
"Ibu,mbak Indah" Lirih Hana, terkejut melihat kedatangan mereka.
"Hana,ibu kangen!". Bu yahya, ingin memeluk tubuh anaknya. Tetapi Hana, melarangnya langsung.
"Stop,bu! Gak perlu peluk- peluk segala. Bau tau,". Hana, mendengus kesal.
"Hana,kok ngomong begitu. Ini ibu,nak. Ibu, kangen sekali dengan mu". Hati bu Yahya,terasa teriris-iris mendengar ucapan anaknya.
"Gak,ibu dan Mbak Indah datang pasti ada maunya. Gak perlu drama-drama segala,". Bantah Hana, mengetahui tipu muslihat mereka.
"Hana,lancang sekali kamu berbicara seperti itu! Mau mbak,tampar wajah mu yang sok belagu". Bentak Indah,kepada adik bungsunya itu.
"Gak perlu teriak-teriak,mbak. Di sini bukan hutan,". Sahut Hana, langsung.
"Duhh...Jangan ribut-ribut,malu di dengar tetangga. Hana, begitu kah sifatmu menyambut ibu dan mbakmu. Lalu, kenapa tidak kamu suruh masuk? Apa kamu tega, melihat kami berdiri seperti ini". Kata bu Yahya, terkejut dengan perubahan anak bungsunya.
Memiliki rumah,di perumahan elit dan cukup besar. Bu yahya dan Indah, kegirangan jadinya.
"Gak perlu, mendingan ibu dan Mbak pergi. Gara-gara kalian,aku jadi malu sama teman-teman. Aku masih marah bu,karena pesta pernikahan ku tidak mewah yang di rencanakan. Sana pergilah,jangan ganggu kehidupan ku lagi". Usir Hana, dengan tatapan tajam.
Plakkk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi, Hana. Yang di berikan oleh, Indah kakaknya. "Kurang ajar sekali kamu, Hana. Begitukah kamu, melupakan keluarga mu yang susah ini. Asalkan kamu tahu,bang Hamid dan Faris masuk penjara. Lalu, untuk mencukupi acara pernikahan mu. Ibu, sangat tega menggadaikan sertifikat rumah dan toko bangunan. Sedangkan kamu, mana ada membantu untuk melunasi hutangnya. Kami semua, pontang-panting ke sana kemari untuk bertahan hidup. Sedangkan kamu apa,ha?". Indah, mendorong tubuh adiknya.
Mendengar ucapan kakaknya, Hana terdiam membisu. Mata melirik tajam ke arah ibu dan kakaknya. "Aku tidak perduli, Mbak. Kalian itu,cuman beban untuk ku. Tidak Sudi rasanya menampung kalian,".
"Hana,ibu yang sudah melahirkan mu dan merawat sampai dewasa. Segitunya kah,kamu membenci ibumu. Dimana letak hati nurani mu,Hana". Derai air mata,bu yahya luruh sudah.
"Ayo,bu. Kita pergi dari sini, semoga saja hidupnya tidak tenang. Toh, sudah menyia-nyiakan keluarganya". Indah, menarik paksa tangan ibunya.
Indah, begitu kecewa dengan adik bungsunya itu. Rasanya sangat sakit, mendengar ucapannya.
Hana, langsung menutup pintu rumahnya. Ada tetesan air mata, yang jatuh. Segera mungkin, Hana menghapusnya.
Bu Yahya dan Indah, bertanya-tanya kepada orang lain. Dimana ada kontrakan murah dan perabot lengkap. Tidak masalah jika kecil,demi berteduh sementara.
__ADS_1
Bersyukur mereka menemukan kost-kostan,yang di inginkan. Sangat sempit, tanpa ada kamar. Perabot rumah, cuman seadanya.
Kasur tipis, selimut, kompor gas,dan perabotan lainnya serba sedikit.
"Ibu, sangat menyesali semuanya. Coba saja,kita tidak memaksa kehendak untuk mengambil sertifikat rumah Yasmin. Kemungkinan,kita tidak seperti ini". Isak tangisnya bu Yahya.
"Sudahlah,bu. Kita jalani kehidupan, seadanya dulu. Maafkan aku,bu". Indah, memeluk erat tubuh ibunya. Air mata mengalir deras,menyesal sudah tidak ada gunanya.
****************
Malam harinya, Indah keluar dari kost. Duduk santai di depan, meratapi nasipnya nanti.
"Hai,baru ngekost yah. Kenalin namaku Putri,ada teman-teman ku di dalam". Putri, mengulurkan tangannya.
Indah, tersenyum dan menyambut uluran tangan putri. Yang tinggal di sebelah kostnya, lumayan ramai rupanya.
