Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Obat Tidur


__ADS_3

"Jo,jam 2 nanti kumpulkan semua pekerja sawit. Ada yang saya sampaikan". Perintah Hanafi, melalui telepon.


Yasmin, sempat menguping pembicaraan suaminya. Ada senyuman kecil,terbit di sudut bibirnya.


"Yasmin, buatkan aku kopi". Pinta Hanafi, di ruang tamu.


"Iya,mas. Sebentar,aku buatkan". Jawab Yasmin,di dapur. Dia, memasukkan obat tidur ke dalam kopi suaminya. "Rasakan kamu,mas. Aku, kerjai kamu. Ini akibatnya, sudah membuat pinggangku sakit melayani malam tadi". Gumam Yasmin, tersenyum merekah sambil mengaduk kopi hitamnya.


Yasmin, meletakkan kopi di meja. Tak sabar apa yang terjadi,dia menyunggingkan senyumnya.


"Mau kemana,kamu?". Tanya hanafi, melihat istrinya keluar dari pintu.


"Kepo". Jawab Yasmin, berlalu meninggalkan suaminya.


"Ck, menyebalkan". Gumam Hanafi, menghirup kopi buatan Yasmin. Tanpa menaruh rasa,curiga. Berniat untuk menghilangkan rasa kantuknya, tetapi malah semakin kantuk.


Beberapa kali, Hanafi menguap. "Astaga,kenapa mataku sangat ngantuk sekali". Dia, membenarkan posisi dan berbaring di sofa. Masih ada waktu 1 jam, kesempatan untuk tidur sebentar.. Berniat untuk menghilangkan rasa kantuknya, tetapi malah semakin kantuk.


Yasmin,tak perduli bagaimana dengan suaminya nanti. Lebih baik menghindari, takutnya jadi sasaran suaminya.


"Assalamualaikum,". Ucap Yasmin,masuk kedalam rumah orangtuanya.


"Wa'alaikum salam,". Sahut bu Aminah dan lestari, bersamaan.


"Sendirian aja,kamu ke sini". Tanya sang ibu, langsung di angguki Yasmin.


"Emangnya, suamimu kemana dek? Biasanya,dia selalu membututi mu". Kekehnya lestari, tersenyum.


"Mungkin,mau sibuk kali Mbak". Jawab Yasmin, menggendong keponakannya itu.


"Kamu,ijinkan keluar dari rumah? Ingatlah nak, berdosa kepada suami. Keluar rumah,tanpa seizinnya. Jangan jadi kebiasaan,". Tegur bu Aminah, langsung.

__ADS_1


"Sudah ijin kok,bu. Tenang aja, Yasmin keluar dari rumah. Mas Hanafi, bersantai di ruang tamu". Jawab Yasmin, dengan santainya.


***********


Sore harinya, barulah Yasmin pulang ke rumah. Dia,membawa makanan untuk suaminya.


"Kenapa mas, wajahmu kusut sekali". Tegur Yasmin, seolah-olah tidak tahu. Hahahaha... pasti kamu, ketiduran kan mas. Makanya, jangan sok-sokan dulu menyakiti ku.


"Bukan urusanmu, Yasmin". Jawab Hanafi, mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku mencurigai mu, Yasmin. Kok bisa,aku ketiduran sampai beberapa jam".


"Astagfirullah,mas. Jangan sembarangan menuduhku,yang ketiduran kamu bukan aku. Yang jelas,aku tidak ada sangkut pautnya. Heran, kesalahan kamu sendiri. Malah mau menyalahkan ku". Bantah Yasmin, langsung. "Makan mas,tadi di rumah ibu kami masak-masak. Sekalian,aku bawakan untuk mu".


"Kamu, apakan aku Yasmin? Sampai, ketiduran beberapa jam. Kamu tau,jika aku ada hal penting yang perlu di urus". Hanafi, mencekram lengan Yasmin.


"Apaan sih,mas? Yang salah kamu, bisa jadi karena malam tadi kamu bergadang. Jam berapa,malam tadi pulang. Sok santai-santai di warung kopi,haha-hihihi. Lupa waktu, sekarang kena karmanya". Yasmin, menepis tangan suaminya.


"Tau darimana kamu,jika aku santai di warung kopi? Oh,apa jangan-jangan kamu mengikuti ku". Delik mata Hanafi, menatap tajam ke arah istrinya.


"Hahahhaa.... Kamu, cemburu hemm....Aku, dekat dengan wanita lain". Hanafi, mendekati wajah Yasmin.


"Iiiissshhh.... Kepedean sekali kamu,mas. Buat apa juga,aku cemburu melihat mu dekat dengan wanita lain". Yasmin, mengundurkan langkahnya.


"Yakin, tidak cemburu? Besok Rosella, meminta bantuan ku". Hanafi,melirik sekilas ke arah istrinya.


Yasmin, mengangkat kedua bahunya. "Bodo amat,amat aja perduli". Jawab Yasmin, dengan entengnya.


