
"Yasmiiiinnn....Keluar kamu,dasar pembunuh!". Teriak bu Yahya,di luar rumah.
"Kurang ajar sekali kamu, Yasmin. Berani-beraninya menganiaya bang Hamid dan Faris. Kami tidak terima atas perlakuan mu, terhadap keluarga kami". Sambung Indah, berkacak pinggang.
"Pembunuh keluar,kamu! Cuiihh.... Untuk apa juga,kamu bersembunyi ha? Kami akan menuntut balik, kepada mu". Teriak bu Nara,ibu kandungnya Rosella.
"Keluarrrrr.... Pembunuh!! Keluarrrrr....". Teriak adik Rosella, sekencang mungkin.
Yasmin,terdiam di dalam kamar. Tidak memperdulikan teriakan mereka,yang mengolok-oloknya.
Sebab Yasmin, melakukan hal itu untuk menyelamatkan diri. Jika mereka tidak merencanakan untuk membunuhnya,mana mungkin Yasmin melakukan hal segila itu.
Yasmin,di bawa oleh para polisi untuk mengintrogasi tentang semuanya. Dengan senang hati Yasmin, menyetujuinya. Karena dia,memang tidak bersalah.
Sesampai di kantor polisi, interogasi langsung di mulai. Yasmin,masih berusaha tenang dan santai.
Yasmin, mengatakan dengan sejujurnya apa yang terjadi. Tanpa ada rasa gugup sekalipun, berusaha santai menjawab pertanyaan mereka.
"Saya mendengarkan pembicaraan mereka di luar.Mereka ingin membunuh saya dan memberikan racun untuk menggugurkan janin di perut saya. Saat mereka masuk,saya memukul mantan suami saya dan wanita itu. Pukulan pertama kena kepala mantan suami saya.Lalu pukulan kedua karena saya, kebingungan dan ketakutan. Pukulan saya, meleset dan terkena pundaknya saja. Lalu,saya mendorong Rosella. Tiba-tiba benda runcing menancap di belakang dan tembus. Setelah itu,saya pergi karena ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa". Yasmin, menghapus air matanya dengan kasar.
"Jadi,Anda tidak memukul beberapa kali di kepala Alm.Rosella menggunakan benda tumpul. Misalnya, menggunakan batu ini". Polisi itu, mengeluarkan batu lumayan besar. Mereka menemukan cukup jauh,dari jasad Rosella.
"Tidak,pak. Saya tidak melakukan hal itu,pak. Saya,masih menyimpan racun yang di bawa Rosella". Jawab Yasmin,dia memberitahu dimana letak racun untuk menggugurkan kandungannya. "Saya murni melawan untuk pembela diri. Karena mereka, mencoba membunuh saya dan anak di dalam perut ini. Walaupun janin saya, tidak terselamatkan. Karena bang Hamid dan mantan suami saya,terus memukul di bagian perut. Ini adalah berkas-berkas,hasil visum pak".
Para polisi lainnya, mengangguk kepalanya. Yasmin,merasa syok mendengar ucapan salah satu polisi. Rosella,di pukul di bagian kepala beberapa kali menggunakan batu. Sudah pasti, Yasmin mencurigai Faris.
Orangtuanya Yasmin, melihat di balik kaca. Mondar-mandir tak karuan.Begitu juga Hanafi, semakin gelisah gusar.
Hampir 1 jam berlalu, akhirnya Yasmin keluar dari ruangan interogasi.
Hanafi, tergesa-gesa untuk bersembunyi. Tidak mau jika Yasmin, mengetahui kedatangannya. Dia, berniat untuk tidak berbicara atau mendekati sang istri. Kecuali, Yasmin yang memintanya. Satu harapan Hanafi,semoga Yasmin tidak meminta pisah dengannya.
Bu Aminah, langsung memeluk tubuh anaknya. Seorang ibu, begitu sangat kepikiran anaknya .
__ADS_1
"Alhamdulillah, Yasmin tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir,". Kata Yasmin, menghapus air mata ibunya.
"Nak,kamu yang kuat. Bapak, selalu ada untuk mu. Apapun,bapak akan mengurusnya dan tidak membiarkan mu bersalah. Mereka yang bersalah,sudah menculik dirimu". Pak Jamal, mengelus lembut pucuk kepala anaknya.
Setelah selesai semuanya, barulah Yasmin dan orangtuanya pulang ke rumah.
Selepas kepergian mereka,Hanafi langsung menemui polisi. Dia, memberikan sebuah bukti berupa CCTV di rumah sakit. Dimana Rosella, mengambil sebotol obat. kemungkinan besar,obat yang akan menggugurkan kandungan Yasmin.
**************
Hari begitu cepat berlalu,ruangan persidangan sudah ramai. Waktunya untuk menentukan,siapa yang membunuh Rosella.
