Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Tidak Tinggal Diam


__ADS_3

Yasmin, melakukan visum atas kekerasan dari suaminya. Untuk mengambil bukti, kuat. Lalu, dia mengajukan perceraian di pengadilan agama.


Yasmin,juga akan pulang ke desa. Dia, berhenti mengajar di sekolah tersebut. Tidak mau, berlarut-larut dalam kesedihannya. "Yah...Aku harus bangkit dan balas dendam, tunggu aku. Kalian akan membayar,sakit hati ku". Kata Yasmin, menyunggingkan senyumnya.


Yasmin,juga tidak akan tinggal diam. Dia,datang ke kantor polisi dan meminta bantuan. Dengan bukti-bukti yang ada, mampu memudahkan proses. Tak lupa juga,polisi mendatangi tempat tinggal Yasmin. Berharap,ada bukti lainnya.


Yasmin, bertekad untuk tidak diam dan membiarkan begitu saja. Pasti,ada sesuatu yang tidak beres.


"Kami, sudah memeriksa ponsel Anda. Sepertinya,ponsel anda sudah di bajak seseorang. Sebisanya,kami menuntas siapa dalang semua ini". Kata polisi itu,kepada Yasmin.


Yasmin, mengangguk dan tersenyum. "Baiklah,tolong hubungi saya pak. Jika sudah, ketemu siapa pelakunya". Pinta Yasmin.


Setelah semuanya selesai, barulah Yasmin bernafas lega dan keluar dari kantor polisi.


"Makasih,Hana sudah membantuku". Kata Yasmin,kepada temannya seorang polisi.


"Tenang saja,aku akan memberikan kabar kepadamu. Aku harap, semuanya segera terungkap. Ini sama saja, pelecehan sek-sual kita tidak bisa membiarkan". Hana, menepuk pundak Yasmin.


"Hmmm...Aku, pergi dulu". Yasmi, pamit kepada temannya.


Sebuah tas besar,siap di motor Yasmin. Dia, segera pulang kerumah orangtuanya.


***********


Bu Yahya, Hamid dan indah. Mereka bertiga, tersenyum merekah. saat memasuki rumah mewah,milik Diana.


"Selamat datang,di rumahku". Kata Diana, menyambut kedatangan mereka. Begitu juga Faris,duduk lebih dulu di ruang tamu. Seakan-akan,dia pemilik rumah mewah ini. Baguslah,tiga babu sudah datang. Astaga,aku benar-benar tidak sabar memberikan kejutan selanjutnya. Bagaimana,jika mereka mengetahuinya? Inilah, balasan ku kepada kalian.


"Wahh... Terimakasih, sudah memberikan tumpangan kami di rumah mewah ini". Kata bu Yahya, tersenyum. Wahhh.... Aku yakin sekali,teman sosialita ku akan iri dengan kehidupan ku saat ini.

__ADS_1


"Iya, Mbak Diana. Kami,jadi gak enak". Kekehnya indah, tersenyum. Hahahaha.... Lihatlah,mas Gabriel. Kamu,akan berlutut meminta balikan dengan ku lagi.


Hamid, menatap tak suka dengan Faris. Dia, ongkang-ongkang kaki,di ruang tamu. sialan, Faris sudah jadi bos besar rupanya. Awas kamu, Faris. Aku,akan menyingkirkan dirimu dan menendang dari rumah ini. Batin Hamid, mengekor di belakang.


"Ayo, duduklah". Diana, mempersilahkan mereka duduk. Di sofa empuk dan nyaman.Diana, duduk di samping Faris. Kasian sekali, kalian akan aku tipu habis-habisan.


Bu Yahya dan Indah, calingukan melihat sekeliling. Begitu menakjubkan rumah mewah, Diana. Mereka, sampai tidak percaya. Akan tinggal di rumah ini, sungguh mimpi yang indah.


"Maaf,nak Diana. Kenapa, rumahnya sepi yah? Kaya,gak ada orang selain kita". Tanya bu Yahya, kebingungan karena tidak ada art di rumah ini.


"Oh,emang benar. Hanya kita,di rumah ini". Jawab Diana, menghirup jus jeruk. "Silahkan, diminum. Aku, yang buat".


"Eee... Maksudnya, tidak ada pelayan di rumah ini. Masa, rumah sebesar ini tidak ada pelayan". Indah,nampak tak percaya dengan ucapan Diana. Kemungkinan besar, Diana menyewa orang untuk membersihkan tempat ini. Setelahnya, mereka pergi lagi.