"Baiklah,aku tantang dirimu. Bagaimana, jika aku dekat dengan wanita lain". Senyum smrik, Hanafi.


"Silahkan,mas. Aku, tidak perduli dengan sikapmu. Karena aku tahu, jika pernikahan ini cuman balas dendam mu saja. Apapun yang kamu lakukan, untuk menyakiti ku. Tidak masalah, untuk apa aku bersakit-sakit hati". Sahut Yasmin, tersenyum.


Hanafi, seperti tidak menyukai ucapan istrinya. Mengepalkan tangannya dengan erat, menggeretakkan giginya. Mencekal lengan Yasmin, mencium bibir Yasmin dengan kasar.

__ADS_1


Dia, meluapkan emosi kepada Yasmin. Tak lupa, merobek pakaian Yasmin. walaupun Yasmin, berusaha memberontak terhadap suaminya. Buliran bening, mengalir deras di sudut matanya. Menerima perlakuan kasar,dari sang suami. Permohonannya,tak membuat Hanafi luluh.


Satu jam berlalu, Hanafi sudah puas meluapkan amarahnya. "Makanya,jangan sok menantang kepada suami". Tak lupa, menutupi seluruh tubuh istrinya. "Ck, untuk apa kamu menangis ha? Aku, suamimu yang berhak atas tubuhmu. Sudah sewajibnya kamu, melayani suami. Ini terakhir kalinya,jika berhubungan dengan ku. Jangan sampai sok menangis,segala".


"Kamu jahat,mas.Kurang kah, dirimu menyakiti ku ha? Tidak mendengar kah,aku merengek-rengek meminta iba kepadamu. Sesuka hati mu, melempiaskn nafsu mu dengan perlakuan kasar". Kata Yasmin, menghapus air mata kasar.


"Kamukan tau,aku sangat menyukai jika kamu tersakiti. Jadi,terima saja dengan santainya. Lagipula,kami juga menikmatinya. Tidak lupa yah,aku mendengar suara desa-han mu". Bisik Hanafi, menyeringai tajam.


Yasmin, tertunduk malu. Mencekram erat, sprei katun motif polos. Sekuat tenaga, menahan suaranya. Namun, lolos juga dan membuat Hanafi semakin menjadi-jadi. Suara laknat itu, terdengar merdu bagi Hanafi. Membuat dirinya, semangat menghujam tubuh Yasmin.


"Hahahaha.....Hahahaha.... Untung saja,aku tidak meminta lagi. Lihatlah, milikku sudah bangun kembali. Aku, bisa saja menghu-jam tu-buh lagi". Ucap Hanafi, berlalu pergi meninggalkan Yasmin.


"Awas kamu,mas". Yasmin, menatap benci terhadap suaminya."Aku,akan balas dendam kepada mu"


"Yakin,mau balas dendam kepada ku". Rupanya, Hanafi belum meninggalkan pintu kamar. Dia,masih mendengar perkataan Yasmin.


Yasmi, menggeleng kepalanya. Saat Hanafi,mulai mendekati dirinya. "Mas,tadi.... Ak-aku,cuman...".


"cuman apa, Yasmin? Rupanya,kamu senang sekali membuat ku marah. Apa jangan-jangan,kamu sengaja melakukannya. Karena ingin, menerima hukuman kenikmatan dariku". Hanafi, menangkap kaki Yasmin. Lalu, menariknya sekuat tenaga.


"Mas, maafkan aku. Aku, tidak bermaksud apapun. percayalah,mas". Kata Yasmin, menggeleng kepalanya.


Hanafi, sudah terlanjur marah. Membalikkan badan istrinya, langsung menerkam.


"Aaaahhh.....". Desa-han Yasmin, menutup mulutnya. Suara laknat itu, terdengar jelas oleh Yasmin.


"Hahahaha... Mende-sah lah, Yasmin. Hmmmm..... Bagaimana, sangat nikmat bukan". Senyum smrik, Hanafi. Mencekram dagu istrinya.


"Stooopp.....Aaahh....Henti-hentikan mas,aaahh....Cukuuuup...". Yasmin, ngos-ngosan mengatur nafasnya. Tangannya, mencoba mendorong tubuh sang suami. Tenaganya terkuras habis, menyeimbangi suaminya. Keringat bercucuran membasahi tubuh, mereka berdua.


Hanafi, sudah menuntaskan hasratnya di sore hari. Bahkan, sampai dua kali menghajar istrinya. Dia, menyingkirkan anak rambut di wajah istrinya. Tak lupa, mendarat ciuman di kening Yasmin. Sang empunya, sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Bangun,jangan tidur. Cepat bersihkan tubuhmu. Sebentar lagi, azan magrib. Tidak baik untuk, tidur". Bisik Hanafi, terdengar sangat lembut. Yasmin, berlahan membuka matanya.


__ADS_2