Sudah pasti keluarga Rosella dan Faris. Sangat ricuh dan tak lupa mengolok-olok Yasmin duduk di depan.
Saat para hakim,masuk kedalam ruang persidangan. Suasana sudah mulai tenang, tidak ricuh tadi.
Satu persatu pengacara memulai argumennya,membela yang kebenaran.
Pengacara Yasmin, memberikan bukti-bukti dan membacanya.
Sudah pasti Hanafi, mencarikan pengacara untuk istrinya yang terbaik. Sedangkan Yasmin, tidak tau apa-apa. Sesekali bertanya kepada orangtuanya,siapa menyewa pengacara untuknya. Orangtuanya diam dan membungkam. Tidak mau, memberitahu kepada Yasmin. Akhirnya Yasmin, mengetahui siapa yang menyewa pengacara untuknya.
"Pak kades, tidak mau masuk". Ucap Jo,kepada Hanafi.
"Tugasku sudah selesai,Jo. Aku sudah percaya,jika Yasmin tidak bersalah". Jawab Hanafi, meninggalkan persidangan istrinya.
Jo, menatap kepergian Hanafi yang nampak terpukul berat.
Tok...Tok...Tok...
Palu sudah berbunyi, Yasmin di nyatakan tidak bersalah. keluarga Rosella, langsung murka kepada keluarga Faris.
Orang-orang sekitar,merasa iba kepada Yasmin. Sudah di culik,di siksa dan kehilangan anaknya.
__ADS_1
Orangtuanya Yasmin, berhamburan memeluknya. Akan tetapi, Yasmin masih dalam duka atas kehilangan buah hatinya.
"Yasmin, Maafkan. Aku,hilaf". Faris, langsung bersimpuh di kaki Yasmin.
Faris dan Hamid, langsung mendapatkan hukuman setimpal. Faris,masuk kedalam penjara hukuman mati. Sedangkan Hamid, masuk penjara seumur hidupnya.
Faris dan Hamid, memohon-mohon kepada Yasmin dan keluarganya.
"Tidak ada kata ampun, untuk kalian". Tegas Yasmin,tanpa menoleh ke arah mereka. "Seandainya, aku memiliki tenaga lebih waktu itu. Kemungkinan,aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri. Sampai kapan pun,aku tidak akan memaafkan kalian. Karena kalian, sudah membunuh anakku".
"Jujur saja, hukuman yang kalian terima tidak sebanding dengan yang di terima adikku". Sambung Rizky, ingin sekali menghukum mereka lagi.
"Pak Jamal,bu Aminah. Tolong bebaskan anak-anakku, bagaimana dengan ku tanpa mereka. Nak Yasmin,tolong cabut tuntutan mu. Jangan menyiksa mereka seperti ini,". Pinta bu Yahya, sedari tadi menangis meraung-raung.
"Tidaaaakkkk.... Gara-gara anakmu,anakku mati". Sahut bu Nara, amarahmya menggebu-gebu disaat ini.
"Anakmu,memang pantas mati. Dia mencoba membunuh janinnya, Yasmin". Bantah indah, langsung.
"Anakku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu, kemungkinan besar anak bu Yahya menghasutnya". Teriak bu Nara, tidak terima atas kehilangan anaknya.
"Eeee...Jangan menyalahkan bang Hamid dan Faris. Motif atas ide semua dari Rosella, ingin menghabiskan Yasmin. Karena ingin memiliki pak kades,". Indah,tak kalah dengan bu Nara.
Plaaakkkk....
Bu Nara, menampar wajah indah. Sontak membuat Indah,gelap mata. Dia, langsung menjambak rambut bu Nara. Akhirnya suasana semakin rumit,para polisi mencoba melerai pertikaian mereka.
Sedangkan Yasmin dan orangtuanya, langsung pulang ke rumah. Mata Yasmin, calingukan mencari sesosok yang di carinya. Apa mas Hanafi, tidak ada? Sedari tadi,dia tidak ada.Batin Yasmin, merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Yasmin,kamu yakin dengan ucapanmu? Tidak besok atau lusa, pindah ke kotanya". Tanya bu Aminah, menoleh ke arah anaknya.
Yasmin, bertekad untuk pergi setelah sidang berakhir. Ingin memulai kehidupan baru,di kota lagi. Tempat tinggal dulu, rumah yang di berikan dari orangtuanya.
"Iya,bu. Yasmin, ingin melepas beban pikiran di sana. Kapan-kapan, Yasmin akan berkunjung ke desa". Jawab Yasmin, memandang ke luar jendela mobil
__ADS_1
Pak Jamal dan bu Aminah,hanya pasrah saja. Tidak mungkin mereka melarangnya,demi kebaikan Yasmin. Sepanjang perjalanan, Yasmin terdiam dan menatap ke luar. Melihat pemandangan,setiap di lewati.