"Indah,salam kenal putri". Mata Indah, calingukan melihat ke dalam kost putri.
"Iya,salam kenal. Ngomong-ngomong kerja apa,nih?". Tanya putri, basa-basi.
"Zaman sekarang, susah cari kerjaan. Dapat kerjaan,gajih cuman seberapa. Habis bayar kost, sama makan. Gak bisa shopping dan jalan-jalan,". Kekehnya putri, tersenyum.
Indah, memandang putri sampai ke ujung kakinya. Memang terlihat jelas,bukan wanita baik-baik. "Mau gimana lagi,ada kerja yah...Di syukuri, daripada gak ada".
"Gimana ikut kerja, seperti kami". Ajak putri, cengir kuda.
"Kerja seperti kamu, maksudnya apa! Kerja apa, emangnya?". Tanya Indah, penasaran.
Putri, langsung membisikkan sesuatu di telinga Indah. Sontak membuatnya terkejut,apa yang di bisikkan.
"Gimana,mau gak? Kerjaannya gak capek-capek,malah dapat uang banyak". Kata Putri, berusaha mempengaruhi pikiran Indah.
Indah, bimbang harus berbuat apa. Sedangkan dirinya, sangat membutuhkan uang saat ini. "Aku pikirkan lagi,". Jawab Indah, langsung masuk kedalam kost.
*****************
__ADS_1
"Mas,bangun". Bisik Yasmin,di telinga suaminya. "Gak kerja, sudah jam 7 pagi".
Yasmin, membiarkan rambutnya yang basah terurai bebas.
Hanafi, enggan bangun. Ingin meneruskan tidurnya, beban pikiran sudah plong.
"Hmmmm....Kenapa sudah mandi, tidak bisakah barengan". Hanafi, tersenyum melihat wajah istri di pagi hari.
"Apaan sih,mas? Aku capek, badan juga pegal-pegal. Ini semua karena mu,mas". Yasmin, mencubit pipi suaminya.
"Huusssstttt...Kita harus giat melakukannya, semoga ada buah hati kita di sini". Hanafi,menaruh kepalanya di perut sang istri. Mata Yasmin, sudah berkaca-kaca dan mengelus-elus lembut rambut suaminya.
"Aaammiiinn.... Cepat mandi sana, katanya ada pertemuan di balai desa. Nanti telat loh, sarapan sudah siap". Ucap Yasmin, tersenyum.
"Sayang,jangan terlalu capek-capek. Gak masalah beli yang masak,aku kerja untuk mu. Agar bisa makan enak,tanpa perlu capek-capek". Hanafi, mengecup kening istrinya.
Yasmin, merasakan kehangatan dalam pelukan suaminya. Hatinya berbunga-bunga,di cintai dan disayangi oleh suami sendiri. "Sudah mas, lepaskan pelukkan mu. Jika seperti ini terus-menerus, kapan mandinya? Nanti keburu Jo, ke sini".
"Hehehehe....Iya,iyah. Takutnya hilaf lagi,". Hanafi, langsung melerai pelukannya dan keluar dari kamar. Yasmin, menggeleng kepalanya melihat sikap sang suami.
Sambil menunggu Hanafi, selesai mandi. Yasmin, menyiapkan makanan di atas meja.
Beberapa menit kemudian, Hanafi sudah siap dan rapi. Waktunya mereka makan bersama,ada canda tawa.
Hanafi,tak henti-hentinya memandang wajah cantik Yasmin. Enggan melepas jemari tangan istrinya, sesekali mengecup punggung tangan Yasmin.
Lagi-lagi Yasmin, menggeleng kepalanya. Inikah sifat terpendam,oleh suaminya. "Mas, lepaskan tanganmu. Bagaimana aku, mengambil gelas".
"Hehehehe....Iya,". Hanafi, terpaksa melepaskan genggamannya. "Jangan terlalu lelah, mengerjakan tugas rumah. Apa perlu aku carikan art, untuk membantu mu".
"Ha? Kamu ada-ada saja,mas. Gak mau,jangan berlebihan seperti ini. Aku sanggup melakukannya sendiri,mas tidak perlu khawatir". Yasmin,menolak usulan suaminya.
"Tapi,mas tidak tega melihat mu kelelahan. Takutnya, istriku kenapa-kenapa". Lagi-lagi Hanafi, mengecup bibir Yasmin.
"Mas,jangan sembarang menciumi ku. Nanti di tempat umum,malah kebablasan menciumi ku". Sungutnya Yasmin, mencubit pangkal paha suaminya.
__ADS_1