
"Yasmiin....Yasmiin...". Faris, memanggil mantan istrinya.
Yasmin, segera berlalu pergi dan mencoba menghindari mantan suaminya itu.
Sepagi ini,dia bertemu dengan Faris tepat di pasar. Letaknya tak jauh,dari kediamannya.
"Yasmin,jangan menghindari ku". Faris berhasil mencekal tangan Yasmin.
"lepaskan mas,jangan temui aku. Gara-gara kamu,aku mendapatkan masalah besar. Sana, pergilah". Usir Yasmin, calingukan melihat sekeliling. Takutnya,ada mata-mata dari suaminya.
"Apa? Kurang ajar sekali, suamimu dek. Aku,akan memberikan pelajaran kepadanya. Segitunya kah,dia memperlakukan dirimu. Mas,akan berbicara dengan orangtuamu. Meminta untuk melepas mu,dari genggaman Hanafi. Dia, tidak pantas di pertahankan Yasmin". Kata Faris,tak terima dengan perlakuan Hanafi.
"Jangan gila kamu,mas. Yang jelas, lupakan aku dan jangan mengganggu ku lagi. Karena aku, sudah tidak sudi bersama mu. Lebih baik,aku bersama mas Hanafi". Tegas Yasmin, langsung.
Orang sekitar memandang ke arah mereka, membuat Yasmin merasa tidak nyaman. Sudah pasti, suaminya mengetahui jika dia bertemu dengan Faris.
"Yasmin,aku mohon kepadamu. Kembalilah padaku,janji akan berubah dan membahagiakan mu. Lihatlah,aku sekarang sudah memiliki pekerjaan yang layak. Semua gajihku,akan ku serahkan kepada mu". Kata Faris, menatap lekat manik-manik mata Yasmin.
"Terserah kamu,mas. Intinya,aku tidak Sudi kembali kepadamu. Ingat itu,buka lah lembaran baru mas. Menikahlah dengan wanita,bina rumah tangga baru. Urus saja, kehidupan masing-masing. Inilah jalan yang kita tempuh, bukankah kamu sendiri yang mengubahnya. Demi uang dan harta,rela kehilangan semuanya. Lihatlah, akhirnya kamu menyesali perbuatanmu. Akan tetapi,aku muak dan tidak akan pernah kembali". Tegas Yasmin, langsung pergi begitu saja.
Faris, menghela nafas beratnya dan menatap kepergian Yasmin. Dia, membiarkan Yasmin pergi begitu saja.
"Baiklah,jika kamu tidak Sudi kembali kepada lagi. Aku,akan memberikan pelajaran kepada mu". Senyum smrik, Faris.
**************
"Eeee...Baru pulang dari pasar,yah. Sebenarnya,aku tadi mau ikut. Tetapi,sibuk membeli barang-barang untuk laundry ku. Beruntung,pak kades membantu. Ternyata, benar sekali apa yang di katakan orang lain. Jika pak kades, sangatlah baik kepada warganya". Kata Rosella, tersenyum manis.
"Hmmmm...Benar sekali,pak kades sangatlah baik". Kekehnya Yasmin, mengulum senyumnya. "Ya sudah,aku masuk ke dalam. Mau, masak dulu". Pamit Yasmin, langsung di angguki Rosella.
Yasmin,menuju ke arah dapur. Matanya tertuju kepada, suaminya. Tengah sarapan sendiri, tanpa melirik kedatangannya.
Yasmin, meletakkan semua belanjaan tadi. Dia,mulai mengisi kulkas. Lalu, membersihkan sayur dan ikan. Tidak ada pembicaraan,di antara mereka.
Selesai sarapan, Hanafi mencuci piring kotor dan membersihkan meja makan. Tanpa menghiraukan, keberadaan Yasmin.
__ADS_1
Yasmin, menghela nafas. Dia, mengetahui bahwa suaminya diam saja. "Huuu... Tumben sekali,dia tidak berbicara apapun. Apa jangan-jangan, mas Hanafi mengetahui sesuatu". Gumam Yasmin, merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Lebih baik, diam-diam saja. Daripada, seringkali bertengkar tidak jelas". Sambungnya lagi, menepis pikirannya kemana-mana.
**************
Sekitar jam 2 siang, seperti biasanya. Hanafi, menyelusuri perkebunan sawit. Sebagai mandor di sana,dia memperhatikan perkerja.
Dari kejauhan terlihat, Faris tengah sibuk memanen buahnya. Hanafi, langsung menghampirinya.
"Bagus sekali,kamu Faris. Masih berani, mendekati istri mandor". Kata Hanafi, membuat Faris tercengang mendengarnya.
"Aku, tidak melakukan apapun. Cuman memberitahu kepada, Yasmin. Jika aku, sebentar lagi akan menikah". Kata Faris,mengelak perkataan mandornya.
