmin, menggeleng kepalanya. "Tidak,pak. Yasmin, meminta mas Faris pergi". Huuuff... Untuk apa lagi,mas Faris datang. Sama saja, mencari masalah baru.


"Ck, jangan keluar. Jika kamu,keluar sama saja memberikan harapan kepadanya". Bentak pak Jamal, kini Yasmin mengundurkan langkahnya dan masuk kedalam kamar.


"Pak, pergilah dan usir Faris dari sini. Tidak enak,di lihat tetangga lainnya". Kata bu Aminah, merangkul pundak Yasmin.


"Bu, Yasmin tidak akan pernah kembali lagi. Dulu,jika bukan kalian untuk memberikan kesempatan kepada mas Faris. Kemungkinan, Yasmin tidak mau pak,bu. Demi menghormati kalian, Yasmin memberikan kesempatan lagi". Ucap Yasmin, tertunduk sambil meremas ujung bajunya


Pak Jamal, tersenyum dan membuka pintu rumahnya. Namun, di tutup kembali.


Faris, setengah ketakutan menghadapi pak Jamal. Para tetangga sebelah, tengah sibuk menonton saja. Syukurlah,aku di bukakan pintu. Berarti,ada harapan untuk kembali kepada Yasmin.Batin Faris, menghela nafas lega.


"Pak, Faris mohon ampun. Ijinkan, Faris kembali kepada Yasmin. Faris,mohon pak". Faris, bersimpuh di kaki pak Jamal. Ayo, Faris. Kamu, harus bisa mengambil hati bapak mertua mu lagi.


"Pergilah, Faris. Jangan pernah, mengharapkan agar dirimu jadi menantu ku. Sampai kapan pun,aku tidak mengijinkan kembali. Walaupun, Yasmin bersikukuh untuk memperbaiki rumah tangga kalian". Tegas pak Jamal. Mau taruh dimana wajahku,jika Yasmin kembali dengan pria kurang ajar ini.

__ADS_1


"Pak, Faris minta maaf. Faris,hilaf dan tidak akan melakukannya lagi". Pinta Faris, meminta iba kepada pak Jamal. "Faris, tidak tahu kenapa? Pria itu, nekat melakukan hal yang tidak senonoh. Beruntung sekali, Faris cepat waktu untuk mencegah perbuatannya pak. itu semua adalah kecepatan,pak. Faris, tidak menginginkan hal itu terjadi".


"Sekali tidak, tetap tidak Faris". Bentak keras,pak Jamal. "Gara-gara kamu,saya dan keluarga jadi malu. Sikap bejat mu,kepada Yasmin. Dimana letak akal sehatmu,ha? Karena kami,bukan orang miskin persis yang di katakan ibumu. Makanya,kamu memohon-mohon untuk kembali. Bilang saja,kamu ingin enak-enak kan". Mata nyalang pak Jamal, menyeringai.


"Pak,mohon ampun. Berikan Faris, kesempatan lagi. Faris,janji untuk menjaga Yasmin dan membahagiakannya". Kata Faris, menatap wajah pak Jamal. Bagaimana lagi,aku membujuk pria tua ini? Aku,habis akal sudah. Aaarghhh... Kenapa, seceroboh ini? Yasmin,mas benar-benar menyesal. Tolonglah,bantu mas untuk membujuk bapakmu.


"Cuiihh....Kapan kamu, membahagiakan anak ku?Dari dulu,kamu selalu menyakitinya.Kenapa, tidak dari dulu ha? Jika sekarang, sudah pasti aku tidak akan mengijinkan anakku kembali kepada mu. Apa lagi, keluarga mu yang serakah". Tegas pak Jamal, dadanya naik turun mengontrol emosi.


"Cukup,pak! Jangan menghina keluarga ku,yang serakah. Lalu,apa bedanya dengan pak Jamal. Menutupi segalanya, pura-pura miskin dan tidak mampu membayar rumah Yasmin. Nyatanya, rumah itu sudah lunas". Faris, sudah geram terhadap pak Jamal.


"Terserah aku, menyembunyikan semuanya. Karena harta ku,bukan harta Yasmin. kamu pahamkan,orang kota memang seperti itu. Selalu memandang rendah,kepada orang desa. Nyatanya, keluarga mu sok kaya raya **** jadi apa? Apa punya tempat tinggal,kamu pikir Faris. Keluarga mu,yang selalu kamu bela dan menyakiti anakku. Tetapi,kamu malah lari ke sini. Kenapa, tidak lari ke keluarga mu itu ha? Itupun,kamu ingin menggadaikan sertifikat rumah anakku. Dimana letak otakmu, tidak tahu malu". Ucap pak Jamal, meluapkan emosinya.


