
"Sudah makan, Yasmin?". Tanya sang ibu, selepas kepergian suaminya berangkat kerja. Yasmin, mengunjungi rumah ibunya.
"Sudah bu,bareng mas Hanafi". Jawabnya Yasmin, menggendong keponakannya.
"Masak sendiri,atau beli?". Tanya bu Aminah,lagi.
"Masak bu,malas beli". Jawab Yasmin, cengengesan.
Bu Aminah, menggeleng kepalanya. "Kamu jangan terlalu capek-capek, Yasmin. Kasian nak Hanafi, mengkhawatirkan keadaan mu. Asal kamu tahu,dia trauma kejadian itu".
"Mbak, sampai tidak tega melihat suamimu. Menangis kesegukan dan mencari-cari keberadaan mu. Tidak memperdulikan kakinya sakit dan berdarah". Sahut kakak iparnya.
"Ha? Segitunya kah". Yasmin, tidak percaya dengan ucapan kakak iparnya.
"Iya,nak. Kalau tidak percaya, tanyakan pada semua orang. Termasuk dokter menangani mu, sekalian cek cctv rumah sakit. Dalam keadaan memperihatinkan, tidak memperdulikan lukanya. Asalkan kamu secepatnya,di tangani oleh dokter". Timpal bu Aminah, langsung. "Meraung-raung memanggil mu, menciumi seluruh wajahmu. Tidak memperdulikan lumuran darah".
Yasmin, terdiam dan wajahnya tertunduk sedih. Buliran bening luruh di kedua pipinya,ada rasa sesal dulu mengabaikan suaminya.
"Sudahlah, Yasmin. Alhamdulillah, sekarang rumah tangga kalian baik-baik saja". Lestari,kakak iparnya. Mengelus lembut punggung, Yasmin.
"Iya,mbak. Aku cuman bersalah kepada,mas Hanafi. Mengabaikan dia,lalu meninggalkan ke kota". Yasmin, menghapus air matanya.
"Sudah ibu,bilang. Nak Hanafi,baik dan pengertian. Dia tidak mau memaksakan diri untuk menemui mu,karena takut kehilanganmu nak. Asal kamu tahu,di seringkali ke kota dan menemui mu. Tetapi, tidak berani menghampiri mu. Menunggu kamu mau, untuk di temui. Entah, apa yang di katakan bapak? Sampai Hanafi, nekat menemui mu. Alhamdulillah,kamu tidak mengusirnya". Bu Aminah, tersenyum sumringah.
"Iya,bu". Jawab Yasmin, mengangguk. Baru sekarang bu,mas Hanafi berubah. Jika tidak ada kejadian itu, kemungkinan sifatnya masih sama. Apakah mas Hanafi, berubah karena anaknya yang hilang? Apa jangan-jangan,ada sesuatu yang di sembunyikan..
Yasmin,masih meragukan ketulusan hati suaminya. Takut di bohongi atau skenario licik suaminya semata.
"Ibu,mau ke warung dulu. Mau beli gula sama kopi, sebentar lagi bapakmu datang". Bu Aminah, meninggalkan anak dan menantunya itu.
"Mbak,gimana tinggal di sini? Apakah,nyaman dengan ibu dan bapak".Tanya Yasmin,kepada kakak iparnya. "Mbak,jangan berbohong dan jangan merahasiakan sesuatu".
"Jujur yah, Yasmin. Aku merasa tidak nyaman,karena ibumu mengendalikan semuanya. Bahkan mau masak aja di cegah,ibumu. Ibumu, memintaku untuk fokus dengan anak. Makasih banyak, Yasmin. Aku memiliki ibu mertua, sebaik ibumu. Selalu perhatian kepada ku, tidak seperti ibuku". Lestari, merasa beruntung memiliki mertua baik dan perhatian.
"Alhamdulillah,siapa tahu aja. Ibu, seperti ibu mertua orang lain. Selalu kejam dan suka nyindir-nyindir gak jelas. Hehehehe....". Kekehnya Yasmin, mengulum senyumnya. "Mbak,hmmm....Apa mas Hanafi, benar-benar berubah? Aku takut Mbak,jika itu cuman tipu muslihatnya". Tanya Yasmin, dengan keraguan.
"Yasmin,jangan memikirkan macam-macam. Apa lagi sampai meragukan ketulusan,suamimu. Mbak yakin sekali,jika Hanafi benar-benar berubah". Lestari, menggenggam jemari adik iparnya.
"Iya,mbak. Semoga saja, tidak ada kebohongan lagi". Itulah yamg di inginkan, Yasmin. Sudah cukup rasanya,sakit hati dan kehilangan segalanya.
__ADS_1
***********
Sore harinya, Yasmin dan lestari bersamaan bu Aminah. Mereka tengah sibuk di dapur, memasak bersama.
Pak Jamal, selalu membawa cucunya jalan-jalan. Yang masih berusia 6 bulan.
"Bawa yang masaknya,jadi di rumah gak perlu masak lagi". Kata bu Aminah,mengulek bumbu halus.
"Iya,bu. Bisa jadi mas Hanafi, menyusul ke sini". Jawabnya Yasmin,merebus daun singkong.