"Oh, benarkah apa yang kamu katakan Faris? Baiklah,aku mempercayai ucapan mu kali ini. Dalam satu minggu,jika kamu tidak menikah. Siap-siaplah,aku memecat mu". Ancam Hanafi, langsung. "Jaga sikapmu, Faris. Jangan pernah, menemui istri ku lagi. Kau,paham".
Faris, tidak menjawab perkataan mandornya. Di, melanjutkan pekerjaannya lagi.
Hanafi,terus berjalan meninggalkan Faris. Tanpa menoleh ke arah belakang,dia masih menelusuri perkebunan sawit.
Bruukkkkk....
"Aaaarrgghh....". Hanafi meringis kesakitan,dia terkena jebakan Faris.
Kakinya tersandung sesuatu, yang sudah di susun oleh Faris. Sebuah kayu runcing, melukai kaki Hanafi. "Aaaarrgghh....Aaakkkhh.... ssshhhhttt...". Ringis Hanafi, mencoba tenang dan berdiri.
"Astagfirullah,pak Hanafi". Ucap seorang pekerja sawit, melihat kondisi mandornya terluka.
"Ya Allah,pak Hanafi kenapa? Ayo,kita harus secepatnya membawa ke puskesmas". sahut lainnya, juga.
Para pekerja lainnya, membantu Hanafi. Dia,di bawa ke pos peristirahatan. Lukanya lumayan parah, langsung di bawa ke puskesmas terdekat.
Mendengar musibah yang dialami Hanafi, membuat Faris tersenyum sumringah. "Lihatlah,aku bisa membalas dendam kepada mu. Sekarang, giliran kamu Yasmin. Mentang-mentang sok belagu,kamu menginjak harga diriku". Gumam Faris, mengepalkan kedua tangannya.
*************
__ADS_1
Yasmin dan orangtuanya, bergegas menuju ke puskesmas. Saat mendengar, musibah yang dialami Hanafi.
Sesampai di puskesmas, rupanya sudah banyak orang di sana. Tak lupa Lela dan Rosella,yang lebih dulu datang.
Yasmin,baru tahu kalau Rosella bekerja di puskesmas sini. Rupanya,dia salah satu perawat.
"Aduhh...Suami kena musibah, istri baru datang". Sindir Lela, melirik ke arah Yasmin.
Yasmin, tidak memperdulikan ucapan Lela. Dia, mendekati suaminya yang duduk di atas ranjang pasien.
"Ya Allah,kamu kenapa nak? Astagfirullah,kakimu". Pak Jamal,iba melihat menantunya.
"Nak Hanafi, kenapa bisa terjadi". Bu Aminah,juga kasian kepada menantunya.
"Pak,bu. Namanya juga, bekerja. Apapun pastilah,akan terjadi. Termasuk, musibah ini. Lagipula, semuanya baik-baik saja. Cuman luka,dikit". Jawab Hanafi, tersenyum.
Yasmin, sedari tadi cuman diam. Dia, tidak berbicara apapun. Kamu kira,aku kasian kepada mu mas? Malahan, aku bersyukur atas musibah yang dialami oleh mu. Ini adalah karma, sudah menzolimi istri. Batin Yasmin, sesekali melirik ke arah suaminya.
"Yasmin, bapak harap kamu sepenuhnya merawat nak Hanafi. Lihatlah,dia bekerja mencari nafkah untuk mu". Kata pak Jamal, mendekati anaknya.
"Iya, pak. Pastilah, Yasmin menjaga mas Hanafi. Karena mas Hanafi, suaminya Yasmin". Kata Yasmin, memutar bola matanya.
"Tenang saja,ibu akan sesering mungkin berkunjung ke rumah kalian". Kata bu Aminah, tersenyum.
"Tenang saja,pak kades pasti banyak yang membantunya. Lela,juga ikhlas merawatnya". Kekehnya Lela, tersipu malu-malu.
"Tidak perlu,ada Rosella yang merawat dan memeriksa luka ku. Yasmin,mana mengerti masalah beginian". Ucap Hanafi,tanpa menoleh ke arah istrinya.
Hati Yasmin,merasa nyeri mendengar ucapan sang suami. Dia, mengijinkan Rosella merawatnya dan tidak mempercayai dirinya.
"Eeee... Baiklah,jika nak Hanafi berpikiran seperti itu". Kata pak Jamal, ingin membantah tetapi tidak mampu.
"Terimakasih, sudah mempercayai kinerja saya pak kades. Insyaallah,saya akan merawat luka pak kades sampai sembuh". Rosella, melirik sekilas ke arah Yasmin.
Yasmin, masih bersikap santai-santai saja. Walaupun,ada perasaan aneh di sudut hatinya. Apa aku, cemburu? Aaah... Tidak mungkin,aku tidak mencintai mas Hanafi. dasar Yasmin, jangan mencintai pria berhati iblis itu. batin Yasmin,membuang muka ke arah lain.
__ADS_1
"Awas kamu, bilang saja mencari kesempatan untuk mendekati pak kades". Hardik Lela, langsung. Matanya menatap tajam, ke arah Rosella.