Faris,terdiam dan tidak mampu untuk menjawabnya. Dia,mengusap wajahnya dengan kasar. "pak, ijinkan aku kembali lagi. Jangan egois pak,jangan menghalangi kebahagiaan Yasmin. Kita impas, sama-sama memiliki kesalahan. harusnya,pak Jamal tidak berbohong kepada keluarga Faris. Sudah pasti, rumah tangga kami baik-baik tanpa ada masalah apapun. Termasuk, Yasmin tidak pernah di lecehkan pria itu.".


"Yasmiiin...Mas,kangen". Faris, langsung mendekati yasmin. Sontak membuat pak Jamal, mengepalkan kedua tangannya. Rupanya,anak bungsunya itu tidak menuruti perintahnya.


Plakkkk.....


Plaaakkkk....


Yasmin, melayangkan tamparan keras di wajah Faris. "Jangan sesekali, mengatai bapakku. Karena bapakku,beda dengan keluargamu". ucap Yasmin, langsung pergi dan masuk kedalam rumah. "Satu lagi,mas. Sampai kapan pun,aku tidak akan kembali kepada mu. lebih baik,aku menikah dengan pria lain".

__ADS_1


Faris,masih mematung di tempatnya. Tanpa sepatah katapun, pipinya terasa perih. Apa lagi, mendengar ucapan Yasmin. Dia, lebih baik menikah dengan pria lain. Di bandingkan kembali, bersamanya.


"Kamu lihat sendiri, Yasmin tidak akan memberikan kamu celah untuk kembali Faris. Masih untung,kamu di bebaskan oleh Yasmin. Berubah menjadi lebih baik,anggap saja pelajaran dalam hidupmu". Kata pak Jamal, meninggalkan Faris. Di ambang pintu, langkanya terhenti. "Ketahuilah, Faris. Yasmin, sudah aku jodohkan dengan seseorang. Yang jauh lebih baik,darimu dan bertanggung jawab". Setelah selesai berbicara, barulah pak Jamal menutup pintu rumahnya.


Faris, kebingungan harus pergi kemana. Dia, tidak memiliki tujuan untuk pergi. Malam semakin larut,dia duduk di mesjid.


Membasuh mukanya,yang nampak kusut dan memprihatinkan. "Mau pekerjaan? Aku,ada solusi untuk mu". Kata Hanafi, mendekati Faris. Entah,apa yang di rencanakan olehnya.


"pekerjaan? benarkah,tapi pekerjaan apa". Faris, memandang lekat ke arah pria yang di hadapannya. Perawakan tinggi besar, berotot kekar.


"Kerja di kebun sawit, kemungkinan kamu akan di posisi untuk memanen buahnya. Pekerjaan ini,memang berat. 3 juta,gajihmu dalam sebulan. Yah...Kalau sanggup, untuk mu". Kata Hanafi, tersenyum kecil.


Faris, menelan ludahnya. Mendengarnya saja, pasti pekerjaannya berat. Ingin menolak,tapi tidak ada pilihan lainnya. " Bo-boleh,jadi aku harus bagaimana? Maksudnya, kemana". Kata Faris,ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Yasmin.


"Oke, ikuti aku. Kita kamp sawit,yang sudah di sediakan oleh perusahaan". Hanafi , berjalan dan Faris mengikuti langkahnya.


"Maaf,nama anda siapa? Kenalkan, namaku Faris mantan suaminya Yasmin. pastilah taukan, Yasmin". Kekehnya Faris, berbasa-basi.


"Hemmm... Panggil saja, Hanafi". Jawab Hanafi, menyunggingkan senyumnya.


"Masnya,kerja di kebun sawit juga yah. Apa,kita sama memanen buahnya". Tanya Faris, mendelik sekilas ke arah Hanafi.

__ADS_1


"Tidak,aku jadi mandor di kebun sawit". Jawab Hanafi, sampai di rumahnya. "Tunggu di sini, aku mengambil kunci mobil pick up. Perjalanan, lumayan jauh dan memerlukan setengah jam".


Faris, mengangguk kepala dan dia memercayai Hanafi.calingukan melihat rumah Hanafi. Begitu luas halaman dan lumayan besar.


__ADS_2