"Serius,di rumah ini. Tidak ada pelayan, pembantu,Art,pengurus kebun dan lainnya. Jadi,kenapa aku meminta kalian ke sini? Aku,harap ibu dan indah membersihkan seluruh rumah dan memasak. Tugas Hamid,jadi pembersih tukang kebun". Kata Diana, dengan selangkah demi selangkah,aku bisa balas dendam kepada kalian.


Bu Yahya dan indah, ternganga lebar terlihat syok berat. Begitu juga Hamid, tercengang mendengarnya.


"Mbak Diana,aku ogah jadi pembantu dan bersih-bersih. Aku,mau kerja di hotel atau restoran. Biasa jadi atasan seperti, manager,wakil atau pemimpin sekalian". Indah, langsung ke intinya. Huu....Enak saja,aku di jadikan babu oleh mu.


"Ogah banget,jadi pembersih tukang kebun. Kamu kira,harga diriku serendah itu. Yang pantas jadi tukang kebun, Faris lah bukan aku". Tolak Hamid, tersenyum smrik.


"Gak bisa,aku sudah jadi pemimpin di hotel". Sahut Faris, menyunggingkan senyumnya.


Mereka bertiga langsung terkejut, jika Faris jadi pemimpin di hotel. Hamid, menggeleng kepalanya.


"Hemmm...Kalian ingin tinggal di sini kan? Mau, dapat uang. Jadi,jangan malas. Kalian harus, menuruti perintah ku. Jika tidak mau,sana pergi. Bukan begitu,sayang". Kedip mata Diana,kepada Faris.


Faris, tersenyum kecil. Dia, benar-benar kebingungan dengan sikap Diana. Kenapa, Diana seperti ini? Bukankah,tadi tidak ada berencana macam-macam. "Eee.. Iya,jangan malas. Karena di hotel dan restoran Diana. Tidak ada, lowongan pekerjaan".

__ADS_1


"Tidak,kamu memang kurang ajar Diana. Apa seperti itu, memperlakukan orangtua ha". Bentak bu Yahya, menatap tajam ke Diana.


"Bu,jangan teriak-teriak. Seharusnya, bersyukur karena Diana memberikan tempat tinggal dan makan enak nantinya. Jangan sesekali, meninggikan suara ibu kepada Diana. Karena Diana,kita bisa makan enak". Bantah Faris, langsung.


Diana, tersenyum sumringah karena Faris membentak ibunya.


"Faris,jangan jadi kurang ajar kamu. Dia,ibumu yang melahirkan dan membesarkan mu. Kenapa,kamu tiba-tiba berubah menjadi seperti ini". Indah, langsung menyambar ucapan Faris.


"Berhentiiiii....Diam, jangan bersuara apapun. Karena ini adalah rumahku, Faris tau berhak mengatur segalanya. Sekarang,kalian mau menuruti perintah ku atau tidak? Jika tidak,aku bisa mengusir kalian dari sini". Ancam Diana, dengan amarahnya.


"Aku akan memberikan uang dua juta, setelah pekerjaan kalian beres dan bersih". Ucap Diana, dengan senyuman manis.


"Apa kalian dengar,yang di ucapkan Diana? Jika tidak menuruti perkataannya,aku juga tidak perduli". Faris, memalingkan wajahnya.


"Kurang ajar kamu, Faris. Begini kah,kamu memperlakukan keluarga mu ha,". Kata Hamid, dadanya naik turun mengontrol dirinya.


"Jangan marah,bang. Aku seperti ini, belajar dari kalian". Jawab Faris, tersenyum.


"Ck, mentang-mentang derajatmu di angkat oleh Diana. Kamu, memperlakukan kami seperti pengemis". Sahut indah, langsung.


"Hmmm...Sama seperti kalian, memperlakukan aku dulu seperti binatang". Tegas Faris, menatap tajam ke arah kakaknya.


"Jangan lupa,masak. Untuk makan malam,jangan lupa dimana-mana ada cctv. Aku,akan mengawasi gerak-gerik kalian". Kata Diana, meninggalkan mereka di ruang tamu.


Faris,masih duduk bersama keluarganya.


"Bagaimana,ada gak? Aku, secepatnya memerlukan itu". Kata Faris, tersenyum.


"Tenang saja,ada". Jawab Hamid, tersenyum.

__ADS_1


Tentunya Faris, sudah mengetahui dimana saja sudut yang tidak terlihat cctv. "Baguslah, berikan bendahara itu di vas bunga. Sisanya, serahkan kepada ku".


__ADS_2