Sedangkan lestari, tengah memeras santan kepala. "Kenapa, makannya gak barengan? Kalau Hanafi,ke sini. Ramai jadinya,makan sama-sama". Kekehnya lestari, tersenyum.
"Nah, benar kata mbakmu. Mending makan sama-sama,". Sahut bu Aminah.
"Terserah aja,aku ngikut alurnya". Jawab Yasmin,memang benar makan bersama keluarga suasananya sangat berbeda.
*************
Malam harinya, selesai makan bersama
Yasmin dan Hanafi,pamit pulang dulu.
Mereka berdua berjalan beriringan,tak lupa Hanafi menggenggam jemari istrinya. "Beli yang baru saja, motor mu sudah tua". Jawabnya Hanafi, tersenyum.
"Mas,aku sayang sekali sama motor itu. Karena motor itu, kenang-kenangan. Aku membelinya dengan uang sendiri,hasil kerja kerasku". Kata Yasmin, memasang wajah gemesnya. "Pliss...Antarkan ke bengkel yah". Cicitnya Yasmin, membuat sang suami terkekeh.
"Iya,besok mas bawakan. Apa sih,yang gak buat istriku". Hanafi, langsung merangkul pinggang istrinya. "Capek gak, jalannya?".
"Gak mas,kenapa emangnya? Sebentar lagi,mau nyampe". Jawab Yasmin,merasa seneng di dekat suaminya.
"Kalau capek tinggal bilang,sayang. Biar aku menggendong tubuhmu,". Hanafi,mencolek hidung mancung Yasmin.
"iiihhh.... Ada-ada saja kamu,mas. Jangan bikin malu lah,". Sungutnya Yasmin, mencibik bibirnya.
"Kondisikan bibirmu, sayang. Jangan sampai besok bengkak, karena ulahku". Bisik Hanafi, mendapati cubitan dari Yasmin. "Aaaakkhh.... Ssshhhhttt....sakit tau,di belai lembut. Jangan di cubit seperti ini,". Pinta Hanafi, dengan suara lembutnya.
"Ck,lebay kamu mas". Kata Yasmin, menyelonong masuk kedalam rumah.
Sebelum masuk kedalam, Yasmin sempat-sempatnya sekilas mencium bibir suaminya.
__ADS_1
"Yasmiiiiinnnn.....Jangan memancing reaksiku, sayang. Takutnya malam ini,kamu tidak bisa tidur dengan nyenyak". Hanafi, menyunggingkan senyumnya dan mengunci pintu rumah.
Yasmin, bersembunyi di balik lemari pakaian. Sudah pasti suaminya,mencari keberadaannya.
Hanafi, calingukan mencari-cari kemana-mana. keluar masuk dalam kamar, bahkan ke dapur dan kamar mandi. "Hayo,kemana kamu sayang? Awas yah,jika aku menemukan mu. Hmmmm...". Kata Hanafi, matanya ke sana kemari mencari sang istri.
Yasmin, menutup mulutnya dengan tangan. Mendengar suara langkah kaki suaminya,masuk kedalam kamar. Lagi-lagi Yasmin,tak kuasa menahan cekikikan tawanya.
Mata Hanafi, tertuju pada sampai lemari pakaian. Terlihat bayangan yang jelas,ada ukiran senyum di bibirnya.
"Dimana kamu, sayang". panggil Hanafi, seakan-akan tidak tahu apa-apa.
Yasmin, tidak berani menengok ke samping. takut ketahuan oleh, Hanafi.
"Baaaa...!". Hanafi, mengejutkan suaminya.
"Haaaa...! Duh... ketahuan deh". Kekehnya Yasmin, di tarik suaminya ke dalam pelukan.
"Kemanapun pergi,aku akan menemukan. Jadi, jangan pergi sayang". Bisik Hanafi, dengan suara seraknya.
Yasmin, merasakan hembusan nafas suaminya. Di saat menelusuri telinga dan lehernya. Dia mendongakkan kepalanya,agar sang suami leluasa menciumi seluruh lehernya.
"Uughhh....". Lenguh Yasmin,saat Hanafi meremas dua melon miliknya.
Hanafi, langsung agresif mencium bibir istrinya. Tangannya sudah melepas kancing baju dan melepas pakaian istrinya juga.
Dua melon milik Yasmin,masih terbungkus bra. Dengan cekatan Hanafi, melepas pengaitnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Glekkk...
Pemandangan yang indah,tak mungkin di sia-siakan. Hanafi, seperti bayi mungil. Sangat lahap menyusui,dan bergantian kanan,kiri.
"Aaahhhh....Hmmmmpptt
.. Sshhhttt....". Desis Yasmin, *******-***** kepala suaminya. Sesuatu menjalar di sekujur tubuhnya,di saat sang suami memainkan ****** kemerahan menggunakan lidah Hanafi.
"Masssss....". Lirih Yasmin, badannya sudah lemas. Tak mampu menopang tubuhnya lagi, dengan sigap Hanafi membawa istrinya ke atas ranjang.
"Mende-sah lah,sayang. Aku menyukai suara merdu mu,itu". Bisik Hanafi, sebelum menyambar bibir ranum istrinya.
__ADS_1